Kalau Saya Kaya

kalau saya kaya
aduh aduh aduh
pengen punya rumah
satu rumah besar
punya banyak mobil…

– fransoa : kalau saya kaya

Sekilas cuplikan dari lirik lagu fransoa, yang menurut saya merupakan pemikiran yang umum dimiliki sebagian besar masyarakat kelas menengah kita. Kita, yang sedang merangkak menuju kemapanan, yang ingin sekali dicap mapan dan terlihat mentereng dibanding orang-orang lain yang sedang berjuang juga untuk terlihat mentereng 😀

Salah satu dari fenomena meningkatnya jumlah kelas menengah di Jakarta adalah semakin menjamurnya jumlah apartemen dan perumahan, mulai dari yang berkelas rusunami sampai yang berlokasi premium di distrik bisnis jakarta. Dan hampir selalu sold out (or so they say…).

Saya pernah bertemu dengan seorang wanita, umurnya sekitar 30 tahunan, di tempat beli gorden. Kebetulan saat itu saya sedang pesan gorden baru untuk di kamar mama saya. Ternyata si mbak ini naksir dengan gorden yang saya pesan untuk mama saya, dan jadilah kami mengobrol. Ternyata dia sedang mencari gorden untuk interior apartemennya yang akan disewakan.Dan ternyata, bukan hanya 1 apartemen yang dia miliki untuk disewakan, tapi ada 4. Saya tidak bertanya lebih lanjut tentang bagaimana caranya dia membayar 4 buah apartemen, dia akhirnya mengambil sebuah gorden ready stock dan pamit dari toko.

Si fulan yang alhamdulillah dikaruniai banyak rejeki kini memiliki 6 buah apartemen di lokasi-lokasi primer jakarta. Sebagian besar sudah tersewakan, sisanya masih dalam tahap pembangunan.

Dan saya yakin masih banyak orang-orang sejenis demikian, yang punya banyak rejeki dan berinvestasi di properti yang menjamur.

Tapi sekarang, jadinya saya sering mendengar statement kurang lebih begini, “beli apartemen lagi dong, si fulan aja bisa beli sampai sekian, harus pintar dong seperti si fulan”.

Entah kenapa saya kurang semangat untuk menambah pendapatan dengan cara demikian. Bagi saya, orang yang memiliki rumah lebih dari yang dia butuhkan itu terdengar… tamak.

Tentu saja ini pernyataan yang sangat bisa didebat. Banyak alasan untuk melakukan hal itu, apa lagi kalau bukan INVESTASI 😀

Tapi mari kita berkaca ke kehidupan si fulan, teman suami saya yang sudah mapan. Usianya sudah sekitar 40-an, dan beliau hanya menyimpan hartanya sesuai yang dibutuhkan oleh keluarganya. Selebihnya, ia putarkan uangnya untuk bisnis. Menurut suami saya, itu sebabnya dia terlihat santai walaupun bisnisnya merugi miliaran. Karena ia tidak menggunakan uang makannya untuk berbisnis.

“Rama, memangnya hidup berempat dengan anak istri, semewah-mewahnya itu butuh berapa rupiah sih?”

Kira-kira itu yang beliau sampaikan saat mereka mengobrol.

Jadi, kalau kamu punya uang yang banyak dan berlebih, apa yang akan kamu lakukan?

Berinvestasi ke properti yang sedang lagi ngetrend sekarang? Menaikkan gaya hidupmu dan beli mobil mewah dan tas LV? Atau membantu pendidikan anak penjaga kampusmu? Atau jalan-jalan keliling dunia?

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,

sampai kamu masuk ke dalam kubur.

Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perubatanmu itu).

Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.

Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,

niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim.

Dan sesungguhnya kamu akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin (dengan mata kepalamu sendiri).

Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)

– At Takaatsur 1-8

Advertisements