NHW 1 – Adab Menuntut Ilmu

Disclaimer:

Postingan dengan judul NHW (Nice Home Work) adalah sebagai tugas saya dalam kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional Jakarta 🙂


1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini.
Ilmu agama islam secara keseluruhan.
2.Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut.
Karena sudah jelas bahwa yang membuat kita selamat di dunia dan di akhirat sudah pernah diajarkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi Wassalam. Saya ingin menyelamatkan keluarga saya di dunia dan di akhirat sehingga penting bagi kami untuk mempelajari dan mengamalkan ilmu ini.
3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?
– Segera mengamalkan ilmu yang sudah diketahui
– Mengikuti majelis ilmu di masjid komplek rumah seminggu sekali jika memungkinkan. Jika tidak bisa, diganti dengan menonton video kajian Masjid AL Azhar setiap rabu (lebih baik jika bisa keduanya)
– menyempatkan membaca buku al adab al mufrod 5 menit setiap harinya.
4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu,perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.
– segera mengamalkan dan menyebarkan ilmu yg baik yg sudah diketahui
– membersihkan diri dari hal-hal yang tidak bermanfaat agar hati menjadi bersih sehingga ilmu lebih mudah masuk (mengurangi jam nonton TV, chat yang tidak perlu di WA, scrolling timeline facebook, intinya menjaga pandangan, pendengaran dan ucapan)
– berijtihad sebaik-baiknya dalam mencari jawaban atas pertanyaan, tidak hanya asal “kata ustadz itu boleh, jadi saya juga boleh.” Mencari tahu ke berbagai sumber yang dipercaya, tidak hanya satu saja. Ada beberapa hal yang ulama berbeda pendapat, dengan berijtihad maka saya insya Allah akan yakin atas jawaban pertanyaan tersebut dan sikap saya terhadap hal itu ke depannya.
– selalu memperbaiki niat menuntut ilmu semata hanya untuk mendapat ridha Allah
Advertisements

Conscious Mistake

Why would a person do a mistake consciously? What a fool…

But in fact, we do this everyday...

Bagaimana perasaan kita kalau anak buah kita di pekerjaan selalu melakukan kesalahan. Padahal sudah diberitahu yang benar itu apa, dan bagaimana cara mengerjakannya. Ngepel lantai itu yang bener pakai kain pel dan cairan pembersih lantai. Kalau udah dikasih tau terus masih aja ngepel pakai sabun pencuci piring ya apa nggak gedek?

(kalimat terinspirasi dari teh CQ yang menggunakan jasa bebersih online dan mbaknya pakai deterjen buat ngepel lantai xD)

Tapi kenapa ya kita sendiri masih sering melakukan hal-hal yang salah secara sadar?

Udah tau tahajud itu baik, kenapa bangun susah amat.

Udah tau bayar hutang harus disegerakan, malah ditunda-tunda dan beli barang yang nggak penting.

Udah tau menggengam besi panas lebih baik daripada bersentuhan dengan yang bukan mahram, masih aje salaman sama yg non mahram.

Udah tau makanan haram yang menjadi daging di tubuh kita akan dibakar dulu di api neraka, kenapa masih aja jajan sembarangan…

Udah tau dosa riba paling ringan sama dengan menzinahi ibu kandung sendiri, kenapa juga masih nekat ngambil KPR #jedotinpalaketembok

Masih panjang lah kalau dibuat listnya 😐

—-

Mengacu kepada kajian Ustadz Nouman Ali Khan yang baru saya baca, kurang lebih begini isinya:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa setiap kali kita berbuat dosa, ada kegelapan di hati kita. Dan apabila kita terus berbuat dosa maka kegelapan itu akan bertambah sampai seluruh hati kita dikelilingi oleh kegelapan. Jadi begitulah persisnya setan bekerja. Dia bekerja perlahan tapi pada akhirnya dia akan berhasil jika Anda membiarkannya.

(untuk lebih lengkapnya, silahkan lihat kajiannya di sini)

Juga Ustadz Kholid Basalamah pernah menyampaikan dalam suatu kajian (kurang lebih begini isinya):

Kebaikan dan maksiat itu seperti sebuah spektrum. Saat kamu menikmati yang satunya, akan sulit untuk menikmati yang lainnya.

Banyaknya dosa yang kita perbuat meninggalkan kegelapan di hati kita. Semakin merasa mudah untuk berbuat dosa, kali berikutnya akan jauh jauh jauh lebih mudah… Seperti efek bola salju. Tapi begitu juga dengan kebaikan. Semakin kita banyak berbuat kebaikan, akan mudah berbuat kebaikan yang lain. Percaya nggak, membiasakan makan dengan tangan kanan dan tidak sambil berdiri bisa berefek kepada nikmatnya sholat? (Ini beneran lho)

Saat kita sedang bermudah-mudah dalam melakukan kesalahan secara sadar, mungkin Allah sedang menghukum kita dengan mencabut taufiq dari hati kita.

Itulah sebabnya kita shalat 5 waktu dengan bacaan Al Fatihah berkali-kali.

Tunjukilah kami jalan yang lurus

Apakah saya keluar rumah pakai jilbab atau nggak?

Hari ini makan siang di restoran yang jelas halal atau nggak?

Semua kebimbangan dalam keseharian hidup, seharusnya sudah ada jawabannya di sana…

—-

Ah, ya Allah, aku tahu Engkau tidak suka hambamu yang tidak mengerjakan apa yang ia katakan…

Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.

