Clutter Free Living

Sebenarnya sudah lumayan lama suami saya mengeluhkan tentang rumah kami yang selalu berantakan dan kebanyakan barang. Tapi entah kenapa juga, wacana beberes rumah selalu kalah dengan hasrat jalan-jalan di tiap akhir minggu. Yah namanya juga butuh refreshing, akhirnya kami pun cukup lama bertahan menunda-nunda membereskan rumah.

FYI, ini rumah yang kami tinggali adalah rumah Ibu saya. Karena beliau sendirian, kami juga tinggal di sini dengan menanggung sebagian besar biaya operasional rumah. Masih jauh lebih cost friendly juga daripada punya rumah sendiri, plus bantu orang tua. Rumah ini sudah ditinggali dari 2004 dan belum pernah disortir barangnya sejak saat itu, jadi bayangkan dong penuhnya kayak apa? Udah bagus nggak kayak di acara hoarders tea, hihihi.

Qadarullah, komplek rumah kami ini banyak sekali rayapnya. Rangka atap kayu kami sudah nyaris ambruk – beberapa genteng sudah berjatuhan karena kayunya sudah jebol dimakan rayap. Daripada atapnya ambruk menimpa kami lagi tidur, lebih baik nekatin saja diperbaiki sekalian. Dor, dijebollah tabungan kami.

Perbaikan atap rumah, artinya kami harus mengungsi sementara. Atap akan dibongkar yang berarti semua akan berdebu, dan kami harus merapikan semua barang dan dibungkus plastik supaya tidak kotor lagi.

Sambil beberes barang, kami baru sadar banyak banget simpanan barang nggak penting di kamar tidur kami. Percaya atau tidak, beresin kamar saya saja butuh waktu 3 hari dan dalam prosesnya menghasilkan 73 kg baju dan barang yang akan disumbangkan, belum termasuk buku. DAN ITU BELUM SELESAI.

Saya jadi ingat metode bebersih konmari ala Marie Kondo, yang intinya kita hanya boleh menyimpan barang yang membuat kita bahagia. Jika barang itu sudah lebih dari 6 bulan tidak dipakai, it’s time to let it go. Ucapkan terima kasih kepada barang itu karena sudah pernah bermanfaat bagi kita, lalu sumbangkan.

Walaupun masih banyak bagian yang belum tersentuh dibereskan di rumah saya, tapi setidaknya saya merasa kamar saya jadi jauuuhhh lebih rapi (dengan 73 kg baju keluar, berkantong-kantong sampah, dan tambahan 1 rak buku baru). Semakin sedikit barang yang kita miliki, semakin sedikit waktu yang kita butuhkan untuk merawatnya, semakin kita terhindar dari stres.

Dan inilah sejarah kenapa saya sekarang benci sama pajangan.

Pajangan walaupun bagus, membutuhkan waktu dan energi yang sangat banyak untuk merawatnya. Padahal sehari cuma 24 jam. Bersihin pajangan bisa lebih dari sejam sendiri. Mending waktunya dipakai buat belajar ngaji kali.

Semakin banyak barang yang kita miliki, semakin banyak waktu dan pikiran kita yang tersita untuk barang tersebut. Padahal dilihat juga belum tentu sebulan sekali. Karena kita terlalu sayang untuk membuang atau menyumbangkannya, akhirnya kita jadi diperbudak oleh barang-barang yang kita miliki. Padahal bermanfaat bagi kita pun tidak. Ah, mengerikan.

Makanya sekarang sebelum saya  membeli sesuatu saya benar-benar berpikir ulang – apakah saya benar-benar butuh? Apakah saya sering memakainya? Nggak lucu kan beli barang yang cuma dipakai sekali seumur hidup dan akhirnya makan space lemari kita sampai entah berapa puluh tahun (melototin baju nikahan di lemari).

Supaya nggak stres hidup kebanyakan barang, ini beberapa tips dari saya:

  1. BELI hanya jika kita memakainya lebih dari seminggu sekali. Untuk barang-barang tertentu yang hanya dipakai kurang dari sebulan sekali, boleh dipertimbangkan untuk punya jika nilai ekonominya tinggi. Contohnya nebulizer.
  2. Kalau barang rusak, perbaiki, jangan buru-buru ganti yang baru selama biayanya masih dalam batas wajar. Bayangkan berapa banyak sampah yang kita hasilkan dengan gaya hidup dikit-dikit ganti baru itu. Saya 2 bulan sekali manggil tukang mesin cuci karena rusak, dan dia masih tetap bertahan. Hitung-hitung bagi rejeki ke tukang mesin cuci.
  3. Hanya simpan buku yang bisa dan mau kita baca berulang kali. Contohnya kitab agama, buku pengetahuan yang selalu kita praktekkan, dan novel yang memang sangat kita suka. Novel, komik atau majalah bisa dipinjam dari perpustakaan saja.
  4. Jika kita tidak pernah sentuh selama lebih dari 6 bulan atau bahkan kita lupa kalau kita punya barang itu, relakan saja. Artinya kita benar-benar nggak akan butuh lagi.
  5. Setiap benda harus punya tempatnya. Begitu benda itu tidak tahu mau ditaroh di mana, sediakan tempat atau sumbangkan.

Perjalanan hidup minimalis dan clutter free ini masih jauuuh sekali. Semoga impian hidup minimalis bisa tercapai dan rumah bisa jadi rapi. Malah enak nggak punya barang banyak, nggak ribet kan dihisabnya di akhirat 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s