Menyelamatkan Fitrah Anak

Ada suatu masa di mana si kakak mendapatkan perlakuan “gadget and tv free” – bebas pakai tv dan gadget kapan saja.

Awalnya karena saya perlu beradaptasi setelah melahirkan adiknya. Apalagi si adik kalau menyusu, maunya suasana tenang di kamar sambil ngadem. Jadilah si kakak ditinggal di bawah dengan ART, yang karena lagi sibuk mengerjakan yang lain, akhirnya si kakak dikasih nonton TV.

Kalau sudah di atas adzan isya, saya selalu tepar karena seharian menyiapkan kebutuhan anak-anak dan rumah. Apalagi si adik yang sudah mulai makan. Apalagi kalau nenek sudah pulang, si kakak langsung minta ke kamar nenek. Di kamar nenek, ujung-ujungnya si kakak pun bebas nonton youtube karena nenek sibuk, sering bawa pulang kerjaan kantor ke rumah.

Awalnya rasanya baik-baik saja – saya bisa istirahat sejenak, mengurus adik, whatsappan atau fesbukan. Me time gitu ceritanya.

Sampai suatu hari saya menyadari bahwa sebagian besar waktu si kakak banyak habis untuk nonton tv. Sementara saya rempong mengerjakan hal yang lain. Dan si kakak tiba-tiba menjadi si kakak yang berbeda dengan 1,5 tahun yang lalu.

Iya, seiring bertambah usia anak akan berubah. Tapi perubahan ini sangat mengkhawatirkan. Tiba-tiba si kakak suka memukul dan jadi agresif. Sering bicara nggak jelas. Bahkan nggak bisa diajak berkomunikasi sama sekali dengan saya.

Saya patah hati.

Sebagai Ibunya, saya tahu jelas penyebabnya: terlalu banyak nonton TV dan gadget. Bukan hanya kepada dia, tapi juga kepada saya. Frekuensi cek HP yang terlalu sering membuat mata saya cepat lelah, dan kalau saya lelah saya jadi cepat marah. Saya lelah, lalu saya berikan HP supaya dia anteng dan saya bisa istirahat. Begitu terus jadi lingkaran setan.

Sungguh menghancurkan hati saya saat saya merasa kesulitan berkomunikasi dengan dia, dan bahkan dia cenderung banyak menghindar dari saya. Anak kecil yang dulu senang mengikuti bacaan al-fatihah itu kini relung hatinya sudah tergantikan dengan video-video youtube, boboboi dan entah film apa lagi.

Suatu hari saya tak sengaja melihat seorang teman membagikan tulisan Sarra Risman di linimasa facebook saya. Kurang lebih intinya; ia terkadang merasa kesal dengan anaknya yang menurutnya sering malas. Namun ia lun berkaca kepada diri sendiri: inilah bentuk kegagalannya menjaga fitrah anaknya sehingga menjadi seperti itu.

Menjaga fitrah anak.

Seorang anak fitrahnya tentu baik, orangtuanyalah yang mengarahkanmya menuju kebaikan atau keburukan.

Saya ingat suami saya pernah berpesan: mata dan telinga adalah jendela hati.

Dan seorang anak adalah peniru paling ulung atas sesuatu yang dilihatnya.Bisa memukul dan ngoceh nggak jelas itu dari mana contohnya?

Saya berusaha mengingat perjalanan hidup saya sejak mulai bisa mengingat sampai sekarang.

Waktu SMP dulu, semua anak perempuan berlomba-lomba mengecilkan baju. Baju yang terlalu pendek akan dicoret spidol atau digunting – tapi entah kenapa senior-senior yang bajunya digunting itu malah terlihat bangga. Mereka terlihat keren.

Saat itu saya mau jadi keren juga, maka sayapun ikut mengecilkan baju.

Dipikir-pikir, trend baju ketat itu sepertinya diprakarsai oleh sinetron “Amanda” yang dibintangi Agnes Monica. Memperlihatkan karakter anak sekolah badung berbaju ketat yang terlihat kereeenn sekali. Dan itu disiarkan tiap hari. Membuat jutaan anak sekolah di Indonesia berpikir bahwa baju ketat dan melawan guru itu keren.

Dan masih banyak hal yang tanpa sadar kita perbuat karena sekedar ikut-ikutan. Ingin punya pacar karena semua kakak kelas punya pacar dan terlihat bahagia. Ikutan memberikan coklat di hari valentine karena di komik Cardcaptor Sakura dicontohkan seperti itu. Ikutan bilang “Aku pulang!”, Bukan “Assalamualaykum” saat pulang ke rumah karena Nobita melakukan hal itu. Mempertimbangkan untuk “nembak” cowok yang disuka karena majalah Kawanku bilang hal itu wajar-wajar saja.

Seorang bocah labil tanpa moral compass yang jelas, terombang-ambing dalam derasnya arus informasi. Dan itu kisah tahun 2000-an, zaman di mana media sosial yang eksis masih mIRC.

Saya sangat gelisah dengan tontonan disney channel yang entah apa konten dan pesan moral ceritanya. Saya nggak pernah suka dengan kartun Boboboi – tidak ada pesan moral dan karakternya tidak simpatik buat saya. Saat anak saya menonton film itu, apa yang terserap dan tertiru olehnya?

Apakah saya suka saat anak saya meniru-niru frase dari film yang dia tonton? Tidak.

Saya maunya anak saya jadi anak soleh, hafidz qur’an. Tapi apa figur anak seperti itu bisa didapatkan dengan ongkang-ongkang kaki sambil dibiarin nonton semaunya? Emangnya bisa jadi anak gitu kalau orangtuanya doyannya whatsappan di grup Ibu-ibu (walaupun ceritanya membahas pendidikan anak), bukannya main sama anaknya? Menurut ngana?

