Topeng Monyet

โ€‹di rumah mertua, kalau pagi suka ada topeng monyet lewat. si kakak sepertinya tertarik untuk melihat ada keributan apa di luar, akhirnya saya pun mengajaknya untuk melihatnya.

terlihat dua orang abang-abang, yang satu menabuh alat musik, yang satu berkeliling sambil membawa wadah untuk meminta uang. saya dan kakak melihat dari kejauhan.

kemudian si topeng monyet pindah posisi mendekat ke arah rumah mertua.

si kakak terlihat senang. sempat terbersit untuk memberi uang untuk si pawang, demi nyenengin si kakak. tapi kemudian saya merasa ada yang salah.

topeng monyet, foto bareng singa teler, show lumba-lumba, apa bedanya? membayar untuk menonton, sama saja membiarkan hewan-hewan itu dieksploitasi manusia terus. saya mah kasihan.

akhirnya, saya mengajak si kakak masuk.

“sekarang ambil uang, lah…” kata kakak

saya tadi sudah terlanjur bilang mau ambil uang.

“maaf ya kak, nggak jadi ambil uangnya. kasihan itu monyetnya dibawa-bawa. nanti kalau mau lihat monyet, minta ke kebun binatang aja ya sama bapak…”

tapi kebun binatang sendiri apa bukannya bentuk eksploitasi juga ya? ah lieur

Better Bare

โ€‹Saya lupa apa yang sedang saya dan suami saya obrolkan di perjalanan menuju Mal Kota Kasablanka sore itu, tapi tiba-tiba topik pembicaraan teralih ke seputar dandan.

(FYI, saya kalau ke luar rumah 90% nggak pernah dandan. Lempeng blas cuma pakai pelembab. Hahaha)

“Pak, kamu lebih suka aku dandan apa kayak gini aja?”

(Oh, saya jadi ingat. Kayaknya karena kita mau ke mall yang agak bagusan, saya jadi agak nggak enak sama suami karena kejarangan dandan saya, saya khawatir dia malu kalau saya jalan sama dia kalau saya terlalu kucel hahahaha)

“Bagusan gini aja.” Jawabnya datar.

“Ha, beneran? Kalau pake lipstik?”

“Bagusan gini kok.”

Saya jadi penasaran.

“Dari semua lipstik yang aku punya, kamu paling suka kalau aku pakai yang mana?”

“Gak ada.”

Buahaha. Keluarlah jawaban nan jujur itu. Aseli saya cuma ngakak pas dia jawab seperti itu, antara senang karena ada pembenaran kejarangan dandan saya, tapi sedih juga karena berarti tiap saya dandan saya terlihat kayak dakocan di mata beliau ๐Ÿ˜‚

Lalu suami saya jadi curhat. “Gini lho, aku tuh gak ngerti kenapa perempuan suka banget pakai lipstik, apalagi warna jaman sekarang yang aneh-aneh itu. Aku nggak suka banget, aku nanya cowo-cowo lain juga mereka pada nggak suka. Jadi apa tujuannya perempuan pakai lipstik aneh-aneh itu? Kalau buat menarik perhatian laki-laki, ya udah jelas gagal. Ya tapi kalau itu motivasinya hobi, aku hormati lah.

Kamu pake lipstik bagusnya warna netral deh pokoknya. Kalau warna merah pasti kacau. Coba liat tu Titi Sjuman, udah bagus dari sananya gitu, jadi ya gitu aja mukanya gak usah dandan. Chelsea Islan juga emangnya pake lipstik warna aneh-aneh?

Ada orang yang emang cocok pakai make up macam-macam, dan itu biasanya model. Kan memang tuntutan pekerjaannya begitu. Tapi ada juga orang-orang yang jauh lebih bagus tanpa make up, ya salah satunya Ibu.”

“Berarti pas kita nikah kamu pasti pengen ketawa liat mukaku.”

“Mayan.”

