Melahirkan itu… (prolog)

Yak, setelah sekian lama nggak nulis dengan segala alesan (alias gak mood :p) jadi, mari kita menulis lagi! Sekarang saya mau cerita pengalaman melahirkan pertama saya yang memang bagusnya ditulis, biar gak akan lupa sampe anak saya gede nanti hehehe…

Mulai dari mana ya?

Senam Hamil

Pokoknya, sejak saya hamil 32 minggu saya mulai merutinkan untuk ikut senam hamil setidaknya seminggu sekali, dan saya pilih hari rabu karena saya masih nyetir sendiri dan nggak mau banget deh ketemu sama kemacetan jakarta -_- Saya senam hamil di RSIA Tambak dengan beberapa alasan:

  1. Mau lahiran di sana
  2. Kontrol dokter di sana
  3. Termasuk tempat yang direkomendasikan setelah saya gentayangan di dunia maya sana sini
  4. MURAH. hahahaha.

Seriously, 35 ribu rupiah saja per sesi atau 120 ribu per 4 sesi pake kaos+goody bag loh.. Meanwhile di tempat lain ada yang bisa 75 ribu per sesi (glek!). Detail per senam hamilan ini mungkin akan saya ceritakan di postingan lain lah.. 😀

Oh iya, semangat senam hamil ini juga karena saran dari Mbak Esti (senior saya di kantor lama), pesannya: “Pokoknya rey, lu harus ikut senam hamil ya. gue jadi tau cara ngeden gara-gara ikut senam ituh.”

Baiklah mbak 😀 kesan senam hamil di RSIA Tambak.. seru, ruangannya enak, dan jadi ketemu temen2 baru jg. Agak melegakan lah ketemu ibu-ibu senasib udah dekat-dekat persalinan gitu.. cukup melegakan ketemu ibu-ibu yang sama-sama clueless kayak saya :p

 

Lahiran Normal vs Caesar?

There’s a pro and cons of having a doctor mama, and in this case, she worries a lot about how I am going to give birth later on. Saya pengidap asma (yang terakhir kumat Desember 2013 kemarin), baru sembuh dari TBC juga September 2013 kemarin. Intinya, si mamah sangat khawatir dengan performa paru-paru saya untuk lahiran normal. Nanti takut gak bisa ngejen, takut pingsan pas di tengah proses lahiran, dll. Padahal saya pribadi dan suami keukeuh aja mau lahiran normal, karena kita pikir kalau memang bisa normal ya kenapa harus operasi? Yang alami-alami baik lah kalo bisa dilakukan 😀 kebetulan posisi bayi juga nggak sungsang, insya Allah bisa lah lahiran normal (dan, ehm. lahiran normal harganya setengahnya caesar. ehm lagi.).

Etapi ternyata mamah cerita tentang kekhawatiran beliau tentang asma saya ke bapak-ibu mertua saya. Bapak mertua saya yang sangaatt expecting kelahiran cucu pertamanya, langsung mendukung mamah. Intinya beliau bilang, minimalisir resiko sebisa mungkin! (Sampe-sampe pada nawarin mau nambahin untuk nambahin biaya operasi, heuheu)

Akhirnya kami tanya ke beberapa dokter mengenai orang asma yang lahiran normal. Komentarnya:

“Terakhir kambuh pas hamil 5 bulan to? Ya bisa lah, ndak usah khawatir…” -dr Ika SPOG

“Saya 15 tahun praktek belum pernah lihat ibu-ibu yang asma, kumat asmanya saat dia melahirkan. Saat melahirkan kan tubuh kita sudah dalam keadaan siap, jadi nggak ada masalah itu harusnya…” – dr Irvan SPOG

Suami saya sendiri hanya bertanya ke saya, siap nggak lahiran normal? Saya sendiri secara mental insya Allah siap, walaupun memang kadang-kadang mikir gimana nanti kalau operasi caesar aja. Akhirnya kita cuma bilang ke orangtua, “Kita lagi pertimbangkan.”

