Closure

Aku memilih untuk memaafkanmu.
Karena setelah kupikir lagi,
Keenggananku hanya buah dari gurihnya rasa benci yang dihembuskan para setan.
Benci yang mengakar dan menyisakan luka saat ia tercabut.
Bekas luka akan selalu ada
Dan aku memilih untuk membiarkannya
Sebagai bukti bahwa kau pernah ada.
Sudah pernah kutulis,
Aku pernah sangat membencimu dan kupikir itulah tanda cinta..
Tapi yang tersisa kini, ah, sudahlah..
Hanya rasa kasihan kepadamu.
Egoku telah lama menguap,
Semoga Allah mengampunimu,
Semoga Allah menyayangimu,
Semoga Allah berikan taufik dan hidayah kepadamu,
Semoga Allah mengampuniku.
Dan sesungguhnya maaf dan cinta itu akan selalu ada bagimu dariku
Rabbighfirliy, waliwalidayya, warhamhuma, kamaa rabbayani shagiira.
—-
Aku ingin berjumpa denganmu tanpa pembicaraan tentang dendam dan manipulasi.. Semoga aku masih bisa mendengar nasihat bijak dari tubuh rentamu.

Mencari Sekolah (1)

Akhirnya masuk juga saya ke fase kehidupan emak-emak yang satu ini: cari sekolah buat anak! Hehehe. Baru playgroup sih, tapi saya dan suami merasa si bocah perlu bersosialisasi di lingkungan yang lebih besar. Jadi, saya pun mendata PG/TK islam yang berada di sekitar rumah kami. Kami lebih sreg dengan sekolah islam karena kami ingin si bocah menyerap nilai baik dari lingkungannya.

Kriteria sekolah kami simpel, pokoknya:

  • bernuansa islam
  • tidak jauh
  • banyak mainnya
  • lingkungannya nggak borju (da kita mah rakyat biasa sajaaa)

Jadi, sejauh ini, inilah sekolah yang sudah saya survey:

  1. Al Azhar Sentra Primer

Lah, katanya nggak mau yang borju, tapi kok survey Al Azhar juga? Hehehe. Saya survey AA untuk benchmarking value for money, mau tahu juga kalau AA pasang harga sekian dengan fasilitas sekian, yang lain kemahalan atau oke nggak ya kira-kira.

PG berupa bangunan kecil, sementara TK berada di belakang masjid (PG dan masjid seberangan lokasinya). Ada playground outdoor dan indoor, tapi membayangkan jumlah muridnya kayaknya bisa perang buat main di playgroundnya hahaha… Dalam satu kelas, ada 20-23 murid dengan 3 guru dan 1 helper yang siap membantu untuk urusan ke WC. Dan kelasnya ada dua. Jadi seangkatan ada 40-45 orang… Udah macem sekolah negeri aja. Dari sini kurang sreg.

Impression:

Petugasnya ramah-ramah, saya diantarkan ke TU oleh mas-mas yang sedang maintenance peralatan. Di TU saya bertemu petugas administrasi yang lebih banyak menjelaskan perihal teknis pendaftaran dan pembayaran. Saat saya tanyakan tentang kegiatan anak-anak PG, jawabannya “Ya, bermain sambil belajar, bu. Banyakan mainnya kok, terus doa doa gitu.” Yak sungguh jelas konsepnya.. Gak bisa komen banyak hehehe.

Biaya:

PG: Uang pangkal 8,300,000, SPP 750,000/bulan, POMG 240,000/tahun

TK (A-B): UP 16 juta sekian, SPP 850,000/bulan, POMG240,000/tahun

Waktu Sekolah

Senin, Rabu, Jumat (jamnya lupa)

Kata Suami:

“Udah sekolah ga usah di tempat yang terlalu luas, aku takut ilang anaknya.”

2. Sabilia

Lokasinya berada di dalam perumahan, di seberangnya ada lapangan yang bisa digunakan untuk olahragaΒ atau manasik haji kecil-kecilan.

