Menyelamatkan Fitrah Anak

Ada suatu masa di mana si kakak mendapatkan perlakuan “gadget and tv free” – bebas pakai tv dan gadget kapan saja.

Awalnya karena saya perlu beradaptasi setelah melahirkan adiknya. Apalagi si adik kalau menyusu, maunya suasana tenang di kamar sambil ngadem. Jadilah si kakak ditinggal di bawah dengan ART, yang karena lagi sibuk mengerjakan yang lain, akhirnya si kakak dikasih nonton TV.

Kalau sudah di atas adzan isya, saya selalu tepar karena seharian menyiapkan kebutuhan anak-anak dan rumah. Apalagi si adik yang sudah mulai makan. Apalagi kalau nenek sudah pulang, si kakak langsung minta ke kamar nenek. Di kamar nenek, ujung-ujungnya si kakak pun bebas nonton youtube karena nenek sibuk, sering bawa pulang kerjaan kantor ke rumah.

Awalnya rasanya baik-baik saja – saya bisa istirahat sejenak, mengurus adik, whatsappan atau fesbukan. Me time gitu ceritanya.

Sampai suatu hari saya menyadari bahwa sebagian besar waktu si kakak banyak habis untuk nonton tv. Sementara saya rempong mengerjakan hal yang lain. Dan si kakak tiba-tiba menjadi si kakak yang berbeda dengan 1,5 tahun yang lalu.

Iya, seiring bertambah usia anak akan berubah. Tapi perubahan ini sangat mengkhawatirkan. Tiba-tiba si kakak suka memukul dan jadi agresif. Sering bicara nggak jelas. Bahkan nggak bisa diajak berkomunikasi sama sekali dengan saya.

Saya patah hati.

Sebagai Ibunya, saya tahu jelas penyebabnya: terlalu banyak nonton TV dan gadget. Bukan hanya kepada dia, tapi juga kepada saya. Frekuensi cek HP yang terlalu sering membuat mata saya cepat lelah, dan kalau saya lelah saya jadi cepat marah. Saya lelah, lalu saya berikan HP supaya dia anteng dan saya bisa istirahat. Begitu terus jadi lingkaran setan.

Sungguh menghancurkan hati saya saat saya merasa kesulitan berkomunikasi dengan dia, dan bahkan dia cenderung banyak menghindar dari saya. Anak kecil yang dulu senang mengikuti bacaan al-fatihah itu kini relung hatinya sudah tergantikan dengan video-video youtube, boboboi dan entah film apa lagi.

Suatu hari saya tak sengaja melihat seorang teman membagikan tulisan Sarra Risman di linimasa facebook saya. Kurang lebih intinya; ia terkadang merasa kesal dengan anaknya yang menurutnya sering malas. Namun ia lun berkaca kepada diri sendiri: inilah bentuk kegagalannya menjaga fitrah anaknya sehingga menjadi seperti itu.

Menjaga fitrah anak.

Seorang anak fitrahnya tentu baik, orangtuanyalah yang mengarahkanmya menuju kebaikan atau keburukan.

Saya ingat suami saya pernah berpesan: mata dan telinga adalah jendela hati.

Dan seorang anak adalah peniru paling ulung atas sesuatu yang dilihatnya.Bisa memukul dan ngoceh nggak jelas itu dari mana contohnya?

Saya berusaha mengingat perjalanan hidup saya sejak mulai bisa mengingat sampai sekarang.

Waktu SMP dulu, semua anak perempuan berlomba-lomba mengecilkan baju. Baju yang terlalu pendek akan dicoret spidol atau digunting – tapi entah kenapa senior-senior yang bajunya digunting itu malah terlihat bangga. Mereka terlihat keren.

Saat itu saya mau jadi keren juga, maka sayapun ikut mengecilkan baju.

Dipikir-pikir, trend baju ketat itu sepertinya diprakarsai oleh sinetron “Amanda” yang dibintangi Agnes Monica. Memperlihatkan karakter anak sekolah badung berbaju ketat yang terlihat kereeenn sekali. Dan itu disiarkan tiap hari. Membuat jutaan anak sekolah di Indonesia berpikir bahwa baju ketat dan melawan guru itu keren.

