Panjang Angan

Kau tahu, kasih sayang-Mu selalu membuatku salah tingkah.

Banyak hal yang belum selesai, kan? Antara aku dan Kau, tapi kau tetap mencukupi kebutuhanku, bahkan lebih dari itu.

Banyak yang belum selesai antara kita, tetapi anganku terlalu panjang. Memang Kau ciptakan fitrah kami seperti itu, ataukah ia bisikan-bisikan syaitan?

Aku belum berhasil melepaskan diri dari satu sumber murka-Mu, tapi aku malah ingin melakukan hal lain. Apakah ini bisa memperoleh ridha-Mu? Belum selesai aku mohon ampun kepadamu, sudah terlalu banyak angan ini itu lagi terlintas di kepalamu.

Orang yang berhutang semestinya menunda kesenangan.

Ya ampun, bukan aku yang menginginkannya, aku hanya disuruh. Tapi tetap saja, kan, aku yang melakukannya. Setan saja hanya tertawa-tawa saat manusia diseret di neraka, berkata “Aku hanya membisikkan kepadamu, kau yang memutuskan untuk melakukannya.”

Tapi, apakah bisa? Ya Allah, bisakah aku lepas dari dosa ini, dan bolehkah aku melanjutkan sekolahku?

Mudahkanlah jalan terbaik bagiku… Tolong, karena aku benar-benar tidak mengerti. Kau pasti lebih dari tahu, pujian manusia hanya sepanjang lidah, dan apa yang tampak belum tentu kenyataan yang terjadi.

Bagaimanapun kau tampakkan rupaku di dunia, aku hanya ingin selamat menuju rumah terakhirku.

Beri tahu aku, aku harus bagaimana?

Advertisements

Luruskan Niat

Aku ingin sekolah lagi.

Setelah 7 tahun keluar dari Sabuga, mendadak sekali, tapi ya, saya ingin sekolah lagi. Lucunya ini langsung mendapat lampu hijau dari Suami dan Ibu saya ๐Ÿ˜‚

Sebenarnya sudah lama Ibu saya mengharapkan saya sekolah lagi. Tapi saya masih clueless, benar-benar nggak tahu mau ambil master apa. Dan urusan sekolah ini tidak sebentar dan butuh biaya. Nggak lucu kalau ternyata saya salah jurusan atau asal pilih – yang penting S2 aja.

Ada satu kali saya datang ke open house program magister, lalu saya urung. Biayanya juga lumayan, waktu itu kami baru menikah dan banyak kebutuhan. Belum terbayang bagaimana cara memenuhinya.

Ada kalanya juga saya mengagumi teman-teman yang sekolah di benua seberang (dan tentu saja, foto kehidupan sehari-harinya yang menyenangkan, sesekali bisa pelesir ke negeri sebelah). Namun saya kembali berpikir, kurang elok juga kalau saya ingin sekolah ke luar tapi motivasi terbesarnya adalah jalan-jalan. Saya urungkan lagi keinginan itu.

Kenapa harus sekolah? S1 saja kan nggak masalah. Banyak, kok, teman-teman yang lulusan SMA tapi mereka cerdas dan menjadi Ibu yang hebat untuk anak-anak mereka.

Sempat terpikir seperti itu. Tapi bagi saya, ternyata tidak sesederhana itu.

Setiap orang dilahirkan di lingkungan yang berbeda-beda dengan ujian yang berbeda. Ujian bagi saya beda bagi teman saya juga. Hanya karena orang lain melakukan A, bukan berarti A adalah hal yang paling tepat saya lakukan juga.

Dan akhirnya, saya menemukan jawabannya… Jawaban kenapa penting bagi saya untuk bersekolah lagi. Jawaban yang entah kenapa tidak bisa keluar dari otak saya tujuh tahun terakhir ini.

Allah mencintai orang yang berilmu dan akan meninggikan derajatnya. Orang yang berilmu dan bertakwa adalah pewaris para Nabi. Lalu, masa nggak mau jadi pewaris para Nabi?

Saya cinta kepada arsitektur. Bertahun-tahun hubungan kami putus nyambung, tapi saya selalu jatuh cinta kembali. Besar keinginan saya untuk menggali ilmu agama saya, dan sebesar itu pula keinginan untuk mendalami arsitektur lagi.

Saya menyukai sejarah, saya menyukai ilmu arsitektur. Di dunia ini, negara ini, harus ada seseorang yang menjaga ilmu itu di dalam kepalanya, menuangkannya menjadi buah pemikiran dan karya. Dan saya pikir, saya bisa melakukannya.

Inilah peran yang akan saya ambil untuk mendayagunakan diri saya bagi masyarakat. Anak-anak saya berhak mendapatkan Ibu yang cerdas, juga orang-orang di sekitar saya, mereka berhak mendapatkan manfaat dari buah pikiran saya yang terisi.

Sepuluh tahun yang lalu ada anak muda penuh semangat yang bermimpi menjadi dosen. Sepertinya, tahun ini anak itu akan kembali melangkah, mengisi dahaganya akan ilmu pengetahuan.