Halaman rumahnya kecil dan dipenuhi mainan motorik kasar. Mainannya cukup lengkap, ada ayunan, perosotan, jungkat jungkit dan jembatan bergoyang. Garasinya dimanfaatkan sebagai kantor administrasi sekaligus area penerima tamu.

Playgroup dan daycare berada di lantai 1, sementara TK A dan B berada di lantai 2. Rencananya lantai 3 akan digunakan sebagai daycare khusus bayi. Biasanya orang tua yang bekerja sekalian menitipkan anaknya di daycare, jadi setelah sekolah langsung beraktifitas di daycare. Daycarenya bisa harian juga, boleh juga nih kalau lagi urgent butuh menitipkan si bocah.

Impression:

Petugasnya sangat ramah dan antusias dalam menjelaskan sekolahnya. Pendekatannya sangat personal (beberapa waktu yang lalu saya pernah telepon dan difollow up langsung oleh kepseknya dan ditanya kapan mau trial, tapi saat itu saya sedang opname jadi saya jawabnya lieur haha). Begitu mereka mudeng saya yang telepon waktu itu, mereka jadi tambah ramah (lha padahal awalnya aja udah ramah ya). Kebetulan juga anaknya dokter paru saya sekolah di sini, dan dokter saya itu eksis banget lah di sekolah ini, jadi suasana untuk saya sudah sangat cair.

Suasana PG lumayan chaos karena anak usia 2-3 dan 3-4 tahun plus anak daycare bercampur dengan bebas. Kelasnya model lesehan, untuk kegiatan yang butuh meja menggunakan ruangan lain. Anak saya dengan pedenya ikutan kegiatan crafting di sana dengan bahagia. Saat saya datang, gurunya lagi story telling pakai buku Halo Balita πŸ˜€ bagus bagus…

Yang saya suka adalah mereka sangat clear dalam program sekolahnya (semua konsep diprint dan ditempel di ruang admin, sehingga saya bisa baca semuanya). Dalam setahun, saya bisa tahu apa saja yang akan mereka pelajari dan murojaah surat pendek dan hadist apa yang akan dikerjakan. Sebenarnya untuk usia 3 tahun ini saya santai aja perihal hafal atau tidak, yang penting dia sudah tahu dulu (minimal pernah dengar). Dari perencanaannya, sampai TK B diharapkan murojaah juz 30 selesai (sukur-sukur apal). Saya sangat suka dengan perencanaan kegiatan yang jelas ini.

Tapiiii… yang saya nggak suka adalah dia sekolah 4 hari seminggu. Sibuk bener bang… Hari senin dan rabu jadwal biasa (shalat duha, murojaah, kegiatan sentra). Jumat musik (which i don’t like too, tapi kata suami ini minor banget lah), dan hari Kamis khusus ekskul (menggambar, menari, bahasa inggris, penanaman akhlak). saya dengernya aja capek… hahaha. Selain itu, field tripnya kalau nggak salah 1 atau 2 kali dalam setahun. Terasa kurang karena saya survey sekolah lain yang menawarkan field trip 5-7 kali dalam setahun hehe.

Oh iya, Sabilia sendiri memiliki yayasan yang diketuai oleh ustadz Bachtiar Nasir. Katanya beliau suka mengisi tausiyah saat penerimaan siswa baru dan perpisahan πŸ˜€

Biaya:
UP: 4,000,000 (sekali bayar sampai TK)

Biaya tahunan 2,700,000

Seragam 600,000

Pendaftaran 400,000 (termasuk tes stifin)

SPP 625,000 /bulan

Waktu:
Senin, Rabu (08.00 – 11.00)
Kamis, Jumat (08.00 – 10.00)

Komentar Suami:

Ketua yayasannya Bachtiar Nasir? 99% oke kalo gitu.

PG dan TK mah tempatnya jangan luas-luas emang, kalo terlalu luas tau-tau anaknya ngilang terus pup di celana di pojokan nggak ketahuan gimana hayo.