Dan masih banyak hal yang tanpa sadar kita perbuat karena sekedar ikut-ikutan. Ingin punya pacar karena semua kakak kelas punya pacar dan terlihat bahagia. Ikutan memberikan coklat di hari valentine karena di komik Cardcaptor Sakura dicontohkan seperti itu. Ikutan bilang “Aku pulang!”, Bukan “Assalamualaykum” saat pulang ke rumah karena Nobita melakukan hal itu. Mempertimbangkan untuk “nembak” cowok yang disuka karena majalah Kawanku bilang hal itu wajar-wajar saja.

Seorang bocah labil tanpa moral compass yang jelas, terombang-ambing dalam derasnya arus informasi. Dan itu kisah tahun 2000-an, zaman di mana media sosial yang eksis masih mIRC.

Saya sangat gelisah dengan tontonan disney channel yang entah apa konten dan pesan moral ceritanya. Saya nggak pernah suka dengan kartun Boboboi – tidak ada pesan moral dan karakternya tidak simpatik buat saya. Saat anak saya menonton film itu, apa yang terserap dan tertiru olehnya?

Apakah saya suka saat anak saya meniru-niru frase dari film yang dia tonton? Tidak.

Saya maunya anak saya jadi anak soleh, hafidz qur’an. Tapi apa figur anak seperti itu bisa didapatkan dengan ongkang-ongkang kaki sambil dibiarin nonton semaunya? Emangnya bisa jadi anak gitu kalau orangtuanya doyannya whatsappan di grup Ibu-ibu (walaupun ceritanya membahas pendidikan anak), bukannya main sama anaknya? Menurut ngana?

Sampai akhirnya saya memutuskan untuk mematikan TV total dan sangat membatasi penggunaan HP. Saya sangat meminimalisir penggunaan HP di depan anak saya supaya dia tidak ikutan minta HP saya dan jadi bertingkah aneh.

Terima kasih kepada kelas bunda sayang di IIP Jakarta, saya jadi lebih mudah menentukan prioritas kegiatan harian saya di rumah, terutama yang bersinggungsn dengan gadget:

1. kebutuhan primer diri (makan, obat, sholat)

2. Kebutuhan anak&anak (siapin makan, mandiin, asi, temenin main)

3. Suami dan pekerjaan (jadi cuma ngewaro wa suami, klien dan vendor) oh iya plus kelas pemgembangan diri.

4. Pekerjaan rumah tangga (nyuci piringz sapu, pel, beberes) – biasanya ada ART tapi beliau lg izin hampir 2 minggu krn suaminya sakit.

Dulu saya menghabiskan banyak waktu untuk scroll pembicaraan di grup WA, alhamdulillah sekarang udah ada 56 chats yang nggak saya waro hahaha.. karena mereka tidak masuk ke dalam 4 poin di atas. Kalau istilahnya di IIP “menarik tapi tidak tertarik” :p

—-

Sudah dua minggu lamanya saya menjalankan program detox ini. Saya dan anak tidak menonton TV seharian (tapi ada kecolongan sekitar 2 jam di rumah sakit krn lagi opname). Youtube sudah stop sama sekali. Penggunaan HP bagi saya diminimalisir dengan cek WA seperlunya. Anak saya sudah tidak pegang HP sama sekali. Setiap hari saya setel murotal qur’an.

Hasilnya?

Setiap hari bisa baca sekitar 5 buku. Bahkan buku Muhammad Teladanku yang dulu 1 subjudul aja dibacain anaknya kabur, sekarang bisa anteng ampe dibacain 4 subjudul.

Jadi gampang diajak bicara santai hati ke hati, momen yang nggak bisa ketemu kalau HP ada di tangan. Biasanya sebelum tidur bisa ditanya “Allah dimana?” “Allah di atas arsy”. Dan diselipin pujian positif seperti “wah kakak hebat ya sudah bisa ajak adik main, Allah suka lho.” Dan lama-lama dia juga ngerti, kadang setiap habis berbuat baik (misal bantu taro baju di tempat baju kotor) dia suka ngomong sendiri “Sayf hebat ya! Allah suka!” πŸ˜‚

Jadi sangat nggak agresif ke adiknya. Biasanya bisa sampe dorong-dorong agak kasar, sekarang dia cenderung menjaga adiknya (kalau ada barang aneh mau dimakan adiknya langsung diambil, dikasih ganti mainan).

