Waras

Ada masa di mana saya merasa rendah dan tak berguna, mempertanyakan diri: saya ini ngapain sih? Ditambah segunung rasa bersalah saya kepada anak-anak saya – kenapa saya begini, begitu? Kenapa saya tidak bisa lebih sabar lagi kepada anak-anak saya? Apa benar mereka paling baik ditinggal bersama saya, apa benar saya bisa mendidik mereka?

Pikiran-pikiran liar yang berkulminasi menjadi suatu titik kelelahan, di mana saya meragukan segala kemampuan saya. Sampai beberapa hari saya perlu mengungsikan kakak ke daycare supaya kepala saya lurus lagi.

Kalau ingin membangun peradaban, bahagiakanlah ibunya. Saya bersyukur memiliki suami yang selalu mendukung kebutuhan saya baik untuk diri saya sendiri, maupun untuk anak-anak saya. Saya harus menjaga kewarasan saya – salah satunya dengan mempekerjakan ART untuk bebersih rumah dan mencuci dan setrika baju. 

Kok manja banget? Tapi kan ada orang yang bisa tuh punya anak lebih banyak dari saya tapi nggak pake ART dan sukses aja mendidik anaknya?
Jawabannya adalah, saya bukan dia. Anak saya bukan anak dia.

Dan akhlak dan fitrah anak-anak saya terlalu mahal untuk dinodai amarah saya yang lelah gara-gara lihat cucian piring dan baju yang menumpuk. Mahal emang, keluar ratusan ribu lagi buat meringankan beban pekerjaan rumah, tapi kalau fitrah anak sudah rusak karena sering lihat ibunya marah-marah, berani ganti berapa rupiah?

Buat Ibu-Ibu yang bisa menangani anak-anaknya sambil masak nyuci dan lain-lain sambil nyeruput nyugrinti, hats off. Tapi nggak jadi pembenaran juga buat nyinyirin artis mantu pengusaha yang konon “babunya lima belas” buat bantu ngurusin dia dan ketiga anaknya. Umar bin Khattab pernah lari-lari ngejar ternak lepas, dan Utsman bin Affan bersikeras ingin bantu Umar, tapi Umar malah menyuruh Utsman tunggu di rumah saja. Karena Umar takut Utsman nggak kuat panas-panasan kejar-kejaran hewan, cara mereka dibesarkan beda. Buat Umar lari-lari panas panasan itu hal yang biasa saja, tapi mungkin bagi Utsman itu hal yang perlu energi ekstra. Mantu pengusaha juga layak untuk waras dengan caranya sendiri.

Setiap sore, saya sering mengajak si kakak naik sepeda keliling komplek sambil menggendong si adik. Saya pun jadi lumayan kenal banyak ART dan pengasuh anak di sekitar komplek. Salah satu yang akrab dengan saya adalah Mbak A, usianya mungkin sepantaran saya. Menurut saya, beliau mengasuh anak dengan cukup baik, beliau terlihat sayang dan peduli kepada anak asuhnya. Saya pikir itu adalah manifestasi kerinduannya kepada anaknya yang ditinggal di kampung – demi sejumlah bayaran 2,7 juta per bulan.

Dan saya melihat banyak hal: anak-anak yang minta jajan bablas nggak ketulungan kepada mbaknya. Anak-anak yang berkeliaran naik sepeda, berteriak-teriak memanggil temannya yang ada di dalam rumah. Anak-anak yang haus setelah bermain, lalu berhutang ke warung dan minum dengan tangan kiri. Anak kecil yang dibawa duduk-duduk oleh pengasuhnya dan teman-temannya yang sibuk mendengarkan nyanyian dangdut sambil belanja online. Anak kecil, usia 1 tahunan, yang dibawa berkeliling komplek menggunakan stroller oleh dua orang remaja tanggung yang terlihat canggung – mereka bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan di mana mereka tinggal.

Dan kemudian saya melihat anak-anak saya. Dengan buku-buku bergizi yang saya kurasi untuk mereka. Dengan makanan yang saya usahakan untuk mereka makan. Dengan doa-doa yang rutin keluarga kami biasakan. Dengan surat-surat pendek yang perlahan kami perdengarkan. Saya melarang mereka untuk makan dengan tangan kiri. Saya mengajarkan mereka tentang aurat. Saya mendoakan mereka.

