Luruskan Niat

Aku ingin sekolah lagi.

Setelah 7 tahun keluar dari Sabuga, mendadak sekali, tapi ya, saya ingin sekolah lagi. Lucunya ini langsung mendapat lampu hijau dari Suami dan Ibu saya πŸ˜‚

Sebenarnya sudah lama Ibu saya mengharapkan saya sekolah lagi. Tapi saya masih clueless, benar-benar nggak tahu mau ambil master apa. Dan urusan sekolah ini tidak sebentar dan butuh biaya. Nggak lucu kalau ternyata saya salah jurusan atau asal pilih – yang penting S2 aja.

Ada satu kali saya datang ke open house program magister, lalu saya urung. Biayanya juga lumayan, waktu itu kami baru menikah dan banyak kebutuhan. Belum terbayang bagaimana cara memenuhinya.

Ada kalanya juga saya mengagumi teman-teman yang sekolah di benua seberang (dan tentu saja, foto kehidupan sehari-harinya yang menyenangkan, sesekali bisa pelesir ke negeri sebelah). Namun saya kembali berpikir, kurang elok juga kalau saya ingin sekolah ke luar tapi motivasi terbesarnya adalah jalan-jalan. Saya urungkan lagi keinginan itu.

Kenapa harus sekolah? S1 saja kan nggak masalah. Banyak, kok, teman-teman yang lulusan SMA tapi mereka cerdas dan menjadi Ibu yang hebat untuk anak-anak mereka.

Sempat terpikir seperti itu. Tapi bagi saya, ternyata tidak sesederhana itu.

Setiap orang dilahirkan di lingkungan yang berbeda-beda dengan ujian yang berbeda. Ujian bagi saya beda bagi teman saya juga. Hanya karena orang lain melakukan A, bukan berarti A adalah hal yang paling tepat saya lakukan juga.

Dan akhirnya, saya menemukan jawabannya… Jawaban kenapa penting bagi saya untuk bersekolah lagi. Jawaban yang entah kenapa tidak bisa keluar dari otak saya tujuh tahun terakhir ini.

Allah mencintai orang yang berilmu dan akan meninggikan derajatnya. Orang yang berilmu dan bertakwa adalah pewaris para Nabi. Lalu, masa nggak mau jadi pewaris para Nabi?

Saya cinta kepada arsitektur. Bertahun-tahun hubungan kami putus nyambung, tapi saya selalu jatuh cinta kembali. Besar keinginan saya untuk menggali ilmu agama saya, dan sebesar itu pula keinginan untuk mendalami arsitektur lagi.

Saya menyukai sejarah, saya menyukai ilmu arsitektur. Di dunia ini, negara ini, harus ada seseorang yang menjaga ilmu itu di dalam kepalanya, menuangkannya menjadi buah pemikiran dan karya. Dan saya pikir, saya bisa melakukannya.

Inilah peran yang akan saya ambil untuk mendayagunakan diri saya bagi masyarakat. Anak-anak saya berhak mendapatkan Ibu yang cerdas, juga orang-orang di sekitar saya, mereka berhak mendapatkan manfaat dari buah pikiran saya yang terisi.

Sepuluh tahun yang lalu ada anak muda penuh semangat yang bermimpi menjadi dosen. Sepertinya, tahun ini anak itu akan kembali melangkah, mengisi dahaganya akan ilmu pengetahuan.

Butuh tujuh tahun untuk meluruskan niat dan mencari jawaban.

Aku akan kembali πŸ™‚ insya Allah, bismillah.

Aku Tidak Bisa Tidur

Aku tidak bisa tidur. Malam ini suamiku pulang membawa cerita.

Dia baru saja bertemu seseorang untuk urusan pekerjaannya. Setelah pertemuan itu selesai, seorang stafnya berceletuk, “Gila, Mas. Sepatunya ajaa Gucci.”

Tentu saja suami saya keheranan. Yang jelas akhirnya dia tahu kalau harga sepatu itu lima belas juta. Lima belas juta untuk diinjak-injak. Membedakan lipstik harga empat puluh ribu dan tujuh ratus ribu saja beliau nggak bisa, sudah barang tentu untuk urusan ini beliau geleng-geleng kepala.

