Hobi

Kalo ditanya hobi masa kecil, jawabnya pasti baca, nulis, gambar

Kalau waktu dewasa, saya akan jawab hobi belajar

Karena pintar membuat kita percaya diri dan satu dari beberapa hal yang bisa membuat kita merasa berharga

Udahlah gak berharga, terus bodoh, mau jadi apa? 😂

Advertisements

Dunya

I let you go,

Because I have Allah

And whatever I need is already written 50,000 years before all the creation

Isn’t it He who said,

The world and everything in it is cursed

Except dzikrullah?

How do I defy the illusion?

I’m defying you,

The illusion of short happiness

Because I have a long journey

After they buried my body

I’ll have Allah,

My Creator and The Sole Protector

To defy you.

I’m leaving you,

I let go.

Permintaan Tertulis ke Pintu Langit

Ya Allah yang menciptakan aku, yang melahirkan anak-anak yang kau titipkan pada kami dari rahimku,

Berikanlah petunjukMu agar kami tidak tersesat dalam menjaga titipan-Mu

Berikanlah petunjuk atas segala pilihan yang harus kami buat,

Jadikanlah kami manusia yang berusaha dengan sebaik-baiknya,

Dan jangan Engkau jadikan kami termasuk golongan orang yang lalai

Sebagaimana Engkau ciptakan kami dan keturunan kami,

Berilah kami petunjukMu selama berada di dunia ini,

Agar kami selalu kembali kepadaMu

Karena sesungguhnya hidup dan mati kami hanya untukMu

Jadikanlah kami termasuk orang yang beruntung,

Yang melihat malaikat yang tersenyum saat ditarik nyawanya,

Yang kelak menerima kitab dari tangan kanan,

Yang kuburnya terang bercahaya,

Yang kelak bisa melewati shirath secepat-cepatnya,

Yang layak mendapat sepetak dari surgaMu yang lebih luas dari langit dan bumi

(Aamiin)

Hukum Rimba

Tanggal 25 libur kejepit, pengennya sih liburan ke mana gitu sama keluarga, apa daya tabungan tiada sisa karena abis renov rumah, hahaha. Anyway, suami juga dinas luar sih tanggal 26 nya. Jadi kami putuskan tanggal 25 ini kami mau berfamily time dengan mengajak anak-anak main di playground.

Melihat cuaca yang tidak menentu dan angin yang dingin & kencang, kami coret dulu aktifitas outdoor dari rencana kami. Akhirnya kami pun berlabuh di Kidzoona – sebuah playground berbayar di AEON Mall JGC. Playground ini memang sudah beberapa kali kami amati dan anak-anak pun tampak tertarik. Tapi karena kami ngirit, tentu saja kami lebih sering mengarahkan anak-anak untuk main di playground gratisan di dekat bianglala AEON :p Kali ini pengecualian, hitung-hitung bikin anak senang.

Harga tiket per anak 90 ribu rupiah per jam (karena hari libur). Untuk harga per hari kalau tidak salah 120 ribu. Kami ambil tiket per jam saja (ya iyalah anak dua cuy). Saya bertugas menemani anak-anak, sementara bapake nongkrong di luar sambil murojaah (lagian belio ga bawa kaos kaki)

Di dalam Kidzoona ada beberapa wahana permainan:

  • mandi bola + perosotan + panjatan
  • Area roleplay
  • Area permainan (ada mainan puzzle-puzzle, magformers)
  • Area kinetic sand
  • Panggung karaoke
  • Air slide
  • Cyber wheel
  • Area baby
  • Builder zone (?) tempat bikin-bikin bangunan pakai blok gabus besar.

Gak sempet foto, googling aja yak hahaha.