Mereka layak mendapatkan saya untuk mendidik mereka di rumah. Saya berguna. Dengan izin Allah saya bisa.

Abi

Setelah puluhan tahun yang kuhabiskan untuk menghindarimu

Dan sekian tahun yang pernah kuhabiskan untuk membencimu,

Menghapus namamu dari doa sehari-hariku,
Akhirnya hati ini luluh untuk memaafkanmu,
Dan kini ingin mendoakanmu kembali

Karena dalam setengah fase hidupku yang singkat di dunia,
Yang tersisa dari ingatanku denganmu Hanyalah kebaikan-kebaikan yang pernah kau ajarkan kepadaku
Bahkan sikap keras kepalamu yang kau turunkan kepadaku

Kita tidak bisa membohongi nasab, kan?
Bagaimanapun juga kau adalah asbab kehadiranku di dunia,
Yang menghadirkan aku sejak masih berupa segumpal darah yang bernyawa

Melanjutkan Perjalanan

Sore itu saya sedang mengambil uang di ATM, saat saya tak sengaja melihat ada panggilan tak terjawab dari suami saya. Tumben ada telepon sore begini, pikir saya. Curiga ada yang penting, saya pun menelponnya.

“Bu, si M meninggal.”

“Hah? Siapa?”

“Si M,” suami saya menyebutkan nama temannya dari SMA.

Saya terkejut. Ingatan saya kembali ke sekitar 2 tahun yang lalu, saat kami makan siang bersama M dan seorang teman lainnya. Si M adalah sosok yang bersahaja – ia seringkali terlihat canggung dan tidak percaya diri, tapi ia adalah seseorang yang berakhlak baik. Terakhir kali kami berkumpul bersama adalah atas inisiatifnya untuk mengumpulkan lagi teman-teman SMA nya yang sudah jarang bertemu.

“Kenapa? Kok bisa?” Saya bertanya. Lutut saya agak lemas mendengar berita kepergiannya yang tiba-tiba.

“Nggak tau, aku baru dengar katanya serangan jantung. Ini aku segera ke rumahnya sekarang.”

“Oke, kabarin ya nanti.”

Saya menutup pembicaraan. Singkat cerita, suami dan teman-temannya segera berkumpul di rumah M dan menshalati beliau. Setelah itu, suami saya kembali ke kantornya. Saat itu suami belum mendapat cerita lengkap tentang kepergian beliau – Ibunya hanya berkata saat itu M sedang berada di rumah sakit dan tiba-tiba pihak RS menghubungi Ibunya dan menyampaikan bahwa M telah tiada. Suasana yang tidak kondusif juga membuat suami saya urung untuk bertanya lebih detail.

Dua minggu berselang setelah kepergian M, suami saya bertamu kembali ke rumah M untuk menyampaikan uang duka dari teman-teman. Saat itulah Ibu M akhirnya bercerita panjang tentang akhir hidup M.

Seminggu sebelum M wafat, suami saya sempat berkunjung ke rumahnya. Setelah itu, M sempat bertanya kepada Ibunya, “Mak, kira-kira Rama bakal mampir ke sini lagi nggak ya?”

“Nggak tau, emang kenapa?”

“Saya pengen ngobrol aja… Kayaknya ada pertanyaan di kepala ini yang cuma dia yang bisa jawab.”

“Ya telepon aja, ajak ketemu.”

“Nggak lah, Bu. Nggak enak.”

Hati suami saya agak mencelos saat menceritakan hal ini.

Beberapa hari kemudian, tiba-tiba M berkata kepada Ibu dan keluarganya.

“Mak, kayaknya Saya mau meninggal deh.”

Ibunya tentu saja kaget, karena M sehat-sehat saja. Selera makan pun masih baik. Sama sekali tidak terlihat seperti orang sakit atau mau meninggal. Tapi M hanya menanggapinya dengan, “Ya gimana ya rasanya… Pokoknya saya ngerasa aja, saya mau meninggal.”