Tidak habis pikir, karena setiap shalat Jumat di dekat kantornya dia melihat seorang Ibu membawa tiga anaknya – yang paling kecil satu tahun, seusia anak bungsu saya, digendong sambil memulung sampah. Anaknya yang tiga tahun ditidurkan di gerobaknya, dan anaknya yang enam tahun membantunya memulung. Bapaknya entah di mana, tak pernah terlihat. Terkadang si Ibu terlihat emosi, kelelahan.

Betapa lucu bahwa hanya beberapa ratus meter berjarak, ada dua kondisi yang begitu jauh berbeda.

Sudahlah, kami berusaha berbaik sangka. Mungkin si pemilik sepatu sebenarnya bisa beli sepatu seharga seratus juta, dan beli sepatu limabelas juta adalah penghematan terbaik yang bisa ia lakukan.

Tapi bayangan pemulung tadi menghantuiku. Walau aku tak pernah melihatnya.
Sungguh untuk urusan dunia kita harus melihat ke bawah.

Ibu pemulung itu, membuat sujudku menjadi lebih panjang dan meluruhkan kerasnya hatiku.

Aku tidak bisa tidur. Di mana suamimu dan bagaimana kondisi anak-anakmu?

Tapi setidaknya aku malam ini sudah meminta Allah untuk memuliakanmu.

Lebih Dari Itu

Bertahun-tahun fase pendidikan yang kulewati, dulu aku merasa kuliah adalah satu fase juga – ya, setelah SMA, kuliah lalu kerja. Sesuai cita-cita saja. Dan Ibuku tentu saja mengarahkanku ke universitas top 5 di Indonesia, dan harus kerja keras untuk masuk ke sana.

Dan saat aku diterima di sana, institut gajah duduk itu, kukira juga semua biasa saja. Kuliah, berteman, mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya.

Namun baru kusadari bahwa ternyata bangku kuliahku dulu adalah wadah dari bibit-bibit terbaik dari penjuru nusantara – ungkapan “Selamat Datang Putra Putri Terbaik Bangsa” yang konon membuat lulusannya ngeyel di mata para HR, ternyata memang benar adanya.

Sungguh suatu kehormatan pernah menimba ilmu di sana, bertemu dengan orang-orang yang tak disangka-sangka. Orang-orang yang menorehkan perubahan dengan goresan penanya, peluh dan putaran otaknya.

Di sini adalah tempat aku bertemu ayah dari anak-anakku, di sini aku bertemu wanita-wanita cerdas yaang karyanya selalu menginspirasi.

Terima kasih, kampus gajah.

Dan tentunya, terima kasih Mama untuk doanya. Terima kasih keluargaku untuk dukungannya. Dan terima kasih Allah, atas segala takdir yang Engkau gariskan.

Aku mau melangkah lagi, menorehkan garis manfaat di sisa usia di bumi ini.

Kampus gajah, semoga kita bertemu kembali πŸ™‚

Galat Satu Mili

Bagi kita yang pernah belajar di bidang perancangan, pasti pernah mengalami fase membuat gambar dengan sistem manual. Bayangkan menggambar denah di kertas A2, dengan meja raksasa bersampulkan milimeter block dan penggaris yang diikat bagian kiri dan atasnya. Semua demi satu hal: supaya garis nggak miring!

Memang apa urusannya soal garis miring ini? Coba bayangkan mau gambar rumah temboknya lurus, tapi salah tarik garis sedikit temboknya jadi miring. Bisa digetok yang punya rumah.

Garis miring ini padahal sebabnya sepele: penggaris yang kurang presisi, atau sekedar salah posisi tarik garis semili.

Ya, beda cuma semili, tapi begitu diteruskan garisnya, di ujung gambar perbedaannya bisa sampai 1 cm. Kalau sudah begini, apalagi kalau gambarnya pakai pena, tinggallah kita merana gambar ulang lagi 😹

Saya pernah mengalami kasus ini saat mengerjakan dapur di apartemen klien saya. Tukang saya tidak teliti saat membuat rak bumbu – beda panjang rak bumbu paling atas sampai paling bawah sampai 1,5 cm. Akibatnya raknya miring dan tidak elok dilihat. Akhirnya tukang saya harus kembali ke workshop – membuat ulang rak yang dimaksud dari awal, dempul lagi, cat lagi. Proses yang memakan waktu dan biaya cuma gara-gara selisih 1,5 cm saja.