PG dan TK mah emang biasanya chaos, biasa itu…

3. Bunga Amalia

Lokasinya berada di jalan kecil yang sangat mudah diakses dari Jl. Raden Inten (cuma masuk jalan, nggak sampai 50 meter sekolahnya sudah kelihatan). Di depan sekolahnya ada lapangan yang digunakan untuk parkir jemputan dan mungkin parkir kendaraan orangtua yang menjemput. Gedungnya tidak terlalu besar, ada 3 lantai dengan cat warna gonjreng.

Saat masuk, saya diarahkan oleh mas-mas yang sepertinya driver jemputan ke arah TU dan langsung diterima oleh kepseknya. Kami pun tur keliling sekolah.

Lantai 1 difungsikan untuk kantor, kelas playgroup, dan playground (ada arena mandi bola kayak di mall bok). Mainan motorik kasar cukup lengkap. Lantai 2 untuk kelas TK, perpustakaan, ruang sentra (bisa digunakan anak pg juga), dan ruang komputer (right… they have computer lesson xD). Lantai 3 sebagian difungsikan untuk kolam renang, dan selebihnya dibiarkan kosong untuk kegiatan seperti latihan drumband atau lomba-lomba.

Impression:

Kelas PG nya besar. Jauh lebih besar dari Sabilia, hehe (al azhar juga besar, tapi isinya dua kali lipatnya ini). Terlihat sepi, katanya ada 13 siswa tapi ada 4 orang yang tidak masuk. Waktu saya mampir, siswa dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama sedang mengecap gambar pelangi dengan warna, sementara kelompok kedua sedang menempel kertas aneka bentuk menjadi orang-orangan. Di sini mereka sudah pakai activity book.

Tempat mainannya banyaaaak dan paling seru penampakannya dibanding sekolah lain. Menurut saya, dibanding yang lain, sekolah ini paling rapi secara sistem dan paling tinggi value for moneynya. Rasio murid – guru paling sedikit (14 murid / 3 guru), mainan paling banyak, ada kolam renangnya, kelasnya besar, fasilitasnya lengkap.

Tapi yang saya paling nggak sreg adalah sekolah ini sangat mempromosikan dirinya dengan marching bandnya. Saat saya mengobrol dengan kepsek, beberapa pelatih marching band baru saja datang dan beberapa saat kemudian marching band mulai latihan. Saya sama suami nggak suka marching band dengan pertimbangan pribadi kami, sesederhana itu hehehe.

Yang saya tangkap dari sekolah ini, mereka fokus untuk membuat anak-anak mandiri, dan kesannya entah kenapa serius pisan (karena ada kelas komputer apa yak.. haha). Implementasi keagamaan di sekolah berupa membaca iqro tiap hari di kelas per dua orang, dan baca doa (saya lupa ada hafalan surat dan doa gak ya..). Karena implementasi keagamaannya kurang terkonsep, saya jadi agak urung juga, hehe.

Biaya:

Uang pangkal PG: 7,500,000

SPP: 550,000/bulan

Waktu:

Senin, Rabu, Jumat atau Senin, Kamis, Jumat (jamnya lupa, sekitar 2,5 jam lah mulai jam 8)

Komentar Suami:

Yaela, mainan mah bisa di carrefour aja…

segini dulu ya, lanjut di postingan berikutnya.. hahaha. Sejauh ini yang memenuhi selera kami adalah Sabilia. Ingat, selera keluarga kami belum tentu cocok dengan selera keluarga pembaca πŸ˜‰ jangan lupa untuk menyesuaikan pilihan sekolah dengan visi masing-masing keluarga πŸ™‚

Komunikasi Produktif – Day 1

​Dalam berkomunikasi dengan keluarga, saya cenderung tidak ada masalah dalam komunikasi ke suami (mungkin karena beliau sudah komunikator yang baik dari sananya) tapi payah banget kalau ke anak. Semua kesalahan komunikasi sepertinya sudah pernah terjadi akibat saya yang kurang santai dan kurang sabar, hiks.

