To Let Go, To Feel Loved

Saya pernah bercanda dengan suami saya, jika nanti punya anak perempuan dan ada pria yang meminang, mau ditanya apa?

Suami bilang, kalau dia bisa jawab “apa itu islam”, insya Allah langsung diapprove huehehe. Berhubung doi lebih rajin ngaji daripada saya, sayapun nanya, emang kunci jawabannya apa sih?

Jawabannya adalah: Berserah. Udah itu aja (bocoran siapa tau ada yg mau besanan sama saya *eh*)

Menyerahkan diri kepada Allah, bergantung hanya kepada-Nya.

Which reminds me of something…

Kendaraan keluarga kami tidak diasuransikan. Alasannya karena konsep asuransi sendiri mengandung gharar dan judi (baca buku Harta Haram Muamalat Kontemporer karya Erwandi Tarmidzi ya kalo kepo… Atau google juga banyak kok yang jelasin). Kami yang sedang berproses untuk menjalankan syariat islam sebenar-benarnya, memutuskan untuk menghindari hal-hal semacam ini. Padahal sebenarnya menggiurkan: Bayar 4 juta per tahun untuk mendapatkan perlindungan. Ya, namanya juga nyetir di Jakarta, pasti ada aja bocel sana sini minimal baret. Waktu masih pakai asuransi, nilai total klaimnya aja bisa hampir 4 juta sendiri untuk body repair mobil. Hampir impas kali ya. Alhamdulillah sih selama ini nggak mengalami kecelakaan yang heboh atau gimana.

Hari ini saya menjemput si sulung dengan mobil. Qadarullah, di suatu belokan, pas banget saya lagi belok, ada ibu-ibu naik motor ngebut dari arah samping saya. Saya udah ngerem, beliau refleksnya lambat atau entah sedang meleng, akhirnya telat ngerem dan nabrak mobil kami deh. Hehehe. Alhamdulillah si ibu nggak apa-apa, cuma kaget aja (wajahnya pucat). Sementara mobil saya bocel. Wew..

Sebel apa nggak? Saya bahkan nggak tau mau sebel apa nggak, hahaha. Mungkin harusnya saya sebel karena mobilnya lecet, tapi mau minta ganti rugi juga agak males memperpanjang, belum tentu juga orangnya mampu. Jadi ya sudahlah kalaupun ternyata saya ganti sendiri dan akhirnya menelan biaya banyak, semoga bisa jadi penggugur dosa. Padahal sempat terinspirasi untuk nahan KTP seperti yang dulu pernah dilakukan oleh bapak2 yang mobilnya saya tabrak karena keteledoran saya. Tapi kok hati nurani saya bilang “udah lah biarin aja”. Saya memutuskan untuk nggak memperpanjang masalah, dan saya pun pulang.

Selama perjalanan saya pun berpikir. Seandainya mobil ini diasuransi, harusnya saya nggak perlu pusing mikirin berapa biaya yang harus saya keluarkan untuk perbaikan mobil. Tapi kalau saya nggak mikirin masalah biaya itu, maka kejadian tabrakan tadi akan kehilangan hikmahnya dong? Karena saya nggak asuransi, saya akhirnya mengambil hikmah bahwa mungkin Allah sedang menegur saya karena sesuatu dan banyak hal. Terlalu banyak dosa dan minim perbuatan baik yang saya perbuat.

Anehnya walaupun kepikiran harus melayang sekian rupiah, hati saya terasa ringan. Kalau diuji, berarti masih ‘dianggap’ murid dong sama Sang Pencipta? Asik 😀 Sebenarnya masih banyak musibah kecil yang terjadi sebelum ini, hahaha bener-bener ditegur deh (HP rusak kena air, Laptop rusak, plafon rumah jebol gara2 kamar mandi bocor, plus mobil ketabrak haha). Alhamdulillah ‘alaa kulli hal, semoga Allah jadikan ini penggugur dosa-dosa dan menjadikan motivasi untuk banyak berbuat baik.

Ternyata di sini nikmatnya bergantung langsung dengan Sang Pencipta. Hanya perlu berserah diri untuk merasakan bahasa cinta-Nya 🙂

Advertisements

Delusi Keimanan

Suatu malam saya sedang “kesambet” – tumben-tumbennya ngawasin/nemenin anak2 main sambil baca juz amma keras2. Padahal mah biasanya kalau anak main dan lagi asyik sendiri saya sukanya baca buku.

Al Qur’an punya vibe yang unik – membaca atau mendengarkannya saja seperti memanggil ‘sesuatu’ di dalam hati. Menyenangkan. Tapi kenapa saya jarang ngaji satu juz sehari ya?

Melihat surat-surat di juz 30 membuat saya teringat sesuatu. Coy. Hafalan lo. Mentok kabeh. Makhroj lo. Kacau kabeh.

Dan teringat teman yang anaknya 5 jarak per dua tahun yang membuatnya bersyukur, selalu ada momen untuk menjemput anaknya dan gandengan tangan sambil murojaah juz amma sehingga ada satu juz yang melekat di kepalanya. Sementara saya… Jemput anak sekolah ngapain coba… malah jajan roti melulu di minimarket. Heuheuheu.