Di gunung Semeru, pendaki gunung seringkali tersasar ke area berbahaya saat turun dari puncak hanya karena berjalan selisih satu meter  dari jalur yang seharusnya. Biasanya hal ini dilakukan karena mereka malas mengantri di jalur yang seharusnya. Hanya semeter – tapi gunung berbentuk kerucut. Semakin ke bawah, selisih jarak dengan jalur seharusnya semakin besar, sampai tiba-tiba terperosok ke daerah berbahaya.

Betapa dalam kehidupan kita sehari-hari, kita juga sering melakukan galat barang semili.

Awalnya rajin shalat berjamaah di masjid, tepat waktu, shaf pertama.

Lama kelamaan mundur ke shaf ketiga.

Sampai kemudian, ah, shalat di rumah saja lah. Atau di kantor saja, atau dimanapun

Tadinya adzan dzuhur langsung lari ke masjid, lama-lama baru shalat jam dua siang.

Kalau dibiarkan bisa-bisa baru shalat dzuhur jelang adzan ashar.

Atau contoh lain lagi,

Awalnya istiqamah berhijab panjang dan berkaoskaki

Lama-lama berpikir, ah ke tukang sayur sebentar saja. Nggak usahlah pakai kaos kaki.

Lalu lama-lama jadi terpikir, ke depan rumah sebentar ini, pakai daster aja nggak apa-apalah.

Entah kemana galat itu menuju jika dibiarkan,

Mungkin bisa jadi lama-lama lari-lari telanjang di tengah jalan juga dibiarkan kalau tidak ada yang mengingatkan.

Kebaikan dan keburukan seperti bola saju yang bergulung,

Satu kebaikan akan mengajak kepada kebaikan yang lain

Satu keburukan akan mengajak kepada keburukan yang lain

Maka, dalam sehari tidak kurang kita baca Al-Fatihah tujuh belas kali.

Minta petunjuknya melalui “Ihdinasshirootol mustaqim” – tunjukkanlah kami jalan yang lurus.

Waspada galat satu mili di dalam hati. Entahlah itu secuil kesombongan, secuil keinginan duniawi, apapun. Karena satu mili bisa melebar menjadi satu senti, dan tanpa disadari kita sudah keluar jalur dan binasa.

gaΒ·lat n kekeliruan; kesalahan; cacat

Jangan Menyerah

Jangan pernah menyerah atas kelemahan diri kita

Jangan pernah menyerah atas eloknya fitrah anak kita.

—-
Saya adalah seorang Ibu muda. Saat melahirkan anak pertama saya, ungkapan “Anak-anak punya anak” itu bisa jadi benar adanya. Singkat cerita saya kayaknya rada depresi ba’da lahiran, sehingga butuh 1,5 tahun untuk membentuk bonding yang baik dengan anak sulung saya (sekarang usianya 3,5 tahun)

Sebagaimana Ibu pada umumnya, selain cinta ada kalanya kesal dengan anak sendiri saat hal-hal tidak sesuai dengan ekspektasi, atau saat kita sedang lelah saja. Saat lelah, terkadang saya jadi off guard dan menjadi menye-menye – lemah dan seolah terzolimi dengan lelahnya mengurus anak. Duile boi, bikin anak kan dilakukan secara sadar, pun Sang Penitip juga sudah menakar tidak ada ujian yang melebihi kemampuan hamba-Nya. Mbok ya jadi hamba yang kuat dikit kenapa deh.

Beberapa kali saya menerima curahan hati dari beberapa Ibu yang mengeluhkan anaknya. Anakku ini kok kurang ajar. Anakku ini kok pemalas. Anakku ini kok begini, kok begitu. Aku nggak tahan dengan kelakuan anakku yang begini dan begitu…

Entahlah… 

Saya percaya doa Ibu adalah doa yang mustajab, dan apa yang kita sampaikan terhadap orang lain tentang anak kita, itulah sejatinya ia.

Betapa manusia memang sangat mudah untuk melihat secuil goresan hitam di lembaran kertas putih, bahkan jika kertas putih itu darah dagingnya sendiri.