Sampai akhirnya saya memutuskan untuk mematikan TV total dan sangat membatasi penggunaan HP. Saya sangat meminimalisir penggunaan HP di depan anak saya supaya dia tidak ikutan minta HP saya dan jadi bertingkah aneh.

Terima kasih kepada kelas bunda sayang di IIP Jakarta, saya jadi lebih mudah menentukan prioritas kegiatan harian saya di rumah, terutama yang bersinggungsn dengan gadget:

1. kebutuhan primer diri (makan, obat, sholat)

2. Kebutuhan anak&anak (siapin makan, mandiin, asi, temenin main)

3. Suami dan pekerjaan (jadi cuma ngewaro wa suami, klien dan vendor) oh iya plus kelas pemgembangan diri.

4. Pekerjaan rumah tangga (nyuci piringz sapu, pel, beberes) – biasanya ada ART tapi beliau lg izin hampir 2 minggu krn suaminya sakit.

Dulu saya menghabiskan banyak waktu untuk scroll pembicaraan di grup WA, alhamdulillah sekarang udah ada 56 chats yang nggak saya waro hahaha.. karena mereka tidak masuk ke dalam 4 poin di atas. Kalau istilahnya di IIP “menarik tapi tidak tertarik” :p

—-

Sudah dua minggu lamanya saya menjalankan program detox ini. Saya dan anak tidak menonton TV seharian (tapi ada kecolongan sekitar 2 jam di rumah sakit krn lagi opname). Youtube sudah stop sama sekali. Penggunaan HP bagi saya diminimalisir dengan cek WA seperlunya. Anak saya sudah tidak pegang HP sama sekali. Setiap hari saya setel murotal qur’an.

Hasilnya?

Setiap hari bisa baca sekitar 5 buku. Bahkan buku Muhammad Teladanku yang dulu 1 subjudul aja dibacain anaknya kabur, sekarang bisa anteng ampe dibacain 4 subjudul.

Jadi gampang diajak bicara santai hati ke hati, momen yang nggak bisa ketemu kalau HP ada di tangan. Biasanya sebelum tidur bisa ditanya “Allah dimana?” “Allah di atas arsy”. Dan diselipin pujian positif seperti “wah kakak hebat ya sudah bisa ajak adik main, Allah suka lho.” Dan lama-lama dia juga ngerti, kadang setiap habis berbuat baik (misal bantu taro baju di tempat baju kotor) dia suka ngomong sendiri “Sayf hebat ya! Allah suka!” 😂

Jadi sangat nggak agresif ke adiknya. Biasanya bisa sampe dorong-dorong agak kasar, sekarang dia cenderung menjaga adiknya (kalau ada barang aneh mau dimakan adiknya langsung diambil, dikasih ganti mainan).

Buat saya, nggak ada TV dan jarang ambil HP jadinya nggak capek mata, jadi fisik nggak cepat lelah. Tanpa TV hari terasa lebih panjang dan saya bisa bertahan sampai ngelonin anaknya tidur (yang artinya: bisa ajarin doa sblm tidur etc) tanpa tepar. Dan saya jadi eling dan nggak gampang marah! Alhamdulillah.

Bagaimanapun pertolongan Allah lah yang membalikkan hati saya sehingga saya greget banget untuk menjauhkan diri dan keluarga saya dari hal-hal yang tidak bermanfaat.

Yang tidak kalah penting lagi adalah… Minta maaf kepada anak.

Betapa tiga tahun ini, kok saya bodoh sekali, seperti nggak serius dalam menjaga fitrah anak saya. Tidak memfilter mata dan telinganya dengan kalimat-kalimat yang baik. Bahkan malah bonus diomelin pula kalau sedang bertingkah.

Beberapa hari terakhir sebelum saya melakukan detox itu, saya seperi melihat marah di sorot matanya, dan setiap saya ajak bicara dia nggak waro saya..beneran saya sampai nangis-nangis.

Dan sembari detox itu, saya hanya bisa minta maaf setulusnya kepada si kakak.. Betapa ibunya ini masih jauh dari sempurna. Ah jadi cirambay lagi kalau diinget. Minta maaf atas kata dan perbuatan yang sudah merusak fitrahnya. Berserah kepada Allah, minta diampuni dosa-dosa yang pernah kita perbuat kepada anak kita.

Saya benar-benar desperate melihat kondisi si kakak waktu itu, dan merasa sangat marah pada diri saya sendiri karena sudah membuat si kakak jadi seperti itu. Tapi di titik itu saya berserah seluruhnya kepada Allah. Mohon petunjuk-Nya bagaimana supaya dia kembali ke fitrahnya. Semacam pertobatan dalam mendidik anak, saya ingin memulai semua dari awal lagi.

Dua minggu berlalu, dan saya merasa lebih penuh cinta kepada anak saya.

Seperti ada tombol yang menyala di dalam otak saya, kini saya benar-benar aware terhadap apa input yang masuk kepada anak saya. Jika saya berikan ia tontonan A, apa yang bisa ia lihat? Adakah itu merusak fitrahnya? Ridhakah Allah jika anak saya melihatnya?

Mata dan telinga adalah jendela hati.

Sekarang saya mengerti kenapa beberapa teman saya bertahan dengan hidup tanpa TV, dan kenapa Ustadz Khalid Basalamah selalu mendengarkan murotal setiap bepergian ke tempat yang penuh musik.

Advertisements

One thought on “Menyelamatkan Fitrah Anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s