Hari-hari berikutnya dihabiskan M untuk menghubungi dan menemui kawan-kawan lamanya. Setiap pagi, ia berjalan di daerah rumahnya, bertemu para tetangga dan memohon maaf jika ada kesalahan. Seringkali Ibu dan adiknya memergoki M sedang berdzikir di waktu luangnya, bahkan sekali waktu adik M memergoki M sendirian di kamarnya, sedang menyanyikan lagu Bimbo sembari menangis,

“Akan datang hari

Mulut dikunci

Kata tak ada lagi

Akan tiba masa

Tak ada suara

Dari mulut kita

Berkata tangan kita

Tentang apa yang dilakukannya

Berkata kaki kita

Kemana saja dia melangkahnya

Tidak tahu kita

Bila harinya

Tanggung jawab tiba

Rabbana…

Tangan kami

Kaki kami

Mulut kami

Mata hati kami

Luruskanlah, kukuhkanlah

Di jalan cahaya sempurna

Mohon karunia

Kepada kami

Hamba-Mu yang hina

Sehari sebelum wafat, M tidak masuk kantor. Katanya ia mau di rumah saja. M pun menghabiskan harinya dengan berdzikir di kamarnya.

Ibunya yang khawatir, akhirnya membujuknya untuk pergi ke dokter, walaupun secara fisik M tampak baik-baik saja. Saya lupa cerita detail di sini, namun karena kondisi fisik M yang baik, Bapak M sempat meninggalkan M di RS sendirian.

Setelah itu tiba-tiba kondisi M memburuk. Tiba-tiba M tidak bisa makan dan minum, apapun yang dikonsumsi langsung dimuntahkan. Ditambah lagi dengan tekanan darahnya yang sangat tinggi, membuat tenaga kesehatan tidak bisa memasukkan obat apapun untuk memperbaiki kondisinya secara oral maupun intravena.

Setelah itu kondisi M langsung memburuk. Siangnya, M telah tiada.

Saya dan suami jadi merenungi, bagaimana bisa seseorang mendapatkan pesan yang begitu kuat bahwa sebentar lagi dia akan dijemput? Mungkin M ini adalah satu dari sedikit orang yang terkenal di akhirat, tapi tidak terlalu terkenal di dunia. Kami pun bertanya-tanya, jika waktunya nanti datang, akankah kami menyadarinya?

Dan setelah kepergiannya barulah terungkap kebaikan-kebaikannya, hal yang seringkali terabaikan semasa hidupnya di dunia.

Saat nanti kami harus melanjutkan perjalanan, akankah kami diberitahu bahwa kendaraan akan segera menjemput?

Saat nanti kami harus melanjutkan perjalanan, apakah cukup bekal kami?

Saat nanti kami harus melanjutkan perjalanan, apa kenangan yang tersisa dari orang yang mengenal kami?

Saat nanti kami harus melanjitkan perjalanan, tiket ke mana yang kami pegang?

Aneh

Tetangga depan kami, Pak D, bekerja di sebuah dinas pelayanan publik di Jakarta. Jabatan beliau sudah cukup tinggi, setiap hari beliau dijemput mobil dinas. Suami saya terkadang mengobrol dengan Pak D saat bertemu di masjid. Saya pun cukup akrab dengan istrinya, Bu C.

Keluarga mereka ini cukup nyunnah. Setiap adzan berkumandang, kalau sedang ada di rumah, Pak D dan anak sulungnya yang laki-laki langsung bersiap menuju masjid. Tentu saja Pak D berjanggut dan bercelana cingkrang. Beberapa waktu yang lalu, Pak D bahkan membeli seperangkat alat panahan. Anak sulungnya sekarang belajar di pesantren tahfidz di Aceh, kampung halaman istrinya.

Beberapa kali mengobrol dengan suami saya, Pak D menceritakan betapa sulitnya menjalankan sunnah di kantornya. Entah mengapa, walaupun di kantornya sebagian besar beragama islam, setiap ada yang berpenampilan nyunnah sedikit seringkali disindir-sindir, bahkan sampai bisa dimutasi. Pak D sebagai pejabat dengat pangkat yang sudah cukup tinggi akhirnya sering pasang badan untuk membela staf-staf yang diperlakukan tidak adil. 

Suami saya sangat bingung dengan fenomena ini. Suami saya bekerja di perusahaan join operation antara perusahaan Indonesia (yang dimilili keturunan Cina) dan perusahaan e-commerce Cina. Mayoritas atasan dan karyawan kantor adalah non muslim. Namun mereka tidak ada yang mempermasalahkan penampilan suami saya. Suami saya sudah menyampaikan tentang jadwal ibadahnya dan bagaimana dia berharap agar pekerjaan kantor bisa tetap bersinergi dengan kegiatan ibadah, dan Bosnya hanya bilang “Nggak masalah, kamu silakan atur saja.”

