Trouble Is a State of Mind

Seringkali saya jadi suka malu sendiri kalau baca-baca kicauan saya di twitter saya sendiri. Rasanya kok banyak banget misuh-misuh, tapi ya namanya juga hidup di kota yang layak banget di-misuh-misuh-in ya gimana dong? (Pembenaran)

Bicara tentang masalah, ada beberapa sudut pandang menarik tentang ‘masalah’.

Jaman saya dan pakbos masih rajin meeting mingguan untuk sebuah proyek di hari rabu, jam pulang meeting semobil dengan si bapake selalu saya namakan ‘kuliah rabu’. Karena biasanya si bapake selalu cerita-cerita tentang kehidupan. Seru lah.

Suatu hari saya curhat ke bapake, kalau saya nggak mau hidup di jakarta lagi. Gak kuat macet dan ribetnya.

Dan si bapake menanggapi begini kira-kira:

Masalah itu sesuatu yang kalau kita usahakan, kita bisa perbaiki. Kalau kita udah mengusahakan perbaikan dan emang gak bisa diubah sama tangan kita, ya pilihannya cuma 2: terima tanpa misuh-misuh, atau tinggalin aja sekalian.

Kalau kamu memilih untuk pergi, kamu juga harus mikirin lho nanti ke depannya gimana. Kalau jadi arsitek ada proyek atau nggak. Kalau nanti anak mau sekolah ada sekolah bagus atau nggak. Karir kamu nanti berkembang atau nggak.

Saya sadar semua yang saya cari itu, paling bagus ya di jakarta ini. Macet mah, ya mau gimana lagi? Terima aja sebagai fitur kota yang melengkapi apa yang kamu mau cari.

Lama-lama kamu gak liat macet itu sebagai masalah, tapi sesuatu yang kamu terima sebagai hal yang ‘ya mau gimana lagi?’

Makanya sekarang saya juga jadi belajar, untuk memanage apa yang saya pikirin, apa yang nggak usah dipikirin.

Misalnya mendesain, kamu punya lorong tiba-tiba di tengahnya ada tiang. Kayaknya jadi masalah banget, tapi kalau diulik2 terrnyata penyelesaiannya bisa jadi sesuatu yang sangat simpel. Jadinya bukan masalah lagi kan?

Masalah itu state of mind.

—-

Sebut saja si fulan, yang waktu mengetahui saya mau menikah, memberikan beberapa nasehat.

Si fulan berkata, “kamu dan calon suami kamu itu harus bisa melihat masalah dari helikopter view”.

Maksudnya gimana?

Maksud beliau adalah, bahwa ternyata besar-kecilnya sebuah masalah ternyata tergantung dari bagaimana kita melihatanya.

Contohnya: ada beberapa orang yang kayaknya bakal mati banget kalau nggak punya iphone karena semua tetangga sanak saudara dan rekan kerjanya pakai iphone dan segala gadget canggih.

Itu kalau dilihat dari scoop lingkungan krja dan keluarganya.

Zoom out masalahnya sampai ke skala jakarta saja, saat di suatu tempat ada orang yang misuh-misuh gara-gara iphone, ada anak yang dikasih sepatu bekas pakai aja senangnya nggak karu-karuan; dia sayang-sayang sepatu itu karena belum tentu bisa dapat lagi.

Zoom out agak jauh lagi, mungkin di suatu tempat di afrika ada seorang anak yang mati kelaparan.

Dan saat semua itu terjadi, nggak punya iphone jadi masalah?

Meh.

Syukurnya, saya dan si calon suami nampaknya sudah mulai bisa mempraktekkan ‘helicopter view’ ini. Seperti saat mengurus lamaran, bagi kami yang penting tujuannya tercapai: menyampaikan bahwa dia ingin melamar saya.

dan saat h-1 ada seorang anggota keluarga yang out of nowhere ngomel-ngomel soal jalannya acara dan seserahan apa aja yang harus dan nggak harus dikasih, saya cuma nelpon dia dan cerita sambil ketawa ngakak.

“Doesn’t matter, got engaged.”

——

seems pretty unfinished, karena abis itu gw lupa mau nulis apa :p dipost seadanya dulu lah, kalau inget nanti dilanjutin lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s