Dan ilmu komunikasi produktif dari IIP ini harusnya bukan hal baru, tapi mengamalkan ilmu itu memang lebih greget daripada sekedar tahu saja, hehe..

Hari pertama ini, saya merasa sangat terbantu dengan penggunaan kalimat positif. Dengan mengubah semua perintah ke anak menjadi kalimat positif, jadi terasa kita harus berpikir sebelum bicara, jadi nggak asal ngomel hehehe. Untuk anak, saya sekarang sering menggunakan instruksi “ayo nonton tv di kursi saja ya”, daripada “jangan nonton dekat-dekat”. Tapi sepertinya untuk hal darurat seperti mengingatkan si kakak yang suka iseng niban adik bayinya tetap harus keluar kata “jangan” πŸ˜›

“KISS” juga membantu untuk menginstruksikan macamm-macam ke si kakak, ibrohnya jadi tambah belajar sabar, da namanya balita mah harus diinstruksikan step by step memang.

Pelan-pelan saya belajar mengapresiasi si kakak sekaligus mengenalkan Allah untuk kakak. Tapi reaksinya si kakak malah agak lucu…

I: Kakak tolong ambilkan roti ya di tukang roti

K: oke *dikerjakan*

I: wah kakak hebat ya bisa bantu ibu beli roti. Ibu suka, Allah juga suka.

K: … Allah suka roti?

πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Ya masih banyak yang harus diperbaiki, semoga hari berikutnya lebih baik!

#hari1

#tantangan10hari

#komunikasiproduktid

#kuliahbunsayiip

Second Chance

​Everytime I get sick, I think I might be dead.

This is not the first time.

When I was 35 weeks pregnant, I had early contraction and I thought I was going to be dead, giving birth to my daughter too fast.

But I didn’t – my daughter can hold on for 3 more weeks inside my belly, and no one dies when I was in labor.

——

Last week, I thought I would be dead. Again.

My cough hasn’t stopped for about 3 weeks despite my doctor already prescribed some antibiotics and expectorants, the whole family was sick and I was so tired but I really had no time to do that πŸ˜‚ Everyone needs to be fed, taken care of. Not to mention that I have projects to finish.

I’ve been having fever for about 4 days the week before and at one point I couldn’t even get up off my bed. Maybe I fainted or fell asleep – I didn’t know. I knew it was bad that I didn’t even have the strength to bathe my children. But anyway, I feel like everyone in the house is in denial with my sickness because, well, you know. Mothers are not allowed to get sick.

So I sucked it up, thinking that it was not that bad and carry on. I might be tired but I’m not sick, I said to myself. Sickness is only state of mind.

But that day, my body cried for help. I didn’t stop coughing, I started to breathe difficultly and I had this headache that I can’t even stand straight.

So we rushed to the hospital to see my pulmonologist.

She said that I was so pale – I look really bad. Last week with worse cough and stuff, I still look ok. But today, no. She was so worried and send me to the lab for a blood test. And she recommend myself to get hospitalized.

After bloodtests, reading my rontgen, and examining me, she said that there is something in my right lung – perhaps a fluid. She has to perform USG to confirm it, and if it is confirmed, she has to suck the fluid inside my lungs with needles. Then she will have the fluid to be tested to confirm my illness.

Unfortunately She can’t perform USG on weekend, so she will do that on Monday. Meanwhile, she treated me with antibiotics via IV.

I remember my previous pulmonologist told me that I had tumor in my right lung and she needs to confirm that via CT Scan, but I didn’t do that because I was pregnant that time. And I didn’t buy the idea that I have tumor – I just simply don’t believe that.

So I asked her. What if this thing in my lung is not a fluid?

She said, It could be a tumor. That’s the worst case. In fact, if you didn’t ask, I won’t tell you. Because what is important for the patients is their positive minds. So please be positive, I will conduct the tests one by one to find out what it is, but let’s just think simple and not think too far.

—-

Is it a tumor or is it not a tumor? If it is, will I die? How long do I have until I die?

