Are You a Practical Moslem?

Pertanyaan itu sering saya dengar waktu saya tinggal di Berdyansk. What’s your religion? Are you practical?

Yes, I am, jawab saya.

Lalu mereka pun kepo kepo saat saya shalat, puasa dan ngaji. Bahkan ada yang motret saya waktu saya izin shalat, hahaha. Seorang teman malah senang sekali waktu saya kasih kerudung.

Mayoritas penduduk Ukraina beragama katolik roman (kalau gak salah.. Katolik sesuatu deh pokoknya). Di sana banyak terdapat gereja-gereja bagus dan jadi tempat wisata. Tapi jumlah orang yang beribadah di sana tidak terlalu banyak (atau mungkin saya wisata ke sana saat gerejanya lagi sepi). Tapi teman saya yang wong ukraina asli sendiri mengakui, bahwa yang masih lumayan rajin ke gereja hanya orangtuanya saja, sementara dia tidak.

Ya dipikir-pikir, orang-orang barat walaupun non-muslim pasti agamanya ada aturannya, dan saya sampe sekarang belum pernah tau agama yang membolehkan seks di luar nikah. Nyatanya, temen saya di sana yang mukanya culun aja ternyata udah pernah .___.

Sound familiar? Sebenarnya fenomena ini sudah sangaaatt sering terlihat di sekitar kita. Istilah umumnya, islam KTP. Islam tapi nggak sholat, atau mengerjakan ibadah wajib lainnya. Islam tapi minum khamr dan makan yang haram. Islam tapi seks bebas. Huhu.. Dan hal ini udah sangat lumrah di kota besar. Dasar tanda-tanda kiamat.

Uniknya, selama di Indonesia saya belum pernah mengalami (atau mendengar orang yang mengalami) orang yang ditanya: kamu islam? Kamu solat gak?

Mungkin karena indonesia sangat heterogen dan pertanyaan-pertanyaan berbau sara itu bisa memancing angkara murka.. :p jd aja ga ada yang berani. Tapi terkadang, saya ingin punya keberanian untuk bilang hal semacam itu.

Kamu islam? Kok solat tapi minum bir?
Kamu islam? Kok kamu makan babi? Babi kan haram..
Kamu islam? Kok auratnya diumbar kemana-mana.. Kan disuruh ditutup sama yang bikin πŸ™‚

Entah si yang ditanya bakalan ngedumel atau entah apa alasannya.. Hehe. Pertanyaan itu juga berlaku kepada diri sendiri sih.

Dalam kondisi sekarang, ada satu hal yang bisa saya simpulkan dalam berislam:

Jalankan sebaik-baiknya. Ternyata setelah dijalankan, pasti rasanya ternyata masih kurang.

Misalnya, saya pakai jilbab. Pertama kali pakai, ya seadanya aja. Ternyata jilbab harus menutup dada. Ternyata tidak boleh membentuk lekuk badan. Lho, ternyata tidak boleh kondean juga alias jilbab punuk unta. Dan seterusnya.

Nyoba ngaji. Lho makhrajnya salah. Lhoo kalo salah baca artinya beda toh. Ustadz artinya guru kalo ustad artinya stadion. Ternyata kalo baca alhamdulillah dengan ‘H’ yang salah yang 1 artinya segala puji syukur, 1 lagi artinya kematian.

There’s always room for improvement.

—–

You said that in islam women should not show their body curve. So is it allowed to wear trouser?

Seorang bule bertanya kepada saya saat saya sedang mengenakan celana panjang.

Lalu saya garukgaruk pala. “No. But I will try to be a better moslem.”

Are you a practical moslem?

Saya selalu berharap di Indonesia kita tidak perlu sampai bertanya seperti itu. Karena identitas itu selayaknya ditunjukkan dengan integritas.

—–
Soiye banget ye gw nulisnya, kyk yg udah gelarnya Lc aje di blakang namanya πŸ˜› ya namanya juga pemikiran, kebetulan pemikirannya lg positif dan ideal. Saya masih jaaaauuuhh dr figur muslimah yang kaffah ya doakan saja ya supaya dipermudah jalannya menuju ke sana. Yang ktpnya islam, yuk kita belajar terus. Malu kalo ditanya bule islam itu gimana jawabnya bingung hehe.

