Don’t Blame It to My Mother

The boy laid in the hospital bed, severely injured and bruised. His eyes were closed, you can’t tell if he’s asleep or dead. But the slight movement of his chest give a glimpse of hope that he is OK and alive. Or at least that is what his parents want to believe.

The hit on his face left a mark, damaging the beautiful face his parents always brag to their friends to.

The witnesses said that the girl did that. The girl hit the boy with a broomstick, threw his face with rocks, punched, kicked, probably any form of violence we could ever think of.

The boy did not stand still, though.

The girl had several bruises on her face, her body as well. But she did not give up.

She fought. The only form of self defense she know, just to show that the boy was messing with the wrong person.

——————–

“I need to have your parents phone number.”

She sat there in silence.

“We need to talk to your parents.”

She smirked.

“His parents want to talk to your parents as well.”

She looked the teacher in the eye.

“So what? So that you can preach my ‘parents’ about how to teach their kids?” She smirked. “So that you can blame them for raising a kid like me, who constantly in trouble with other kids?”

The teacher stood in silence.

“Don’t even think about that,” She chuckled. “Have you talked to his parents? What did you say to them?”

“They were really upset about what happened to their son — But they wanted to settle that down with your family first. They could’ve called the cops…”

“No. What did YOU say to THEM?”

“That I will talk to you.”

“That’s nonsense. You did not ask what the boy did that makes me go berserk towards him. You know, I am not crazy. I am not the smartest kid here, but my brain works fine. I don’t punch people with no reason… Unlike him. He picked on me. He threw my lunch. He called me names. For what reason? Just because I was weak, or i was less fortunate than his family?

Don’t even think about talking to my ‘parents’. There are no parents – there is just MOTHER. A mother who works hard to make ends meet, She has no time for that fuss. If you want to blame the punching, blame it on me, not my mother. If you want to blame about how a parent teaches their kid, blame it on his parents. For God’s sake, his father is a CEO who can afford his family a good house and car. His mother is a housewife — now tell me who is more responsible for teaching their kids?”

—-

Nonjok

Entah kenapa kok banyak banget hal2 yang berseliweran di kepala.. dan kalau diingat2 kadang2 kesal jadinya, hahaha. Jadi saya harap menulis itu bisa jadi penyembuhan buat saya. Seperti kata bang danny,

He’d say “Music was the home for your pain”
And explain I was young, he would say
Take that rage, put it on a page
Take the page to the stage
Blow the roof off the place

– if you could see me now, the script

Suka banget band ini karena lirik lagunya yang jujur dan curcol banget haha. Kenapa jadi bahas the script ya. Ok, so I am now taking my rage and putting it on a page..

—-

Ini cerita saat saya kelas 4 SD.

I wasn’t the popular, nor pretty kids that get recognised or befriended easily. Saya cukup tertutup thanks to my childhood trauma :v saya tomboi dan senengnya berantem (kebanyakan nonton ranma dulu). Somehow saya nggak mudah menemukan orang yang mau berteman sama saya. Malah seringan dibully (what makes a person bullying material ya?). Dibully teman seangkatan, teman sejemputan, tetangga, buset dah sedih amat hidup gw dulu 😂😂😂 (sampe skrg masih mikir kenapa gue suka dibully ya?)

Salah satu faktor fisik saya yang menonjol adalah gigi kelinci tonggos saya. Tonggos as in udah hampir kayak dono, hahaha i wasnt pretty nobody loves me 😂 menyedihkan. Itu bikin saya jadi bahan buli2an orang juga kayaknya.

Nah suatu hari seorang teman perempuan yang anak orang kaya dan princess-like ngata2in saya tonggos terus2an. Kesel dong ya dikatain orang… entah kenapa otak saya mengambil keputusan epic saat itu: hajar aja ini anak biar mampus😂

Dan tanpa basa basi kugebukinlah dia habis-habisan. Kayaknya dia ngelawan, tapi maap2 saya lebih ganas hahaha. Saya inget ngejambak rambutnya dan nonjok mukanya.. man, that felt so good.

Saya nggak ingat kelanjutannya.. hal terakhir yang saya ingat ada beberapa anak yang melerai kami. Pembantaian berhenti di koridor sekolah.

Tapi lalu tak lama kemudian orang-orang menatap saya dengan penuh kebencian. Kata mereka, “Kamu mendorong dia sampai jatuh dari tangga kan?”

What the what?

Bahkan salah satu orang yang menuduh itu, saya ingat dia ada di sana saat saya berhenti memukuli si fulanah. Jelas-jelas dia melihat saya nggak mendorong fulanah sampai jatuh dari tangga.

