Cyst Plexus Choroid

Diawali dengan niat untuk memeriksakan kandungan saya dengan agak detail (berhubung sudah memasuki minggu ke 19 – sedang tahapan organogenesis), saya memutuskan untuk pergi ke dokter yang direkomendasikan oleh teman saya, namanya Dr Irvan. Beliau dokter ahli USG di RSIA Tambak. Kebetulan saya selalu kontrol di sana, tetapi dengan Dr Ika. Setelah mendaftar, akhirnya hari minggu (10 November) kemarin kami dimasukkan ke no. antrian 7.

Setelah kami daftar ke tempat dokternya, ternyata ruang tunggunya sudah penuh πŸ˜€ mungkin karena hari libur dan pasien beliau pun banyak. Setelah 3 orang berlalu, kami pun dipanggil.

Setelah berkenalan, saya dan suami menyampaikan bahwa kami mau detail scan dengan beliau atas rekomendasi teman saya, karena ingin melihat perkembangan lebih detail organ-organ tubuh anak saya. Tujuannya juga agar apabila ada indikasi kelainan dapat diketahui lebih awal (tapi ya kalo bisa jangan ada kelainan lah :p). Namun sayangnya, karena antrian pasien beliau yang membludak hari itu dan waktu yang terbatas, beliau tidak bisa memberikan detail scan. Beliau menyarankan nanti buat janji saja di hari kerja yang tidak terlalu ramai, untuk sekarang periksa biasa dulu saja. Kebetulan terakhir periksa di Dr Ika sekitar 6 minggu yang lalu. Lalu diperiksalah saya dengan USG.

Bagian pertama yang dilihat adalah kepala dan otak. Ternyata, di sana beliau menemukan adanya Cyst Plexus Choroid (CPC). Saya dan suami bingung, apaan itu ya, baru pertama kali dengar… Akhirnya sembari memeriksa bagian lain, suami saya googling dengan HPnya mengenai CPC. Dr Irvan menjelaskan bahwa CPC bisa terlihat di 1% kasus kehamilan dan bisa merupakan indikasi awal down syndrome pada bayi yang dikandung. CPC ini akan menghilang dengan sendirinya di minggu ke 22 sampai 24.

Namun, untuk hasil yang lebih akurat mengenai kemungkinan adanya down syndrome pada anak, kita dapat melakukan beberapa jenis tes:

1. Nuchal Translucency Screening
Pada trisemester pertama (minggu 11-14), dapat dilakukan nuchal translucency screening. Apa itu? Kalau saya tangkap dari yang saya baca, sederhananya adalah mengukur ketebalan cairan di tengkuk pada janin. Jika ditemukan penebalan, maka ada indikasi kelainan kromosom pada janin. Namun penebalan cairan pada tengkuk tersebut dapat hilang dengan sendirinya saat memasuki trisemester kedua.

Image

 

perhatikan bagian tengkuknya, itu yang dicek di nuchal screening test.

Berhubung saya sudah melalui trisemester pertama, saya kurang concern terhadap nuchal translucency screening ini,jadi sila mencari infonya di tautan ini:

http://en.wikipedia.org/wiki/Nuchal_scan

2. Triple Screening Test
Pada trisemester kedua (minggu 15 – 20), dapat dilakukan ‘triple screening test’, dengan metode mengambil sampel darah dari Ibu.. kurang lebih seperti tes darah biasa πŸ˜€ tes ini memiliki akurasi 70% dan tidak memiliki resiko apapun untuk ibu dan janin (kecuali sakit-sakit dikit lah pas diambil darahnya :p). Untuk mengetahui tes ini lebih lanjut, silahkan baca:

http://en.wikipedia.org/wiki/Triple_test

3. Amniosintesis
Tes ini menggunakan metode pengambilan sampel air ketuban. Namun Dr Irvan menjelaskan bahwa walaupun tes ini memiliki akurasi lebih tinggi (90% or so, saya lupa angkanya), tes ini memiliki resiko keguguran 7% dan juga dapat menimbulkan ketuban bocor di beberapa kasus.

Singkat cerita, karena ditemukannya CPC yang menurut Dr Irvan dapat merupakan indikasi down syndrome pada janin yang saya kandung, beliau menawarkan pilihan, jika ingin tahu lebih detail, dapat memilih melakukan triple screening test atau amniosintesis.