Aneh saat suami saya yang minoritas tetap dihormati oleh mayoritas, namun rekan kerja Pak D yang mayoritas tidak dihormati oleh yang mayoritas.

Namun, terlepas dari menjadi mayoritas ataupun minoritas, bukankah sebagai sesama manusia kita harus saling menghormati?

Family Project 1

Kembali lagi bersama tugas kelas Bunda Sayang dari IIP, kali ini kami diminta untuk membuat family project yang melibatkan seluruh anggota keluarga. Kebetulan sekali, di rumah ada project yang sudah 3 bulan nggak selesai-selesai, yaituuu…

Beberes rumah!

Setelah diskusi dengan suami, kami memutuskan untuk mencoba fokus di 2 proyek, yaitu:

1. Sudut Bermain Anak

Di rumah ada satu sudut yang isinya adalah 2 kontainer besar berisi mainan, carseat dan banyak mainan yang masih belum bertuan. Rencana kami adalah:

A. Menyortir mainan (simpan, sumbangkan, buang) karena beberapa mainan sudah rusak atau pecah, berhubung adiknya sedang fase oral, kami ingin agar rumah bebas dari printilan mainan yang mungkin tertelan. Ibu akan membimbing kakak untuk memilah mainan.

B. Menyusun mainan di laci penyimpanan. Urusan pengadaan laci dan angkut-angkut kami serahkan kepada Bapak 😀

C. Membuang mainan yang sudah tidak terpakai – dibantu Bapak

D. Mengemas mainan yang akan disumbangkan – Ibu dibantu Kakak

E. Menyalurkan mainan kepada pihak yang membutuhkan (via ekspedisi) – Bapak
2. Memilah Pakaian Untuk Disumbangkan

Sebenarnya ini sudah dikerjakan oleh Bapak, namun belum sempat dikemas untuk disalurkan. Pakaian Ibu sudah disumbangkan sejak 3 bulan yang lalu. Jadi yang akan dikerjakan adalah:

A. Mengemas pakaian Bapak untuk disumbangkan – Ibu dibantu kakak

B. Mengirimkan pakaian ke ekspedisi -Bapak

Demikian rencana family project, semoga berhasil di tengah segala kesibukan 🙂

A Leap of Faith


Saat melakukan lompatan itu, selalu ada rasa takut dan tegang – maka dari itu dia dinamakan ‘leap of faith’. Lompatan iman.

Sudah berapa tahun saya mengamati mereka? Saya lupa. Pertama kali saya melihat penampilan seperti itu saat saya umrah tahun 2004, dan mereka terlihat nyaman dan baik-baik saja.

Lalu saya melakukan lompatan iman pertama saya pada tahun 2007 – menggunakan hijab. Melewati segala pro dan kontranya. Saya ingat beberapa sahabat yang berkata, buat apa, kalau kelakuannya masih buruk. Bahkan seorang teman mengatakan saya terlihat seperti orang munafik. Tapi toh saya tidak melakukan itu untuk menyenangkan hatinya.

Seiring waktu, jilbab paris yang terkadang menerawang berubah menjadi jilbab tebal. Model jilbab punuk unta mengempes, dan jilbab pun semakin memanjang. Jeans ketat dan cardigan pun berganti dengan gamis atau tunik panjang.

Saya dulu termasuk orang yang suka berswafoto. Tapi beberapa tahun terakhir ini, terutama sejak mengetahui tentang ‘ain, saya menjadi semakin jarang berfoto, apalagi pamer foto di media sosial. Beberapa kali saya post foto saya dan kawan-kawan di media sosial saya adalah saat momentum sangat istimewa seperti pernikahan sahabat saya. Saya tidak suka mengunggah foto saya, suami, anak-anak atau kami semua di media sosial karena saya tidak terlalu nyaman dengan fakta semua orang di lingkaran pertemanan saya tahu kami di mana, sedang apa, wajahnya bagaimana, dan lain-lain. Mungkin asbab terbesarnya ya itu, takut kena ‘ain. (kalau kepo soal ‘ain silakan baca ini https://konsultasisyariah.com/10400-hakikat-ain.html). Atau sederhananya, kita posting foto suami terus ada yang naksir, fotonya dipandang-pandang, kan kzlbgt mz 😐

Semakin lama, saya semakin tidak nyaman terlihat. Sudah sejak lama saya ganti PP media sosial saya dengan huruf saja, hehehe. Dan bisikan itu datang, katanya cobalah kamu pakai cadar saja.