Tapi ya gitu deh, ramai banget. Tempatnya luas, jadi kalau main sejam doang memang agak rugi hehe karena banyak banget yang pengen dicoba. Apakah saya suka tempat ini? Nggak, hehehe. Karena…

Untuk harga yang cukup mahal, Kidzoona menyediakan aneka permainan. TAPI tidak menyediakan staf untuk mengarahkan pengguna mainan untuk merapikan kembali, atau setidaknya ngantri. Hasilnya? Area permainan pretend play bentuknya udah nggak jelas. Wadah yang isinya tulisannya “paprika” isinya udah nggak tau apa, belum yang berceceran di mana-mana. Kartu pos nyasar ke mobil pemadam kebakaran. Pisau mainan nyasar di mobil pemadam kebakaran lagi. Berantakan banget, saya sama anak-anak aja jadi males mainnya, hehehe. Penyakit yang sama saya lihat saat main di perpus DKI di Cikini – kalau habis main, nggak diberesin lagi. Dibiarin aja. Di tempat gratisan maupun berbayar, kebiasaan ini nampaknya masih lekat dan harus diperbaiki (sebenarnya bisa sih asal ada wasit yang mengingatkan tanpa lelah).

Terus karena keterbatasan tempat, area cyber wheel sering digunakan untuk event (aktifitas crafting, dancing etc). Sayang banget sih karena menurut saya cyber wheel itu wahana yang lumayan banyak peminat.

Di sisi lain, area permainan puzzle dan sejenisnya lumayan sepi (makanya rapi ?). Padahal ada magformers lho, seru juga mainnya. Jadi pengen punya di rumah (eh :p). Area khusus bayi juga lumayan rapi, nggak terlalu banyak yang main di sana.

Selain itu, kami juga mengalami hal yang tidak menyenangkan saat bermain di sana – hal yang membuat saya berpikir mau playground berbayar kek, nggak kek, tetep aja ‘hutan rimba’ :p Jadi, anak saya lagi main cyber wheel. Belum setengah jalan, eh ada anak umur 9-10 tahunan nyelonong aja nyetop cyber wheel yang sedang kami mainkan dan mau masuk.

Oh tidak semudah itu, Ferguso.

Saya langsung tegur, “Kamu kalau mau main, gantian. Silakan main setelah kami selesai.”

Yha, nggak ada peraturan tertulis juga sih di playgroundnya kalau main itu harus bergantian -__- tapi saya cuma pakai logika sederhana aja, kalau lagi main terus seenaknya diinterupsi siapa sih yang suka? Itulah gunanya ada peraturan tertulis di tempat umum, supaya orang punya batasan perilaku wajar yang disepakati bersama. Mbok ya udah mahal-mahal bayar yang gini-gini juga diatur gitu lho..

Lanjut nemenin anak bungsu yang masih kicil main kereta-keretaan di rel, baru juga semenit eh muncul anak yang tadi dan merebut mainan kereta yang lagi dipegang anak saya… AGSJA(SFHOOIEJF)WHE*FH(W.

Namanya juga hutan rimba. Bayar ratusan ribu juga tetep aja yang berlaku hukum rimba -_-

Jadi, kalau bayar dan nggak bayar

Man Up And Be A Hero

Pada suatu titik dalam kehidupan kita, seharusnya kita pernah bermimpi untuk jadi pahlawan. Zaman SD dulu saya suka banget dengan film Ranma. Pengen banget jadi orang kuat. Dan melihat kartun-kartun superhero, sempat juga terpikir, kayaknya enak juga ya kalau punya kekuatan super kayak mereka. Melawan penjahat, menyelamatkan masyarakat. Hahaha.

Setelah sedikit lebih dewasa, mungkin sekitar usia menjelang 20 tahun, rasa ingin jadi pahlawan itu berganti menjadi hal yang lebih realistis. Saya banyak terinspirasi dari orang-orang yang berhasil memberdayakan masyarakat, maka saya berpikir, keren juga kalau saya bisa berbisnis dan memberdayakan orang-orang tidak mampu di sekitar saya. Ingin membangun komunitas masyarakat agar mereka lebih berdaya… Caelah.

Makin tua, makin realistis lagi dengan hidup – alias sibuk dengan diri sendiri. Saya terlalu sibuk dengan diri saya, anak-anak, sampai semua itu terlupakan.

Di usia jelang 30 ini, saya mulai terpikir lagi. Apa sih tujuan kita diciptakan di dunia? Nggak mungkin lah cuma numpang lewat dan tiada berguna.