Dr Irvan menjelaskan, ada beberapa alasan kenapa akhirnya seseorang mengambil tes tersebut:

1. Mempersiapkan mental orang tua terhadap kondisi anaknya kelak
2. Memutuskan apakah kehamilan akan dilanjutkan atau tidak

* untuk alasan no. 2, mau anak saya gimana juga kek, selama saya nggak membahayakan nyawa saya untuk melahirkan dia, saya tidak akan menghentikan kehamilan saya. wong udah dikasih Tuhan kok.

Oh iya, selain fakta ditmeukannya CPC di otak anak saya, sebenarnya fungsi organ yang lain baik-baik saja, alhamdulillah. Jadi, setelah selesai periksa, saya dan suami pun berunding apakah kami akan ikut tes yang ditawarkan Dr Irvan atau tidak.

How would it make you feel to know that your kid have a slight chance to have a down syndrome? To be different?

Setelah kami melakukan riset kecil-kecilan dibantu oleh mbah google, kami menemukan beberapa fakta:

1. Penyebab down syndrome sampai saat ini belum diketahui. Down syndrome tidak bisa disembuhkan, yang bisa dilakukan adalah make the best of it.

2. Beberapa penelitian menyatakan bahwa hubungan antara ditemukannya CPC dengan adanya down syndrome cukup lemah (belakangan saya tahu bahwa teori hubungan antara CPC dan down syndrome sudah tidak dipakai lagi)

3. Apapun hasil tesnya, tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengubah hasilnya. Melakukan tes dengan akurasi tinggi namun menimbulkan resiko akan jadi tidak bijaksana untuk kami.

Akhirnya kami memutuskan untuk mengambil triple screening test, sebagai bagian dari ikhtiar kami untuk mengusahakan yang terbaik bagi anak kami. Biaya tesnya sebenarnya juga nggak murah – karena biaya tesnya harus dikirim ke amerika dan ternyata di rumah sakit lain tidak ada, jumlah yang harus kami bayar untuk tes tersebut adalah… sekitar 4.2 juta rupiah.

(Nak, nanti kamu lahirnya normal aja ya, heuheuheu. doakan bapak ibu dapat rejeki yang banyak ya supaya kamu makmur)

Alhamdulillah suami saya ikhlas dengan jumlah uang yang harus dibayarkan.. Menurutnya yang paling penting adalah kondisi mental saya, jangan sampai saya jadi down atau kepikiran terus, karena dalam kehamilan paling penting kan berpikir positif. Ikhtiar apapun yang dapat menenangkan pikiran si ibu, insya Allah akan diusahakan olehnya :’)

Di dalam hati saya, sebetulnya (insya Allah) saya sudah cukup ikhlas dengan apapun yang Allah berikan ke saya, karena selama ini saya mendoakan untuk diberikan keturunan ‘yang terbaik’. Allah maha tahu kondisi yang terbaik, jikalau memang demikian yang terbaik, ya wes diikutin saja.

Tapi saya pun harus hati-hati dengan mindset saya, karena dalam kehamilan (dan kehidupan sehari-hari juga sih), pikiran itu bisa jadi kenyataan. Jadi suami saya berpesan agar anak kita selalu didoakan supaya sehat fisik dan mentalnya. Benar juga sih, insya Allah dengan kesehatan fisik dan mental kelak seharusnya bisa lebih bermanfaat dibanding dengan keterbatasan. Tapi kembali lagi ke Allah mau memberi yg seperti apa, saya ikhlaskan saja, yg penting tetap berpikir positif.

Setelah kejadian itu, kami merasa tertegur karena rasanya selama kehamilan ini ibadah kami masih kurang. Walhasil saya mulai rajin mengaji lagi, dan setiap malam si bayi di kandungan diruqyah oleh bapaknya (dibacakan Al Fatihah + Ayat Kursiy + Al Ikhlas + Al falaq + An naas 3x).

Setelah itu, saya cerita ke teman saya yang kuliah kedokteran dan keluarganya dokter semua. Tak disangka, ternyata kasus CPC pada anak saya menjadi topik pembahasan di makan siang keluarga mereka, dan kakak teman saya yang sudah jadi dokter langsung mencarikan rekomendasi dokter SPOG senior yang cocok untuk kasus saya. Tanpa basa-basi, saya langsung didaftarkan ke Dr Bambang Wicaksono di RSIA YPK Menteng untuk second opinion. Saya dapat kontrol di hari Sabtu (16 November) jam 7.30 malam (sebenarnya daftarnya untuk hari rabunya.. dokter yang ini antriannya lebih dahsyat ternyata hehehe).