Butuh tujuh tahun untuk meluruskan niat dan mencari jawaban.

Aku akan kembali ๐Ÿ™‚ insya Allah, bismillah.

Aku Tidak Bisa Tidur

Aku tidak bisa tidur. Malam ini suamiku pulang membawa cerita.

Dia baru saja bertemu seseorang untuk urusan pekerjaannya. Setelah pertemuan itu selesai, seorang stafnya berceletuk, “Gila, Mas. Sepatunya ajaa Gucci.”

Tentu saja suami saya keheranan. Yang jelas akhirnya dia tahu kalau harga sepatu itu lima belas juta. Lima belas juta untuk diinjak-injak. Membedakan lipstik harga empat puluh ribu dan tujuh ratus ribu saja beliau nggak bisa, sudah barang tentu untuk urusan ini beliau geleng-geleng kepala.

Tidak habis pikir, karena setiap shalat Jumat di dekat kantornya dia melihat seorang Ibu membawa tiga anaknya – yang paling kecil satu tahun, seusia anak bungsu saya, digendong sambil memulung sampah. Anaknya yang tiga tahun ditidurkan di gerobaknya, dan anaknya yang enam tahun membantunya memulung. Bapaknya entah di mana, tak pernah terlihat. Terkadang si Ibu terlihat emosi, kelelahan.

Betapa lucu bahwa hanya beberapa ratus meter berjarak, ada dua kondisi yang begitu jauh berbeda.

Sudahlah, kami berusaha berbaik sangka. Mungkin si pemilik sepatu sebenarnya bisa beli sepatu seharga seratus juta, dan beli sepatu limabelas juta adalah penghematan terbaik yang bisa ia lakukan.

Tapi bayangan pemulung tadi menghantuiku. Walau aku tak pernah melihatnya.
Sungguh untuk urusan dunia kita harus melihat ke bawah.

Ibu pemulung itu, membuat sujudku menjadi lebih panjang dan meluruhkan kerasnya hatiku.

Aku tidak bisa tidur. Di mana suamimu dan bagaimana kondisi anak-anakmu?

Tapi setidaknya aku malam ini sudah meminta Allah untuk memuliakanmu.

Lebih Dari Itu

Bertahun-tahun fase pendidikan yang kulewati, dulu aku merasa kuliah adalah satu fase juga – ya, setelah SMA, kuliah lalu kerja. Sesuai cita-cita saja. Dan Ibuku tentu saja mengarahkanku ke universitas top 5 di Indonesia, dan harus kerja keras untuk masuk ke sana.

Dan saat aku diterima di sana, institut gajah duduk itu, kukira juga semua biasa saja. Kuliah, berteman, mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya.

Namun baru kusadari bahwa ternyata bangku kuliahku dulu adalah wadah dari bibit-bibit terbaik dari penjuru nusantara – ungkapan “Selamat Datang Putra Putri Terbaik Bangsa” yang konon membuat lulusannya ngeyel di mata para HR, ternyata memang benar adanya.

Sungguh suatu kehormatan pernah menimba ilmu di sana, bertemu dengan orang-orang yang tak disangka-sangka. Orang-orang yang menorehkan perubahan dengan goresan penanya, peluh dan putaran otaknya.

Di sini adalah tempat aku bertemu ayah dari anak-anakku, di sini aku bertemu wanita-wanita cerdas yaang karyanya selalu menginspirasi.

Terima kasih, kampus gajah.

Dan tentunya, terima kasih Mama untuk doanya. Terima kasih keluargaku untuk dukungannya. Dan terima kasih Allah, atas segala takdir yang Engkau gariskan.

Aku mau melangkah lagi, menorehkan garis manfaat di sisa usia di bumi ini.

Kampus gajah, semoga kita bertemu kembali ๐Ÿ™‚

Galat Satu Mili

Bagi kita yang pernah belajar di bidang perancangan, pasti pernah mengalami fase membuat gambar dengan sistem manual. Bayangkan menggambar denah di kertas A2, dengan meja raksasa bersampulkan milimeter block dan penggaris yang diikat bagian kiri dan atasnya. Semua demi satu hal: supaya garis nggak miring!

Memang apa urusannya soal garis miring ini? Coba bayangkan mau gambar rumah temboknya lurus, tapi salah tarik garis sedikit temboknya jadi miring. Bisa digetok yang punya rumah.

Garis miring ini padahal sebabnya sepele: penggaris yang kurang presisi, atau sekedar salah posisi tarik garis semili.

Ya, beda cuma semili, tapi begitu diteruskan garisnya, di ujung gambar perbedaannya bisa sampai 1 cm. Kalau sudah begini, apalagi kalau gambarnya pakai pena, tinggallah kita merana gambar ulang lagi ๐Ÿ˜น

Saya pernah mengalami kasus ini saat mengerjakan dapur di apartemen klien saya. Tukang saya tidak teliti saat membuat rak bumbu – beda panjang rak bumbu paling atas sampai paling bawah sampai 1,5 cm. Akibatnya raknya miring dan tidak elok dilihat. Akhirnya tukang saya harus kembali ke workshop – membuat ulang rak yang dimaksud dari awal, dempul lagi, cat lagi. Proses yang memakan waktu dan biaya cuma gara-gara selisih 1,5 cm saja.