Saya hidup dalam sebuah delusi – delusi bahwa saya adalah hamba yang beriman (padahal mana ada orang yang mengaku beriman sedang ia tidak diuji?). Iya saya menutup aurat dan sholat 5 waktu, tapi apakah itu cukup untuk membawa saya ke surga? Sedekah saya masih minimalis, hafalan qur’an saya memprihatinkan, manfaat yang diberikan kepada masyarakat entah gimana, belajar agama juga masih sering di UGM sama UYM (universitas gugel/yutub mandiri – etapi aku liatnya yufid channel kok)

Adooh apa kabar lah gue dibanding orang2 yang begitu ringan bersedekah dan berjalan ke majelis ilmu dan khusyuk sholatnya? Maksiat apa sih yang lo perbuat sampe ‘berat’ khusyuk , tapi di sisi yang sama lo mengalami delusi keimanan? *Ngomong sama diri sendiri*

Tentu saja saya tahu jawabannya. Tapi yang sering terlupa adalah bahwa tidak ada azab di dunia bukan berarti tidak ada azabnya di akhirat. Naudzubillahi min dzaalik.

Tapi.. Allah memenuhi prasangka hambanya. Aku bisa kok jadi hamba-Mu yang baik, siswa unggulan yang akan Kau masukkan ke surga langsung blas. Aku bisa kan? Iya aku bisaaaa *afirmasi diri*

Ayo dong tobat yang bener, jangan tobat sambel doang.

Repetisi Hari Lahir

I don’t celebrate birthday – well, not anymore. I used to celebrate it.

Sejak kapan tidak? Sepertinya sejak 3-4 tahun yang lalu.

Kenapa tidak?

Kenapa iya?


Kenangan awal saya terhadap ulang tahun sepertinya tidak terlalu baik – saya hanya tahu bahwa itu pesta yang diadakan oleh orang-orang berduit, bagi-bagi makanan dan riang gembira, dan bikin iri orang yang datang karena mereka tahu bahwa mereka nggak bisa merayakannya semeriah itu.

Saya cukup sadar diri bahwa saat itu saya datang dari kalangan yang tidak bisa merayakan. I was 3 or 4 years old that time.

Saya ingat ada keramaian di sebuah kelas – semua terlihat gembira, hei apa ini yang menyenangkan? Aku juga mau ikut!

Oops, seseorang menarikku keluar. Katanya, itu hanya untuk TK A. Kamu kan, tidak diundang.

Pesta yang menyebalkan.

Tapi sepertinya menyenangkan kalau bisa merayakan pesta seperti itu. Aku akan dapat banyak hadiah, kan?

Setidaknya itu yang terpikir saat itu.

Sepertinya akhirnya Ibu saya berbaik hati merayakan ulang tahun saya saat saya berusia 5 atau 6 tahun. Lengkap dengan badut sulap. Bagi-bagi hadiah – yang entah dari mana uangnya, saya nggak tahu. Antara senang tapi sedih juga kalau saya merepotkan orang tua.

Selebihnya saya tidak ingat. Sepertinya sepanjang usia saya hanya saya yang antusias sendiri dengan ulang tahun saya, dan orang lain semacam “iya sih dia mau ulang tahun, kasihan, rayain dan selametin aja lah biar dia seneng.” karena orang yang ulang tahun akan sedih kalau ultahnya tidak dirayakan. Padahal sebenarnya nggak merayakan ultah juga toh nggak akan mati.

Mama mulai memerhatikan ulang tahun saya sejak… Ultah saya ke dua puluh sekian. Saya kurang ingat. Saat itu saya sudah pulang ke Jakarta, dan hubungan kami sudah semakin dekat. Well basically we only have each other and God.

Jadi kenapa saya mulai tidak merayakan ulang tahun?

Well sejak mulai belajar agama, dan acara perayaan ulang tahun tidak ada tuntunannya, jadi saya pilih tidak. Pada dasarnya hari raya muslim hanya Idul Fitri, Idul Adha, dan Hari Jumat, dan printilan perulang tahunan itu terlalu banyak elemen tasyabbuh kaum non muslim (ya, saya percaya hadist “barang siapa meniru suatu kaum maka ia termasuk ke dalamnya”) – so better safe than sorry.

Jadi saya nggak berulang tahun. Pun nggak bermilad.

Toh ternyata nggak dirayakan juga saya masih hidup. Hidup malah semakin damai karena nggak nyusahin orang buat beli kue dan hadiah pada tanggal tertentu jam 12 malam :p

Semoga kelak anak-anak mengerti kenapa kita tidak merayakan ultah ya nak.

Things You Get Me Understood

Engkau memang yang paling bisa membuatku paham

Atas segala kegundahan hatiku,

Dan pertanyaan mengapa aku biarkan diriku begitu sombongnya,

Kau selalu bisa, dengan cara-Mu yang maha halus

Membuatku mengerti

Bahwa semua usahaku

Tanpa iringan doa kepadaMu

Tiada artinya

Maukah Kau menerimaku lagi?

Dan lagi, aku akan selalu kembali

Karena hanya Engkau yang mengerti…

Kau kan yang menciptakanku,

Lebih dari Ibuku, Kau yang paling memahamiku

Lagi

Lagi-lagi Kau turunkan penyakit ke diriku

Mungkin karena Kau tahu saat sehatku sering lalai padamu

Terserah Kau saja, kalau menurutmu itu baik bagiku

Mungkin ini bentuk sayang-Mu padaku

La ba’sa, thohuurun insya Allah

It’s Not You, It’s Me

I wasn’t mad at you

I wasn’t mad about all the things I disagree with you that you did

I wasn’t mad about the fact that you have sole reason that makes you do what you did

The reason that I finally come to terms.

I wasn’t mad about you,

I was mad about me.

I was mad about the stupid things I did,

I was mad seeing you doing the stupid things I did

I was mad at me, failing to prevent you being as foolish as I was

I was mad at me, lacking of compassion when I see you doing things that is out of control

I was mad at me, listening about the negative things other people say about you

I was mad at my ego, letting the illusion of being a better person blinding me

I was mad, myself.

I wasn’t mad at you.

It’s not you, it’s me.