Buat saya, nggak ada TV dan jarang ambil HP jadinya nggak capek mata, jadi fisik nggak cepat lelah. Tanpa TV hari terasa lebih panjang dan saya bisa bertahan sampai ngelonin anaknya tidur (yang artinya: bisa ajarin doa sblm tidur etc) tanpa tepar. Dan saya jadi eling dan nggak gampang marah! Alhamdulillah.

Bagaimanapun pertolongan Allah lah yang membalikkan hati saya sehingga saya greget banget untuk menjauhkan diri dan keluarga saya dari hal-hal yang tidak bermanfaat.

Yang tidak kalah penting lagi adalah… Minta maaf kepada anak.

Betapa tiga tahun ini, kok saya bodoh sekali, seperti nggak serius dalam menjaga fitrah anak saya. Tidak memfilter mata dan telinganya dengan kalimat-kalimat yang baik. Bahkan malah bonus diomelin pula kalau sedang bertingkah.

Beberapa hari terakhir sebelum saya melakukan detox itu, saya seperi melihat marah di sorot matanya, dan setiap saya ajak bicara dia nggak waro saya..beneran saya sampai nangis-nangis.

Dan sembari detox itu, saya hanya bisa minta maaf setulusnya kepada si kakak.. Betapa ibunya ini masih jauh dari sempurna. Ah jadi cirambay lagi kalau diinget. Minta maaf atas kata dan perbuatan yang sudah merusak fitrahnya. Berserah kepada Allah, minta diampuni dosa-dosa yang pernah kita perbuat kepada anak kita.

Saya benar-benar desperate melihat kondisi si kakak waktu itu, dan merasa sangat marah pada diri saya sendiri karena sudah membuat si kakak jadi seperti itu. Tapi di titik itu saya berserah seluruhnya kepada Allah. Mohon petunjuk-Nya bagaimana supaya dia kembali ke fitrahnya. Semacam pertobatan dalam mendidik anak, saya ingin memulai semua dari awal lagi.

Dua minggu berlalu, dan saya merasa lebih penuh cinta kepada anak saya.

Seperti ada tombol yang menyala di dalam otak saya, kini saya benar-benar aware terhadap apa input yang masuk kepada anak saya. Jika saya berikan ia tontonan A, apa yang bisa ia lihat? Adakah itu merusak fitrahnya? Ridhakah Allah jika anak saya melihatnya?

Mata dan telinga adalah jendela hati.

Sekarang saya mengerti kenapa beberapa teman saya bertahan dengan hidup tanpa TV, dan kenapa Ustadz Khalid Basalamah selalu mendengarkan murotal setiap bepergian ke tempat yang penuh musik.

Memori Sepotong Ketan

“Kenapa sih ini macet banget?” kata suami saya di perjalanan pulang.

“Hmm, kayaknya karena pada parkir di tempat ketan susu, kalau malam minggu kan ramai.” Saya menunjuk ke warung ketan susu di pinggir jalan yang mengambil lokasi parkiran sebuah bengkel. Tempat itu memang selalu ramai di malam hari, terutama akhir minggu.

“Ah,benar juga.” Kami akhirnya lolos dari kerumunan kendaraan yang akan parkir di tempat ketan susu. “Aku nggak suka ketan susu itu. Rasanya terlalu manis. Kamu suka?”

“Aku malah nggak suka ketan sama sekali. Mau dikasih susu kek, mau enggak, tetep aja nggak suka.”

“Padahal enak banget tuh kalau dikasih tape.”

“Di kampung mama juga tiap lebaran itu makanan ada, tetap aja nggak pernah kusentuh.”

Lalu pikiran saya tiba-tiba melayang ke Majalaya. Rumah kecil di pinggir jalan dengan makanan yang selalu tersedia – ketan, tape, rempeyek, pepes ikan mas, nasi dan sambal. Padahal yang menyediakan tidak lebih berada daripada kami, dan saya baru menyadari betapa mereka berkorban untuk menjamu kami yang datang jauh dari kota.

Entah kenapa saya sedih karena sampai sekarang saya tidak bisa menyukai ketan dan tape yang mereka buat dengan susah payah, atau mungkin saya lebih sedih karena saya menyadari bahwa dua orang yang seringkali memakannya bersama saya sudah tiada – nenek dan wak yani (Allah yarhamhuma).