Advertisements

Phantom

Jalan pahlawan dan medan perang, sebuah persimpangan jalan yang menjadi jantung ibu kota. Di sana segalanya ada – pusat perbelanjaan, club malam dan cafe yang tak pernah tidur, kantor-kantor perusahaan prestisius, hotel-hotel berbintang tempat menginap turis-turis kaya. Tak pernah sepi, apalagi di akhir minggu.

Datanglah ke Alley 11 jalan medan perang, tepat di depan cafe merak putih – salah satu cafe tertua di kota itu, tempat favorit para turis untuk bercengkrama. Selain kopi dan brownies keju andalan mereka, kau bisa menemui salah satu atraksi menarik di sana.

Duduklah di alfresco. Dia biasanya ada di sana, di pinggir jalan, tepat di bawah lampu jalan. Kau hanya bisa bertemu dengannya di jumat malam ke dua dan ke empat dalam setiap bulan. Tapi kemunculannya, selalu ditunggu turis dan warga sekitar. Orang menyebutnya Phantom si pesulap.

Phantom tidak seperti pesulap kebanyakan – dia tidak tampil dengan jubah, tongkat dan topi tinggi. Phantom adalah pria muda berusia awal 20-an, datang dengan sepatu sneakers butut dan kemeja flanel lusuhnya. Selalu mengenakan topi pet baseball andalannya, sepertinya takut wajahnya dihafal penonton setianya.

Konon, Phantom tidak suka memiliki penggemar, ia tidak suka diikuti dan disorot. Tidak ada yang mengerti kenapa dia selalu muncul 2 kali sebulan, tapi akhirnya tak ada yang peduli. Bagi mereka itu hiburan, urban legend yang menambah daya tarik pariwisata.

Hari itu, jumat malam seperti biasanya. Segerombolan turis Korea tertawa gembira setelah Phantom berhasil membengkokkan pisau victorinox salah seorang turis itu. Turis yang menang taruhan tertawa paling keras-tentu saja. Sementara si pemilik pisau hanya bisa merengut, dan bertanya-tanya bagaimana ia melakukannya.

Phantom duduk di kursi taman di bawah lampu ditemani secangkir latte – hadiah dari pelayan cafe Merak Putih yang berterima kasih karena kemunculannya yang selalu mengundang keramaian. Ia menghitung uang receh dalam kotak yang selalu dibawanya setiap tampil. Hari ini, lebih dari cukup untuk hidup sampai penampilan berikutnya.

Seorang kakek tua berjaket beludru duduk di sampingnya, menyeruput kopi dari gelas bertuliskan cafe Merak Putih. Nampaknya kakek itu salah satu penontonnya tadi.

“Hei nak, bisa ajarkan aku satu trik?”

Phantom berhenti menghitung uangnya dan menoleh ke arah kakek itu.

“Pesulap sejati tidak pernah membocorkan rahasianya.”

Kakek itu tersenyum. “Ayolah nak. Kau begitu luar biasa saat tampil tadi. Kalau aku bisa menampilkan sedikit saja yang seperti itu di ulang tahun cucuku, dia pasti akan senang sekali.”

Phantom tersenyum. “Senang sekali ya kalau bisa begitu,” ia membereskan uangnya dan berdiri. “Tapi sayang sekali, kek. Aku benar-benar tidak punya trik apapun untuk diajarkan kepadamu.”

Β 

—-

and the story stops there. bener-bener lupa waktu itu ide nya apa pengen cerita apa. hehe. suatu hari nanti akan gw lanjutkan lagi kalo udah ada inspirasi… :p

Trouble Is a State of Mind

Seringkali saya jadi suka malu sendiri kalau baca-baca kicauan saya di twitter saya sendiri. Rasanya kok banyak banget misuh-misuh, tapi ya namanya juga hidup di kota yang layak banget di-misuh-misuh-in ya gimana dong? (Pembenaran)

Bicara tentang masalah, ada beberapa sudut pandang menarik tentang ‘masalah’.

