Halal dan Thayyib

Sebagian besar dari kita kaum muslimin sangatlah peduli dengan kehalalan apa yang dikonsumsinya. Banyak dari kita yang sudah mempelajari titik-titik kritis dari produk makanan, dan mulai memahami bahwa tidak halal bukan sekedar babi dan miras saja. Sebagian memilih untuk mengkonsumsi hanya produk yang bersertifikat halal MUI (yang tidak bersertifikat belum pasti haram ya, hukum dasar semua hal dunia adalah halal kecuali ada dalil yang mengharamkan. Biasanya kalau ke gerai tak ber-SH misalnya nasgor gerobakan bisa ditanya pakai arak/angciu/nama bahan mencurigakan lainnya atau nggak). Begitupun untuk fashion, semakin banyak orang yang berhati-hati supaya tidak salah beli sepatu atau tas yang terbuat dari kulit babi, bahkan sebuah merk dagang hijab mengklaim bahwa hijabnya tersertifikasi halal.

Namun banyak dari kita yang melupakan bahwa bersama halal ada juga thayyib – baik. Berapa banyak dari kita yang memakan makanan halal tapi tidak thayyib?

Perumpamaannya seperti ini. Saat kita lapar dan ingin makan, apakah kita akan memilih makanan lengkap gizi ala warteg seharga 25 ribu rupiah per porsi, ataukah kita akan memilih hidangan nasi gulung pakai ikan mentah seharga 20 ribu per gulung?

Saat kita haus dan ingin minum, apakah kita akan memilih air mineral yang sederhana dan menyehatkan, ataukah minuman aneka rasa gula semacam frappucinno yang kalau kebanyakan gula ujung-ujungnya bisa bikin kita diabetes?

Saat kita ingin ngemil di jam tanggung, akankah kita memilih cokelat manis yang lezat tapi bikin diabetes atau buah yang lebih menyehatkan?

Semoga menjadi perenungan terutama bagi saya sendiri.

Target Ramadhan

Dalam menyambut bulan penuh berkah dan banjir diskon pahala dan ampunan ini, sudah lazim kita melihat orang-orang berlomba dalam kebaikan: berlomba memberikan iftar, membaca qur’an sebanyak-banyaknya, menghafal qur’an atau hadist.

Tapi tahun ini bagi saya hal-hal itu hanya terlihat seperti statistik – apakah setelah ramadhan selesai lalu kita akan menyambut bulan syawal dengan sekedar kebanggaan khatam qur’an 3 kali?

Bukannya salah ya khatam qur’an banyak-banyak, bagus malah. Tapi ada satu hal yang mengganjal di hati saya terkait apa yang ingin saya capai di bulan ramadhan ini.

Saya ingin kembali bersih.

Saya ingin kembali merasa bersalah.

Aneh rasanya di keheningan malam saya belomba membaca al qur’an tapi di saat yang sama tidak ada rasa penyesalan atas dosa-dosa yang pernah saya lakukan gak perlulah saya sebut satu-satu- hati saya bertingkah seolah semua itu hal yang biasa saja.

Teringat tausiyah dari Ustadz Nuzul Zikri, sulitnya kita beribadah di bulan Ramadhan adalah karena beratnya dosa-dosa di pundak kita.

Apakah sudah saking banyaknya dosa ini sampai tak terasa?

Saya perlu merasa bersalah atas segala dosa yang telah saya perbuat

Saat saya kehilangan perasaan itu, apa yang harus saya lakukan untuk mendapatknnya kembali?

Jika saya bahkan tidak merasa bersalah, bagaimana bisa saya memohon ampunan kepada-Nya?

Saya ingin memohon ampunan-Nya tapi saya tidak tahu bagaimana harus memulainya.

“Astaghfirullah wa atubu ilaih” bisa terasa ringan di lidah, namun masih bisa terasa berat di jiwa.

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَىَّ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ عِنْدَهُ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ فَلَمْ يُدْخِلاَهُ الْجَنَّةَ

“Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang disebutkanku, lalu dia tidak bershalawat atasku. Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang datang kepadanya Ramadhan kemudian bulan tersebut berlalu sebelum diampuni untuknya (dosa-dosanya). Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang mendapati kedua orangtuanya lalu keduanya tidak memasukkannya ke dalam surga.” (HR. Tirmidzi).

Akankah kita menjadi golongan terhina yang menyelesaikan bulan Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan-Nya? Naudzubillahi min dzaalik.

Ihdinasshirootol mustaqiim.

Waras

Ada masa di mana saya merasa rendah dan tak berguna, mempertanyakan diri: saya ini ngapain sih? Ditambah segunung rasa bersalah saya kepada anak-anak saya – kenapa saya begini, begitu? Kenapa saya tidak bisa lebih sabar lagi kepada anak-anak saya? Apa benar mereka paling baik ditinggal bersama saya, apa benar saya bisa mendidik mereka?

