Qadarullah…

“Qadarullah wa maa sya fa’al,” ujar seorang teman terkait kemalangan yang dialaminya.

Pertama mendengarnya, istilah apa pula itu? Saya yang tahunya cuma insya Allah, jazakallah, pun menemukan kosa kata baru.

Oh, ternyata itu doa jika kita ditimpa hal yang tidak kita sukai. Qadarullah wa maa sya fa’al. “Qadarullah (Ini adalah takdir Allāh), dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan.”

Come to think of it, kadang saya akhirnya ikut-ikutan menyebutkan doa itu kalau saya lagi tidak ikhlas terhadap sesuatu yang saya alami. Seperti yang terakhir ini: saya baru dapat uang dari kontrakan, dan ternyata sisa yang bisa saya simpan tidak sebanyak itu akibat pengeluaran ini dan itu (hiks). Tadinya saya pikir punya uang 1000 ternyata saya cuma punya 500, oh dear excel why do you break my heart 😦

But then… Qadarullah. Allah sudah izinkan uang itu keluar. Berarti Allah belum mengizinkan saya untuk punya tabungan banyak. Lagian ngapain juga nabung banyak-banyak, kaga dibawa mati juga.

Akhir kata… Ikhlasin ajalah kalau emang belum bisa nabung. Yang penting gaya hidup diubah… Heuheu.

 

Advertisements

Kantong Jiwa

“Isi kantong jiwa anak agar ia merasa berharga”

Banyak hal menyedihkan yang menyusutkan kantong jiwaku

Dan kucari ‘isi’ nya dulu.. Dengan berbagai cara

Terima kasih untukmu yang perlahan mengisi kantong jiwaku,

Yang membuat Aku merasa berharga,

Terutama untuk satu orang yang berani menjadi imamku,

Jiwaku tidak pernah sepenuh saat bersamamu

To Tendra, Keven, Fahmi, Febry, Nucil, Randy, Arnold, Manda, Sisca, Una, Inez, Nadh, Nadira, Arum, Nova, Widy, Laras, Vivin, Anita, Ramda, Aftah, Alvin, Brian, everyone, esp. Ramadhan; thank you for saving my life and making my life.

In case I die faster than you, if you ever read this, I want you to know that I am thankful that I met you in this life.

?

Kalau komunikasi kepada anak adalah wiring, apa yang kamu harapkan dari anak yang dibuli semasa kecilnya,

Dan tidak pernah ditolong?

Apa yang terjadi saat ia memiliki anak?

Kamu, kamu Dan kamu, sadarkah sudah menciptakan monster?

Kalian sih enak tinggal ngejek, tinggal ganggu. Apa sih salahku dulu pada kalian, apa karena Aku miskin, lemah Dan gak punya bapak terus kalian jadi berasa gampang menindasku?

Mau nonjok kalian balik juga salah.

Apakah Aku sudah memaafkan kalian? Kalian juga gak ngerasa salah? Bodo amat lah, kalian yang menciptakan monster ini, terserah ajalah mau ngapain kalian di dunia. Di akhirat, Aku masih ragu apakah Aku akan biarkan kalian dengan segala amalan kalian atau kutuntut kalian satu-satu.

Tapi memaafkan kalian itu recehan

Lebih sulit memaafkan diri sendiri

Agar Anak Menjadi Tahfidz Qur’an

Restoran all you can eat itu ramai seperti biasanya di akhir minggu. Bersama selusin ibu muda lainnya, aku duduk di kursi plastik, mengelilingi guru kami. Ia adalah seorang wanita cantik berusia pertengahan tiga puluh tahun berpakaian serba hitam, anak dari seorang psikolog ternama. Yang jelas, kami berada dalam pertemuan rutin bulanan ini untuk berkonsultasi kepada beliau mengenai masalah pengasuhan kami dengan anak-anak kami.

Di sinilah saya, dengan segala rasa cemas dan ekspektasi tinggi saya kepada anak sulung saya. Melihat ibu-ibu lain berhasil mendidik anak sulungnya menjadi hebat, tentu saja saya berharap hal yang sama.

“Bu, metode tahfidz seperti apa yang kira-kira menyenangkan untuk anak usia 4,5 tahun?” tanya saya saat giliran saya tiba.

Ia hanya menatap saya tajam. “Ibu, sudah hafal berapa juz? Hafal juz 30?”

Saya terdiam, dan hanya bisa mengeluarkan seringai mirip cengiran kuda. Sebuah pertanyaan retoris yang tidak perlu dijawab.