Jaman saya dan pakbos masih rajin meeting mingguan untuk sebuah proyek di hari rabu, jam pulang meeting semobil dengan si bapake selalu saya namakan ‘kuliah rabu’. Karena biasanya si bapake selalu cerita-cerita tentang kehidupan. Seru lah.

Suatu hari saya curhat ke bapake, kalau saya nggak mau hidup di jakarta lagi. Gak kuat macet dan ribetnya.

Dan si bapake menanggapi begini kira-kira:

Masalah itu sesuatu yang kalau kita usahakan, kita bisa perbaiki. Kalau kita udah mengusahakan perbaikan dan emang gak bisa diubah sama tangan kita, ya pilihannya cuma 2: terima tanpa misuh-misuh, atau tinggalin aja sekalian.

Kalau kamu memilih untuk pergi, kamu juga harus mikirin lho nanti ke depannya gimana. Kalau jadi arsitek ada proyek atau nggak. Kalau nanti anak mau sekolah ada sekolah bagus atau nggak. Karir kamu nanti berkembang atau nggak.

Saya sadar semua yang saya cari itu, paling bagus ya di jakarta ini. Macet mah, ya mau gimana lagi? Terima aja sebagai fitur kota yang melengkapi apa yang kamu mau cari.

Lama-lama kamu gak liat macet itu sebagai masalah, tapi sesuatu yang kamu terima sebagai hal yang ‘ya mau gimana lagi?’

Makanya sekarang saya juga jadi belajar, untuk memanage apa yang saya pikirin, apa yang nggak usah dipikirin.

Misalnya mendesain, kamu punya lorong tiba-tiba di tengahnya ada tiang. Kayaknya jadi masalah banget, tapi kalau diulik2 terrnyata penyelesaiannya bisa jadi sesuatu yang sangat simpel. Jadinya bukan masalah lagi kan?

Masalah itu state of mind.

—-

Sebut saja si fulan, yang waktu mengetahui saya mau menikah, memberikan beberapa nasehat.

Si fulan berkata, “kamu dan calon suami kamu itu harus bisa melihat masalah dari helikopter view”.

Maksudnya gimana?

Maksud beliau adalah, bahwa ternyata besar-kecilnya sebuah masalah ternyata tergantung dari bagaimana kita melihatanya.

Contohnya: ada beberapa orang yang kayaknya bakal mati banget kalau nggak punya iphone karena semua tetangga sanak saudara dan rekan kerjanya pakai iphone dan segala gadget canggih.

Itu kalau dilihat dari scoop lingkungan krja dan keluarganya.

Zoom out masalahnya sampai ke skala jakarta saja, saat di suatu tempat ada orang yang misuh-misuh gara-gara iphone, ada anak yang dikasih sepatu bekas pakai aja senangnya nggak karu-karuan; dia sayang-sayang sepatu itu karena belum tentu bisa dapat lagi.

Zoom out agak jauh lagi, mungkin di suatu tempat di afrika ada seorang anak yang mati kelaparan.

Dan saat semua itu terjadi, nggak punya iphone jadi masalah?

Meh.

Syukurnya, saya dan si calon suami nampaknya sudah mulai bisa mempraktekkan ‘helicopter view’ ini. Seperti saat mengurus lamaran, bagi kami yang penting tujuannya tercapai: menyampaikan bahwa dia ingin melamar saya.

dan saat h-1 ada seorang anggota keluarga yang out of nowhere ngomel-ngomel soal jalannya acara dan seserahan apa aja yang harus dan nggak harus dikasih, saya cuma nelpon dia dan cerita sambil ketawa ngakak.

“Doesn’t matter, got engaged.”

——

seems pretty unfinished, karena abis itu gw lupa mau nulis apa :p dipost seadanya dulu lah, kalau inget nanti dilanjutin lagi.

Tik Tik

Tik tik tik tik, detak detik jam dinding berus berbunyi.

Biasanya itu bunyi yang pertama saya dengar saat bangun di pagi hari.

Alhamdulillahilladzi ahyana amatana wa illaihin nusyur.

Terkadang mata membandel ingin tertutup lagi, tapi suara detik jam dinding selalu mengganggu telinga. Gagal keinginan untuk terlelap kembali.

Tik, tik, tik, tik.