Sepertinya saya akan tetap ber bareface ria sampai waktu yang tidak ditentukan… Walaupun ada aja peer pressure yang komentar kok gak pernah dandan sih ๐Ÿ˜›

NHW #8

โ€‹Nice HomeWork #8

MISI HIDUP DAN PRODUKTIVITAS

Bunda, setelah di materi sesi #8 kita belajar tentang bagaimana pentingnya menemukan misi hidup untuk menunjang produktivitas keluarga. Maka saat ini kita akan lebih menggali bagaimana menerapkannya secara teknis sbb :

a. Ambil salah satu dari ranah aktivitas yang sudah teman-teman tulis di kuadran SUKA dan BISA (lihat NHW#7)

Menulis

b. Setelah ketemu satu hal, jawablah pertanyaan โ€œBE  DO HAVEโ€ di bawah ini :

1. Kita ingin menjadi apa ? (BE)

Muslimah tangguh yang siap menghadapi akhir zaman dan ajalnya

2. Kita ingin melakukan apa ? (DO)

Mendidik diri sendiri dan keluarga untuk menjadi muslim tangguh yang siap menghadapi akhir zaman

3. Kita ingin memiliki apa? (HAVE)

Ilmu untuk menghadapi fitnah akhir zaman

Ilmu syari untuk bekal mati

Tabungan akhirat

c. Perhatikan 3 aspek dimensi waktu di bawah ini dan isilah:

1. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)

Menjadi muslim yang menjalankan islam secara kaffah

2.Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan ( strategic plan)

– Berhijrah menjadi pribadi yang lebih baik

– Memasukkan anak ke sekolah islam

– Menamatkan belajar kitab islam

– Menjadi hafidz quran

3. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun ( new year resolution)

– Menamatkan kitab al adab al mufrod

– Hafal al kahfi 1-10

– Hafal juz 30

– Membiasakan adab islami di rumah dan keluarga

Mulailah dengan PERUBAHAN, karena pilihannya hanya satu BERUBAH atau KALAH

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulsi IIP/

Clutter Free Living

Sebenarnya sudah lumayan lama suami saya mengeluhkan tentang rumah kami yang selalu berantakan dan kebanyakan barang. Tapi entah kenapa juga, wacana beberes rumah selalu kalah dengan hasrat jalan-jalan di tiap akhir minggu. Yah namanya juga butuh refreshing, akhirnya kami pun cukup lama bertahan menunda-nunda membereskan rumah.

FYI, ini rumah yang kami tinggali adalah rumah Ibu saya. Karena beliau sendirian, kami juga tinggal di sini dengan menanggung sebagian besar biaya operasional rumah. Masih jauh lebih cost friendly juga daripada punya rumah sendiri, plus bantu orang tua. Rumah ini sudah ditinggali dari 2004 dan belum pernah disortir barangnya sejak saat itu, jadi bayangkan dong penuhnya kayak apa? Udah bagus nggak kayak di acara hoarders tea, hihihi.

Qadarullah, komplek rumah kami ini banyak sekali rayapnya. Rangka atap kayu kami sudah nyaris ambruk – beberapa genteng sudah berjatuhan karena kayunya sudah jebol dimakan rayap. Daripada atapnya ambruk menimpa kami lagi tidur, lebih baik nekatin saja diperbaiki sekalian. Dor, dijebollah tabungan kami.

Perbaikan atap rumah, artinya kami harus mengungsi sementara. Atap akan dibongkar yang berarti semua akan berdebu, dan kami harus merapikan semua barang dan dibungkus plastik supaya tidak kotor lagi.

Sambil beberes barang, kami baru sadar banyak banget simpanan barang nggak penting di kamar tidur kami. Percaya atau tidak, beresin kamar saya saja butuh waktu 3 hari dan dalam prosesnya menghasilkan 73 kg baju dan barang yang akan disumbangkan, belum termasuk buku. DAN ITU BELUM SELESAI.

Saya jadi ingat metode bebersih konmari ala Marie Kondo, yang intinya kita hanya boleh menyimpan barang yang membuat kita bahagia. Jika barang itu sudah lebih dari 6 bulan tidak dipakai, it’s time to let it go. Ucapkan terima kasih kepada barang itu karena sudah pernah bermanfaat bagi kita, lalu sumbangkan.

