Dua Syawal

Dua Syawal tahun lalu Allah mengirimkan anak perempuan saya hadir di dunia ini

Dua Syawal tahun ini Allah menjemput Bapak mertua saya dari dunia ini

Ini adalah cerita tentang kehidupan dan kematian.

Beberapa waktu kemarin saya sedang merenungi betapa proses melahirkan seorang anak dan saktratul maut bisa jadi sangat mirip. Bedanya yang satu menghadirkan kehidupan, sementara yang satu mengakhirkan kehidupan.

Konon Ibu yang melahirkan menanggung sakit setara dengan patah 20 tulang di waktu yang bersamaan. Pernah patah tulang? Saya belum pernah, tapi saya pernah cedera keselo parah sampai tangan saya digips dan sepanjang malam saya teriak-teriak dan nggak bisa tidur karena sakit. Itu saja belum patah.

Tapi karena saya sudah dua kali melahirkan, saya bisa memberikan testimoni: rasanya memang “lumayan”.

Sementara sakratul maut itu rasanya seperti nyawa yang ditarik satu-persatu dari urat manusia. Kalau saya membayangkannya seperti kain kasa yang lengket di luka besar yang terbuka, yang kalau mau dilepas bikin luka kita terbuka lagi. Yang pernah mengalami kuku copot pasti ngerti maksud saya. Itu baru secuil, ini seluruh tubuh.

Saat melahirkan anak pertama saya, badan saya gemetar tanpa bisa saya kendalikan. Saya sampai bingung. Kata bidan, itu karena badan saya menahan sakit yang luar biasa.

Saat saya melahirkan, saya harus ditemani oleh suami saya. Melahirkan adalah proses yang melelahkan, saya butuh orang yang menyemangati saya. Di kelahiran anak kedua saya, suami saya baru bisa masuk ruang bersalin 30 menit sebelum anak saya lahir. Saat itu saya sudah bukaan 8. 90 menit di ruang bersalin menahan sakit sendirian itu sangat nggak enak, bahkan saya agak demotivated sampai saya bilang mau operasi sesar saja saking nggak sanggupnya nahan sakit sendirian tanpa ada yang menyemangati.

Setan akan terus menggoda bani adam sampai akhir hayat mereka. Allah berfirman, jangan mati kecuali dalam keadaan islam. Dari apa yang saya pelajari, sakratul maut sangat berat dan menyakitkan hingga setan seringkali datang kepada manusia di akhir hayat mereka agar mereka wafat dalam keadaan murtad.

Melahirkan, dengan sakit hanya segitu saja dan sudah ditemani oleh suami, bisa membuat saya ‘murtad’ sesaat minta dioperasi sesar saja. Bagaimana saat sakratul maut dan kita menghadapinya seorang diri?

Sebelum melahirkan anak pertama saya, saya sudah rajin senam hamil. Tujuannya tentu saja supaya bisa melahirkan dengan lancar dan percaya diri. Tapi toh kenyataannya saat prosesi melahirkan tidak selancar itu – saya salah ngeden terus sampai bidan harus mendorong bayinya dari perut saya, walhasil anak saya lonjong kepalanya karena terlalu lama crowning. Anak kedua, proses kelahirannya 2x lebih cepat daripada yang pertama. Antara shock dan tidak siap, ditambah dengan menahan kontraksi sendirian selama 90 menit, membuat mental saya goyah.

Bayangkan… Saat sakratul maut datang. Tidak seperti proses melahirkan yang mungkin ada intronya seperti pecah ketuban, dia akan datang begitu saja – perlahan menarik nyawa dari ujung kaki hingga kerongkongan, dan di saat itulah sepanjang mata memandang akan ada malaikat yang menyambut kita sesuai dengan amalan perbuatan kita. Tidak ada bidan yang membimbing kita untuk mengatur napas saat kontraksi saat melahirkan – saat sakratul maut, belum tentu orang di sekeliling kita menyadari bahwa kita sedang mengalaminya. Syukur-syukur ada yang ngeh dan membantu mentalqin kita saat mengalaminya. Karena sungguh, itulah saat-saat yang berat.

Adakah yang mengadakan kursus persiapan kematian sebagaimana rumah sakit bersalin mengadakan kursus persiapan melahirkan? Alangkah baiknya jika saya sudah menyediakan kain kafan bagi diri saya sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s