Kecil-kecil tukang ngibul 😐dan hasil ngibulannya juga nggak ada nilai tambah buat dia, tapi minus buat saya. Atau emang di dunia ini emang ada jenis-jenis makhluk yang senengnya liat orang tambah sengsara :v

Saya beneran lupa akhirnya guru-guru ngapain untuk menyikapi kejadian ini… Yang saya inget, waktu saya sampai rumah, telepon rumah berbunyi.

Lupa pembicaraan lengkapnya tapi kira2 gini lah:

“Ini Reytia ya?”

“Iya betul”

“Ini mamanya xxxxx… Kamu tadi mukulin anak saya ya… blablabla.. tindakan kamu itu bisa tante laporkan ke polisi lho.. dlsb” (gak inget lengkapnya)

Dan saya anehnya cuma ber “oh” aja dengan lempeng 😅

——

Lalu mama saya pulang dari kantor. Singkat cerita mama sudah tau dan saya juga cerita kalau tadi saya ditelpon oleh mama si korban.

Dan waktu saya cerita tentang kalimat “nanti dilaporin polisi” mama cuma ketawa. 😂

Saya nggak dimarahin. Dan itu highlight terbaik hari itu, ternyata masih ada yang peduli dengan saya padahal di sekolah saya sudah dituduh macam-macam.

Saat saya sudah dewasa, saya dan mama sempat mengobrolkan kejadian ini lagi. Ternyata mama si korban juga ngomel-ngomel ke mama dan mama dengan cool nya menjawab:

“Ya wajar lah anak saya marah, orang anak kamu yang duluan ngata-ngatain anak saya.”

Nonjokin orang dan dibenci teman-teman itu buruk, dan meninggalkan kesan yang mendalam di hati saya. Tapi kalimat mama itu, berhasil membuat kenangan buruk itu jadi guyonan terhebat di hidup saya :))

Remah Renginang di Dasar Kaleng Khong Guan

ceritanya lg ngerasa down dan tidak perform karena satu dan lain hal yang membuat saya merasa seperti remah renginang di dasar kaleng khong guan. I.e. aduhmak anak guwe makannya susah blm lulus TT padahal seharian di rumah ngapain aje sih lu liat tu junior2 lu udh jadi arsitek beneran emak lu udh mau wisuda magister (magister keduanya.. ngek 😂😂😂) dlsb.

Yah rumput tetangga memang lebih hijau.. apalagi kalo rumput rumah lagi kurang pupuk 😂

Yang paling bikin down malah prestasi suami sebagai breadwinner di rumah tangga kami, mana di kantornya sering dipuji2, mak jang, apalah awak ini .___. Lucu juga ya saya seringkali menjadikan suami sebagai semacam rival. In a good way ya, maksudnya kalo suami lg berprestasi aku mau juga dong berprestasi. Tapi ya kumaha, makanan di rumah saja aku katering bukannya memasak *tableflip* 😂😂😂

Akhirnya saya cerita tentang kegundahan saya yang sedang merasa down dlsb. Karena bahayanya rasa down ini bikin saya jadi minder beneran sama orang lain, padahal harusnya kan enggak.. kemana pula diriku yang dulu yang penuh percaya diri hahaha

Dan komentar suami apa cobak?

“Kalo kamu merasa terpuruk itu nggak ada dampak bagus apapun buat kamu dan orang sekitar kamu.”

😂😂😂😂

Emang sama doi jangan harap mendapatkan penghiburan yang berbunga2, tapi ya emang realistis aja. Dan lucunya dengan kata2 lempeng itu saya jg termotivasi untuk bangkit, hahaha. Sesungguhnya saya cuma pengen ngeluh2 dikit dan meratap. Tapi sama doi mana boleh meratap2, mending dikerjain aje 😛

Dan however, dia selalu percaya bahwa saya bisa jadi istri dan ibu yang baik.

Bandingin kalo kita ngambil s2 di luar negeri, pasti ada aja yang komentar “oh keren ya sekolah di luar…” tapi pas jadi ibu rumah tangga komentarnya semacam “oh ibu rumah tangga…”

Awalnya saya nggak peduli, tapi lama2 gemes juga tiap hari udh hampir sinting ngeliat kelakuan bocah kok ya nggak ada yang mengapresiasi secara langsung 😂😂 (emang bener kata si maslow kebutuhan manusia adalah untuk diakui hahahah). Hanya ada 1 orang yang setia bertepuk tangan melihat aksi saya ber ibu rumah tangga… yaitu suami saya.