Semoga Allah karuniakan taufiq dan hidayah kepada kita untuk selalu mengambil jalan yang lurus dalam kehidupan.

 

Masa Lalu

Setiap orang pasti memiliki masa lalu, baik maupun buruk. Paling apes memang kalau kita punya masa lalu yang buruk, banyak pula orang yang tahu.

Paling nggak enak, kalau kita sudah berusaha berubah, tapi orang masih mengasosiasikan kita dengan gelar masa lalu kita.

 

“Jangan pacaran lah, bro. Di islam itu kita nggak mengenal pacaran… Banyak mudharatnya juga…”

“Lah elu, dulu juga bukannya pacarnya banyak?”

“Ayo bro, mari berhenti ngerokok, gak baik buat kesehatan.”

“Ah elu kayak yang nggak pernah nyoba aja.”

“Ayo sis, jaga pergaulan, berpakaian yang sopan supaya nggak menimbulkan fitnah.”

“Halah, sok suci banget sih lo!”

 

 

Nyatanya proses untuk berubah itu memang nggak mudah. Dulu waktu saya pertama belajar berhijab, ada beberapa teman yang berkomentar ngeri-ngeri.

“Hah ngapain lu pake jilbab? Kaya orang munafik aja.”

Eaaa (1)

“Lu beneran tuh pake jilbab? Bisa tahan seminggu gue sujud deh sama lo…”

Eaaa (2)

Emang gue dulu macem mana sih sampai-sampai orang komentarnya kok gitu amat? Yah, you can only imagine…

Pun setelah berhasil memperbaiki akhlak yang dulunya semrawut parah (sampai sekarang pun masih jauh dari sempurna), saat saya ingin mengajak orang lain menuju kebaikan, saya sering terhantui oleh kesalahan masa lalu saya. Saya jadi nggak berani mengingatkan orang untuk berhenti melakukan dosa yang dulu pernah saya lakukan. Karena saya takut orang yang diingatkan bilang “Ih elo kan dulu juga gitu!”

Tapi kemudian saya teringat kisah Umar bin Khattab. Situ mau adu jelek-jelekan masa lalu? Noh sana lah diadu sama beliau 😛 Beliau dulu orang yang paling keras permusuhannya dengan islam, tapi dengan hidayah dan izin Allah, menjadi salah satu khalifah penerus sesudah Rasulullah Shalallahu Alayhi Wassalam. Dijamin surga, men.

Manusia itu dinilai dari akhirnya. Yang paling penting sekarang adalah bagaimana caranya supaya kita bisa memastikan kita mati di jalan Allah.

Situ dulu suka mabok? Suka ngerokok? Doyan dugem? Pernah berzina? Atau mendekati perzinahan alias patjaran?

Yang sudah berlalu memang nggak bisa diulang. Tapi ketahuilah…

Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat pada-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas kendaraannya dan berada di suatu tanah yang luas (padang pasir), kemudian hewan yang ditungganginya lari meninggalkannya. Padahal di hewan tunggangannya itu ada perbekalan makan dan minumnya. Sehingga ia pun menjadi putus asa. Kemudian ia mendatangi sebuah pohon dan tidur berbaring di bawah naungannya dalam keadaan hati yang telah berputus asa. Tiba-tiba ketika ia dalam keadaan seperti itu, kendaraannya tampak berdiri di sisinya, lalu ia mengambil ikatnya. Karena sangat gembiranya, maka ia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Ia telah salah mengucapkan karena sangat gembiranya.” (HR. Muslim no. 2747).

Yuk, kita tobat. Dan jangan biarkan dosa masa lalu kita menjadi penghalang untuk saling mengingatkan tentang kebenaran 🙂

 

Pada Hari Itu

Ada suatu hari di mana uang tak lagi berlaku. Ada suatu hari di mana sebuah amal baik sebesar zarrah akan menjadi sangat berarti bagi pemiliknya. Ada suatu hari di mana seorang ibu pun tidak mau menanggung dosa anak-anaknya, sementara sang anak akan menuntut orangtuanya atas pembiaran terhadap dosa yang selama ini dia lakukan.

Pada hari itu, tidak ada seorangpun yang selamat atas apa yang mereka perbuat.

Lu pikir gue nggak asik? Ngeselin? Ya ukhtifillah, saya cuma takut pada hari itu kamu akan menuntut saya atas pembiaran yang saya lakukan terhadap maksiat yang ada di depan mata saya.

Takut, sungguh saya takut.

Beruntunglah kamu saat kamu masih punya keluarga dan sahabat yang mengingatkanmu akan kebenaran. Sesungguhnya saya tidak ingin di hari akhir nanti kita akan saling menuntut – berebut pahala dan saling lempar-lemparan dosa.

Berat jika kamu seorang lelaki – ibu, istri, anak, saudarimu ada di tanggunganmu. Dibilang cerewet, cerewet deh. Pada hari itu, salah-salah pahalamu digerogoti oleh para tanggunganmu atas hal yang tidak kamu ajarkan.

Jika kamu perempuan, plis jangan ngeyel. Jaga izzah dan kehormatan diri, tegakah kita nantinya menuntut bapak kita, anak kita, saudara laki-laki kita atas maksiat yang kita perbuat?

Pada hari itu, manusia berterbangan seperti anai-anai….

Dan hari itu, pasti terjadi.