Sudah jadi fitrah seorang Ibu untuk selalu menjadi contoh bagi anak-anaknya. Di akhir zaman sekarang ini, konon tanda kiamat yang sudah terjadi adalah seorang budak melahirkan majikannya.

Bukan, anakku bukan majikan bagiku dan aku bukan budaknya.

Anakku adalah anakku dan aku adalah Ibunya.

Betapa seorang anak adalah peniru ulung, dan seringkali sang Ibu lupa diri dan terlalu sibuk untuk meratapi kelemahan dirinya.

Jangan menyerah. Jangan menyerah.

Ingatlah bahwa fitrah anak itu adalah suci.

Ingatlah bahwa fitrah manusia adalah berbuat salah, namun Allah mencintai hamba-Nya yang bertaubat dan berlari mendekati-Nya.

Jangan menyerah, berhenti meratapi kelemahan diri.

Manusia adalah jiwa yang lemah, namun mereka memiliki Rabb yang Maha Kuat.

Jangan menyerah, jangan pernah menyerah untuk membentuk diri menjadi Ibu terbaik bagi anak-anak kita, Istri terbaik bagi suami kita, anak terbaik bagi orangtua kita.

 Jangan pernah menyerah untuk memuliakan diri kita dan keluarga kita di dunia dan akhirat.

Waktu

Demi masa, sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian.

Ada dua nikmat yang manusia selalu lalai daripadanya, yakni sehat dan waktu luang.

Menghargai waktu. Sebuah sikap yang anomali di Indonesia, yang membuat saya terlihat seperti nenek lampir gila yang marah-marah cuma gara-gara terlambat janjian 20 menit (“emang lo kira gue pengangguran? Bilang dong kalau mau telat, 20 menit gue kan bisa ngerjain yang lain.” – yang dulu telat janjian sama saya kayaknya pada pernah kena semprot kayak gini). Tapi, beneran. Dua puluh menit itu, kalau dokter telat dateng 20 menit keburu modar pasiennya. Kalau arsitek kayak saya, telat masukin gambar tender – gak usah telat 20 menit – telat semenit aja gambaernya nggak diterima. Hasil kerja keras begadang berhari-hari, tertolak cuma karena telat semenit.

Waktu, sebuah batasan yang menentukan hidup seseorang, dan masih saja kita dan lingkungan kita memperlakukannya seperti sampah.

Saya bukan orang yang paling disiplin di dunia, tapi saya berusaha untuk itu. Kesadaran saya untuk menghargai waktu sedikit banyak dibentuk oleh lingkungan kuliah saya yang penuh dengan deadline.

Saya pernah kuliah di jurusan arsitektur, dengan kehidupan kemahasiswaan yang sangat aktif. Setiap semester, saya punya kuliah 8 SKS yang merupakan nyawa dari prodi ini: Studio Perancangan Arsitektur. Delapan SKS artinya, jangan ngawur, jangan sampai nggak lulus. Dilewatin sekali aja rasanya udah stres berat.

Emang pekerjaannya ngapain aja? Wah banyak. Survey, cari preseden, membuat konsep, eksekusi gambar sesuai output yang diminta (denah, potongan, tampak, 3D, detail), bikin maket… Sendiri πŸ˜‚

Masterchef aja disuruh masak 60 menit stresnya udah kayak apaan, ya bayangin kita disuruh bikin gedung, satu semester bisa 2-3 desain, deadline ketat, apa nggak pengen muntah. Mana gambarnya sering segede tiker di kamar ampe bisa dijadiin alas tidur. Belum lagi drama rebutan tempat ngeprint menjelang hari pengumpulan tugas… Fiuh. Saya pernah beberapakali mental breakdown saat kuliah di sini, dan saya nggak sendiri πŸ˜… Makanya saya dulu paling benci sama orang yang suka terlambat. Karena terlambat satu menit bagi saya, sama saja membuat kerja keras lembur begadang saya menjadi sia-sia.