Kadang saya terpikir, seandainya saya jadi orang kaya, apa uangnya akan saya gunakan untuk menolong orang yang lemah? Atau saya malah sibuk merencanakan liburan ke Turki dan bangun rumah? Seandainya saya diberikan otak dan kekayaan macam Tony Stark, apakah saya akan memilih untuk jadi Iron Man dan menyelamatkan New York dari serangan Chitauri atau diem-diem aja dan asik main-main dengan robotic suit buatan saya sendiri? Mungkin sekali-kali dipakai untuk nolong orang, atau sekali-kali isengin orang.

Seseorang yang saya kenal orangnya suka nggak tegaan sama orang lain, sampai yang ngelihat suka gemes dan bilang “kamu tuh terlalu baik sama dia, dia jadi tergantung sama kamu kan”. Umm, first bergantunglah hanya kepada Allah. Selain itu, kalau memang si orang ini dalam posisi mampu membantu, kenapa nggak? Khadijah aja dulu waktu umat muslim diboikot hartanya sampai habis buat support hidup semua kaum muslim. Si orang ini bahkan nggak sampai miskin kok bantuin orang lain itu, masih ada tabungan dan segala macem. Then again, kenapa orang lain yang ribut atas kebaikan yang ia lakukan? Bahkan itu bisa jadi bukan sesuatu yang istimewa, karena di setiap bagian harta kita ada hak orang miskin dan anak yatim. Kalau kata suami saya, bukan kita yang ngasih ke mereka terus kita ngerasa jadi pahlawan, tapi bisa jadi harusnya mereka yang nagih haknya ke kita.

Um, the point is… Kalau kamu kaya dan banyak orang minta tolong ke kamu, ya santai aja. Itu duit kan titipan Allah dan bisa jadi itu memang hak mereka di dalam hartamu. Chill.

Jadi, kalau mau menolong orang miskin aja masih mikir-mikir, apa pantas ya kita bermimpi menjadi agent of change or whatsoever itu? Membawa perubahan baik itu memang pasti akan capek, so man up and be a hero for yourself.

Qadarullah…

“Qadarullah wa maa sya fa’al,” ujar seorang teman terkait kemalangan yang dialaminya.

Pertama mendengarnya, istilah apa pula itu? Saya yang tahunya cuma insya Allah, jazakallah, pun menemukan kosa kata baru.

Oh, ternyata itu doa jika kita ditimpa hal yang tidak kita sukai. Qadarullah wa maa sya fa’al. “Qadarullah (Ini adalah takdir Allāh), dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan.”

Come to think of it, kadang saya akhirnya ikut-ikutan menyebutkan doa itu kalau saya lagi tidak ikhlas terhadap sesuatu yang saya alami. Seperti yang terakhir ini: saya baru dapat uang dari kontrakan, dan ternyata sisa yang bisa saya simpan tidak sebanyak itu akibat pengeluaran ini dan itu (hiks). Tadinya saya pikir punya uang 1000 ternyata saya cuma punya 500, oh dear excel why do you break my heart 😦

But then… Qadarullah. Allah sudah izinkan uang itu keluar. Berarti Allah belum mengizinkan saya untuk punya tabungan banyak. Lagian ngapain juga nabung banyak-banyak, kaga dibawa mati juga.

Akhir kata… Ikhlasin ajalah kalau emang belum bisa nabung. Yang penting gaya hidup diubah… Heuheu.

 

Kantong Jiwa

“Isi kantong jiwa anak agar ia merasa berharga”

Banyak hal menyedihkan yang menyusutkan kantong jiwaku

Dan kucari ‘isi’ nya dulu.. Dengan berbagai cara

Terima kasih untukmu yang perlahan mengisi kantong jiwaku,

Yang membuat Aku merasa berharga,

Terutama untuk satu orang yang berani menjadi imamku,

Jiwaku tidak pernah sepenuh saat bersamamu

To Tendra, Keven, Fahmi, Febry, Nucil, Randy, Arnold, Manda, Sisca, Una, Inez, Nadh, Nadira, Arum, Nova, Widy, Laras, Vivin, Anita, Ramda, Aftah, Alvin, Brian, everyone, esp. Ramadhan; thank you for saving my life and making my life.

In case I die faster than you, if you ever read this, I want you to know that I am thankful that I met you in this life.