Melepas Gelar

Ada suatu masa di mana saya merasa kesulitan kalau memperkenalkan diri dan ditanya lulusan mana – suara saya bergetar saking bangganya sama almamater saya, hahaha hampas banget ya. Alhamdulillah sekarang sudah enggak.

Setelah menyadari, di luar segala label-label saya alumni mana/anak siapa/istri siapa ya toh saya ini cuma pendosa yang kalau ngepel nggak bisa lebih bersih daripada suami saya dan mbak yang bantu saya di rumah

Siapa orang yang paling menerima kita apa adanya?

Seringkali adalah kaum marginal, yang saat bertamu ke rumah dinomerduakan dari tamu yang lebih berpangkat daripada mereka.

Adapun yang berpendidikan, terkadang baru mau “mendengar” setelah diberi perkenalan tentang siapa kita, lulusan mana, kerja dimana, etc etc.

Siapa yang akhlaknya paling mulia di dalam sebuah rumah? Bisa jadi pembantu rumah tangganya yang selalu siaga bebersih dan menyuguhkan makanan kepada tamu dan penghuni rumahnya.

Lepaskan semua gelar dan jabatan, dan nilai diri dari kemuliaan akhlak, dan lihat betapa seringkali kita hanyalah remah rengginang dibandingkan tukang sampah yang tanpa lelah membersihkan lingkungan rumah kita, yang rela berkotor-kotor di selokan demi mencegah banjir di kota kita.

Tapi nyatanya, kita hidup di dunia di mana sebutan gelar dan almamaterlah yang membuat mata lawan bicaranya berbinar-binar.

Pada awal Rasulullah Shalallahu Alayhi Wassalam menyebarkan agama islam, orang miskin dan budak berbondong-bondong masuk islam. Karena di agama inilah mereka menemukan kehormatan dan kemuliaan tanpa memandang status sosial. Bilal bin Rabah yang kini dikenang sebagai muadzin pertama dengan suaranya yang merdu, tanpa adanya islam sampai matinya statusnya hanya sekedar menjadi budak belian.

—-

Rasulullah Shalallahu Alayhi Wassalam pernah bertanya kepada Bilal Bin Rabah, “Apa pendapatmu tentang kematian?”

Bilal Bin Rabah menjawab, “Marhaban bil maut!” (Selamat datang kematian)

Dua Syawal

Dua Syawal tahun lalu Allah mengirimkan anak perempuan saya hadir di dunia ini

Dua Syawal tahun ini Allah menjemput Bapak mertua saya dari dunia ini

Ini adalah cerita tentang kehidupan dan kematian.

Beberapa waktu kemarin saya sedang merenungi betapa proses melahirkan seorang anak dan saktratul maut bisa jadi sangat mirip. Bedanya yang satu menghadirkan kehidupan, sementara yang satu mengakhirkan kehidupan.

Konon Ibu yang melahirkan menanggung sakit setara dengan patah 20 tulang di waktu yang bersamaan. Pernah patah tulang? Saya belum pernah, tapi saya pernah cedera keselo parah sampai tangan saya digips dan sepanjang malam saya teriak-teriak dan nggak bisa tidur karena sakit. Itu saja belum patah.

Tapi karena saya sudah dua kali melahirkan, saya bisa memberikan testimoni: rasanya memang “lumayan”.

Sementara sakratul maut itu rasanya seperti nyawa yang ditarik satu-persatu dari urat manusia. Kalau saya membayangkannya seperti kain kasa yang lengket di luka besar yang terbuka, yang kalau mau dilepas bikin luka kita terbuka lagi. Yang pernah mengalami kuku copot pasti ngerti maksud saya. Itu baru secuil, ini seluruh tubuh.

Saat melahirkan anak pertama saya, badan saya gemetar tanpa bisa saya kendalikan. Saya sampai bingung. Kata bidan, itu karena badan saya menahan sakit yang luar biasa.

Saat saya melahirkan, saya harus ditemani oleh suami saya. Melahirkan adalah proses yang melelahkan, saya butuh orang yang menyemangati saya. Di kelahiran anak kedua saya, suami saya baru bisa masuk ruang bersalin 30 menit sebelum anak saya lahir. Saat itu saya sudah bukaan 8. 90 menit di ruang bersalin menahan sakit sendirian itu sangat nggak enak, bahkan saya agak demotivated sampai saya bilang mau operasi sesar saja saking nggak sanggupnya nahan sakit sendirian tanpa ada yang menyemangati.