Mata terbuka tapi tubuh saya masih terdiam di kasur. Seolah ada perang batin, antara yang menyuruh bangun dan kemalasan hati yang minta tidur lagi.

Tik, tik, tik, tik. Bunyinya berisik seperti air hujan yang akan reda.

Seringkali saya membandingkan lamanya waktu antar detik dari saya kecil hingga kini. Menurut pengamatan saya, rasanya detik pada masa sekarang sudah berjalan lebih cepat dua kali lipat. Dahulu rasanya sangat lama, sampai-sampai satu jam saja terasa sangat menyebalkan. Benar sepertinya tanda kiamat bahwa waktu terasa semakin singkat. Saya sering bertanya-tanya, bagaimana nanti jika satu jam hanya selama pelepah kurma yang terbakar. Semakin dekat ke akhir masa…

Tik, tik, tik, tik.

Dia terus berlari tanpa ampun.

Dia, sang waktu. Tak peduli apakah kita cukup kuat untuk mengimbangi larinya, atau kita sedang terjatuh di pinggir jalanan.

Ibaratnya lari keliling lapangan bola, sang waktu sudah mendahului saya sekian putaran.

Tik, tik, tik, tik.

Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian.

gelas

Kalau diisi air jd gelas
Kalau diisi ikan jd aquarium
Kalau diisi bunga jadi vas bunga
Kalau diisi pensil jd tempat pensil

Benda itu tergantung isinya,
Kalau isinya beda, fungsi dan namanya jadi beda juga.

Sama kayak gelas ini.

Β 

Β 

salah satu tulisan yang terpendam di notes hp.. dulu ikut seminar sesuatu dan ada yang bilang ini. hehe filosofis ceritanya. karena saya pikir keren akhirnya saya catet di hp deh.

Melahirkan itu… (aftermath)

To see previous story, check:

https://thetrackofexistence.wordpress.com/2014/05/14/melahirkan-itu-prolog/
https://thetrackofexistence.wordpress.com/2014/05/14/melahirkan-itu-the-real-part/

Setelah dikunjungi oleh beberapa handai taulan dan saudara (eh sama aja bukan ya artinya?), sekitar jam setengah 2, anak saya pun diantarkan ke dalam kamar saya untuk rooming in. Hore. Berhubung anak saya mulutnya udah mangap dan lidahnya melet-melet, disimpulkan anaknya lapaar.. (iyalah 6 jam belum minum apa-apa)

Setelah dicek bidan, kolostrum berhasil keluar, dan anak saya pun langsung menyusu. Alhamdulillah, perlekatannya nggak terlalu masalah, pokoknya patokannya: mulut harus dower (mangap total) dan dagu nempel di PD. Anak saya nampak anteng nyusu jadi sepertinya perlekatannya berhasil. Horee…

Setelah melahirkan normal, alhamdulillah sorenya saya udah bisa jalan-jalan mondar mandir kesana kemari. Alhamdulillah recoverynya cepat πŸ˜€ untuk BAK dan BAB pun ternyata ga ada masalah πŸ™‚

Apa saja sih hal-hal yang perlu diperhatikan setelah melahirkan? Banyak ibu-ibu hebooh banget sebelum melahirkan, tapi ternyata ada beberapa hal yang harus kita pelajari juga (gak cuma ngeden dan senam hamil ajaa)

1. Menyusui

ASI gak keluar? Puting lecet? Bayi nggak mau menyusu? Pasti hal-hal semacam itu yang bikin kita khawatir hehehe.. Alhamdulillah ASI saya langsung keluar saat bayi udah di saya.. tapi qadarullah kadang2 ada ibu yang ASI nya nggak langsung keluar, don’t worry dan jangan langsung memutuskan untuk ber sufor. karena bayi dapat bertahan hingga 72 jam tanpa makan/minum apa2 (kalau gak salah yaa 72 jam, coba tanya bidan sama dokternya lg hehe. waktu itu bidanku bilang gitu). Intinya tetap usahakan perlekatan PD pada bayi dan rajin2 massage PD nya juga πŸ˜€ yang paling penting: jangan stress dan makan yang banyak! karena kunci bayi happy adalah ibu yang happy. mungkin bapakbapak bisa membantu pengkondisian ibu happy dengan memenuhi wishlist2nya :p *kesempatan dalam kesempitan*