Walaupun masih banyak bagian yang belum tersentuh dibereskan di rumah saya, tapi setidaknya saya merasa kamar saya jadi jauuuhhh lebih rapi (dengan 73 kg baju keluar, berkantong-kantong sampah, dan tambahan 1 rak buku baru). Semakin sedikit barang yang kita miliki, semakin sedikit waktu yang kita butuhkan untuk merawatnya, semakin kita terhindar dari stres.

Dan inilah sejarah kenapa saya sekarang benci sama pajangan.

Pajangan walaupun bagus, membutuhkan waktu dan energi yang sangat banyak untuk merawatnya. Padahal sehari cuma 24 jam. Bersihin pajangan bisa lebih dari sejam sendiri. Mending waktunya dipakai buat belajar ngaji kali.

Semakin banyak barang yang kita miliki, semakin banyak waktu dan pikiran kita yang tersita untuk barang tersebut. Padahal dilihat juga belum tentu sebulan sekali. Karena kita terlalu sayang untuk membuang atau menyumbangkannya, akhirnya kita jadi diperbudak oleh barang-barang yang kita miliki. Padahal bermanfaat bagi kita pun tidak. Ah, mengerikan.

Makanya sekarang sebelum saya ย membeli sesuatu saya benar-benar berpikir ulang – apakah saya benar-benar butuh? Apakah saya sering memakainya? Nggak lucu kan beli barang yang cuma dipakai sekali seumur hidup dan akhirnya makan space lemari kita sampai entah berapa puluh tahun (melototin baju nikahan di lemari).

Supaya nggak stres hidup kebanyakan barang, ini beberapa tips dari saya:

  1. BELI hanya jika kita memakainya lebih dari seminggu sekali. Untuk barang-barang tertentu yang hanya dipakai kurang dari sebulan sekali, boleh dipertimbangkan untuk punya jika nilai ekonominya tinggi. Contohnya nebulizer.
  2. Kalau barang rusak, perbaiki, jangan buru-buru ganti yang baru selama biayanya masih dalam batas wajar. Bayangkan berapa banyak sampah yang kita hasilkan dengan gaya hidup dikit-dikit ganti baru itu. Saya 2 bulan sekali manggil tukang mesin cuci karena rusak, dan dia masih tetap bertahan. Hitung-hitung bagi rejeki ke tukang mesin cuci.
  3. Hanya simpan buku yang bisa dan mau kita baca berulang kali. Contohnya kitab agama, buku pengetahuan yang selalu kita praktekkan, dan novel yang memang sangat kita suka. Novel, komik atau majalah bisa dipinjam dari perpustakaan saja.
  4. Jika kita tidak pernah sentuh selama lebih dari 6 bulan atau bahkan kita lupa kalau kita punya barang itu, relakan saja. Artinya kita benar-benar nggak akan butuh lagi.
  5. Setiap benda harus punya tempatnya. Begitu benda itu tidak tahu mau ditaroh di mana, sediakan tempat atau sumbangkan.

Perjalanan hidup minimalis dan clutter free ini masih jauuuh sekali. Semoga impian hidup minimalis bisa tercapai dan rumah bisa jadi rapi. Malah enak nggak punya barang banyak, nggak ribet kan dihisabnya di akhirat ๐Ÿ˜‰

Membuka Hati kepada Mertua

โ€‹Tak kenal maka tak sayang, peribahasa ini sangat berlaku untuk hubungan kita ke keluarga baru kita setelah menikah, terutama Ibu mertua.

Entah kenapa di sinetron, novel, bahkan sampai curhatan di grup whatsapp dan facebook banyak sekali yang menghighlight tentang berbatunya hubungan mereka dengan mertua. Tentang betapa mengganggunya, betapa menyebalkannya kalau diintervensi ini dan itu. Seolah-olah mereka adalah makhluk asing yang berpotensi menimbulkan gesekan dalam pernikahan kita. Dan saya cukup yakin, ini adalah imaji terstandar tentang ibu mertua yang melekat di kepala para wanita.

