Surrogate

Anak perempuan yang tidak memiliki ayah harus memiliki sosok pengganti ayahnya, dan itu dilakukan oleh kakak Ibu saya.

Beliau bukan orang yang luwes – cenderung to the point dan kadang terkesan emphaticless, tapi saya rasa itu hanya side effect normal dari seorang geek 😀 saya berhutang budi banyak kepada beliau soal ilmu pengetahuan. 

Seringkali beliau membantu saya untuk memberikan alat bantu yang saya perlukan untuk studi saya, seperti laptop. Di usia pensiunnya, beliau masih getol menyemangati saudara-saudara dari kampung untuk belajar bahasa Inggris, bahkan mensubsidi biaya lesnya. Demikian pun adik Mama saya, beliau sangat ringan tangan membiayai sekolah saudara-saudara di kampung agar hidup mereka jadi lebih baik.

Saya ingat di persimpangan hidup saya, sebelum saya memutuskan atau mengalami hal-hal penting, beliau selalu mengajak saya mengobrol. Bercerita tentang pengalamannya, memberikan pencerahan dari sudut pandang beliau.

Terakhir kali beliau menasehati saya sebelum saya menikah. Dan ini satu hal yang kalau saya ingat membuat saya terharu.

“Jika nanti setelah kamu menikah dan sesuatu terjadi, rumah ini selalu terbuka buat kamu.”

Alhamdulillahnya, sampai saat ini pernikahan saya baik-baik saja. Beliau mengatakan inipun bukan tanpa alasan – beliau pernah menampung saya tinggal di masa-masa tersulit secara ekonomi dalam hidup saya. Semoga Allah membalasnya dengan pahala yang berlimpah.

Adapun peran Mama pernah digantikan oleh seorang tante saya. Di masa sulit itu mama sangat sibuk bekerja, dan saat itu saya demam dan tidak ada seorangpun yang tahu, kecuali tante saya. Kebetulan beliau tinggal beberapa rumah dari saya. Lalu beliau memeluk saya sampai panas saya reda.

Kenapa tiba-tiba teringat kepada beliau ya? Banyak sekali saudara-saudara lain yang jasanya teringat terus di kepala saya. Dulu saya tidak seberapa menganggap kehadiran keluarga besar dibanding teman-teman saya yang saya kira banyak. Tapi setelah mengarungi hidup sedikit lebih lama, toh ternyata yang bertahan dan menerima kita dengan segala baik buruknya dan tumbuh bersama hanya keluarga (dan sedikit sahabat).

Semoga Allah selalu melindungi dan meridhoi Uwa, Om, Tante, Atuk, Aki, Nenek, suami, mama, Ibu dan teman-teman di dunia dan akhirat. Tanpa asbab kehadiran kalian sesungguhnya saya tidak akan ‘jadi’.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s