Kentang Goreng Mekdi

Ceritanya saya lagi ngebeeet banget mau nonton interstellar. Tapi berhubung sudah punya bayi (dan dulu termasuk golongan manusia yg menghujat keberadaan bayi di bioskop :p) akhirnya lama-lama kalau dipikir nggak bijaksana jg kalau ngotot bawa bayi ke bioskop. Sampai akhirnya suami kasiaan banget sama saya dan bilang, “udah kamu kalau mau nonton pergi aja, sama siapa kek.. nanti bayi aku aja yang megang.”

“Lah, kalau nonton nggak sama bapak mah ngapain?! Nanti aku diskusi filmnya sama siapa? Ogah.”

Suami adalah makhluk yang sangat penting bagi saya *ejiee* dan sungguh saya mikir bahwa hal2 menyenangkan itu bukan hanya tergantung bendanya tapi juga dengan siapanya. Nonton interstellar? Keren! Nonton sama suami? Keren banget! Nonton sendiri? Keren sih, tapi karena gak bisa diobrolin sama suami jadinya nggak asik. Sedih. Jadi nggak keren deh :p

Alkisah kemarin saya tanpa sengaja membaca habis buku “mualaf” yang dibeli oleh suami. Ceritanya ya tentang mualaf… *yaiyalah* :p lebih tepatnya mungkin seorang Pria Inggris yang selalu hidup dalam chaos akibat lingkungan yang berantakan namun menemukan ketenangan dan keteraturan dalam islam. Pas suami pulang saya cerita.. eh lama lama jadi spoiler deh. Suami saya ini orangnya sangatt anti spoiler (sementara saya sangat toleran sama spoiler. Kalo baca buku 1/3 awal, ngintip akhirnya, baru tengahnya :p).

“Tuh kan nggak enak ah diobrolin sama bapak kalo bapak belum baca.”

“Iya, ya.”

“Makanya bapak lain kali jangan nyuruh ibu nonton film nggak sama bapak. Kalo udah selesai terus aku excited mau diskusi gimana. Kan nggak enak. Rasanya kayak kentang goreng mekdi yang kempes…”

“Yang udah dingin sisa kemarin tapi mau dibuang sayang, dimakan juga nggak enak banget,” ditambahin pula sama suami dengan semangat.

“Terus dinginnya gara-gara didiemin di kamar ber AC. Hiii…”

Analogi kentang mekdi yang nggak enak itu ternyata cukup bisa menggambarkan betapa tidak lengkapnya hidup kita tanpa satu sama lain *apasih* *tapibener* *namanyajugaorangnikah*. Jadi demi kebersamaan keluarga.. mari berbesar hati nunggu dvd interstellar dan mockingjay keluar. Shouldn’t be that long 😤

———-

Epilog, pembicaraan saat makan malam.

“Setelah dipikir-pikir mungkin emang bawa bayi itu emang sangat nggak bijaksana ya. Maybe i’m just being selfish.”

“Yah dulu waktu kita nonton the raid kamh juga kesel banget kan waktu ada yang bawa bayi ke bioskop.”

“Iya. Tapi sekarang kalo aku ketemu orang yang gitu rasanya pengen aku tonjok. Lupikir ibu-ibu ga butuh hiburan?”

“Hahaha.. kasian ibuk. Yaudah ibu mau hiburannya apa dong?”

“Nonton interstellar.”

*gubraks*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s