Level 6 Day 3

Kalau bicara matematika dengan si sulung, sepertinya tidak lepas dari tawar menawar dan dia lagi hobi minta apapun 5 kali 😂

Jemput sekolah – langsung kabur ke perosotan sambil kasih lihat 5 jari dan bilang “ini yah!”

Kalau kemarinnya main panjat-panjatan sambil bilang 5 kali (bonus 2 set jadi total 15 kali – gak apalah di rumah ga punya mainan beginian)

Terakhir kami belajar hijaiyah sambil nonton yufid kids tv, awalnya saya bilang 1 saja ya nontonnya (belajar huruf alif). Setelah beres dia menunjuk yang video belajar huruf ba (“bu mau yang ini”). Karena iqronya sedang belajar alif dan ba, akhirnya saya kasih dengan syarat: “okey ini tapi satu lagi saja ya”

Ternyata dia sudah pinter nawar. “Eeeh dua aja.”

“Satu saja.. Kan tadi sudah sekali.”

“Dua!”

“Satu atau nol?” – saya pakai tawar menawar ala ospek 😆

“Satu.”

Akhirnya kami pun menonton dengan damai dan mengakhiri sesi nonton sesuai kesepakatan 😄

Advertisements

Level 6 Day 2

Hari ini saya menjemput si sulung ke sekolahnya (si sulung masuk playgroup). Saat saya sampai, dia sedang main perosotan dengan temannya. Sejak kecil dia memang paling hobi main perosotan.

Melihat saya datang, dia mengerti mau dijemput. Tapi masih tetap asik bermain, lalu saya bilang “main perosotannya 3 kali lagi ya!” (Sambil mengacungkan 3 jari)

Dia pun mengerti dan bilang iya. Saya pun menemaninya sambil menghitung setiap kali si sulung naik perosotan.

Setelah 3 kali main, si sulung menghampiri saya untuk negosiasi ulang.

“Bu, mau yang segini aja.” (Sambil menunjukkan lima jari)

Saya dan gurunya tertawa. “Ya sudah boleh lima kali lagi ya. Ibu hitung.”

Kemudian sambil si sulung main perosotan, saya menghitung. Tapi di hitungan kedua, saat saya bilang “duaa..”, si sulung protes. “Ibu! Nggak dua lah, lima aja.”

“Iya sekarang sudah dua kali, nanti tiga kali lagi boleh biar jadi 5 kali.”

Lalu setrlah itu si sulung merosot lagi sampai 5 kali, kemudian kami pulang ke rumah 😀

Sebenarnya di perjalanan saya mampir ke bank sebentar, tapi tampaknya si sulung mulai capek jadi saya biarkan dia tidur-tiduran di sofa saja 🙂

#IIP

#KuliahBunSay

#ILoveMath

#MathAroundUs

Level 6 Day 1

Anak sulung saya saat ini berusia 3 tahun 4 bulan. Dia sudah bisa berhitung 1-10 tapi seringkali angka 6 terlewat, jadi setiap menghitung benda yang jumlahnya lebih dari 5 insya Allah 90% amburadul 😂

Tempo hari saya membeli activity book, lalu saya meminta si sulung memilih halaman yang mau dimainkan. Salah satu halaman yang dia pilih adalah ini:

Ternyata dia tertarik dengan gambar laba-labanya hahaha. Sambil menjelaskan ini gambar apa saja, kami belajar berhitung. Dan sesuai dugaan, setiap bendanya lebih dari 5 hitungannya kacau 😂 kalau bendanya mulai banyak juga dia mulai tidak fokus menunjuk bendanya (jadi tambah kacau). Jadi untuk benda yang lebih dari 5, saya masih harus membantu menunjuk benda yang sedang dihitung, dan menyebutkan angkanya bersama-sama.

Alhamdulillah si sulung senang dan cukup antusias mengikutinya 🙂 kemudian kami mengerjakan halaman berikutnya, di sana kami menghitung jumlah gambar bintang, lingkaran dan persegi.

#IIP

#KuliahBunSay

#ILoveMath

#MathAroundUs

Adu Gila

​Jika saat hijrah kita ketemu batu rintangan, dibilang “jangan gitu2 amat lah dalam beragama” atau se ekstrim-ekstrimnya dibilang “lo udah gila ya”
Ingatlah:

Nabi Ibrahim diperintahkan Allah meninggalkan istri anaknya di tengah padang batu (kelak menjadi mekkah) dilakukan dengan yakin karena imannya kepada Allah
Nabi Ibrahim diperintahkan menyembelih anak kesayangannya, dan keduanya ikhlas karena Allah
Nabi Ibrahim adalah anak dari pembuat berhala ternama pada zamannya, dan menjadi ‘rebel’ dengan nebasin leher semua berhala kecuali satu – digantungkannya kapak di leher berhala terakhir. Saat orang-orang menuduh Ibrahim, beliau hanya menjawab, “Tanya aja sama patung yang itu tuh.” Lalu masyarakat murka dan membakar beliau hidup-hidup tapi pun gagal atas izin Allah 😅 Kalau dibilang merusak martabat keluarga (dengan standar jahiliyah zaman itu), ya kurang rusak gimana 😂
Kalau usaha beriman mau dibilang ‘gila’ dan ‘ngeyel’.. Monggo aja diadu ‘gila’ dan ‘ngeyel’ sama beliau ini.

