Yogyakarta Trip

Halo semua, kali ini saya ingin berbagi trntang perjalanan saya sekeluarga ke Yogyakarta. Peserta liburan kali ini hanya saya,  suami dan anak. Selain liburan, kami menganggap perjalanan ini adalah investasi kenangan manis unuk memperkuat fondasi rumah tangga kami karena perjalanan insya Allah masih panjang 🙂

Kenapa Yogyakarta? Saya nggak pernah ke candi borobudur dan prambanan, sementara suami saya terakhir ke sana hampir 10 tahun yang lalu. Bolehlah kita mampir ke sana,  lagipula konon makanannya murah meriah dan tidak menguras kantong 🙂

Setrlah booking sana sini, akhirnya terpesanlah hotel novotel dan airasia sebagai rekan perjalanan kami hari ini.

Day 1 – Sabtu 15 Agustus

Pagi-pagi kami bersiap ke bandara untuk mengejar pesawat pukul 10:30 (sengaja agak siang karena S, anak kami bangunnya siang dan kalau dibangunkan paksa bisa cranky,  maklum masih 17 bulan). Tiba2 suami bilang S kok rasanya agak demam. Akhirnya kami ukur dengan termometer,  suhunya 38 derajat. Karena S lagi tumbuh gigi juga, kami pikir demamnya karena itu. Akhirnya kami putuskan untuk tetap jalan. Ternyata,  di bandara pun S masih bisa lari-lari dengan gembira,  jadi kekhawatiran kamagak berkurang.

Setelah drop bagasi, jam masih menunjukkan pukul 9 pagi,  masih ada 1 jam sebelum boarding. Karena kelaparan, kmi memutuskan untuk cari makan. Berhubung suami punya cc bank bukopin, dia pun bisa masuk gratis ke Lounge sementara saya yang gak punya cc apa-apa ini harus nambah bayar 70 ribu :p yah hitung-hitung makan bertiga 70 ribu lumayan. Di sana kami makan sup kepala kerapu,  nasi rames dan roti. Minumnya orange juice (yang rasanya kayak extra joss) dan teh manis hangat yang selalu enak.

Setelah kenyang, kami masuk ke ruang tunggu dan pas banget beberapa saat kemudian kami bisa langsung naik pesawat. Kami duduk di seat 1, hadap2an sama mas dan mbak pramugarinya heheu. Di pesawat,  S tidur sambil menyusu tapi saya ngerasa badannya panas banget. Setelah diukur termometer,  ternyata suhunya 39 derajat dan dia terlihat lemas juga. Mas pramugari menyarankan untuk dipeluk sambil skin to skin supaya demamnya turun (masnya single parent, hebat). Pesawat pun mendarat dan kami dijemput oleh Pak Yanto, driver mobil sewaan kami. Rencana awal kami dari bandara ingin mampir ke Prambanan karena sudah sangat dekat harus batal karena kami mau mengunjungi objek wisata RS Bethesda yang letaknya tepat di seberang Novotel 😀

Masuk UGD Bethesda, suami saya langsung mendaftarkan S dan saya langsung ketemu Pak Dokter. Dokternya langsung mengobservasi S, saya juga cerita kalau saya khawatir S kena dbd. Dokter pun merujuk S ke lab untuk tes darah, namun sebelumnya S diberi parasetamol dengan injeksi anal supaya lebih cepat bereaksi.

Tes darah baru bisa diambil 1.5 jam kemudian sekitsr pukul 2, kami memutuskan untuk makan di kantin rumah sakit. Kami memesan soto dan mie ayam. Di kantin demam S mendadak hilang dan dia makan lunayan banyak dan minum jeruk hangat dengan gembira 😁

Makan soto dan lontobg 1 porsi 8000 saja, banyak pula. Jeruk hangat 2000 saja.

Setelah mengambil hasil cek darah, kami

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s