Target Ramadhan

Dalam menyambut bulan penuh berkah dan banjir diskon pahala dan ampunan ini, sudah lazim kita melihat orang-orang berlomba dalam kebaikan: berlomba memberikan iftar, membaca qur’an sebanyak-banyaknya, menghafal qur’an atau hadist.

Tapi tahun ini bagi saya hal-hal itu hanya terlihat seperti statistik – apakah setelah ramadhan selesai lalu kita akan menyambut bulan syawal dengan sekedar kebanggaan khatam qur’an 3 kali?

Bukannya salah ya khatam qur’an banyak-banyak, bagus malah. Tapi ada satu hal yang mengganjal di hati saya terkait apa yang ingin saya capai di bulan ramadhan ini.

Saya ingin kembali bersih.

Saya ingin kembali merasa bersalah.

Aneh rasanya di keheningan malam saya belomba membaca al qur’an tapi di saat yang sama tidak ada rasa penyesalan atas dosa-dosa yang pernah saya lakukan gak perlulah saya sebut satu-satu- hati saya bertingkah seolah semua itu hal yang biasa saja.

Teringat tausiyah dari Ustadz Nuzul Zikri, sulitnya kita beribadah di bulan Ramadhan adalah karena beratnya dosa-dosa di pundak kita.

Apakah sudah saking banyaknya dosa ini sampai tak terasa?

Saya perlu merasa bersalah atas segala dosa yang telah saya perbuat

Saat saya kehilangan perasaan itu, apa yang harus saya lakukan untuk mendapatknnya kembali?

Jika saya bahkan tidak merasa bersalah, bagaimana bisa saya memohon ampunan kepada-Nya?

Saya ingin memohon ampunan-Nya tapi saya tidak tahu bagaimana harus memulainya.

“Astaghfirullah wa atubu ilaih” bisa terasa ringan di lidah, namun masih bisa terasa berat di jiwa.

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَىَّ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ عِنْدَهُ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ فَلَمْ يُدْخِلاَهُ الْجَنَّةَ

“Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang disebutkanku, lalu dia tidak bershalawat atasku. Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang datang kepadanya Ramadhan kemudian bulan tersebut berlalu sebelum diampuni untuknya (dosa-dosanya). Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang mendapati kedua orangtuanya lalu keduanya tidak memasukkannya ke dalam surga.” (HR. Tirmidzi).

Akankah kita menjadi golongan terhina yang menyelesaikan bulan Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan-Nya? Naudzubillahi min dzaalik.

Ihdinasshirootol mustaqiim.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s