Puting lecet? Itu mah makanan ibu2 menyusui awal awal :p saya sekitar 1-2 minggu awal mengalami, akhirnya diolesin aja pakai nipple cream berbahan lanolin – membantu kok. Tapi puting lecet itu menandakan si bayi perlekatannya belum benar, jadi harus terus kita arahkan supaya dia mulutnya mangap, dower dan dagunya nempel huehehe. tapi udah 5 bulan alhamdulillah udah gak pernah lecet lagi, jd mubazir deh si nipple cream saya huhuhu.

Ohiya karena di awal kehidupannya bayi itu doyaaann banget tidur, kita harus rajin menyusuinya 2 jam sekali. kalo udah 2 jam tidur, langsung bangunin suruh nyusu. dengan bayi sering menyusu, supply ASI kita juga akan meningkat (karena supply mengikuti demand – makin banyak demand supply makin makmur :D). Di sini kita harus pinter-pinter bagi waktu, dan bantuan dari orang-orang terdekat sangat signifikan, soalnya pengalaman saya dulu saking sempitnya waktu antara menyusui, jadi aja sambil menyusui saya disuapin makan. sisa waktunya curicuri tidur dan mandi (tiap malem bangun 2 jam sekali, asik gak tuh hahahaha).

2. Jangan sampai PD kepenuhan!

Di hari-hari pertama kelahiran si bayi, saya selalu dikasih suplemen ASI sama rumah sakit. Untungnya suster dan bidan rajin memeriksa kondisi bayi dan PD ibu, jadi di hari kedua saya dikasih tau kalau PD saya sudah bengkak karena kebanyakan ASI, jadi harus rajin disusuin dan dipompa. Kalau PD mulai terasa kencang, artinya sudah saatnya kita menyusui atau dipompa aja kalau bayinya baru menyusu. Kalau PD kencang dibiarin kelamaan, akan terasa beberapa bagian mengeras (kalau diraba ada gumpalan-gumpalan), kita harus hati-hati karena kalau si gumpalan itu dibiarkan bisa jadi mastitis.

Kalo udah mastitis gimana tuh suster?

“wah bisa meriang dan demam bu, kalau sudah parah itu harus dioperasi.”

what. oke fix nggak mau berurusan dengan mastitis. lebih baik rajin rajin mompa sambil ngantuk daripada operasi.

Di awal-awal setelah melahirkan saya sering mengalami PD keras sampai ada gumpalan (pusing yee ASI dikit stres kebanyakan bingung hihihi). Β Biasanya saya memompa PD atau langsung disusui ke anak. Tapi saya lebih suka menyusui langsung, karena PD lebih cepat kosong dan anak pun kenyang hehehe.. sampai-sampai anak saya sempet dijulukin ‘medela ultrasonic boom’ saking doyannya nyusu πŸ˜› kalau udah agak parah, biasanya saya lakukan breast care. PD dikompres dengan handuk panas, kemudian dimassage dengan baby oil sampai gumpalan-gumpalan itu hilang. Kalau masih di rumah sakit, minta aja ke bagian fisioterapinya untuk breast care, soalnya kalau dibantu orang lebih mudah daripada breast care sendiri.

3. Awas Tongue Tie!

Banyak dari kita yang belum familiar dengan istilah itu, apa sih tongue tie?

Intinya, kondisi lidah bayi yang pendek tidak memungkinkan perlekatan yang sempurna saat menyusu, walhasil menyusuinya juga jadi nggak lancar. Efek ke bayi: si bayi tidak kenyang-kenyang karena proses menyusui yang tidak sempurna, sementara efek untuk si ibu, puting ibu bisa lecet-lecet (parah). Info lebih lengkap tentang tongue tie bisa dilihat disiniΒ dan disini

Sahabat saya sendiri mengalami anaknya tongue tie. Dia mengeluh anaknya nangis terus, nggak mau nenen, dan berat badannya nggak naik-naik. Sempat diberi sufor karena sudah kondisi darurat banget (turun berat badan hampir setengah!), dan setelah diperiksa ke dokter anak di KMC, barulah ketahuan anaknya tongue tie. Cara mengatasi tongue tie ternyata cukup sederhana, yaitu dengan di insisi (memotong tali lidah sehingga lidah bisa menjulur lebih panjang). ih, kok sadis ya? kok tega banget sih sama anaknya? hehe awal-awal saya juga mikir begitu, tapi setelah saya paham, itu adalah tindakan yang tepat agar bayi bisa tetap menyusui dengan ibunya.