“Ibu, bagaiana Ibu berharap anak ibu menjadi seorang tahfidz kalau ibu sendiri tidak mencontohkan hal yang sama? Anak saya itu, ikut hafalan kami karena kami sekeluarga tiap hari komat-kamit murojaah juz 27. Anak itu peniru ulung, Bu,” ia melanjutkan kalimatnya. Saya masih nyengir, pasrah.

“Ibu berharap anak ibu akan sibuk menyeret ibu ke surga nanti? Bu, nanti di akhirat kita itu dihisab masing-masing. Ibu sudah punya bekal apa?”

Saya tidak punya bantahan atau pertanyaan lanjutan setelah itu.

Yang saya tahu, sepulang saya dari pertemuan itu saya langsung mengontak masjid Al Munawwar – tempat itu biasa dikenal dengan program madrasah tafidz anak, tapi mereka juga membuka kelas untuk dewasa. Pengurus masjid mempersilakan saya untuk ikut kelas tahsin dewasa walaupun sudah berjalan 4 pertemuan, semoga saya bisa mengikuti.

Hari pertama saya belajar dengan ustadzah Euis, saya diminta membaca 5 ayat pertama surat Maryam. Saya cukup percaya diri, mengingat suami saya bilang “Kamu udah oke, kok.”. Saya bahkan sempat halu, siapa tahu bisa langsung masuk kelas tahfidz.

Ustadzah hanya berkomentar bahwa bacaan saya masih harus diperbaiki, dan di sanalah saya tercebur di kelas tahsin bersama beliau.

Tiga pertemuan berlalu, dan saya makin menyadari betapa banyaknya kekurangan saya dalam membaca Al-Qur’an. Mad kurang panjang (bahkan dulu saya tidak tahu apa itu mad!), pelafalan huruf hijaiyah saya banyak yang belum sempurna (apakah kamu tahu bahwa huruf sya itu memiliki sifat hams dan tafassyi? Apa pula hams dan tafassyi itu? Hah?). Saya mungkin terlihat super bodoh di kelas itu, tapi saya tidak peduli. Yang penting saya sudah tahu saya bodoh, dan saya belajar supaya saya nggak bodoh lagi.

Ini, kualitas orang tua yang ingin anaknya jadi tahfidz Qur’an? Ayo dong, jangan bercanda. Masih panjang perjalanan menuju ke sana.

Anak sulung saya sempat bertanya saat mengantarkan saya belajar, Ibu, kenapa Ibu masih belajar ngaji?”

Saya hanya tersenyum. Ini adalah kesempatan terbaik saya untuk berusaha menjadi contoh yang baik baginya. “Iya, gak apa-apa dong. Kan belajar ilmu agama itu kan wajib bagi semua orang muslim.”

Kelas tahsin saya telah berakhir. Perjalanan masih panjang, tapi saya tidak akan menyerah untuk memantaskan diri saya untuk memenuhi fitrah saya: al ummu al madrasatul ula. Seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.

***

Tulisan ini saya persembahkan untuk Atuk Abd Mudjib Syaubari (rahimahullah), yang 20 tahun silam pernah mengajari saya Al Fatihah, dan saya bingung kenapa sama beliau saya tidak maju-maju dari ‘Alhamdulillahirabbil ‘aalamin’. Lima belas tahun kemudian saya baru ngeh.. Karena beliau bilang ‘ح’, saya bilangnya ‘ه’ 😢 jadi kalau kita gak bisa mengucapkan 2 huruf itu dengan benar… Carilah bantuan. Beda huruf, beda arti.

Terima kasih kepada ustadz Faris Baswedan yang pertama kali mengajarkan saya bedanya 2 huruf itu dan cara mengucapkannya.

Terima kasih kepada bu Sarra yang selalu mendorong muridnya untuk selalu menjadi versi lebih baik dari diri mereka yang sekarang.

Terima kasih kepada suamiku, imamku yang selalu mendukungku untuk belajar.

Dan teman-teman di sekelilingku yang selalu berjuang untuk memperbaiki dirinya dan keluarganya. Fastabiqulkhairat!

It takes a village to raise your child, and you can have the village to support your inner growth too ❤

Berat

Dadaku berat

Menanggung rasa bersalah

Dan dosa yang bertumpuk seumur hidup

Berat menanggung tanggung jawab penciptaan diri,

Berat menanggung tanggung jawab yang pernah dititipkan di dalam rahim

Berat, tidak cukup keluar dengan air mata

Betapa beratnya rasa bersalah,

Allah maha pengampun,

Manusia aku tidak tahu

Berat sekali rasa bersalah ini,

Entah kapan bisa memaafkan diri sendiri.