Sekarang rumah itu sudah dijual, dan yang tersisa dari mereka hanyalah setumpuk tanah dan batu nisan.

Lebaran tahun ini, apakah aku akan bertemu lagi dengan ketan dan tape yang tidak aku sukai?

Semoga Allah lapangkan kubur nenek dan wak yani, sungguh penantian yang lama sampai kita semua nanti akan dibangkitkan, insya Allah.

 

Tantangan Kemandirian – Day 1

Sesungguhnya anak yang mandiri adalah impian semua orangtua, apalagi menurut buku montessori banyak hal yang sudah bisa diajarkan kepada anak saat ia menginjak usia 3 tahun. Nah, si kakak sebentar lagi 3 tahun dan kelas Bunda Sayang IIP menantang kami untuk melatih kemandirian si kakak dalam sebulan ke depan.

Soal mandiri, sebenarnya si kakak sudah cukup berminat untuk melakukan macam-macam seperti: mandi sendiri, sikat gigi, buka-pakai baju dan celana, makan sendiri, bahkan menyiapkan MPASI untuk adiknya!

Minat anak, ada. Ilmu, ada. Buku, ada. Yang gak ada apa dong? KESABARAN IBUNYA, ahahaha. Saya seringkali memotong minatnya hanya karena saya nggak sabar dan ingin dia mengerjakan semua lebih cepat.

Sesungguhnya memang melatih anak mandiri itu sangat makan ati di 6 bulan pertama. Tapi saya semakin legowo dengan fakta ini dan berusaha santai kalau tuangan bubur adik dari blender ke wadahnya agak berantakan. Santai kalau memang buka dan pakai baju sendiri itu butuh waktu lebih lama dan masih harus diarahkan supaya nggak terbalik dan berakhir dengan 2 kaki di 1 lubang kaki celana yang sama. Ya mana ada si manusia yang tiba-tiba bisa mandiri secara sempurna, emangnya Nabi Isa AS dari orok udah pinter ngobrol πŸ˜€

Jadi, inilah jadwal pelatihan kemandirian anak bulan ini:

Week 1: makan sendiri dan berpakaian/lepas baju sendiri (+meletakkan baju kotor di tempatnya)

Week 2-3: toilet training

Week 4: merapikan mainan

Untuk pekan pertama, saya hanya memurojaah kemampuan yang sebenarnya dia sudah bisa tapi tidak konsisten saya jalankan. Pekan kedua dan ketiga, saya harus memulai apa yang tidak berani saya mulai: toilet training hahaha.. sementara setelah TT selesai saya mau mencoba membiasakan merapikan mainan.

Untuk hari pertama ini, si kakak sudah mau memakai bajunya sendiri, namun saya masih terkendala soal makan. Kakak adalah anak yang termasuk susah makan, dan baru beberapa minggu ini selera makannya membaik. Masalahnya untuk itu makannya memang harus disuapi. Kalau disuapi, makannya bisa banyak. Sementara tadi saya suruh makan sendiri, baru beberapa suap dia sudah terdistraksi dengan mainan robotnya dan kemudian melarikan diri.. hiks hiks. Mungkin perlu diminta makan di high chair supaya bisa fokus makan sendiri…

Semoga hari-hari berikutnya bisa lebih lancar, semangat πŸ™‚

Closure

Aku memilih untuk memaafkanmu.
Karena setelah kupikir lagi,
Keenggananku hanya buah dari gurihnya rasa benci yang dihembuskan para setan.
Benci yang mengakar dan menyisakan luka saat ia tercabut.
Bekas luka akan selalu ada
Dan aku memilih untuk membiarkannya
Sebagai bukti bahwa kau pernah ada.
Sudah pernah kutulis,
Aku pernah sangat membencimu dan kupikir itulah tanda cinta..
Tapi yang tersisa kini, ah, sudahlah..
Hanya rasa kasihan kepadamu.
Egoku telah lama menguap,
Semoga Allah mengampunimu,
Semoga Allah menyayangimu,
Semoga Allah berikan taufik dan hidayah kepadamu,
Semoga Allah mengampuniku.
Dan sesungguhnya maaf dan cinta itu akan selalu ada bagimu dariku
Rabbighfirliy, waliwalidayya, warhamhuma, kamaa rabbayani shagiira.
—-
Aku ingin berjumpa denganmu tanpa pembicaraan tentang dendam dan manipulasi.. Semoga aku masih bisa mendengar nasihat bijak dari tubuh rentamu.