Setelah suami setuju, saya mengkonfirmasi pendaftaran dengan Dr Bambang dan datanglah kami Sabtu Malam ke YPK Menteng. Dokternya sudah tua, dan pemeriksaan pasien di dalam ruangannya juga cukup lama. Setelah menunggu, kami masuk ke dalam ruangan dan segera diperiksa.

Kami sengaja tidak mengatakan apa-apa dulu mengenai hasil diagnosis minggu lalu, dengan harapan kami mendapatkan informasi yang netral.

Pemeriksaan USG pertama di bagian kepala, dan Dr Bambang bilang “kepalanya oke.. tidak ada masalah”, kemudian dengan santai beliau memeriksa bagian lainnya. Saat Dr Bambang memeriksa bagian kepala, memang CPC yang kemarin ditunjukkan oleh Dr Irvan sudah hilang. Rasanya antara lega dan bingung, hehehe. Akhirnya di tengah pemeriksaan, suami saya menginterupsi.

“Umm.. Dok, itu kepalanya.. Udah diperiksa?”

“Lha kan tadi udah pertama kali…”

“Ini dok, soalnya sebenarnya minggu lalu kami memeriksakan USG ke dokter lain, tapi saat itu beliau menemukan Cyst Plexus Choroid. Menurut beliau, CPC itu bisa jadi merupakan indikasi down syndrome..”

Dr Bambang manggut-manggut. Kemudian beliau mengarahkan lagi USGnya ke bagian kepala si janin.

“Tuh kan, nggak ada apa-apa.. Sudah hilang kok kistanya. Kondisinya normal. Lalu dokternya bilang apa lagi?”

“Itu saja sih dok. Dan saya baca di google, sebenarnya hubungan antara CPC dan Down Syndrome itu cukup lemah ya dok. Apa betul begitu?”

“Betul, sebenarnya di penelitian terbaru, hubungan antara CPC dan Down Syndrome sudah tidak digunakan lagi. Lagipula, yang penting saat kehamilan itu adalah positif thinking. Kalau kamu pikir dia baik-baik saja, ya dia akan baik-baik saja. Kalau dipikir yang tidak-tidak, nanti dianya yang kasihan.” Dr Bambang tersenyum. “Untuk metode deteksi down syndrome saat ini lebih banyak dipakai di pengukuran tengkuk dan bentuk hidung.. Itu lebih cerita banyak daripada ditemukannya kista. Nah, coba kamu lihat, ini anak kamu hidungnya mancung, bibirnya tidak sumbing..”

Huff… Rasanya lega sekali mendengar penjelasan dari Dr Bambang. Setelah pemeriksaan selesai, kami membayar ke kasir dan menunggu hasil USG.Biayanya 900 ribu rupiah all in konsultasi dokter dan print out USG 3D/4D. Ternyata, kalau periksa dengan Dr Bambang kami diberikan album foto USG dan yang diprint fotonya banyaak.. Beliau juga melampirkan laporan kondisi kesehatan ibu dan janin. Cukup jelas dan menenangkan untuk dibaca πŸ™‚ Sesuai dengan harga yang harus dibayar.

Btw, kami sempat iseng tanya ke Dr Bambang, sebenarnya harusnya kontrol USG itu berapa kali sih selama kehamilan? Beliau jawab, 3 kali saja cukup. Nanti kalau mau kontrol lagi, datang di minggu ke 30 (bulan ke-7) untuk melihat posisi bayi menjelang melahirkan.

Jadi, sebenarnya sampai sekarang saya juga bingung kenapa kontrol USG harus sebulan sekali, di bulan ke 7 jadi 2 minggu sekali dan bulan terakhir jadi seminggu sekali, hehehe. Karena saya setuju dengan dokter bambang, dan menurut saya kalau nggak ada yang mau dilihat ya nggak usah di USG, mahal kalii… Sekali periksa dokter + USG aja bisa habis 500 ribu, kalau ditabung kan lumayan bisa buat beli perlengkapan si baby :p

—-

Jadi hikmah apa yang bisa diambil dari kejadian ini?

1. Kalau ditemukan CPC pada otak janin yang sedang dikandung, jangan panik. Lakukan riset, dan sebaiknya carilah dokter yang lebih senior sebagai second opinion sebelum melakukan tes atau pengobatan. Karena, second opinion berfungsi untuk menghindari tindakan yang sebenarnya tidak diperlukan.

