Are You a Practical Moslem?

Pertanyaan itu sering saya dengar waktu saya tinggal di Berdyansk. What’s your religion? Are you practical?

Yes, I am, jawab saya.

Lalu mereka pun kepo kepo saat saya shalat, puasa dan ngaji. Bahkan ada yang motret saya waktu saya izin shalat, hahaha. Seorang teman malah senang sekali waktu saya kasih kerudung.

Mayoritas penduduk Ukraina beragama katolik roman (kalau gak salah.. Katolik sesuatu deh pokoknya). Di sana banyak terdapat gereja-gereja bagus dan jadi tempat wisata. Tapi jumlah orang yang beribadah di sana tidak terlalu banyak (atau mungkin saya wisata ke sana saat gerejanya lagi sepi). Tapi teman saya yang wong ukraina asli sendiri mengakui, bahwa yang masih lumayan rajin ke gereja hanya orangtuanya saja, sementara dia tidak.

Ya dipikir-pikir, orang-orang barat walaupun non-muslim pasti agamanya ada aturannya, dan saya sampe sekarang belum pernah tau agama yang membolehkan seks di luar nikah. Nyatanya, temen saya di sana yang mukanya culun aja ternyata udah pernah .___.

Sound familiar? Sebenarnya fenomena ini sudah sangaaatt sering terlihat di sekitar kita. Istilah umumnya, islam KTP. Islam tapi nggak sholat, atau mengerjakan ibadah wajib lainnya. Islam tapi minum khamr dan makan yang haram. Islam tapi seks bebas. Huhu.. Dan hal ini udah sangat lumrah di kota besar. Dasar tanda-tanda kiamat.

Uniknya, selama di Indonesia saya belum pernah mengalami (atau mendengar orang yang mengalami) orang yang ditanya: kamu islam? Kamu solat gak?

Mungkin karena indonesia sangat heterogen dan pertanyaan-pertanyaan berbau sara itu bisa memancing angkara murka.. :p jd aja ga ada yang berani. Tapi terkadang, saya ingin punya keberanian untuk bilang hal semacam itu.

Kamu islam? Kok solat tapi minum bir?
Kamu islam? Kok kamu makan babi? Babi kan haram..
Kamu islam? Kok auratnya diumbar kemana-mana.. Kan disuruh ditutup sama yang bikin 🙂

Entah si yang ditanya bakalan ngedumel atau entah apa alasannya.. Hehe. Pertanyaan itu juga berlaku kepada diri sendiri sih.

Dalam kondisi sekarang, ada satu hal yang bisa saya simpulkan dalam berislam:

Jalankan sebaik-baiknya. Ternyata setelah dijalankan, pasti rasanya ternyata masih kurang.

Misalnya, saya pakai jilbab. Pertama kali pakai, ya seadanya aja. Ternyata jilbab harus menutup dada. Ternyata tidak boleh membentuk lekuk badan. Lho, ternyata tidak boleh kondean juga alias jilbab punuk unta. Dan seterusnya.

Nyoba ngaji. Lho makhrajnya salah. Lhoo kalo salah baca artinya beda toh. Ustadz artinya guru kalo ustad artinya stadion. Ternyata kalo baca alhamdulillah dengan ‘H’ yang salah yang 1 artinya segala puji syukur, 1 lagi artinya kematian.

There’s always room for improvement.

—–

You said that in islam women should not show their body curve. So is it allowed to wear trouser?

Seorang bule bertanya kepada saya saat saya sedang mengenakan celana panjang.

Lalu saya garukgaruk pala. “No. But I will try to be a better moslem.”

Are you a practical moslem?

Saya selalu berharap di Indonesia kita tidak perlu sampai bertanya seperti itu. Karena identitas itu selayaknya ditunjukkan dengan integritas.

—–
Soiye banget ye gw nulisnya, kyk yg udah gelarnya Lc aje di blakang namanya 😛 ya namanya juga pemikiran, kebetulan pemikirannya lg positif dan ideal. Saya masih jaaaauuuhh dr figur muslimah yang kaffah ya doakan saja ya supaya dipermudah jalannya menuju ke sana. Yang ktpnya islam, yuk kita belajar terus. Malu kalo ditanya bule islam itu gimana jawabnya bingung hehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s