Mencari Sekolah (1)

Akhirnya masuk juga saya ke fase kehidupan emak-emak yang satu ini: cari sekolah buat anak! Hehehe. Baru playgroup sih, tapi saya dan suami merasa si bocah perlu bersosialisasi di lingkungan yang lebih besar. Jadi, saya pun mendata PG/TK islam yang berada di sekitar rumah kami. Kami lebih sreg dengan sekolah islam karena kami ingin si bocah menyerap nilai baik dari lingkungannya.

Kriteria sekolah kami simpel, pokoknya:

  • bernuansa islam
  • tidak jauh
  • banyak mainnya
  • lingkungannya nggak borju (da kita mah rakyat biasa sajaaa)

Jadi, sejauh ini, inilah sekolah yang sudah saya survey:

  1. Al Azhar Sentra Primer

Lah, katanya nggak mau yang borju, tapi kok survey Al Azhar juga? Hehehe. Saya survey AA untuk benchmarking value for money, mau tahu juga kalau AA pasang harga sekian dengan fasilitas sekian, yang lain kemahalan atau oke nggak ya kira-kira.

PG berupa bangunan kecil, sementara TK berada di belakang masjid (PG dan masjid seberangan lokasinya). Ada playground outdoor dan indoor, tapi membayangkan jumlah muridnya kayaknya bisa perang buat main di playgroundnya hahaha… Dalam satu kelas, ada 20-23 murid dengan 3 guru dan 1 helper yang siap membantu untuk urusan ke WC. Dan kelasnya ada dua. Jadi seangkatan ada 40-45 orang… Udah macem sekolah negeri aja. Dari sini kurang sreg.

Impression:

Petugasnya ramah-ramah, saya diantarkan ke TU oleh mas-mas yang sedang maintenance peralatan. Di TU saya bertemu petugas administrasi yang lebih banyak menjelaskan perihal teknis pendaftaran dan pembayaran. Saat saya tanyakan tentang kegiatan anak-anak PG, jawabannya “Ya, bermain sambil belajar, bu. Banyakan mainnya kok, terus doa doa gitu.” Yak sungguh jelas konsepnya.. Gak bisa komen banyak hehehe.

Biaya:

PG: Uang pangkal 8,300,000, SPP 750,000/bulan, POMG 240,000/tahun

TK (A-B): UP 16 juta sekian, SPP 850,000/bulan, POMG240,000/tahun

Waktu Sekolah

Senin, Rabu, Jumat (jamnya lupa)

Kata Suami:

“Udah sekolah ga usah di tempat yang terlalu luas, aku takut ilang anaknya.”

2. Sabilia

Lokasinya berada di dalam perumahan, di seberangnya ada lapangan yang bisa digunakan untuk olahragaΒ atau manasik haji kecil-kecilan.

Halaman rumahnya kecil dan dipenuhi mainan motorik kasar. Mainannya cukup lengkap, ada ayunan, perosotan, jungkat jungkit dan jembatan bergoyang. Garasinya dimanfaatkan sebagai kantor administrasi sekaligus area penerima tamu.

Playgroup dan daycare berada di lantai 1, sementara TK A dan B berada di lantai 2. Rencananya lantai 3 akan digunakan sebagai daycare khusus bayi. Biasanya orang tua yang bekerja sekalian menitipkan anaknya di daycare, jadi setelah sekolah langsung beraktifitas di daycare. Daycarenya bisa harian juga, boleh juga nih kalau lagi urgent butuh menitipkan si bocah.

Impression:

Petugasnya sangat ramah dan antusias dalam menjelaskan sekolahnya. Pendekatannya sangat personal (beberapa waktu yang lalu saya pernah telepon dan difollow up langsung oleh kepseknya dan ditanya kapan mau trial, tapi saat itu saya sedang opname jadi saya jawabnya lieur haha). Begitu mereka mudeng saya yang telepon waktu itu, mereka jadi tambah ramah (lha padahal awalnya aja udah ramah ya). Kebetulan juga anaknya dokter paru saya sekolah di sini, dan dokter saya itu eksis banget lah di sekolah ini, jadi suasana untuk saya sudah sangat cair.