Doesn’t matter. What’s left is just regret… Allah already know how He wants me to die. So, how come I am here with very little good deeds to bring to my grave?

I tried not to think about tumors. My pulmonologist said that she will consult sone of my data to internist to check if I have another infection that makes me so weak.

The headache kicked in and I fell asleep.

——-

Then it was confirmed that besides that fluid inside my lungs, I suffer typhoid fever too.

Perfect.

Two days after I got into the hospital, my pulmonologist performed USG scan of my lungs, but she could not find a fluid. Good sign, she said. But still, I have trouble in breathing and my lung still feels like burning almost all the time.

What is this, am I going down with this illness?

She asked me to have rontgen tomorrow to recheck the impression of my lungs.

My mother and husband were so happy that I didn’t have to puncture my lungs for some fluids. I did not know that it was that serious to them.

Then that tomorrow came, but I was so weak because of the typhoid fever. But somehow I managed to do some rontgents. Then the day after that, my pulmonologist confirmed that I suffer pneumonia lobaris.

That pneumonia type that infect your whole lobe of lung. Crazy. I didn’t know that I can suffer this kind of illness.

So, not tuberculosis? I asked.

I had TB before and I was so concerned that it stroke me back, but the doctor said that she can’t tell right now.

That time I was so weak with the lung infection and typhoid fever, so it might be too fast to judge that. But she will see, after I recovered from the typhoid fever, if my lungs condition doesn’t show any progress, then she might say that it is TB.

But for now, pneumonia lobaris.

So she cranked up all the medication dose in hope that I will feel better soon

And finally on my 5th day at the hospital finally my health show some improvement, and I thought maybe I wasn’t going to die by this illness. And then the doctor let me out on 7th day.

Out of hospital, still alive. Weak, but alive.

Allah stripped down my sins and postponed my death. Another second chance.

How do I manage to use that to avoid his hell and toward his heaven?

Second chance and illnesses.

Maybe that’s his way to tell me,

“You actually have a chance to die in my way.”

—–

And after all the second chances you gave me, how do I manage to get your blessing in life and death?

Ihdinashhirootol mustaqiim.

Topeng Monyet

​di rumah mertua, kalau pagi suka ada topeng monyet lewat. si kakak sepertinya tertarik untuk melihat ada keributan apa di luar, akhirnya saya pun mengajaknya untuk melihatnya.

terlihat dua orang abang-abang, yang satu menabuh alat musik, yang satu berkeliling sambil membawa wadah untuk meminta uang. saya dan kakak melihat dari kejauhan.

kemudian si topeng monyet pindah posisi mendekat ke arah rumah mertua.

si kakak terlihat senang. sempat terbersit untuk memberi uang untuk si pawang, demi nyenengin si kakak. tapi kemudian saya merasa ada yang salah.

topeng monyet, foto bareng singa teler, show lumba-lumba, apa bedanya? membayar untuk menonton, sama saja membiarkan hewan-hewan itu dieksploitasi manusia terus. saya mah kasihan.

akhirnya, saya mengajak si kakak masuk.

“sekarang ambil uang, lah…” kata kakak

saya tadi sudah terlanjur bilang mau ambil uang.

“maaf ya kak, nggak jadi ambil uangnya. kasihan itu monyetnya dibawa-bawa. nanti kalau mau lihat monyet, minta ke kebun binatang aja ya sama bapak…”

tapi kebun binatang sendiri apa bukannya bentuk eksploitasi juga ya? ah lieur

Better Bare

​Saya lupa apa yang sedang saya dan suami saya obrolkan di perjalanan menuju Mal Kota Kasablanka sore itu, tapi tiba-tiba topik pembicaraan teralih ke seputar dandan.

(FYI, saya kalau ke luar rumah 90% nggak pernah dandan. Lempeng blas cuma pakai pelembab. Hahaha)

“Pak, kamu lebih suka aku dandan apa kayak gini aja?”