Apa yang salah? Nggak ada. Sebagian ulama mewajibkan (jika wajahnya berpotensi mengundang fitnah alias cuantik banget – kalo buat mbak Dian Sastro udah kena hukum wajib kyknya hehe :p), sebagian menganggapnya sunnah. Terus kalau sunnah apa ya ditinggalin aja? Cem udah banyak pahala aja lu orang.

Sempat ada rasa ragu – yakin mau coba pakai cadar? Lha ngaji aja masih suka bolos, baca qur’an jarang, sholat masih gak awal waktu, dan masih banyak lagi. Tapi saya percaya, sebuah kebaikan akan memudahkan kebaikan yang lain. Dan saat yang lain masih berat, entah kenapa hati ini ringan sekali untuk melakukannya.

Hidayah masa ditolak? Hehehe

Saya pun berkonsultasi kepada suami. Komentar beliau: “kan sunnah, kenapa juga aku ngelarang”

Ya kurang apa lagi? Hanya bisikan syaiton yang menghalangi nampaknya :p

Jadi, bismillah. Saya akan memulai lompatan iman berikutnya – bercadar. Semoga bisa menjadi sebab kebaikan-kebaikan lain dan Allah ridhai ini sebagai jalan menuju surga 🙂

*Feature Image taken from http://www.cafleurebon.com/wp-content/uploads/2012/03/1001-Colours-by-Anca-Costache.jpg

Menyelamatkan Fitrah Anak

Ada suatu masa di mana si kakak mendapatkan perlakuan “gadget and tv free” – bebas pakai tv dan gadget kapan saja.

Awalnya karena saya perlu beradaptasi setelah melahirkan adiknya. Apalagi si adik kalau menyusu, maunya suasana tenang di kamar sambil ngadem. Jadilah si kakak ditinggal di bawah dengan ART, yang karena lagi sibuk mengerjakan yang lain, akhirnya si kakak dikasih nonton TV.

Kalau sudah di atas adzan isya, saya selalu tepar karena seharian menyiapkan kebutuhan anak-anak dan rumah. Apalagi si adik yang sudah mulai makan. Apalagi kalau nenek sudah pulang, si kakak langsung minta ke kamar nenek. Di kamar nenek, ujung-ujungnya si kakak pun bebas nonton youtube karena nenek sibuk, sering bawa pulang kerjaan kantor ke rumah.

Awalnya rasanya baik-baik saja – saya bisa istirahat sejenak, mengurus adik, whatsappan atau fesbukan. Me time gitu ceritanya.

Sampai suatu hari saya menyadari bahwa sebagian besar waktu si kakak banyak habis untuk nonton tv. Sementara saya rempong mengerjakan hal yang lain. Dan si kakak tiba-tiba menjadi si kakak yang berbeda dengan 1,5 tahun yang lalu.

Iya, seiring bertambah usia anak akan berubah. Tapi perubahan ini sangat mengkhawatirkan. Tiba-tiba si kakak suka memukul dan jadi agresif. Sering bicara nggak jelas. Bahkan nggak bisa diajak berkomunikasi sama sekali dengan saya.

Saya patah hati.

Sebagai Ibunya, saya tahu jelas penyebabnya: terlalu banyak nonton TV dan gadget. Bukan hanya kepada dia, tapi juga kepada saya. Frekuensi cek HP yang terlalu sering membuat mata saya cepat lelah, dan kalau saya lelah saya jadi cepat marah. Saya lelah, lalu saya berikan HP supaya dia anteng dan saya bisa istirahat. Begitu terus jadi lingkaran setan.

Sungguh menghancurkan hati saya saat saya merasa kesulitan berkomunikasi dengan dia, dan bahkan dia cenderung banyak menghindar dari saya. Anak kecil yang dulu senang mengikuti bacaan al-fatihah itu kini relung hatinya sudah tergantikan dengan video-video youtube, boboboi dan entah film apa lagi.