 

(Never) Try Your Breastpump Before Due Date

Salah satu hadiah terbaik yang saya dapat saat saya hamil adalah breastpump medela lungsuran dari mbak anila, senior saya di kantor yang sudah beranak 2 dan nggak ada rencana nambah lagi. Dan nggak cuman satu breastpump, tapi TIGA! wow! Dan nggak breastpumpnya aja, tapi sama botol dan coolerbagnya! WOW WOW! mari kita doakan mbak anila supaya murah rejeki selalu dan pahala dari breastpump yang dilungsurkan ke saya mengalir terus dan menjadi tiketnya ke surga :3

Jadi saya dapat 1 set medela swing, base(manual) dan mini elektrik. Kata sahabat saya, Una, yang udah lahiran duluan, breastpump yang paling oke performnya si medela mini elektrik, tapi jangan pertama make langsung si mini elektrik, soalnya perform oke ternyata sakitnya maknyus di awal-awal. medela swing halus, tapi sedotannya kurang mantap. medela base, ya capek juga kali mompa lumayan juga tangan jadi berotot :p

dan statement paling penting yang menjerumuskan:

“Sebelum lahiran, lu coba dulu ya breastpumpnya.”

Setelah beli-beli sparepart medela baru (yang pastinya gak semahal kalo beli medelanya baru, hohoh), bermodal rasa penasaran, saya cobalah si breastpump itu satu-satu. Medela Base dan Swing memang nggak seheboh itu tarikannya. Tapi begitu nyoba medela mini elektrik…

… “BUSET!” komentar pertama saya waktu itu. Rasanya sakit (yaa, ibu ibu yang pernah make medela mini elektrik tau lah yaa rasanya :p) dan diikuti dengan rasa mules parah kayak mau dapet.

ingat peringatan di buku manual breastpump: menggunakan breastpump sebelum saat melahirkan dapat memicu kontraksi.

So it is plausible.

Beberapa hari setelahnya saya jadi mulai diserang kontraksi kecil-kecil lucu, sehari 1-2x (waktu itu saya baru minggu ke 35). Saya udah feeling ini braxton hicks, dan dr Ika juga bilang begitu. Tapi makin hari rasanya makin nggak lucu, sampai kadang-kadang parno pengen lari ke rumah sakit aja bawaannya. Dan suami saya semakin aware setelah saya ceritakan kebodohan saya nyobain breastpump sebelum saatnya itu :p

 

Banyak Jalan dan Berdiri Sangat Membantu Mempercepat Kelahiran

Beberapa minggu sebelumnya, sepupu saya sempat berpesan:

“Supaya lancar lahirannya, minum minyak goreng 1 sendok setiap hari.”

Eleuh? Minyak goreng rasanya kayak gimana juga saya nggak kebayang, makan gorengan yang minyaknya banyak aja saya nggak doyan apalagi minyaknya aja. Dan ibu hamil harus makan yang enak-enak dan bahagia… So how about no. Maapkan saya ya mbak.. gak sanggup saya..

Daripada cara itu, saya lebih suka jalan-jalan banyak. Kebetulan kehidupan keseharian saya lumayan menuntut jalan-jalan. Nyeberangin jembatan halte busway yang panjang, inspeksi gedung 20 lantai, jalan ke stasiun kereta, muter-muter ngecek proyek, you name it. Tapi tentu saja kalo dirasa tepar langsung duduk dan pulang naik taksi.

Saya ingat di hari Minggu terakhir sebelum saya melahirkan, saya dan suami datang ke nikahan teman. Namanya nikahan teman, gak ada dong ya ceritanya duduk dan makan-makan cantik. Pasti jalan dikit ketemu temen,ngobroool lamaaa. Suami saya sibuk banget ngobrol sama temen-temennya, saya juga, sampai malah temen saya yang warning terus nyuruh saya duduk (tapi nggak pernah sampai ke kursi, karena sepanjang perjalanan ke sana ketemu orang dan ngobrol lagi…). Jadi ada kali itu saya berdiri 1-2 jam. Hamil 36 minggu :p pulangnya langsung tepar.