Padahal ya kalau kita mau mikir, suamimu yang baik banget dan menafkahimu tanpa ngeluh itu siapa yang lahirin dan mendidik coba?

Pada pengalaman pribadi saya, saya merasa kurangnya kepercayaan terhadap mertua (dan ibu saya sendiri) karena memang pada dasarnya apapun yang mereka praktekkan dalam mengasuh anak pada saat itu belum tentu berlaku saat ini. Diperburuk dengan branding “mertua” dan “orangtua” yang begiu negatif (efek setahun jadi admin grup ibu-ibu, curhatannya mayoritas seputar konflik mertua menantu, jadi bikin stigma negatif sendiri), jadilah saya cenderung untuk tidak mau mendengar apa yang mereka katakan dan menganggap saya yang paling tahu. Because of what? Gelar sarjana kampus gajah? Yeah right…

Sampai akhirnya saya pun harus menginap di rumah mertua selama 2 mingguan karena rumah direnovasi. Karena setiap hari ketemu, akhirnya hal-hal yang dulu saya pikir “kok gini yak” akhirnya mulai saya pahami. Dan salah satu asbab saya mulai mendengar adalah… runtuhnya kesombongan saya.

Kok bisa?

Trigger pertama gara-gara ibu mertua habis nyortir hasil setrikaan dari laundry kiloan dan beliau komplain soal hasil setrikaannya. Saya yang clueless habis langsung ditanya, “kalau Rey ndak mudeng ya soal setrika begini?”. Saya cuma nyengir sambil jawab “Waduh bu, nggak ada kuliahnya ini kurikulum setrika celana.” Dan beliau pun memberikan kuliah singkat tentang cara menyetrika dan melipat celana, dan bagaimana beliau tahu dan sangat detail. Beliau memang hobi setrika sejak kecil, dan rutin melakukannya. Saya? Nyetrika kemeja suami satu aja lamanya… ๐Ÿ˜‚

Trigger kedua adalah saat ngobrol dengan ART mertua. Beliau sudah tua dan bebersih dengan sangat resik. Kebetulan sebelumnya ada ART ibu yang baru resign, dan ibu juga komplain karena kerjanya nggak bersih.

Lalu curhatlah si ART ini, “Haduh mbak, dulu waktu si mbak yang lama itu masih kerja aku dateng lengket semuanya. Atas (area basah yg sekarang jadi tempat main kucing) nggak pernah dibersihin. Aku mah ya semua digosok, mbak…”

Saya cuma bilang, “Mbak cerita ke saya juga saya nggak pinter bebersih kaya mbak, malah belum tentu lebih bersih juga dari yang kerja kemarin”

“Ya aku kan dari kecil udah kerja.. Dari zaman kelas 3 SD aku tuh malu nggak punya seragam. Makanya aku kerja cari uang, digaji enam ribu sebulan.”

Coba suruh saya sendiri bersihkan rumah, kebersihannya entahlah.. dasar generasi milenial yang selalu dilayani. Dan demikianlah tembok kesombongan saya hancur diguyur.

Setelah ngobrol dari hati ke hati, akhirnya rasa tidak percaya itu pun hilang dengan sendirinya. Ya masa mau nggak percaya sih sama orang yang sudah mendidik orang yanh jadi imam keluargamu. Tapi yang harus dipelajari adalah: penerimaan dan komunikasi.

Dulu saya kesel kalau nggak boleh nyuci baju di rumah mertua, padahal niatnya biar cepet dan meringankan. Tapi setelah paham bahwa ibu mertua ini soal beberes rumah SOP nya ketat, ya saya jadi santai aja. Beliau lebih suka mengumpulkan cucian sampai buanyaaak baru disortir dan dicuci berdasarkan warna. Beda sama rumah saya yang nyuci tiap hari (aliran cuci kering pake). Ya berdamai lah akhirnya dengan hemat-hemat baju.. hahaha

