Membuka Hati kepada Mertua

​Tak kenal maka tak sayang, peribahasa ini sangat berlaku untuk hubungan kita ke keluarga baru kita setelah menikah, terutama Ibu mertua.

Entah kenapa di sinetron, novel, bahkan sampai curhatan di grup whatsapp dan facebook banyak sekali yang menghighlight tentang berbatunya hubungan mereka dengan mertua. Tentang betapa mengganggunya, betapa menyebalkannya kalau diintervensi ini dan itu. Seolah-olah mereka adalah makhluk asing yang berpotensi menimbulkan gesekan dalam pernikahan kita. Dan saya cukup yakin, ini adalah imaji terstandar tentang ibu mertua yang melekat di kepala para wanita.

Padahal ya kalau kita mau mikir, suamimu yang baik banget dan menafkahimu tanpa ngeluh itu siapa yang lahirin dan mendidik coba?

Pada pengalaman pribadi saya, saya merasa kurangnya kepercayaan terhadap mertua (dan ibu saya sendiri) karena memang pada dasarnya apapun yang mereka praktekkan dalam mengasuh anak pada saat itu belum tentu berlaku saat ini. Diperburuk dengan branding “mertua” dan “orangtua” yang begiu negatif (efek setahun jadi admin grup ibu-ibu, curhatannya mayoritas seputar konflik mertua menantu, jadi bikin stigma negatif sendiri), jadilah saya cenderung untuk tidak mau mendengar apa yang mereka katakan dan menganggap saya yang paling tahu. Because of what? Gelar sarjana kampus gajah? Yeah right…

Sampai akhirnya saya pun harus menginap di rumah mertua selama 2 mingguan karena rumah direnovasi. Karena setiap hari ketemu, akhirnya hal-hal yang dulu saya pikir “kok gini yak” akhirnya mulai saya pahami. Dan salah satu asbab saya mulai mendengar adalah… runtuhnya kesombongan saya.

Kok bisa?

Trigger pertama gara-gara ibu mertua habis nyortir hasil setrikaan dari laundry kiloan dan beliau komplain soal hasil setrikaannya. Saya yang clueless habis langsung ditanya, “kalau Rey ndak mudeng ya soal setrika begini?”. Saya cuma nyengir sambil jawab “Waduh bu, nggak ada kuliahnya ini kurikulum setrika celana.” Dan beliau pun memberikan kuliah singkat tentang cara menyetrika dan melipat celana, dan bagaimana beliau tahu dan sangat detail. Beliau memang hobi setrika sejak kecil, dan rutin melakukannya. Saya? Nyetrika kemeja suami satu aja lamanya… πŸ˜‚

Trigger kedua adalah saat ngobrol dengan ART mertua. Beliau sudah tua dan bebersih dengan sangat resik. Kebetulan sebelumnya ada ART ibu yang baru resign, dan ibu juga komplain karena kerjanya nggak bersih.

Lalu curhatlah si ART ini, “Haduh mbak, dulu waktu si mbak yang lama itu masih kerja aku dateng lengket semuanya. Atas (area basah yg sekarang jadi tempat main kucing) nggak pernah dibersihin. Aku mah ya semua digosok, mbak…”

Saya cuma bilang, “Mbak cerita ke saya juga saya nggak pinter bebersih kaya mbak, malah belum tentu lebih bersih juga dari yang kerja kemarin”

“Ya aku kan dari kecil udah kerja.. Dari zaman kelas 3 SD aku tuh malu nggak punya seragam. Makanya aku kerja cari uang, digaji enam ribu sebulan.”

Coba suruh saya sendiri bersihkan rumah, kebersihannya entahlah.. dasar generasi milenial yang selalu dilayani. Dan demikianlah tembok kesombongan saya hancur diguyur.

Setelah ngobrol dari hati ke hati, akhirnya rasa tidak percaya itu pun hilang dengan sendirinya. Ya masa mau nggak percaya sih sama orang yang sudah mendidik orang yanh jadi imam keluargamu. Tapi yang harus dipelajari adalah: penerimaan dan komunikasi.

Dulu saya kesel kalau nggak boleh nyuci baju di rumah mertua, padahal niatnya biar cepet dan meringankan. Tapi setelah paham bahwa ibu mertua ini soal beberes rumah SOP nya ketat, ya saya jadi santai aja. Beliau lebih suka mengumpulkan cucian sampai buanyaaak baru disortir dan dicuci berdasarkan warna. Beda sama rumah saya yang nyuci tiap hari (aliran cuci kering pake). Ya berdamai lah akhirnya dengan hemat-hemat baju.. hahaha

Dulu saya kesel karena suka dilarang cuci piring sama mertua, padahal mah niatnya membantu. Saya sekarang mengerti beliau suka gemes kalau pekerjaan rumah tangga tidak sesuai dengan SOP beliau πŸ˜‚ Tapi sepertinya beliau juga sudah lebih nrimo dan membiarkan saya cuci piring dan memasak di dapurnya (tapi beliau nggak lihat, kalau bareng di dapur mungkin beliau bisa stres lihat cara masak saya hihihi). Yah itulah, beda cara geprek bawang aja suka jadi keki. Emang pinter nih setan menghembuskan perpecahan. Padahal mah ya Ibu mertua saya tuh baik lho (emang ada ya ibu mertua jahat?).

Jadi malu deh ketahuan pernah sombong dan tengil. Semoga cerita saya bisa jadi ibroh untuk pembaca dan pengingat untuk diri saya. Know your family to love them better. Tak kenal maka tak sayang πŸ˜‰

Advertisements

2 thoughts on “Membuka Hati kepada Mertua

  1. Baca tulisan ini jadi kangen kangen gimana gitu sama ibu mertua hehe
    Saya jg kadang pernah ngerasa ga sreg dengan ibu mertua, namun setelah saya mencoba mengenalinya lagi, ternyata beliau adalah orang yg sangat baik hehe. Memang perlu membuka hati pada mereka yah dan menanamkan pikiran kalau mereka juga orang tua bukan sekedar “mertua”

  2. di awal pernikahan saya juga ngrasa takut nggak nyambung sama mertua, tapi sekarang karena lebih membuka hati, gak seberat yang dibayangkan sebelumnya. malah saya banyak belajar dari beliau cara mengurus rumah & cara menangani anak waktu sakit. ternyata mertua gak seseram kayak di sinetron hahahha..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s