Suatu hari saya tak sengaja melihat seorang teman membagikan tulisan Sarra Risman di linimasa facebook saya. Kurang lebih intinya; ia terkadang merasa kesal dengan anaknya yang menurutnya sering malas. Namun ia lun berkaca kepada diri sendiri: inilah bentuk kegagalannya menjaga fitrah anaknya sehingga menjadi seperti itu.

Menjaga fitrah anak.

Seorang anak fitrahnya tentu baik, orangtuanyalah yang mengarahkanmya menuju kebaikan atau keburukan.

Saya ingat suami saya pernah berpesan: mata dan telinga adalah jendela hati.

Dan seorang anak adalah peniru paling ulung atas sesuatu yang dilihatnya.Bisa memukul dan ngoceh nggak jelas itu dari mana contohnya?

Saya berusaha mengingat perjalanan hidup saya sejak mulai bisa mengingat sampai sekarang.

Waktu SMP dulu, semua anak perempuan berlomba-lomba mengecilkan baju. Baju yang terlalu pendek akan dicoret spidol atau digunting – tapi entah kenapa senior-senior yang bajunya digunting itu malah terlihat bangga. Mereka terlihat keren.

Saat itu saya mau jadi keren juga, maka sayapun ikut mengecilkan baju.

Dipikir-pikir, trend baju ketat itu sepertinya diprakarsai oleh sinetron “Amanda” yang dibintangi Agnes Monica. Memperlihatkan karakter anak sekolah badung berbaju ketat yang terlihat kereeenn sekali. Dan itu disiarkan tiap hari. Membuat jutaan anak sekolah di Indonesia berpikir bahwa baju ketat dan melawan guru itu keren.

Dan masih banyak hal yang tanpa sadar kita perbuat karena sekedar ikut-ikutan. Ingin punya pacar karena semua kakak kelas punya pacar dan terlihat bahagia. Ikutan memberikan coklat di hari valentine karena di komik Cardcaptor Sakura dicontohkan seperti itu. Ikutan bilang “Aku pulang!”, Bukan “Assalamualaykum” saat pulang ke rumah karena Nobita melakukan hal itu. Mempertimbangkan untuk “nembak” cowok yang disuka karena majalah Kawanku bilang hal itu wajar-wajar saja.

Seorang bocah labil tanpa moral compass yang jelas, terombang-ambing dalam derasnya arus informasi. Dan itu kisah tahun 2000-an, zaman di mana media sosial yang eksis masih mIRC.

Saya sangat gelisah dengan tontonan disney channel yang entah apa konten dan pesan moral ceritanya. Saya nggak pernah suka dengan kartun Boboboi – tidak ada pesan moral dan karakternya tidak simpatik buat saya. Saat anak saya menonton film itu, apa yang terserap dan tertiru olehnya?

Apakah saya suka saat anak saya meniru-niru frase dari film yang dia tonton? Tidak.

Saya maunya anak saya jadi anak soleh, hafidz qur’an. Tapi apa figur anak seperti itu bisa didapatkan dengan ongkang-ongkang kaki sambil dibiarin nonton semaunya? Emangnya bisa jadi anak gitu kalau orangtuanya doyannya whatsappan di grup Ibu-ibu (walaupun ceritanya membahas pendidikan anak), bukannya main sama anaknya? Menurut ngana?

Sampai akhirnya saya memutuskan untuk mematikan TV total dan sangat membatasi penggunaan HP. Saya sangat meminimalisir penggunaan HP di depan anak saya supaya dia tidak ikutan minta HP saya dan jadi bertingkah aneh.

Terima kasih kepada kelas bunda sayang di IIP Jakarta, saya jadi lebih mudah menentukan prioritas kegiatan harian saya di rumah, terutama yang bersinggungsn dengan gadget:

1. kebutuhan primer diri (makan, obat, sholat)

2. Kebutuhan anak&anak (siapin makan, mandiin, asi, temenin main)

3. Suami dan pekerjaan (jadi cuma ngewaro wa suami, klien dan vendor) oh iya plus kelas pemgembangan diri.

4. Pekerjaan rumah tangga (nyuci piringz sapu, pel, beberes) – biasanya ada ART tapi beliau lg izin hampir 2 minggu krn suaminya sakit.