2. We spent quite a lot of money on this case. Hikmahnya, mungkin memang uang segitu belum rejeki kita dan si anak, dan mungkin di saya atau suami (kayaknya di saya sih..) masih banyak hutang yang belum terbayarkan atau kewajiban yang belum ditunaikan. Jadi ini teguran mungkin dari Allah supaya kita nggak pelit :’) (jadi makin mengerti kenapa hutang digolongkan penyakit hati – bisa bikin banyak rejeki jadi nyangkut, hehe)

3. Di luar pemeriksaan dokter, vitamin dan suplemen yang diberikan kepada anak kami, ada satu hal yang jauh lebih penting: doa dan pikiran positif ibunya. Karena Allah yang maha kuasa dalam menciptakan segala sesuatu, memang sudah paling benar meminta hanya kepada-Nya πŸ˜€

PS: Sampai saya menulis ini, hasil triple screening test yg saya lakukan belum keluar hasilnya, doakan saja yang terbaik hehe.

Sekian tulisan saya tentang CPC dan Down syndrome, maaf kalo banyakan curhatnya daripada tulisan informatifnya :p berhubung saya hanyalah orang awam yang mencari tahu segeala hal di mbah google, saya menerima koreksi dari pembaca yang berlatar belakang kedokteran. semoga bermanfaat untuk yang membaca πŸ˜‰

Advertisements

5 thoughts on “Cyst Plexus Choroid

  1. Hi mba, janin ku jd terdekteksi CPC. Rasanya sedih bgt. Kmrn baru triple screening test. Msih deg2an nunggu. Dan dokter memang nyaranin utk amniosintesis. Jd makin sedih pas tau kalo ada resiko nya. Kira2 mba jd test amniosintesis kah? Kalo boleh tau wktu itu penebalan tengkuk janinnya brp mm mbak?
    Thanks for sharing. πŸ™‚
    Salam,
    Feby

    • Halo mba, wkt itu aku cek di bln ke 4-5 an.. kalau penebalan tengkuk terlihat di 1-2 bln awal klgasalah.. jd yg keliatan cpc nya aja. Aku waktu itu ngga amniosinteais krn malah meningkatkan resiko keguguran.. aku aga lupa brp persennya. Resikonya ga sebanding akurasi informasinya. Mending 2nd opinion sih mba.. aku wkt itu ke dr bambang d ypk menteng trnyata cpc nya udh ga keliatan.. anakku skrg udh 6 bln alhamdulillah sehat2 aja.. mba periksa di dr siapa? Yg penting stay happy dan bnyk doa aja mba.. lbh mujarab insya Allah :3

  2. ent toΒ Cyst Plexus Choroid:

    Hi mba, janin ku jd terdekteksi CPC. Rasanya sedih bgt. Kmrn baru triple screening test. Msih deg2an nunggu. Dan dokter memang nyaranin utk amniosintesis. Jd makin sedih pas tau kalo ada resiko nya. Kira2 mba jd test amniosintesis kah? Kalo boleh tau wktu itu penebalan tengkuk janinnya brp mm mbak?
    Thanks for sharing.Β πŸ™‚
    Salam,
    Feby

  3. Hi Mba, nama dokternya yang benar di YPK itu Bambang Karsono ya.. soalnya diatas saya baca Bambang Wicaksono, waktu telp ke YPK nya ternyata adanya nama bambang karsono. btw trims lho informasinya tentang dokter ini, skrng saya pun sedang menunggu jadwal dari beliau karena ternyata harus waiting list 1 bulan lamanya. seminggu lalu saya ke Medistra USG dengan dr Dario Philips Turk dan disitu beliau mengatakan adanya penebalan pada salah satu janin saya, waktu di USG ketebalannya sekitar 2,8 kalo gak salah normalnya dibawah 2,5, tp dari tulang hidung semuanya normal, sedangkan pada janin yang satunya lagi semuanya juga normal, akhirnya saya disarankan untuk melakukan NIPT dengan pengambilan darah saya, tp mengingat biaya yang tidak murah dan kalopun ada sesuatu pada janin saya toh tidak ada juga yang bs saya lakukan kecuali ikhlas, sama seperti mba reytia.. yang bs saya lakukan hanya mempersiapkan mental saya dan melakukan second option memeriksakan ke Dr lain yg lbh senior, berharap adanya kesalahan di USG sebelumnya dan saya berharap kedua janin saya baik-baik saja. doakan saya juga ya mba..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s