 

Telepon Pertanda dari RSIA Tambak

Hari Seninnya, saya ditelepon oleh RSIA Tambak. Yang nelepon namanya Bu Nining (kalo gak salah), beliau mengecek kapan jadwal kontrol terakhir saya dan kontrol berikutnya, menanyakan keluhan saya (mules/nggak, keluar darah nggak, dlsb). Intinya beliau menyampaikan, kalau nanti sudah kontraksi 5 menit sekali, atau ketuban pecah, atau ada darah yang keluar, segera pergi ke Rumah Sakit.

“Iya bu, makasih banyak ya. Doain juga jalannya nggak macet, hehehe.”

Ngobrol-ngobrol soal macet, memang berdasarkan pengalaman saya jalan ke RSIA Tambak itu lumayan rawan. Jadilah saya sering mendoktrin bayi dalam kandungan:

“Nak, nanti kalo kamu udah mau keluar, kontraksinya jam setengah 3 pagi aja ya, supaya jalan ke rumah sakitnya nggak macet jadi cepet sampai.”

Saya pun cerita ke suami saya tentang telepon dari RSIA Tambak itu. “Wah, oke juga ya customer relationnya,” katanya. Akhirnya suami pun cerita ke Mike, temen kerjanya. Dan si Mike cuma komentar:

“Itu kan cara halus untuk menyampaikan, lu lahiran di sini ya, awas lu ya kalo gak lahiran di sini :P”

Tapi yang jelas, servis baik itu membuat saya dan suami makin sreg dengan RSIA Tambak 😉

 

Besok Kamu Mau Ngapain?

Seperti biasa, Suami suka nanya hari ini/besok saya mau ngapain. Untuk hari Rabu saya udah rencana mau senam hamil dan mensteril Steak, kucing betina saya yang suka hamil tapi nggak pinter ngurus anak. Saya juga udah janjian sama Drh Nyomie, vet langganan saya yang oke banget dan prakteknya deket rumah.

Malam-malam, saya nungguin suami yang pulang lembur. Karena bingung mau ngapain, akhirnya saya memutuskan untuk mencuci dan mensterilkan segala botol dan printilan breastpump. Karena nggak punya sterilizer, ya jadilah saya ngerebus botol :p pulang-pulang jam 11 malam suami saya heran, ngapain ini istri gue malem-malem di dapur? Setelah ditegur sama suami jangan kebanyakan berdiri, akhirnya kami tidur sekitar jam 12 malam setelah ngobrol-ngobrol.

Berhubung saat usia kehamilan semakin besar, saya makin sering bangun malam untuk ke kamar mandi. Tapi bangun yang satu ini agak beda, perut rasanya mules sampai-sampai susah mau tidur lagi, dan setelah buang air kecil juga kok rasanya ada yang ngerembes terus… Akhirnya saya bilang ke suami, kok ini ada rembesan dan agak mules ya?

“Air ketuban kamu itu kali.”

Hah. Oh iya, ya, air ketuban kali ya? Kok saya malah nggak kepikiran 😐

“Mau ke rumah sakit?”

Waktu itu saya masih kehamilan 36 jalan 37 minggu. Saya ingat dulu Marshanda pernah rembes air ketubannya di kandungan bulan ke-8, dan setelah it melahirkan normal 9 bulan (don’t ask how I know that fact..). Saya pikir kasus ini mirip-mirip lah ya sama kasusnya si Marshanda.  Saya masih gak ngeh kalau melahirkan bisa beneran dalam hitungan jam lagi.

“Telepon rumah sakitnya dulu aja deh,” saya sebenernya agak mager kalau harus ke rumah sakit sekarang. Tapi setelah 2 kali ditelepon, tidak ada yang menjawab dari rumah sakit. Ya jam 2 pagi gitu  nelponnya.

dan bersiaplah kita ke rumah sakit…

(bersambung ke part selanjutnya :p)

Advertisements

2 thoughts on “Melahirkan itu… (prolog)

  1. Pingback: Melahirkan itu… (the real part) | the track of existence of reytia anindita

  2. Pingback: Melahirkan itu… (aftermath) | the track of existence of reytia anindita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s