Melanjutkan Perjalanan

Sore itu saya sedang mengambil uang di ATM, saat saya tak sengaja melihat ada panggilan tak terjawab dari suami saya. Tumben ada telepon sore begini, pikir saya. Curiga ada yang penting, saya pun menelponnya.

“Bu, si M meninggal.”

“Hah? Siapa?”

“Si M,” suami saya menyebutkan nama temannya dari SMA.

Saya terkejut. Ingatan saya kembali ke sekitar 2 tahun yang lalu, saat kami makan siang bersama M dan seorang teman lainnya. Si M adalah sosok yang bersahaja – ia seringkali terlihat canggung dan tidak percaya diri, tapi ia adalah seseorang yang berakhlak baik. Terakhir kali kami berkumpul bersama adalah atas inisiatifnya untuk mengumpulkan lagi teman-teman SMA nya yang sudah jarang bertemu.

“Kenapa? Kok bisa?” Saya bertanya. Lutut saya agak lemas mendengar berita kepergiannya yang tiba-tiba.

“Nggak tau, aku baru dengar katanya serangan jantung. Ini aku segera ke rumahnya sekarang.”

“Oke, kabarin ya nanti.”

Saya menutup pembicaraan. Singkat cerita, suami dan teman-temannya segera berkumpul di rumah M dan menshalati beliau. Setelah itu, suami saya kembali ke kantornya. Saat itu suami belum mendapat cerita lengkap tentang kepergian beliau – Ibunya hanya berkata saat itu M sedang berada di rumah sakit dan tiba-tiba pihak RS menghubungi Ibunya dan menyampaikan bahwa M telah tiada. Suasana yang tidak kondusif juga membuat suami saya urung untuk bertanya lebih detail.

Dua minggu berselang setelah kepergian M, suami saya bertamu kembali ke rumah M untuk menyampaikan uang duka dari teman-teman. Saat itulah Ibu M akhirnya bercerita panjang tentang akhir hidup M.

Seminggu sebelum M wafat, suami saya sempat berkunjung ke rumahnya. Setelah itu, M sempat bertanya kepada Ibunya, “Mak, kira-kira Rama bakal mampir ke sini lagi nggak ya?”

“Nggak tau, emang kenapa?”

“Saya pengen ngobrol aja… Kayaknya ada pertanyaan di kepala ini yang cuma dia yang bisa jawab.”

“Ya telepon aja, ajak ketemu.”

“Nggak lah, Bu. Nggak enak.”

Hati suami saya agak mencelos saat menceritakan hal ini.

Beberapa hari kemudian, tiba-tiba M berkata kepada Ibu dan keluarganya.

“Mak, kayaknya Saya mau meninggal deh.”

Ibunya tentu saja kaget, karena M sehat-sehat saja. Selera makan pun masih baik. Sama sekali tidak terlihat seperti orang sakit atau mau meninggal. Tapi M hanya menanggapinya dengan, “Ya gimana ya rasanya… Pokoknya saya ngerasa aja, saya mau meninggal.”

Hari-hari berikutnya dihabiskan M untuk menghubungi dan menemui kawan-kawan lamanya. Setiap pagi, ia berjalan di daerah rumahnya, bertemu para tetangga dan memohon maaf jika ada kesalahan. Seringkali Ibu dan adiknya memergoki M sedang berdzikir di waktu luangnya, bahkan sekali waktu adik M memergoki M sendirian di kamarnya, sedang menyanyikan lagu Bimbo sembari menangis,

“Akan datang hari

Mulut dikunci

Kata tak ada lagi

Akan tiba masa

Tak ada suara

Dari mulut kita

Berkata tangan kita

Tentang apa yang dilakukannya

Berkata kaki kita

Kemana saja dia melangkahnya

Tidak tahu kita

Bila harinya

Tanggung jawab tiba

Rabbana…

Tangan kami

Kaki kami

Mulut kami

Mata hati kami

Luruskanlah, kukuhkanlah

Di jalan cahaya sempurna

Mohon karunia

Kepada kami

Hamba-Mu yang hina

Sehari sebelum wafat, M tidak masuk kantor. Katanya ia mau di rumah saja. M pun menghabiskan harinya dengan berdzikir di kamarnya.

Ibunya yang khawatir, akhirnya membujuknya untuk pergi ke dokter, walaupun secara fisik M tampak baik-baik saja. Saya lupa cerita detail di sini, namun karena kondisi fisik M yang baik, Bapak M sempat meninggalkan M di RS sendirian.

Setelah itu tiba-tiba kondisi M memburuk. Tiba-tiba M tidak bisa makan dan minum, apapun yang dikonsumsi langsung dimuntahkan. Ditambah lagi dengan tekanan darahnya yang sangat tinggi, membuat tenaga kesehatan tidak bisa memasukkan obat apapun untuk memperbaiki kondisinya secara oral maupun intravena.

Setelah itu kondisi M langsung memburuk. Siangnya, M telah tiada.

