Phantom

Jalan pahlawan dan medan perang, sebuah persimpangan jalan yang menjadi jantung ibu kota. Di sana segalanya ada – pusat perbelanjaan, club malam dan cafe yang tak pernah tidur, kantor-kantor perusahaan prestisius, hotel-hotel berbintang tempat menginap turis-turis kaya. Tak pernah sepi, apalagi di akhir minggu.

Datanglah ke Alley 11 jalan medan perang, tepat di depan cafe merak putih – salah satu cafe tertua di kota itu, tempat favorit para turis untuk bercengkrama. Selain kopi dan brownies keju andalan mereka, kau bisa menemui salah satu atraksi menarik di sana.

Duduklah di alfresco. Dia biasanya ada di sana, di pinggir jalan, tepat di bawah lampu jalan. Kau hanya bisa bertemu dengannya di jumat malam ke dua dan ke empat dalam setiap bulan. Tapi kemunculannya, selalu ditunggu turis dan warga sekitar. Orang menyebutnya Phantom si pesulap.

Phantom tidak seperti pesulap kebanyakan – dia tidak tampil dengan jubah, tongkat dan topi tinggi. Phantom adalah pria muda berusia awal 20-an, datang dengan sepatu sneakers butut dan kemeja flanel lusuhnya. Selalu mengenakan topi pet baseball andalannya, sepertinya takut wajahnya dihafal penonton setianya.

Konon, Phantom tidak suka memiliki penggemar, ia tidak suka diikuti dan disorot. Tidak ada yang mengerti kenapa dia selalu muncul 2 kali sebulan, tapi akhirnya tak ada yang peduli. Bagi mereka itu hiburan, urban legend yang menambah daya tarik pariwisata.

Hari itu, jumat malam seperti biasanya. Segerombolan turis Korea tertawa gembira setelah Phantom berhasil membengkokkan pisau victorinox salah seorang turis itu. Turis yang menang taruhan tertawa paling keras-tentu saja. Sementara si pemilik pisau hanya bisa merengut, dan bertanya-tanya bagaimana ia melakukannya.

Phantom duduk di kursi taman di bawah lampu ditemani secangkir latte – hadiah dari pelayan cafe Merak Putih yang berterima kasih karena kemunculannya yang selalu mengundang keramaian. Ia menghitung uang receh dalam kotak yang selalu dibawanya setiap tampil. Hari ini, lebih dari cukup untuk hidup sampai penampilan berikutnya.

Seorang kakek tua berjaket beludru duduk di sampingnya, menyeruput kopi dari gelas bertuliskan cafe Merak Putih. Nampaknya kakek itu salah satu penontonnya tadi.

“Hei nak, bisa ajarkan aku satu trik?”

Phantom berhenti menghitung uangnya dan menoleh ke arah kakek itu.

“Pesulap sejati tidak pernah membocorkan rahasianya.”

Kakek itu tersenyum. “Ayolah nak. Kau begitu luar biasa saat tampil tadi. Kalau aku bisa menampilkan sedikit saja yang seperti itu di ulang tahun cucuku, dia pasti akan senang sekali.”

Phantom tersenyum. “Senang sekali ya kalau bisa begitu,” ia membereskan uangnya dan berdiri. “Tapi sayang sekali, kek. Aku benar-benar tidak punya trik apapun untuk diajarkan kepadamu.”

 

—-

and the story stops there. bener-bener lupa waktu itu ide nya apa pengen cerita apa. hehe. suatu hari nanti akan gw lanjutkan lagi kalo udah ada inspirasi… :p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s