Suasana PG lumayan chaos karena anak usia 2-3 dan 3-4 tahun plus anak daycare bercampur dengan bebas. Kelasnya model lesehan, untuk kegiatan yang butuh meja menggunakan ruangan lain. Anak saya dengan pedenya ikutan kegiatan crafting di sana dengan bahagia. Saat saya datang, gurunya lagi story telling pakai buku Halo Balita πŸ˜€ bagus bagus…

Yang saya suka adalah mereka sangat clear dalam program sekolahnya (semua konsep diprint dan ditempel di ruang admin, sehingga saya bisa baca semuanya). Dalam setahun, saya bisa tahu apa saja yang akan mereka pelajari dan murojaah surat pendek dan hadist apa yang akan dikerjakan. Sebenarnya untuk usia 3 tahun ini saya santai aja perihal hafal atau tidak, yang penting dia sudah tahu dulu (minimal pernah dengar). Dari perencanaannya, sampai TK B diharapkan murojaah juz 30 selesai (sukur-sukur apal). Saya sangat suka dengan perencanaan kegiatan yang jelas ini.

Tapiiii… yang saya nggak suka adalah dia sekolah 4 hari seminggu. Sibuk bener bang… Hari senin dan rabu jadwal biasa (shalat duha, murojaah, kegiatan sentra). Jumat musik (which i don’t like too, tapi kata suami ini minor banget lah), dan hari Kamis khusus ekskul (menggambar, menari, bahasa inggris, penanaman akhlak). saya dengernya aja capek… hahaha. Selain itu, field tripnya kalau nggak salah 1 atau 2 kali dalam setahun. Terasa kurang karena saya survey sekolah lain yang menawarkan field trip 5-7 kali dalam setahun hehe.

Oh iya, Sabilia sendiri memiliki yayasan yang diketuai oleh ustadz Bachtiar Nasir. Katanya beliau suka mengisi tausiyah saat penerimaan siswa baru dan perpisahan πŸ˜€

Biaya:
UP: 4,000,000 (sekali bayar sampai TK)

Biaya tahunan 2,700,000

Seragam 600,000

Pendaftaran 400,000 (termasuk tes stifin)

SPP 625,000 /bulan

Waktu:
Senin, Rabu (08.00 – 11.00)
Kamis, Jumat (08.00 – 10.00)

Komentar Suami:

Ketua yayasannya Bachtiar Nasir? 99% oke kalo gitu.

PG dan TK mah tempatnya jangan luas-luas emang, kalo terlalu luas tau-tau anaknya ngilang terus pup di celana di pojokan nggak ketahuan gimana hayo.

PG dan TK mah emang biasanya chaos, biasa itu…

3. Bunga Amalia

Lokasinya berada di jalan kecil yang sangat mudah diakses dari Jl. Raden Inten (cuma masuk jalan, nggak sampai 50 meter sekolahnya sudah kelihatan). Di depan sekolahnya ada lapangan yang digunakan untuk parkir jemputan dan mungkin parkir kendaraan orangtua yang menjemput. Gedungnya tidak terlalu besar, ada 3 lantai dengan cat warna gonjreng.

Saat masuk, saya diarahkan oleh mas-mas yang sepertinya driver jemputan ke arah TU dan langsung diterima oleh kepseknya. Kami pun tur keliling sekolah.

Lantai 1 difungsikan untuk kantor, kelas playgroup, dan playground (ada arena mandi bola kayak di mall bok). Mainan motorik kasar cukup lengkap. Lantai 2 untuk kelas TK, perpustakaan, ruang sentra (bisa digunakan anak pg juga), dan ruang komputer (right… they have computer lesson xD). Lantai 3 sebagian difungsikan untuk kolam renang, dan selebihnya dibiarkan kosong untuk kegiatan seperti latihan drumband atau lomba-lomba.

Impression:

Kelas PG nya besar. Jauh lebih besar dari Sabilia, hehe (al azhar juga besar, tapi isinya dua kali lipatnya ini). Terlihat sepi, katanya ada 13 siswa tapi ada 4 orang yang tidak masuk. Waktu saya mampir, siswa dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama sedang mengecap gambar pelangi dengan warna, sementara kelompok kedua sedang menempel kertas aneka bentuk menjadi orang-orangan. Di sini mereka sudah pakai activity book.