Dengan tugas menggila seperti itu, syukurnya saya masih bisa aktif di tiga organisasi kampus. Dan supaya waras saya setiap malam juga menyempatkan diri untuk makan bersama teman-teman sambil ketawa-ketawa. Alhamdulillah masih bisa lulus tepat waktu dengan IP yang tidak terlalu memalukan bagi orangtua πŸ˜‚

Kondisi hidup serbaketat zaman kuliah saya memaksa saya untuk pandai mengatur waktu saya. Alhamdulillah saya memiliki sahabat maha disiplin yang sangat menginspirasi saya, jadi saya tinggal ikuti jadwal kehidupan dia supaya waktu saya teratur dengan baik :p

Setelah lulus kuliah, saya bertemu dengan semakin banyak orang dengan beragam persepsi tentang waktu.  Ada yang suka ngajak ketemu dadakan dikira kita pengangguran, tapi kasta dan jabatan kita tidak memungkinkan kita untuk ngomelin dia. Ada yang kalau janjian suka bikin persepsi waktu misterius dan subyektif, misal: janjian ketemu jam makan siang. Tapi realisasinya ternyata jam 3 sore. Saya mah kalo makan siang jam 12, ternyata dia jam 3. Bagi saya dia telat tiga jam, bagi dia saya kecepetan 3 jam πŸ˜… Ada juga yang tepat waktu banget, janjian jam 10 tapi jam 10 kurang 15 udah sms kalau dia sudah di tempat.

Seiring waktu, saya juga lelah ngomelin orang-orang yang nggak on time di lingkungan saya – kalau saya teruskan habit ngomel saya seperti zaman kuliah bisa-bisa rusak silaturahim saya ke semua orang, hahaha. Jadi akhirnya saya berusaha menerima keadaan, hidup santai dikit biar kepala nggak panas. Plus dengan adanya dua anak kecil kesayangan, hal-hal yang dulu bisa saya lakukan dalam 20 menit kini molor menjadi 2-3 kali lipatnya πŸ˜‚ bonus ekstra lama kalo tiba2 ada yg minta ASI atau minta dianter ke WC atau combo dua-duanya πŸ˜‚

—-

Setiap manusia memiliki 24 jam yang sama pada hidupnya, dan rentang usia yang relatif mirip (Rasulullah Shalallahu Alayhi Wassalam berkata usia umatnya sekitar 63 tahun). Tapi mengapa ada ulama yang bisa produktif menelurkan puluhan kitab, sementara saya di sini baca Minhajul Muslimin aja nggak kelar-kelar?

Jawabannya adalah, keberkahan waktu.

Allah menciptakan waktu sesuai dengan peruntukannya, malam diciptakan untuk beristirahat, sepertiga malam terakhir Allah turun ke langit dunia untuk mendengar doa-doa hamba-Nya, subuh diciptakan untuk memulai hari dan siang diciptakan untuk bekerja. Rasulullah melakukan qailullah – kalo bahasa bekennya sekarang power nap – sebelum zuhur. Ashar — berasal dari akar kata yang sama dengan “ashir” yang artinya “memeras”. Disebut demikian karena waktu ashar adalah waktu manusia memeras hasil dari kerja kerasnya seharian. Biasanya orang arab itu melakukan makan malam (‘asyaa) setelah shalat isya. (Thanks to Ustadz Faris Baswedan yang telah mengajarkan ini kepada kami).

Dengan disiplin mengikuti ritme waktu yang Allah ciptakan, seharusnya hidup kita lebih teratur dan tenang. Sayangnya dengan hiruk pikuk kota besar seperti sekarang ini, tak jarang hidup kita jadi amburadul. Pulang kemalaman, akhirnya subuh kesiangan. Belum lagi macet di jalan yang melelahkan.

Dunia kalau diikuti memang tidak akan ada selesainya. Tanpa terasa kita terhanyut oleh aliran waktu, dan tanpa kita sadari kita semakin menua dan akan mati. Dan lalu kita bingung ke mana habisnya waktu kita tersia-sia.

Agar hidup lebih disiplin dan teratur, berikut beberapa cara yang sedang belajar saya terapkan dalam kehidupan saya:

1. Rencanakan semua kegiatan di antara waktu shalat, dan shalatlah di awal waktu. Shalat adalah kewajiban yang kalau nggak dikerjakan pasti akan kepikiran. Bayangkan lagi meeting jam 2.30 siang dan kepikiran “duh gue belum sholat zuhur”, meeting nggak konsen, pahala juga makin tipis karena shalat di akhir waktu. Mending dikerjakan langsung setelah adzan – dapet pahala jamaah, hati dan pikirian tenang.