Setan akan terus menggoda bani adam sampai akhir hayat mereka. Allah berfirman, jangan mati kecuali dalam keadaan islam. Dari apa yang saya pelajari, sakratul maut sangat berat dan menyakitkan hingga setan seringkali datang kepada manusia di akhir hayat mereka agar mereka wafat dalam keadaan murtad.

Melahirkan, dengan sakit hanya segitu saja dan sudah ditemani oleh suami, bisa membuat saya ‘murtad’ sesaat minta dioperasi sesar saja. Bagaimana saat sakratul maut dan kita menghadapinya seorang diri?

Sebelum melahirkan anak pertama saya, saya sudah rajin senam hamil. Tujuannya tentu saja supaya bisa melahirkan dengan lancar dan percaya diri. Tapi toh kenyataannya saat prosesi melahirkan tidak selancar itu – saya salah ngeden terus sampai bidan harus mendorong bayinya dari perut saya, walhasil anak saya lonjong kepalanya karena terlalu lama crowning. Anak kedua, proses kelahirannya 2x lebih cepat daripada yang pertama. Antara shock dan tidak siap, ditambah dengan menahan kontraksi sendirian selama 90 menit, membuat mental saya goyah.

Bayangkan… Saat sakratul maut datang. Tidak seperti proses melahirkan yang mungkin ada intronya seperti pecah ketuban, dia akan datang begitu saja – perlahan menarik nyawa dari ujung kaki hingga kerongkongan, dan di saat itulah sepanjang mata memandang akan ada malaikat yang menyambut kita sesuai dengan amalan perbuatan kita. Tidak ada bidan yang membimbing kita untuk mengatur napas saat kontraksi saat melahirkan – saat sakratul maut, belum tentu orang di sekeliling kita menyadari bahwa kita sedang mengalaminya. Syukur-syukur ada yang ngeh dan membantu mentalqin kita saat mengalaminya. Karena sungguh, itulah saat-saat yang berat.

Adakah yang mengadakan kursus persiapan kematian sebagaimana rumah sakit bersalin mengadakan kursus persiapan melahirkan? Alangkah baiknya jika saya sudah menyediakan kain kafan bagi diri saya sendiri.

Iftar

Apa yang diriakan saat idul fitri

Kalau amalan belum tentu diterima

Dan dosa belum tentu dihapuskan

Apa wajar kita tertawa

Sementara mungkin kita termasuk orang yang dihinakan

Maka sudah sewajarnya

Meminta amalan diterima

Dan meminta dipertemukan kembali

Bulan bulan setelahnya

Apa yang diriakan

Dari keberkahan yang masih tersia-sia
Sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat

Dan Engkau Maha Melihat

Ikhlas

Keikhlasan menjadi istri kudapatkan saat keluar dari pekerjaanku

Dan keikhlasan menjadi ibu kudapatkan saat menghentikan wirausahaku

Perlu tiga tahun lebih untuk mencerna

Bahwa kesal kepada anak-anak bukan karena mereka

Tapi karena deadline proyek yang mepet

Atau eksekusi detail yang salah oleh tukang

Anak-anak hanya mengharapkan Ibunya ada

Mereka menggelayut manja

Demikian sudah fitrahnya

Membiarkan suami menjemput rezeki

Belajar qanaah dan menjaga harta suami

Fokus menjadi madrasah bagi anak-anak

Sudahlah, apa sih yang dicari

Rezeki berupa anak soleh nggak bisa digantikan dengan testimoni positif produk di instagram

Kalau harta selalu dirasa kurang

Mungkin sudah saatnya nyangkul di kampung saja

Memang tidak cocok kami jadi orang Jakarta

Semoga Allah mengampuni segala kekhilafan saya sebagai Ibu dan istri

Anak-anak selalu memaafkan

Semoga Allah ridho dan memaafkan

—-

Saat saya pikir betapa kerennya jadi mompreneur

Apakah itu semua karena Allah

Atau hanya mengejar pujian manusia

Toh pujian hanya sepanjang lidah

Kalau saya mati juga nanti mereka lupa

Yang kesel sama toa masjid yg ribut jam 3 pagi -Mengurangi kekhusyukan ibadah. Bayangin lagi mesra-mesranya pacaran terus diteriakin pake Toa