4. Dokumen kelahiran

Yup, jangan lupa kita masih harus siapin akte kelahiran anak πŸ˜€ sayangnya saya lupa detail ngurus akte kelahiran anak saya.. hahaha. pokoknya ini poin2 yang saya inget:

– Setelah anak lahir, minta surat keterangan lahir dari RSIA. note: Akte kelahiran anak diurus di kelurahan yg sama dengan RSIA nya.

– Siapkan fotokopi KTP, surat nikah, dan KK kita.

– Berhubung saya lahiran di menteng tapi rumahnya di penggilingan, saya harus minta surat keterangan lahir dari kelurahan. syaratnya bawa KK, fc KTP dan surat nikah, dan surat keterangan lahir dari rumahsakit. Nanti di kelurahan KK kita diupdate dengan tambahan nama anak kita.

– setelah dapet surat keterangan lahir dari kelurahan, balik lagi ke RS nya dan kasih dokumen2 itu ke RSnya biar mereka yang ngurusin :p kalo diurusin RS bayarnya sekitar 250 ribuan, akta kelahiran sebaiknya diurus sebelum umur 3 bulan karena kalau makin lama suka ada dendanya πŸ˜›

5. Pikirin dana pendidikan dan asuransi buat anak

jeng jeng jeng… Setelah duit tabungan kami terkuras untuk biaya lahiran, alhamdulillah bulan-bulan berikutnya ada rejeki yang bisa lah untuk ditabung-tabung buat sekolah anak nanti. Saya sendiri memilih instrumen investasi emas dan reksadana syariah. saya mengalokasikan budget untuk diautodebet reksadananya, sementara untuk emas, kalau uang sudah cukup baru dibeli πŸ˜€ cerita tentang reksadana syariah canggih yang bisa diautodebet di postingan selanjutnya ya πŸ™‚

 

kira kira itulah yang bisa diceritakan tentang lahiran hehehe.. semoga bermanfaat bagi yang membaca πŸ˜‰ next writing insya Allah tentang imunisasi dan MP-ASI πŸ˜‰

 

 

because fancy restaurant is overrated

Saya punya seorang om. Istri beliau adalah sosok istri idaman: S3, jago masak dan rajin beberes (sungguh jauh dr saya.. Hiks). Dan emang bener makanan tante saya ini enak banget, acara lamaran saya aja 80% makanannya tante saya yang masakin. Saking jagonya tante saya masak, om saya gak mau makan di restoran kecuali masakannya lebih enak dari masakan tante saya… Yang artinya seringkali tempatnya ‘bagus’ dan ‘mahal’ πŸ˜›

—-
Saya sendiri sampai sebelum menikah bukan anak rumahan. Maksudnya sering jajan dan makan di luar, kayak anak kecil deh. Kebiasaan waktu kuliah jajan melulu. Saya suka sushi, steak dan masakan eropa. Hal-hal yang saya terlalu malas untuk masak di rumah :p kenapa saya suka jajan? gak tau juga ya, tapi saya ngerasa itu makanan enak semua sih. Dan waktu saya kuliah emang orang-orang jarang masak di rumah. Zaman itu restoran gaul masih belom banyak, so far rumah makan/restoran yg saya tau dan suka saya datengin alhamdulillah makanannya enak semua.

Setelah lulus kuliah saya sempet ngekos 2.5 bulanan di ukraina dan tiap hari masak sendiri. Mau jajan ngeri juga kan takut makanannya gak halal. Dan setelah menikah sedikit-sedikit belajar masak. Ternyata skill saya not bad lah, makanannya bisa dimakan dan sempet dipuji jg sama suami ktnya ayam ricarica bikinan saya enak hehe. Dan setelah menikah makan makanan rumahan keluarga suami masakan ibu mertua, buset daaah.. Enak banget. Pokoknya kalah lah makanan restoran. Mungkin karena pake bumbu cinta :p intinya mulai menyadari kalau makanan rumahan itu ternyata enak kok.