Dulu saya menghabiskan banyak waktu untuk scroll pembicaraan di grup WA, alhamdulillah sekarang udah ada 56 chats yang nggak saya waro hahaha.. karena mereka tidak masuk ke dalam 4 poin di atas. Kalau istilahnya di IIP “menarik tapi tidak tertarik” :p

—-

Sudah dua minggu lamanya saya menjalankan program detox ini. Saya dan anak tidak menonton TV seharian (tapi ada kecolongan sekitar 2 jam di rumah sakit krn lagi opname). Youtube sudah stop sama sekali. Penggunaan HP bagi saya diminimalisir dengan cek WA seperlunya. Anak saya sudah tidak pegang HP sama sekali. Setiap hari saya setel murotal qur’an.

Hasilnya?

Setiap hari bisa baca sekitar 5 buku. Bahkan buku Muhammad Teladanku yang dulu 1 subjudul aja dibacain anaknya kabur, sekarang bisa anteng ampe dibacain 4 subjudul.

Jadi gampang diajak bicara santai hati ke hati, momen yang nggak bisa ketemu kalau HP ada di tangan. Biasanya sebelum tidur bisa ditanya “Allah dimana?” “Allah di atas arsy”. Dan diselipin pujian positif seperti “wah kakak hebat ya sudah bisa ajak adik main, Allah suka lho.” Dan lama-lama dia juga ngerti, kadang setiap habis berbuat baik (misal bantu taro baju di tempat baju kotor) dia suka ngomong sendiri “Sayf hebat ya! Allah suka!” 😂

Jadi sangat nggak agresif ke adiknya. Biasanya bisa sampe dorong-dorong agak kasar, sekarang dia cenderung menjaga adiknya (kalau ada barang aneh mau dimakan adiknya langsung diambil, dikasih ganti mainan).

Buat saya, nggak ada TV dan jarang ambil HP jadinya nggak capek mata, jadi fisik nggak cepat lelah. Tanpa TV hari terasa lebih panjang dan saya bisa bertahan sampai ngelonin anaknya tidur (yang artinya: bisa ajarin doa sblm tidur etc) tanpa tepar. Dan saya jadi eling dan nggak gampang marah! Alhamdulillah.

Bagaimanapun pertolongan Allah lah yang membalikkan hati saya sehingga saya greget banget untuk menjauhkan diri dan keluarga saya dari hal-hal yang tidak bermanfaat.

Yang tidak kalah penting lagi adalah… Minta maaf kepada anak.

Betapa tiga tahun ini, kok saya bodoh sekali, seperti nggak serius dalam menjaga fitrah anak saya. Tidak memfilter mata dan telinganya dengan kalimat-kalimat yang baik. Bahkan malah bonus diomelin pula kalau sedang bertingkah.

Beberapa hari terakhir sebelum saya melakukan detox itu, saya seperi melihat marah di sorot matanya, dan setiap saya ajak bicara dia nggak waro saya..beneran saya sampai nangis-nangis.

Dan sembari detox itu, saya hanya bisa minta maaf setulusnya kepada si kakak.. Betapa ibunya ini masih jauh dari sempurna. Ah jadi cirambay lagi kalau diinget. Minta maaf atas kata dan perbuatan yang sudah merusak fitrahnya. Berserah kepada Allah, minta diampuni dosa-dosa yang pernah kita perbuat kepada anak kita.

Saya benar-benar desperate melihat kondisi si kakak waktu itu, dan merasa sangat marah pada diri saya sendiri karena sudah membuat si kakak jadi seperti itu. Tapi di titik itu saya berserah seluruhnya kepada Allah. Mohon petunjuk-Nya bagaimana supaya dia kembali ke fitrahnya. Semacam pertobatan dalam mendidik anak, saya ingin memulai semua dari awal lagi.

Dua minggu berlalu, dan saya merasa lebih penuh cinta kepada anak saya.

Seperti ada tombol yang menyala di dalam otak saya, kini saya benar-benar aware terhadap apa input yang masuk kepada anak saya. Jika saya berikan ia tontonan A, apa yang bisa ia lihat? Adakah itu merusak fitrahnya? Ridhakah Allah jika anak saya melihatnya?

Mata dan telinga adalah jendela hati.

Sekarang saya mengerti kenapa beberapa teman saya bertahan dengan hidup tanpa TV, dan kenapa Ustadz Khalid Basalamah selalu mendengarkan murotal setiap bepergian ke tempat yang penuh musik.