Saya dan suami jadi merenungi, bagaimana bisa seseorang mendapatkan pesan yang begitu kuat bahwa sebentar lagi dia akan dijemput? Mungkin M ini adalah satu dari sedikit orang yang terkenal di akhirat, tapi tidak terlalu terkenal di dunia. Kami pun bertanya-tanya, jika waktunya nanti datang, akankah kami menyadarinya?

Dan setelah kepergiannya barulah terungkap kebaikan-kebaikannya, hal yang seringkali terabaikan semasa hidupnya di dunia.

Saat nanti kami harus melanjutkan perjalanan, akankah kami diberitahu bahwa kendaraan akan segera menjemput?

Saat nanti kami harus melanjutkan perjalanan, apakah cukup bekal kami?

Saat nanti kami harus melanjutkan perjalanan, apa kenangan yang tersisa dari orang yang mengenal kami?

Saat nanti kami harus melanjitkan perjalanan, tiket ke mana yang kami pegang?

Advertisements

Aneh

Tetangga depan kami, Pak D, bekerja di sebuah dinas pelayanan publik di Jakarta. Jabatan beliau sudah cukup tinggi, setiap hari beliau dijemput mobil dinas. Suami saya terkadang mengobrol dengan Pak D saat bertemu di masjid. Saya pun cukup akrab dengan istrinya, Bu C.

Keluarga mereka ini cukup nyunnah. Setiap adzan berkumandang, kalau sedang ada di rumah, Pak D dan anak sulungnya yang laki-laki langsung bersiap menuju masjid. Tentu saja Pak D berjanggut dan bercelana cingkrang. Beberapa waktu yang lalu, Pak D bahkan membeli seperangkat alat panahan. Anak sulungnya sekarang belajar di pesantren tahfidz di Aceh, kampung halaman istrinya.

Beberapa kali mengobrol dengan suami saya, Pak D menceritakan betapa sulitnya menjalankan sunnah di kantornya. Entah mengapa, walaupun di kantornya sebagian besar beragama islam, setiap ada yang berpenampilan nyunnah sedikit seringkali disindir-sindir, bahkan sampai bisa dimutasi. Pak D sebagai pejabat dengat pangkat yang sudah cukup tinggi akhirnya sering pasang badan untuk membela staf-staf yang diperlakukan tidak adil. 

Suami saya sangat bingung dengan fenomena ini. Suami saya bekerja di perusahaan join operation antara perusahaan Indonesia (yang dimilili keturunan Cina) dan perusahaan e-commerce Cina. Mayoritas atasan dan karyawan kantor adalah non muslim. Namun mereka tidak ada yang mempermasalahkan penampilan suami saya. Suami saya sudah menyampaikan tentang jadwal ibadahnya dan bagaimana dia berharap agar pekerjaan kantor bisa tetap bersinergi dengan kegiatan ibadah, dan Bosnya hanya bilang “Nggak masalah, kamu silakan atur saja.”

Aneh saat suami saya yang minoritas tetap dihormati oleh mayoritas, namun rekan kerja Pak D yang mayoritas tidak dihormati oleh yang mayoritas.

Namun, terlepas dari menjadi mayoritas ataupun minoritas, bukankah sebagai sesama manusia kita harus saling menghormati?

Family Project 1

Kembali lagi bersama tugas kelas Bunda Sayang dari IIP, kali ini kami diminta untuk membuat family project yang melibatkan seluruh anggota keluarga. Kebetulan sekali, di rumah ada project yang sudah 3 bulan nggak selesai-selesai, yaituuu…

Beberes rumah!

Setelah diskusi dengan suami, kami memutuskan untuk mencoba fokus di 2 proyek, yaitu:

1. Sudut Bermain Anak

Di rumah ada satu sudut yang isinya adalah 2 kontainer besar berisi mainan, carseat dan banyak mainan yang masih belum bertuan. Rencana kami adalah:

A. Menyortir mainan (simpan, sumbangkan, buang) karena beberapa mainan sudah rusak atau pecah, berhubung adiknya sedang fase oral, kami ingin agar rumah bebas dari printilan mainan yang mungkin tertelan. Ibu akan membimbing kakak untuk memilah mainan.

B. Menyusun mainan di laci penyimpanan. Urusan pengadaan laci dan angkut-angkut kami serahkan kepada Bapak 😀

C. Membuang mainan yang sudah tidak terpakai – dibantu Bapak

D. Mengemas mainan yang akan disumbangkan – Ibu dibantu Kakak

E. Menyalurkan mainan kepada pihak yang membutuhkan (via ekspedisi) – Bapak
2. Memilah Pakaian Untuk Disumbangkan

Sebenarnya ini sudah dikerjakan oleh Bapak, namun belum sempat dikemas untuk disalurkan. Pakaian Ibu sudah disumbangkan sejak 3 bulan yang lalu. Jadi yang akan dikerjakan adalah:

A. Mengemas pakaian Bapak untuk disumbangkan – Ibu dibantu kakak

B. Mengirimkan pakaian ke ekspedisi -Bapak

Demikian rencana family project, semoga berhasil di tengah segala kesibukan 🙂