—-
Back to 2014, sekarang saya perhatikan usaha kuliner makin merajalela. Makan di luar bukan sekedar pengalaman makannya saja, tapi juga untuk nongkrong dan gaul. Maka menjamurlah restoran-restoran lucu di jakarta dan di bandung. Tampak estetika yang lucu atau sengaja dilucu-lucuin dengan lighting remang remang cozy.

Mari kita bicara penampilan restoran. Sekarang semua restoran berlomba-lomba tampil ‘industrial’ dengan dinding bata ekspos, lantai floor hardener unfinished dan lampu-lampu gantung. Fasade transparan demi menunjukkan orang lewat – ini lho tempat saya, kita lagi makan-makan di sini nih, kita gaul loh. Trendy, kekinian. Penampilan khas dirancang untuk memanjakan mata, dan latar belakang foto yang apik untuk dipajang di path dan instagram.

—-

Beberapa kali saya mencoba masuk ke restoran ngehip macam itu. Sekali waktu saya mencoba makan di kepala kentang bali, penasaran apa sih yang bikin tempat ini ngehip di antara temen-temen kantor saya (waktu itu yang lagi ada proyek di bali suka pamer via foto kalo lg nongkrong di kepalakentang :p) Yang saya temukan cuma bangunan melengkung dengan inner court (ooh, maksudnya ini bangunan arsitek gitu ya, baiklah – but I don’t even get the architecture), bule bule berbikini yang ngumpul di kolam renang, dan fish and chips yang nggak enak. The only good thing was the lychee juice, itu termaafkan deh. But is it worth my money and effort? Nah, that’s not my place.

Another try, kandangburung di gunawarman. Waktu itu saya silaturahmi rutin dengan sahabat2 sma saya (bahasa lain: nongkrong gaul :p). Ternyata ruangan smoking non smokingnya tanpa hijab.. Walhasil yang ngerokok di seberang ruangan baunya tetep aja kecium sampe meja kita. Secara kita bawa bayi. Akhirnya pindah ke luar. Makanannya lumayan, tapi tetep aja mahal. Tetep ada perasaan ‘kayaknya gue bisa deh masak ini di rumah’ atau ‘mendingan gue beli di tempat tante irma*’

*tante irma = tetangga rumah, owner restoran dapur buntut. Masaknya bumbunya semua home made, kalo lg eksperimen masak suka ngirim tester ke rumah. Enak bangat masakannya maaan…

Kadang-kadang saya suka makan di sate s*nayan, biasanya kalo lagi stuck di mall sama mama saya pas jam makan siang. Harga jelas mahal, tempat lumayan lah pewe. Kalo enak apa enggaknya ya 11-12 lah sama masakan biasa di rumah, cuman karena penyajiannya apik jadi bisa dimaafkan. Tapi terakhir kali makan di sana buat buka puasa, penyajiannya kayak makan di warteg- cuma ditaro aja gitu (tidak tampak cantik sama sekali). Rasanya juga gak seenak dulu. Fix udah ilfil deh sama restoran ini…

—–

Pengalaman terakhir saya tentang restoran adalah waktu saya ngumpul sama temen saya di sebuah restoran berinisial M di pangpol. Tempatnya deket kantor lama saya, jadi mudah ditemukan. Ternyata di sepanjang jalan itu mulai bermunculan restoran2 ngehip. Berhubung saya lagi nggak fit, jadilah jam 5 sore saya makan besar.

Saya memesan nasi jeruk dory goreng pedas – kayaknya seger asik nih. Eh taunya rasanya kaya nasi goreng ikan dory. Dan asinnya… Parah banget. Gak kuat ngabisin makanannya. Gw sampe sakit kepala. Inez juga sakit kepala. Untung jusnya enak, leci+daun mint+lemon jadi lumayan deh bisa netralisir. Pas gw nyuruh suami gw nyoba, emang kata dia keasinan parah. Kita juga bawa makanan dory popcorn buat dicemil di jalan krn suami abis puasa dan kita harus jemput mama dan nenek di bandara jam 7 malem.