2
. Selalu awali hari dengan zikir pagi dan tilawah. Kunci keberkahan waktu  salah satunya adalah dengan membaca Al-Qur’an, jadi sempatlanlah walau barang sehalaman.

3. Jangan tidur setelah shalat subuh. Salah satu ciri orang yang sukses adalah paginya yang masygul (sibuk). Percaya deh kalau kita mengerjakan apapun setelah subuh, rasanya setelah selesai waktu kita masih tersisa lebih panjang dibanding kalau kita baru mulai jam 9 pagi. Selain itu, tidur setelah subuh hukumnya makruh πŸ™‚

4. Bagi Pria, shalat subuh berjamaah di masjid. Kata Nouman Ali Khan, subuh berjamaah di masjid memberikan sensasi spiritual yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata hehe. Ini juga sudah dikonfirmasi oleh suami saya, katanya sensasinya “yah rasanya kayak jadi orang bener aja.” Feeling good about yourself early in the morning is such a positive way to start a day πŸ™‚

5. Qailullah. Alias tidur siang sunnah Rasul alias power nap menjelang zuhur. Penting untuk merecharge tubuh kita setelah lelah beraktifitas sejak subuh sampai menjelang zuhur. Saya sudah pernah coba sendiri, tidur 15 menit rasanya seperti tidur sejam. Sementara kalau tidur di waktu setelah subuh/ashar tidur 2 jam pun rasanya cuma kayak tidur 30 menit… Keajaiban keberkahan waktu πŸ˜„ bagi irt seperti saya, kalau syaa nggak power nap, jam 7 malam biasanya saya sudah semaput padahal anak-anak lagi getol-getolnya minta ditemani baca buku atau bermain.

6. Memasang kalender bulanan dengan agenda dan deadline. Penting bagi saya untuk merencanakan kegiatan seminggu ke depan, masak atau nggak, dan hal-hal printilan lainnya :p

7. Mencatat semua to do list di kertas/hp. Karena kalau tidak dicatat, yang ada malah lupa dan berabe, dan bikin pikiran jadi ruwet. Saat kita ada waktu luang, tinggal cek to do list dan kerjakan apa yang bisa dikerjakan.

8. Membuat prioritas pekerjaan. Yang mana lebih penting, shalat dulu atau cek grup WA dulu? Masak dulu atau mengerjakan desain orderan klien? Hari ini masak atau catering? Dan masih banyak lagi “apa dulu nih yang dikerjakan” yang menghantui kepala kita. Dengan menempatkan prioritas, kita akan terbantu untuk menentukan pekerjaan apa yang memberikan manfaat terbesar jika dikerjakan lebih cepat. Kita juga bisa memetakan pekerjaan apa saja yang bisa didelegasikan kepada orang lain agar waktu kita lebih produktif (terimakasih ARTku yang mau bantu nyuci nyetrika jadi aku bisa les bahasa)

9. Menarik, tapi tidak tertarik. Kalau ini ajarannya Guruku tercinta Ibu Septi Peni Wulandani πŸ˜€ kita harus bisa menentukan apa yang penting dan tidak dalam pembicaraan kita sehari-hari. Katakan yang baik atau diam. Pernah nggak kita buka grup WA, lalu terhanyut pembicaraan menarik sampai sejam, lalu setelah dipikir-pikir pembicaraan tadi nggak penting-penting amat dan sejam itu bisa digunakan buat ngajak anak sepedahan kelilinh komplek? Hehe.

Jadi, saat kita.buka grup WA lalu ada bahasan tentang, let’s say, konspiraei wahyudi dalam kasus impor garam. Lalu pikirkan: apa manfaatnya buat saya kalo saya tau? Apa manfaatnya juga buat orang lain kalo mereka tau? Apakah diskusi ini menambah pahala atau berpotensi memberi syafaat di kubur nanti?

Kalau tidak, jawabannya sudah jelas: menarik. Tapi tidak tertarik :p

Waktu adalah hal yang paling berharga saat kita diberikan taufik untuk menjaganya.

Semoga apa yang saya tuliskan memberi manfaat.Semoga 90 menit yang kuluangkan untuk menuliskan ini dapat menjadi syafaat buatku di hari pembalasan nanti.

Wabillahittaufikwalhidayah.