Tik Tik

Tik tik tik tik, detak detik jam dinding berus berbunyi.

Biasanya itu bunyi yang pertama saya dengar saat bangun di pagi hari.

Alhamdulillahilladzi ahyana amatana wa illaihin nusyur.

Terkadang mata membandel ingin tertutup lagi, tapi suara detik jam dinding selalu mengganggu telinga. Gagal keinginan untuk terlelap kembali.

Tik, tik, tik, tik.

Mata terbuka tapi tubuh saya masih terdiam di kasur. Seolah ada perang batin, antara yang menyuruh bangun dan kemalasan hati yang minta tidur lagi.

Tik, tik, tik, tik. Bunyinya berisik seperti air hujan yang akan reda.

Seringkali saya membandingkan lamanya waktu antar detik dari saya kecil hingga kini. Menurut pengamatan saya, rasanya detik pada masa sekarang sudah berjalan lebih cepat dua kali lipat. Dahulu rasanya sangat lama, sampai-sampai satu jam saja terasa sangat menyebalkan. Benar sepertinya tanda kiamat bahwa waktu terasa semakin singkat. Saya sering bertanya-tanya, bagaimana nanti jika satu jam hanya selama pelepah kurma yang terbakar. Semakin dekat ke akhir masa…

Tik, tik, tik, tik.

Dia terus berlari tanpa ampun.

Dia, sang waktu. Tak peduli apakah kita cukup kuat untuk mengimbangi larinya, atau kita sedang terjatuh di pinggir jalanan.

Ibaratnya lari keliling lapangan bola, sang waktu sudah mendahului saya sekian putaran.

Tik, tik, tik, tik.

Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s