Tempatnya juga miniatur banget (mengutip kata una). Kalo kata hengky: “ini kayak rumah diwarisin ke anaknya dibagi rata jadi 1 org dapetnya beneran cuma sepetak” . Udah tempatnya kecil, qadarullah meja sebelah juga ternyata ada orang2 muda lg ngumpul dan berisiknyaaa….. akhirnya dalam usaha desperate gue untuk mengalahkan suara mereka gw cuma gebrak-gebrak meja :))) pusing banget deh di restoran itu. Not a good experience.

Sepulangnya dari sana dan jemput mama+nenek, saya lagi nidurin anak saya di kasur, sementara suami saya gogoleran ngadem di bawah AC.

Saya: pak kepala ibu pusing banget deh gara2 makan nasi goreng keasinan banget tadi.
Suami: bapak juga enek banget nih gara2 makan dory yang tadi. Mual….
Saya: itu restoran parah banget yak.
Suami: asinnya parah.. Masakannya gak enak…

*hening beberapa saat. Lanjut nyusuin anak*

“pak, ibu jadi ikutan enek garagara inget nasi goreng keasinan tadi…”

Intinya, gw nggak pernah makan di restoran dan setrauma ini. Hahaha. Sampe gw WA temen-temen gw yang tadi makan di sana cuma mau bilang kalo gw trauma makan disana πŸ˜›

Lalu saya pun mengingat waktu sholat magrib, kebetulan ada space kecil di gudangnya. Jadi sayapun sholat bersama stok-stok makanan restoran itu. Karena penasaran saya pun kepo.

Ternyata mashed potatonya instan. Sisa makanannya sih cukup normal: pasta, bubuk cokelat, dll.

Lalu setelah saya ceritakan ke suami, dia cuma komentar: “walah, makanan instan/enggak itu menunjukkan keniatan sih..” *lalu tersindir karena kalo masakin suami pakek bumbu instan :p

Lalu gw langsung inget tante nita.. Masakan tante nita jaaauuuuh lebih enak. Masakan mama gw jauh lebih enak. Masakan ibu mertua jauh lebih enak (masakan indonesia ibu tiada tanding tiada banding). Kalo gw niat dan latian harusnya gw masak sendiri jaaauuh lebih enak.

Pantesan aja om gue kalo makan di restoran maunya yang sekalian bagus dan mahal.

Jadi apa sih yang kita dapet dari makan di restoran? Sering kali cuman makanan yang overpriced dan ambience yang ‘ngehip’.

Padahal mah mendingan makan di rumah!

Malam itu saya merasa makanan non rumahan itu seasin dan se nggak enak itu. Kayaknya ini terakhir kali saya mau makan di restoran hip gak jelas hahaha.

Point taken, next time memilih restoran selain tempat yang nyaman, makanan HARUS enak.

Entah kenapa gw merasakan banyak penurunan kualitas makanan dari restoran-restoran kebanyakan sih…

—-

Nggak semua restoran seburuk itu. Di akhir bulan puasa saya sekeluarga sempet makan di restoran lara djonggrang. Ambiencenya keren, banyak patung dan lukisan etnik, makanannya juga enak, walaupun harganya agak hiks hiks. Tapi, ya, seenak itu makanannya. Sampe nenek gw pas pulang masih ngungkit-ngungkit soal kolak pisang yang enak banget. The price was worth the food and ambience.

Restoran tetangga gw, ambiencenya emang gak hip. Tapi soal harga dan rasa, top banget! Dia bikin semua home made dan nggak kasih harga mahal-mahal (sop buntut seporsi 50 ribuan dan enaknya serius!). Kerasa lah kalo dia masaknya pakai hati.

—-

Jadi?

Kalau (terpaksa) makan di luar mending jangan nanggung. Mending warteg, atau restoran yang serius sekalian. Jangan restoran fancy mahal tapi makanannya gak jelas rasanya πŸ˜›

andΒ making foods from scratch is good for your health.

Sekian.