Tempat mainannya banyaaaak dan paling seru penampakannya dibanding sekolah lain. Menurut saya, dibanding yang lain, sekolah ini paling rapi secara sistem dan paling tinggi value for moneynya. Rasio murid – guru paling sedikit (14 murid / 3 guru), mainan paling banyak, ada kolam renangnya, kelasnya besar, fasilitasnya lengkap.

Tapi yang saya paling nggak sreg adalah sekolah ini sangat mempromosikan dirinya dengan marching bandnya. Saat saya mengobrol dengan kepsek, beberapa pelatih marching band baru saja datang dan beberapa saat kemudian marching band mulai latihan. Saya sama suami nggak suka marching band dengan pertimbangan pribadi kami, sesederhana itu hehehe.

Yang saya tangkap dari sekolah ini, mereka fokus untuk membuat anak-anak mandiri, dan kesannya entah kenapa serius pisan (karena ada kelas komputer apa yak.. haha). Implementasi keagamaan di sekolah berupa membaca iqro tiap hari di kelas per dua orang, dan baca doa (saya lupa ada hafalan surat dan doa gak ya..). Karena implementasi keagamaannya kurang terkonsep, saya jadi agak urung juga, hehe.

Biaya:

Uang pangkal PG: 7,500,000

SPP: 550,000/bulan

Waktu:

Senin, Rabu, Jumat atau Senin, Kamis, Jumat (jamnya lupa, sekitar 2,5 jam lah mulai jam 8)

Komentar Suami:

Yaela, mainan mah bisa di carrefour aja…

segini dulu ya, lanjut di postingan berikutnya.. hahaha. Sejauh ini yang memenuhi selera kami adalah Sabilia. Ingat, selera keluarga kami belum tentu cocok dengan selera keluarga pembaca πŸ˜‰ jangan lupa untuk menyesuaikan pilihan sekolah dengan visi masing-masing keluarga πŸ™‚

Komunikasi Produktif – Day 1

​Dalam berkomunikasi dengan keluarga, saya cenderung tidak ada masalah dalam komunikasi ke suami (mungkin karena beliau sudah komunikator yang baik dari sananya) tapi payah banget kalau ke anak. Semua kesalahan komunikasi sepertinya sudah pernah terjadi akibat saya yang kurang santai dan kurang sabar, hiks.

Dan ilmu komunikasi produktif dari IIP ini harusnya bukan hal baru, tapi mengamalkan ilmu itu memang lebih greget daripada sekedar tahu saja, hehe..

Hari pertama ini, saya merasa sangat terbantu dengan penggunaan kalimat positif. Dengan mengubah semua perintah ke anak menjadi kalimat positif, jadi terasa kita harus berpikir sebelum bicara, jadi nggak asal ngomel hehehe. Untuk anak, saya sekarang sering menggunakan instruksi “ayo nonton tv di kursi saja ya”, daripada “jangan nonton dekat-dekat”. Tapi sepertinya untuk hal darurat seperti mengingatkan si kakak yang suka iseng niban adik bayinya tetap harus keluar kata “jangan” πŸ˜›

“KISS” juga membantu untuk menginstruksikan macamm-macam ke si kakak, ibrohnya jadi tambah belajar sabar, da namanya balita mah harus diinstruksikan step by step memang.

Pelan-pelan saya belajar mengapresiasi si kakak sekaligus mengenalkan Allah untuk kakak. Tapi reaksinya si kakak malah agak lucu…

I: Kakak tolong ambilkan roti ya di tukang roti

K: oke *dikerjakan*

I: wah kakak hebat ya bisa bantu ibu beli roti. Ibu suka, Allah juga suka.

K: … Allah suka roti?

πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Ya masih banyak yang harus diperbaiki, semoga hari berikutnya lebih baik!

#hari1

#tantangan10hari

#komunikasiproduktid

#kuliahbunsayiip

Second Chance

​Everytime I get sick, I think I might be dead.

This is not the first time.

When I was 35 weeks pregnant, I had early contraction and I thought I was going to be dead, giving birth to my daughter too fast.

But I didn’t – my daughter can hold on for 3 more weeks inside my belly, and no one dies when I was in labor.