Beliau dijuluki kekasih Allah bukan tanpa alasan. Mau jadi kekasih Allah dan masuk surga ya apa bisa sambil nonton TV sambil makan cireng?
(Cerita ini hanya untuk orang-orang yang percaya 😄)

Melenceng

Cara termudah untuk menghancurkan seseorang, atau sesuatu ialah dengan membelokkannya dari fitrahnya.

Betapa negeri ini dipenuhi dengan tanah yang subur dan laut yang luas. Di suatu tempat yang tak kuketahui, banyak pelaut-pelaut ulung lihai membelah samudera dan menggerakkan layar. Para petani bercocok tanam, karena di sini sebatang kayu yang ditancap pun bisa menjadi tanaman.

Bukankah indah saat kita membutuhkan makan, semua terhampar di halaman depan kita?

Sampai semua berlomba-lomba mengganti tanah menjadi beton, dan menutup lautan menjadi tanah. Demi kenaikan nilai beberapa rupiah.

Dan ketika sungai terakhir telah mengering, dan pohon terakhir telah ditebang, barulah kita sadar bahwa uang tidak bisa dimakan.

—-

Adakah di antara properti properti ratusan juta itu kita beli sekedar untuk memperkaya diri?

Siapa Kita?

Apa yang akan kau jawab?

Sebagian akan menisbatkan dirinya kepada anak atau suaminya. Atau menyebut dirinya sebagaimana profesi yang sedang dijalani. Namun lepaskan semua gelar dan identitas itu, siapa kita?

Kita adalah manusia. Bani Adam – yang diciptakan khusus oleh Allah sebagai khalifah di bumi.

Kita, keturunan langsung dari kakek moyang kita yang Allah ciptakan dari segumpal tanah yang ditiupkan ruh, dan seluruh makhluk ciptaan Allah bersujud kepadanya.

Seluruh makhluk ciptaan Allah bersujud kepada kakek moyang kita – kecuali satu, yang kini menjadi musuh kita.

Kita adalah khalifah di Bumi, makhluk ciptaan Allah yang paling mulia. Allah karuniakan kepada kita akal, yang dengannya kita dapat memilih: akan menjadi mulia seperti malaikat, atau jatuh lebih rendah daripada hewan.

Kita adalah makhluk ciptaan Allah yang paling mulia. Kita adalah pemimpin di bumi. Dengan akal, kita bisa mengatur semua ciptaan Allah yang lain di bumi ini.

Semua makhluk Allah diperintahkan untuk bersujud kepada moyang kita – tidak ada yang perlu ditakuti selain Allah satu-satunya.

Maka, tidak ada alasan untuk takut kepada yang lain, dan meminta kepada yang lain, selain Allah.

Kita adalah makhluk Allah yang paling mulia! Dan janganlah syahwat dan pernak-pernik dunia menjadikan kita lupa akan fitrah kita sesungguhnya.

Wabillahil taufik wal hidayah.

Surrogate

Anak perempuan yang tidak memiliki ayah harus memiliki sosok pengganti ayahnya, dan itu dilakukan oleh kakak Ibu saya.

Beliau bukan orang yang luwes – cenderung to the point dan kadang terkesan emphaticless, tapi saya rasa itu hanya side effect normal dari seorang geek 😀 saya berhutang budi banyak kepada beliau soal ilmu pengetahuan. 

Seringkali beliau membantu saya untuk memberikan alat bantu yang saya perlukan untuk studi saya, seperti laptop. Di usia pensiunnya, beliau masih getol menyemangati saudara-saudara dari kampung untuk belajar bahasa Inggris, bahkan mensubsidi biaya lesnya. Demikian pun adik Mama saya, beliau sangat ringan tangan membiayai sekolah saudara-saudara di kampung agar hidup mereka jadi lebih baik.

Saya ingat di persimpangan hidup saya, sebelum saya memutuskan atau mengalami hal-hal penting, beliau selalu mengajak saya mengobrol. Bercerita tentang pengalamannya, memberikan pencerahan dari sudut pandang beliau.

Terakhir kali beliau menasehati saya sebelum saya menikah. Dan ini satu hal yang kalau saya ingat membuat saya terharu.

“Jika nanti setelah kamu menikah dan sesuatu terjadi, rumah ini selalu terbuka buat kamu.”

Alhamdulillahnya, sampai saat ini pernikahan saya baik-baik saja. Beliau mengatakan inipun bukan tanpa alasan – beliau pernah menampung saya tinggal di masa-masa tersulit secara ekonomi dalam hidup saya. Semoga Allah membalasnya dengan pahala yang berlimpah.

Adapun peran Mama pernah digantikan oleh seorang tante saya. Di masa sulit itu mama sangat sibuk bekerja, dan saat itu saya demam dan tidak ada seorangpun yang tahu, kecuali tante saya. Kebetulan beliau tinggal beberapa rumah dari saya. Lalu beliau memeluk saya sampai panas saya reda.

Kenapa tiba-tiba teringat kepada beliau ya? Banyak sekali saudara-saudara lain yang jasanya teringat terus di kepala saya. Dulu saya tidak seberapa menganggap kehadiran keluarga besar dibanding teman-teman saya yang saya kira banyak. Tapi setelah mengarungi hidup sedikit lebih lama, toh ternyata yang bertahan dan menerima kita dengan segala baik buruknya dan tumbuh bersama hanya keluarga (dan sedikit sahabat).

Semoga Allah selalu melindungi dan meridhoi Uwa, Om, Tante, Atuk, Aki, Nenek, suami, mama, Ibu dan teman-teman di dunia dan akhirat. Tanpa asbab kehadiran kalian sesungguhnya saya tidak akan ‘jadi’.