Pikiran-pikiran liar yang berkulminasi menjadi suatu titik kelelahan, di mana saya meragukan segala kemampuan saya. Sampai beberapa hari saya perlu mengungsikan kakak ke daycare supaya kepala saya lurus lagi.

Kalau ingin membangun peradaban, bahagiakanlah ibunya. Saya bersyukur memiliki suami yang selalu mendukung kebutuhan saya baik untuk diri saya sendiri, maupun untuk anak-anak saya. Saya harus menjaga kewarasan saya – salah satunya dengan mempekerjakan ART untuk bebersih rumah dan mencuci dan setrika baju. 

Kok manja banget? Tapi kan ada orang yang bisa tuh punya anak lebih banyak dari saya tapi nggak pake ART dan sukses aja mendidik anaknya?
Jawabannya adalah, saya bukan dia. Anak saya bukan anak dia.

Dan akhlak dan fitrah anak-anak saya terlalu mahal untuk dinodai amarah saya yang lelah gara-gara lihat cucian piring dan baju yang menumpuk. Mahal emang, keluar ratusan ribu lagi buat meringankan beban pekerjaan rumah, tapi kalau fitrah anak sudah rusak karena sering lihat ibunya marah-marah, berani ganti berapa rupiah?

Buat Ibu-Ibu yang bisa menangani anak-anaknya sambil masak nyuci dan lain-lain sambil nyeruput nyugrinti, hats off. Tapi nggak jadi pembenaran juga buat nyinyirin artis mantu pengusaha yang konon “babunya lima belas” buat bantu ngurusin dia dan ketiga anaknya. Umar bin Khattab pernah lari-lari ngejar ternak lepas, dan Utsman bin Affan bersikeras ingin bantu Umar, tapi Umar malah menyuruh Utsman tunggu di rumah saja. Karena Umar takut Utsman nggak kuat panas-panasan kejar-kejaran hewan, cara mereka dibesarkan beda. Buat Umar lari-lari panas panasan itu hal yang biasa saja, tapi mungkin bagi Utsman itu hal yang perlu energi ekstra. Mantu pengusaha juga layak untuk waras dengan caranya sendiri.

Setiap sore, saya sering mengajak si kakak naik sepeda keliling komplek sambil menggendong si adik. Saya pun jadi lumayan kenal banyak ART dan pengasuh anak di sekitar komplek. Salah satu yang akrab dengan saya adalah Mbak A, usianya mungkin sepantaran saya. Menurut saya, beliau mengasuh anak dengan cukup baik, beliau terlihat sayang dan peduli kepada anak asuhnya. Saya pikir itu adalah manifestasi kerinduannya kepada anaknya yang ditinggal di kampung – demi sejumlah bayaran 2,7 juta per bulan.

Dan saya melihat banyak hal: anak-anak yang minta jajan bablas nggak ketulungan kepada mbaknya. Anak-anak yang berkeliaran naik sepeda, berteriak-teriak memanggil temannya yang ada di dalam rumah. Anak-anak yang haus setelah bermain, lalu berhutang ke warung dan minum dengan tangan kiri. Anak kecil yang dibawa duduk-duduk oleh pengasuhnya dan teman-temannya yang sibuk mendengarkan nyanyian dangdut sambil belanja online. Anak kecil, usia 1 tahunan, yang dibawa berkeliling komplek menggunakan stroller oleh dua orang remaja tanggung yang terlihat canggung – mereka bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan di mana mereka tinggal.

Dan kemudian saya melihat anak-anak saya. Dengan buku-buku bergizi yang saya kurasi untuk mereka. Dengan makanan yang saya usahakan untuk mereka makan. Dengan doa-doa yang rutin keluarga kami biasakan. Dengan surat-surat pendek yang perlahan kami perdengarkan. Saya melarang mereka untuk makan dengan tangan kiri. Saya mengajarkan mereka tentang aurat. Saya mendoakan mereka.

Mereka layak mendapatkan saya untuk mendidik mereka di rumah. Saya berguna. Dengan izin Allah saya bisa.

Abi

Setelah puluhan tahun yang kuhabiskan untuk menghindarimu

Dan sekian tahun yang pernah kuhabiskan untuk membencimu,

Menghapus namamu dari doa sehari-hariku,
Akhirnya hati ini luluh untuk memaafkanmu,
Dan kini ingin mendoakanmu kembali

Karena dalam setengah fase hidupku yang singkat di dunia,
Yang tersisa dari ingatanku denganmu Hanyalah kebaikan-kebaikan yang pernah kau ajarkan kepadaku
Bahkan sikap keras kepalamu yang kau turunkan kepadaku

Kita tidak bisa membohongi nasab, kan?
Bagaimanapun juga kau adalah asbab kehadiranku di dunia,
Yang menghadirkan aku sejak masih berupa segumpal darah yang bernyawa