Alhamdulillah masih ada pengakuan dan apresiasi padahal jadi irt jg masih banyak kurangnya. Emangnya siapa lagi yg mau apresiasi istrinya kalo bukan suami sendiri :v

Jadi duhai suami, sering2 lah apresiasi istri anda. Apalagi kalo ibu rumah tangga.. sangat mudah untuk irt buat merasa seperti remah renginang di dasar kaleng khong guan, apalagi kalo orangnya nggak bisa diem kayak saya 😂😂😂

—–
*istilah “remah renginang di dasar kaleng khong guan” pertamakali saya temukan di status fb teh hanifah widyastuti, pinjem istilahnya ya teh 😂

Reward

hari itu saya teler berat. sepanjang malam baby A yang umurnya masih 1 bulan nggak bisa tidur karena hidungnya mampet, padahal kehausan mau menyusu (jadilah nangis hebooohhhh). Plus kakak S yang masih sakit karena alergi dan butuh diasup obat ontime. haduduh. sudah dipesankan untuk tidur siang, boro2 deh tidur siang — si kakak nutup pintu terlalu kencang dan walhasil pintu rumah nggak bisa dibuka šŸ˜‚šŸ˜‚šŸ˜‚ akhirnya siang hari dihabiskan dengan nongkrongin mas tukang baik hati yang mbenerin pintu.. fiuh.. (rumah2 berbalita maceuh kayak anak2 saya ada baiknya mempertimbangkan masang door closer di pintu, supaya kalo kebanting pintunya bs nutup pelan2. Baik untuk pintu dan mengurangi resiko tangan kejepit)
Hari itu biasanya beliau rutin ikut kajian. Tapi apa daya, satu2nya timing buat tidur muncul di jam 17.30 — tidur siang macem apa itu šŸ˜‚ kuputuskan untuk nggak tidur karena pasti kakaknya bentar lagi minta makan dan harus minum obat lagi juga.. akhirnya setelah wa suami beliau memutuskan untuk pulang dan bantu take over si kakak supaya saya bs istirahat
Malamnya beliau pulang. Dan tiba2 memberikan saya sesuatu.
Jam tangan fossil. Merk yang saya memang suka dari duluĀ šŸ˜ƒ
Kata beliau, lately beliau nggak pernah membelikan saya apa2..dan tahun ini berat buat saya. Tahun ini mama sempat diopname dan saya menemani mama di rs. Tahun ini saya sakit dan diopname juga di rs. Tahun ini saya melahirkan anak kedua kita.
Saya bingung sebenarnya.. i did nothing, really.
Saat mama sakit, yang menjaga si kakak supaya saya bisa jaga mama di rumah sakit ya kamu juga.
Yang bayarin rumah sakitnya, ya kamu juga.
Saat saya sakit, si kakak juga opname dan yang jagain si kakak ya kamu juga.
Yang mbayarin rumah sakitnya, ya kamu juga (lagi).
Saat kakak opname dan kamu akhirnya sakit, saya malah nggak bisa ngurusin kamu.
Saat saya melahirkan anak kedua, mana bisa setegar itu kalau kamu nggak menemani (di 20 menit terakhir, serius udh pengen nangis rasanya šŸ˜‚šŸ˜‚šŸ˜‚)
Saat saya melahirkan anak kedua dan kakak sakit lagi, kamu juga yang jagain si kakak.
It’s you who deserve reward for all the hard work, really. (Bi idznillah)
—-
Dan dengan segala kekurangan saya kamu masih menemukan bahwa saya masih layak untuk kamu cintai..
Allah sang pembolakbalik hati.
Semakin saya merasa kerdil karena saya nggak bisa balas apa2 dalam bentuk materi untuk kamu.
Da rumah juga tiap hari masih berantakan,
Kamu pulang saya juga masih kucel
Semoga Allah berikan saya taufik untuk menjadi istri yang bisa memenuhi hak untukmu.
—-
Banyak alasan kenapa saya lebih optimis kamu yang masuk surga (duluan) daripada saya (hopefully)
Berat juga perjuangan buat ngekorin kamu ke sana šŸ˜‚
Sebenarnya saya nggak suka sesumbar kalau suami saya baik dan memuliakan saya dlsb. Takut ditaksir orang bos šŸ˜‚šŸ˜‚šŸ˜‚
Tapi mudah2an cerita ini bisa jadi ibroh utk para suami utk memuliakan istrinya.
Dan buat para istri supaya lebih berjuang utk memuliakan suaminya.
Supaya banyak yang doain kamu dan saya dalam kebaikan heuheu.
Akhir kata..
Saya cuma bisa mendoakan kamu.
Nggak cuma sih.. jangan2 doa impactnya jauh lebih besar daripada hal2 yang sifatnya fisik ya.
Semoga kamu masuk surga tanpa hisab.
Semoga saya dimudahkan untuk qualified ketemu kamu di surga. Menjadi pasangan dunia akhirat di surga gitu maunya… aamiin.