——

Last week, I thought I would be dead. Again.

My cough hasn’t stopped for about 3 weeks despite my doctor already prescribed some antibiotics and expectorants, the whole family was sick and I was so tired but I really had no time to do that πŸ˜‚ Everyone needs to be fed, taken care of. Not to mention that I have projects to finish.

I’ve been having fever for about 4 days the week before and at one point I couldn’t even get up off my bed. Maybe I fainted or fell asleep – I didn’t know. I knew it was bad that I didn’t even have the strength to bathe my children. But anyway, I feel like everyone in the house is in denial with my sickness because, well, you know. Mothers are not allowed to get sick.

So I sucked it up, thinking that it was not that bad and carry on. I might be tired but I’m not sick, I said to myself. Sickness is only state of mind.

But that day, my body cried for help. I didn’t stop coughing, I started to breathe difficultly and I had this headache that I can’t even stand straight.

So we rushed to the hospital to see my pulmonologist.

She said that I was so pale – I look really bad. Last week with worse cough and stuff, I still look ok. But today, no. She was so worried and send me to the lab for a blood test. And she recommend myself to get hospitalized.

After bloodtests, reading my rontgen, and examining me, she said that there is something in my right lung – perhaps a fluid. She has to perform USG to confirm it, and if it is confirmed, she has to suck the fluid inside my lungs with needles. Then she will have the fluid to be tested to confirm my illness.

Unfortunately She can’t perform USG on weekend, so she will do that on Monday. Meanwhile, she treated me with antibiotics via IV.

I remember my previous pulmonologist told me that I had tumor in my right lung and she needs to confirm that via CT Scan, but I didn’t do that because I was pregnant that time. And I didn’t buy the idea that I have tumor – I just simply don’t believe that.

So I asked her. What if this thing in my lung is not a fluid?

She said, It could be a tumor. That’s the worst case. In fact, if you didn’t ask, I won’t tell you. Because what is important for the patients is their positive minds. So please be positive, I will conduct the tests one by one to find out what it is, but let’s just think simple and not think too far.

—-

Is it a tumor or is it not a tumor? If it is, will I die? How long do I have until I die?

Doesn’t matter. What’s left is just regret… Allah already know how He wants me to die. So, how come I am here with very little good deeds to bring to my grave?

I tried not to think about tumors. My pulmonologist said that she will consult sone of my data to internist to check if I have another infection that makes me so weak.

The headache kicked in and I fell asleep.

——-

Then it was confirmed that besides that fluid inside my lungs, I suffer typhoid fever too.

Perfect.

Two days after I got into the hospital, my pulmonologist performed USG scan of my lungs, but she could not find a fluid. Good sign, she said. But still, I have trouble in breathing and my lung still feels like burning almost all the time.

What is this, am I going down with this illness?

She asked me to have rontgen tomorrow to recheck the impression of my lungs.

My mother and husband were so happy that I didn’t have to puncture my lungs for some fluids. I did not know that it was that serious to them.

Then that tomorrow came, but I was so weak because of the typhoid fever. But somehow I managed to do some rontgents. Then the day after that, my pulmonologist confirmed that I suffer pneumonia lobaris.

That pneumonia type that infect your whole lobe of lung. Crazy. I didn’t know that I can suffer this kind of illness.

So, not tuberculosis? I asked.

I had TB before and I was so concerned that it stroke me back, but the doctor said that she can’t tell right now.

That time I was so weak with the lung infection and typhoid fever, so it might be too fast to judge that. But she will see, after I recovered from the typhoid fever, if my lungs condition doesn’t show any progress, then she might say that it is TB.

But for now, pneumonia lobaris.

So she cranked up all the medication dose in hope that I will feel better soon

And finally on my 5th day at the hospital finally my health show some improvement, and I thought maybe I wasn’t going to die by this illness. And then the doctor let me out on 7th day.

Out of hospital, still alive. Weak, but alive.

Allah stripped down my sins and postponed my death. Another second chance.

How do I manage to use that to avoid his hell and toward his heaven?

Second chance and illnesses.

Maybe that’s his way to tell me,

“You actually have a chance to die in my way.”

—–

And after all the second chances you gave me, how do I manage to get your blessing in life and death?

Ihdinashhirootol mustaqiim.