Masa Lalu

Setiap orang pasti memiliki masa lalu, baik maupun buruk. Paling apes memang kalau kita punya masa lalu yang buruk, banyak pula orang yang tahu.

Paling nggak enak, kalau kita sudah berusaha berubah, tapi orang masih mengasosiasikan kita dengan gelar masa lalu kita.

 

“Jangan pacaran lah, bro. Di islam itu kita nggak mengenal pacaran… Banyak mudharatnya juga…”

“Lah elu, dulu juga bukannya pacarnya banyak?”

“Ayo bro, mari berhenti ngerokok, gak baik buat kesehatan.”

“Ah elu kayak yang nggak pernah nyoba aja.”

“Ayo sis, jaga pergaulan, berpakaian yang sopan supaya nggak menimbulkan fitnah.”

“Halah, sok suci banget sih lo!”

 

 

Nyatanya proses untuk berubah itu memang nggak mudah. Dulu waktu saya pertama belajar berhijab, ada beberapa teman yang berkomentar ngeri-ngeri.

“Hah ngapain lu pake jilbab? Kaya orang munafik aja.”

Eaaa (1)

“Lu beneran tuh pake jilbab? Bisa tahan seminggu gue sujud deh sama lo…”

Eaaa (2)

Emang gue dulu macem mana sih sampai-sampai orang komentarnya kok gitu amat? Yah, you can only imagine…

Pun setelah berhasil memperbaiki akhlak yang dulunya semrawut parah (sampai sekarang pun masih jauh dari sempurna), saat saya ingin mengajak orang lain menuju kebaikan, saya sering terhantui oleh kesalahan masa lalu saya. Saya jadi nggak berani mengingatkan orang untuk berhenti melakukan dosa yang dulu pernah saya lakukan. Karena saya takut orang yang diingatkan bilang “Ih elo kan dulu juga gitu!”

Tapi kemudian saya teringat kisah Umar bin Khattab. Situ mau adu jelek-jelekan masa lalu? Noh sana lah diadu sama beliau ๐Ÿ˜›ย Beliau dulu orang yang paling keras permusuhannya dengan islam, tapi dengan hidayah dan izin Allah, menjadi salah satu khalifah penerus sesudah Rasulullah Shalallahu Alayhi Wassalam. Dijamin surga, men.

Manusia itu dinilai dari akhirnya. Yang paling penting sekarang adalah bagaimana caranya supaya kita bisa memastikan kita mati di jalan Allah.

Situ dulu suka mabok? Suka ngerokok? Doyan dugem? Pernah berzina? Atau mendekati perzinahan alias patjaran?

Yang sudah berlalu memang nggak bisa diulang. Tapi ketahuilah…

โ€œSesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat pada-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas kendaraannya dan berada di suatu tanah yang luas (padang pasir), kemudian hewan yang ditungganginya lari meninggalkannya. Padahal di hewan tunggangannya itu ada perbekalan makan dan minumnya. Sehingga ia pun menjadi putus asa. Kemudian ia mendatangi sebuah pohon dan tidur berbaring di bawah naungannya dalam keadaan hati yang telah berputusย asa. Tiba-tiba ketika ia dalam keadaan seperti itu, kendaraannya tampak berdiri di sisinya, lalu ia mengambil ikatnya. Karena sangat gembiranya, maka ia berkata, โ€˜Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.โ€™ Ia telah salah mengucapkan karena sangat gembiranya.โ€ (HR. Muslim no. 2747).

Yuk, kita tobat. Dan jangan biarkan dosa masa lalu kita menjadi penghalang untuk saling mengingatkan tentang kebenaran ๐Ÿ™‚

 

Advertisements

8 thoughts on “Masa Lalu

  1. Memang benar kata-kata lu. Tapi seperti lu tidak ingin orang lain ngejudge lu berdasarkan perbuatan-perbuatan lu, orang lain juga kadang tidak suka kalo kita ngejudge mereka. Mungkin maksudnya baik, mau menegur atau mengingatkan, tapi terkadang maksud yg tersampaikan itu beda. Jadi ya, hati-hati dalam berucap.

    Berdasarkan pengalaman gua sih, kadang ada baiknya kita tidak usah menasihati apabila tidak diminta, karena bisa bikin orang tersinggung. Nanti kalo mereka udah kena masalah, terus curhat ke kita, baru deh kita sampaikan pandangan hidup kita. Maksud sebaik apapun, bisa saja disalahartikan jika lawan bicara kita tertutup hatinya.

    • betul betull.. ibaratnya ngasih berlian tapi ngasihnya dilempar kan sakit yak :)) emang metode dan penerimaan ini menjadi sesuatu yang sangat tricky (itulah gunanya otak spy bs dipake mikir ttg cara mengingatkan yg baik xD)

  2. setuju, jangan biarkan masa lalu menjadi penghalang untuk saling mengingatkan tentang kebenaran. semua orang punya masa lalu dan proses hijrah ini harus dijaga terus-menerus.

    menyampaikan kebaikan dengan cara yang baik bisa dibilang dakwah ๐Ÿ™‚ ini bisa menjaga kita untuk terus-menerus dalam kebaikan. memberi contoh, malu juga dong masa’ ngomong aja ga ngelakuin xD

    biar lebih semangat baca ini dan
    ini deh ๐Ÿ˜€

    salam kenal ya ๐Ÿ™‚ #1minggu1cerita

  3. “Tapi kemudian saya teringat kisah Umar bin Khattab. Situ mau adu jelek-jelekan masa lalu? Noh sana lah diadu sama beliau ๐Ÿ˜› Beliau dulu orang yang paling keras permusuhannya dengan islam, tapi dengan hidayah dan izin Allah, menjadi salah satu khalifah penerus sesudah Rasulullah Shalallahu Alayhi Wassalam.”

    suka dgn paragraf ini, bikin semangat. ๐Ÿ™‚
    Dan menurut saya mengingatkan orang dalam kebaikan juga tidak harus secara lisan, namun bisa juga melalui perbuatan dan perilaku. karena tidak semua orang senang diceramahi ๐Ÿ˜€

    salam kenal ya mbak.

  4. Aku sadar banget sering melakukan dosa. Hati kecil sering mengingatkan, bahkan semesta pun begitu…
    Dan untuk hijrah, bagi orang yg lemah seperti aku.. perlu guardian angel…
    Jadi inget sahabat yg udah lama belum dikunjungi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s