(Oh, saya jadi ingat. Kayaknya karena kita mau ke mall yang agak bagusan, saya jadi agak nggak enak sama suami karena kejarangan dandan saya, saya khawatir dia malu kalau saya jalan sama dia kalau saya terlalu kucel hahahaha)

“Bagusan gini aja.” Jawabnya datar.

“Ha, beneran? Kalau pake lipstik?”

“Bagusan gini kok.”

Saya jadi penasaran.

“Dari semua lipstik yang aku punya, kamu paling suka kalau aku pakai yang mana?”

“Gak ada.”

Buahaha. Keluarlah jawaban nan jujur itu. Aseli saya cuma ngakak pas dia jawab seperti itu, antara senang karena ada pembenaran kejarangan dandan saya, tapi sedih juga karena berarti tiap saya dandan saya terlihat kayak dakocan di mata beliau πŸ˜‚

Lalu suami saya jadi curhat. “Gini lho, aku tuh gak ngerti kenapa perempuan suka banget pakai lipstik, apalagi warna jaman sekarang yang aneh-aneh itu. Aku nggak suka banget, aku nanya cowo-cowo lain juga mereka pada nggak suka. Jadi apa tujuannya perempuan pakai lipstik aneh-aneh itu? Kalau buat menarik perhatian laki-laki, ya udah jelas gagal. Ya tapi kalau itu motivasinya hobi, aku hormati lah.

Kamu pake lipstik bagusnya warna netral deh pokoknya. Kalau warna merah pasti kacau. Coba liat tu Titi Sjuman, udah bagus dari sananya gitu, jadi ya gitu aja mukanya gak usah dandan. Chelsea Islan juga emangnya pake lipstik warna aneh-aneh?

Ada orang yang emang cocok pakai make up macam-macam, dan itu biasanya model. Kan memang tuntutan pekerjaannya begitu. Tapi ada juga orang-orang yang jauh lebih bagus tanpa make up, ya salah satunya Ibu.”

“Berarti pas kita nikah kamu pasti pengen ketawa liat mukaku.”

“Mayan.”

Sepertinya saya akan tetap ber bareface ria sampai waktu yang tidak ditentukan… Walaupun ada aja peer pressure yang komentar kok gak pernah dandan sih πŸ˜›

NHW #8

​Nice HomeWork #8

MISI HIDUP DAN PRODUKTIVITAS

Bunda, setelah di materi sesi #8 kita belajar tentang bagaimana pentingnya menemukan misi hidup untuk menunjang produktivitas keluarga. Maka saat ini kita akan lebih menggali bagaimana menerapkannya secara teknis sbb :

a. Ambil salah satu dari ranah aktivitas yang sudah teman-teman tulis di kuadran SUKA dan BISA (lihat NHW#7)

Menulis

b. Setelah ketemu satu hal, jawablah pertanyaan β€œBE  DO HAVE” di bawah ini :

1. Kita ingin menjadi apa ? (BE)

Muslimah tangguh yang siap menghadapi akhir zaman dan ajalnya

2. Kita ingin melakukan apa ? (DO)

Mendidik diri sendiri dan keluarga untuk menjadi muslim tangguh yang siap menghadapi akhir zaman

3. Kita ingin memiliki apa? (HAVE)

Ilmu untuk menghadapi fitnah akhir zaman

Ilmu syari untuk bekal mati

Tabungan akhirat

c. Perhatikan 3 aspek dimensi waktu di bawah ini dan isilah:

1. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)

Menjadi muslim yang menjalankan islam secara kaffah

2.Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan ( strategic plan)

– Berhijrah menjadi pribadi yang lebih baik

– Memasukkan anak ke sekolah islam

– Menamatkan belajar kitab islam

– Menjadi hafidz quran

3. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun ( new year resolution)

– Menamatkan kitab al adab al mufrod

– Hafal al kahfi 1-10

– Hafal juz 30

– Membiasakan adab islami di rumah dan keluarga

Mulailah dengan PERUBAHAN, karena pilihannya hanya satu BERUBAH atau KALAH

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulsi IIP/