Dulu saya kesel karena suka dilarang cuci piring sama mertua, padahal mah niatnya membantu. Saya sekarang mengerti beliau suka gemes kalau pekerjaan rumah tangga tidak sesuai dengan SOP beliau ๐Ÿ˜‚ Tapi sepertinya beliau juga sudah lebih nrimo dan membiarkan saya cuci piring dan memasak di dapurnya (tapi beliau nggak lihat, kalau bareng di dapur mungkin beliau bisa stres lihat cara masak saya hihihi). Yah itulah, beda cara geprek bawang aja suka jadi keki. Emang pinter nih setan menghembuskan perpecahan. Padahal mah ya Ibu mertua saya tuh baik lho (emang ada ya ibu mertua jahat?).

Jadi malu deh ketahuan pernah sombong dan tengil. Semoga cerita saya bisa jadi ibroh untuk pembaca dan pengingat untuk diri saya. Know your family to love them better. Tak kenal maka tak sayang ๐Ÿ˜‰

NHW #7

โ€‹๐Ÿ€ Ketahuilah tipe kekuatan diri (strenght typology) teman-teman, dengan cara sbb :

1โƒฃmasuk ke http://www.temubakat.com

2โƒฃisi nama lengkap anda, dan isi nama organisasi : Ibu Profesional
jawab Questioner yang ada disana, setelah itu download hasilnya

3โƒฃAmati hasil dan konfirmasi ulang dengan apa yg anda rasakan selama ini.

– Strength saya sesuai dengan jurusan kuliah saya dan bisnis yang saya jalankan sebagai arsitek dan pengusaha furniture (designer, arranger, analyst, producer, creator)

– Strength saya sesuai dengan cita-cita sebagai pendidik anak (educator, intrepeter)

– Strength saya sesuai dengan hobi menulis saya (interpreter, journalist)

– Beberapa strength yang dulu saya miliki sekarang menjadi hilang seiring dengan perubahan watak (dulu saya termasuk tipe commander, evaluator, mediator). Strength tersebut dulu saya miliki karena saya sangat menyibukkan diri dengan kegiatan kepanitiaan di kampus dan ospek, dan membentuk saya menjadi pribadi yang keras. Namun setelah menikah dengan suami karakter tersebut saya hilangkan untuk menghindari konflik dengan suami

– Ambassador termasuk sebagai kekurangan saya, namun sebenarnya saya orang yang supel dan cukup mudah bergaul dengan orang lain. Saya tidak memilih ambassador sebagai strength karena saya tidak percaya diri merepresentasikan diri saya dari perwakilan suatu organisasi.

4โƒฃ Lampirkan hasil ST30 (Strenght Typology) di Nice Homework #7

๐Ÿ€ Buatlah kuadran aktivitas anda, boleh lebih dari 1 aktivitas di setiap kuadran

Kuadran  1 : Aktivitas yang anda SUKA dan anda BISA

– menggambar

– mendesain

– menulis

– berbelanja furnitur dan material bangunan ke toko

Kuadran 2  : Aktivitas yang anda SUKA tetapi  andaTIDAK BISA

– membereskan rumah

– bermain dengan anak

Kuadran 3 : Aktivitas yang anda TIDAK SUKA tetapi anda  BISA

– pekerjaan administratif

Kuadran 4: Aktivitas yang anda TIDAK SUKA dan anda TIDAK BISA

– segala hal yang berhubungan dengan fisika

Selebgram

โ€‹Bagaimana kau menghidupi dirimu?

.

.

.

Aku?

Aku menjual hidupku

Dengan ceritaku

Mengencani dia

Berteman dengan siapa

Dengan unggahan aneka warna

Membuatmu merasa

Hidupku sempurna

Hidup yang kujual padamu

Untuk kau nikmati

Dan kau komentari

Dan aku akan berkata

Peduli setan apa kata mereka

Karena ini hidupku

Hidup yang kujual padamu

Untuk kau nikmati

Dan membuatmu iri

Karena ibumu

Tak kan izinkanmu

Umbar kemesraan dengan kekasihmu

Dukung aku

Atau tutup mulutmu

Toh kau tak kan mampu

Membeli dunia imajiku