Waras

Ada masa di mana saya merasa rendah dan tak berguna, mempertanyakan diri: saya ini ngapain sih? Ditambah segunung rasa bersalah saya kepada anak-anak saya – kenapa saya begini, begitu? Kenapa saya tidak bisa lebih sabar lagi kepada anak-anak saya? Apa benar mereka paling baik ditinggal bersama saya, apa benar saya bisa mendidik mereka?

Pikiran-pikiran liar yang berkulminasi menjadi suatu titik kelelahan, di mana saya meragukan segala kemampuan saya. Sampai beberapa hari saya perlu mengungsikan kakak ke daycare supaya kepala saya lurus lagi.

Kalau ingin membangun peradaban, bahagiakanlah ibunya. Saya bersyukur memiliki suami yang selalu mendukung kebutuhan saya baik untuk diri saya sendiri, maupun untuk anak-anak saya. Saya harus menjaga kewarasan saya – salah satunya dengan mempekerjakan ART untuk bebersih rumah dan mencuci dan setrika baju. 

Kok manja banget? Tapi kan ada orang yang bisa tuh punya anak lebih banyak dari saya tapi nggak pake ART dan sukses aja mendidik anaknya?
Jawabannya adalah, saya bukan dia. Anak saya bukan anak dia.

Dan akhlak dan fitrah anak-anak saya terlalu mahal untuk dinodai amarah saya yang lelah gara-gara lihat cucian piring dan baju yang menumpuk. Mahal emang, keluar ratusan ribu lagi buat meringankan beban pekerjaan rumah, tapi kalau fitrah anak sudah rusak karena sering lihat ibunya marah-marah, berani ganti berapa rupiah?

Buat Ibu-Ibu yang bisa menangani anak-anaknya sambil masak nyuci dan lain-lain sambil nyeruput nyugrinti, hats off. Tapi nggak jadi pembenaran juga buat nyinyirin artis mantu pengusaha yang konon “babunya lima belas” buat bantu ngurusin dia dan ketiga anaknya. Umar bin Khattab pernah lari-lari ngejar ternak lepas, dan Utsman bin Affan bersikeras ingin bantu Umar, tapi Umar malah menyuruh Utsman tunggu di rumah saja. Karena Umar takut Utsman nggak kuat panas-panasan kejar-kejaran hewan, cara mereka dibesarkan beda. Buat Umar lari-lari panas panasan itu hal yang biasa saja, tapi mungkin bagi Utsman itu hal yang perlu energi ekstra. Mantu pengusaha juga layak untuk waras dengan caranya sendiri.

Setiap sore, saya sering mengajak si kakak naik sepeda keliling komplek sambil menggendong si adik. Saya pun jadi lumayan kenal banyak ART dan pengasuh anak di sekitar komplek. Salah satu yang akrab dengan saya adalah Mbak A, usianya mungkin sepantaran saya. Menurut saya, beliau mengasuh anak dengan cukup baik, beliau terlihat sayang dan peduli kepada anak asuhnya. Saya pikir itu adalah manifestasi kerinduannya kepada anaknya yang ditinggal di kampung – demi sejumlah bayaran 2,7 juta per bulan.

Dan saya melihat banyak hal: anak-anak yang minta jajan bablas nggak ketulungan kepada mbaknya. Anak-anak yang berkeliaran naik sepeda, berteriak-teriak memanggil temannya yang ada di dalam rumah. Anak-anak yang haus setelah bermain, lalu berhutang ke warung dan minum dengan tangan kiri. Anak kecil yang dibawa duduk-duduk oleh pengasuhnya dan teman-temannya yang sibuk mendengarkan nyanyian dangdut sambil belanja online. Anak kecil, usia 1 tahunan, yang dibawa berkeliling komplek menggunakan stroller oleh dua orang remaja tanggung yang terlihat canggung – mereka bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan di mana mereka tinggal.

Dan kemudian saya melihat anak-anak saya. Dengan buku-buku bergizi yang saya kurasi untuk mereka. Dengan makanan yang saya usahakan untuk mereka makan. Dengan doa-doa yang rutin keluarga kami biasakan. Dengan surat-surat pendek yang perlahan kami perdengarkan. Saya melarang mereka untuk makan dengan tangan kiri. Saya mengajarkan mereka tentang aurat. Saya mendoakan mereka.

Mereka layak mendapatkan saya untuk mendidik mereka di rumah. Saya berguna. Dengan izin Allah saya bisa.

Advertisements

3 thoughts on “Waras

  1. Suka sangat kakak,tulisannya.Kegalauan semua emak-emak.Entah bekerja di luar atau di dalam rumah. Ketakutan tidak mampu mendidik anak ‘secara benar’ .Masya Allah, kemudian mengerti mengapa surga di telapak kaki ibu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s