Di gunung Semeru, pendaki gunung seringkali tersasar ke area berbahaya saat turun dari puncak hanya karena berjalan selisih satu meter  dari jalur yang seharusnya. Biasanya hal ini dilakukan karena mereka malas mengantri di jalur yang seharusnya. Hanya semeter – tapi gunung berbentuk kerucut. Semakin ke bawah, selisih jarak dengan jalur seharusnya semakin besar, sampai tiba-tiba terperosok ke daerah berbahaya.

Betapa dalam kehidupan kita sehari-hari, kita juga sering melakukan galat barang semili.

Awalnya rajin shalat berjamaah di masjid, tepat waktu, shaf pertama.

Lama kelamaan mundur ke shaf ketiga.

Sampai kemudian, ah, shalat di rumah saja lah. Atau di kantor saja, atau dimanapun

Tadinya adzan dzuhur langsung lari ke masjid, lama-lama baru shalat jam dua siang.

Kalau dibiarkan bisa-bisa baru shalat dzuhur jelang adzan ashar.

Atau contoh lain lagi,

Awalnya istiqamah berhijab panjang dan berkaoskaki

Lama-lama berpikir, ah ke tukang sayur sebentar saja. Nggak usahlah pakai kaos kaki.

Lalu lama-lama jadi terpikir, ke depan rumah sebentar ini, pakai daster aja nggak apa-apalah.

Entah kemana galat itu menuju jika dibiarkan,

Mungkin bisa jadi lama-lama lari-lari telanjang di tengah jalan juga dibiarkan kalau tidak ada yang mengingatkan.

Kebaikan dan keburukan seperti bola saju yang bergulung,

Satu kebaikan akan mengajak kepada kebaikan yang lain

Satu keburukan akan mengajak kepada keburukan yang lain

Maka, dalam sehari tidak kurang kita baca Al-Fatihah tujuh belas kali.

Minta petunjuknya melalui “Ihdinasshirootol mustaqim” – tunjukkanlah kami jalan yang lurus.

Waspada galat satu mili di dalam hati. Entahlah itu secuil kesombongan, secuil keinginan duniawi, apapun. Karena satu mili bisa melebar menjadi satu senti, dan tanpa disadari kita sudah keluar jalur dan binasa.

gaยทlat n kekeliruan; kesalahan; cacat

Jangan Menyerah

Jangan pernah menyerah atas kelemahan diri kita

Jangan pernah menyerah atas eloknya fitrah anak kita.

—-
Saya adalah seorang Ibu muda. Saat melahirkan anak pertama saya, ungkapan “Anak-anak punya anak” itu bisa jadi benar adanya. Singkat cerita saya kayaknya rada depresi ba’da lahiran, sehingga butuh 1,5 tahun untuk membentuk bonding yang baik dengan anak sulung saya (sekarang usianya 3,5 tahun)

Sebagaimana Ibu pada umumnya, selain cinta ada kalanya kesal dengan anak sendiri saat hal-hal tidak sesuai dengan ekspektasi, atau saat kita sedang lelah saja. Saat lelah, terkadang saya jadi off guard dan menjadi menye-menye – lemah dan seolah terzolimi dengan lelahnya mengurus anak. Duile boi, bikin anak kan dilakukan secara sadar, pun Sang Penitip juga sudah menakar tidak ada ujian yang melebihi kemampuan hamba-Nya. Mbok ya jadi hamba yang kuat dikit kenapa deh.

Beberapa kali saya menerima curahan hati dari beberapa Ibu yang mengeluhkan anaknya. Anakku ini kok kurang ajar. Anakku ini kok pemalas. Anakku ini kok begini, kok begitu. Aku nggak tahan dengan kelakuan anakku yang begini dan begitu…

Entahlah… 

Saya percaya doa Ibu adalah doa yang mustajab, dan apa yang kita sampaikan terhadap orang lain tentang anak kita, itulah sejatinya ia.

Betapa manusia memang sangat mudah untuk melihat secuil goresan hitam di lembaran kertas putih, bahkan jika kertas putih itu darah dagingnya sendiri.

Sudah jadi fitrah seorang Ibu untuk selalu menjadi contoh bagi anak-anaknya. Di akhir zaman sekarang ini, konon tanda kiamat yang sudah terjadi adalah seorang budak melahirkan majikannya.

Bukan, anakku bukan majikan bagiku dan aku bukan budaknya.

Anakku adalah anakku dan aku adalah Ibunya.

Betapa seorang anak adalah peniru ulung, dan seringkali sang Ibu lupa diri dan terlalu sibuk untuk meratapi kelemahan dirinya.

Jangan menyerah. Jangan menyerah.

Ingatlah bahwa fitrah anak itu adalah suci.

Ingatlah bahwa fitrah manusia adalah berbuat salah, namun Allah mencintai hamba-Nya yang bertaubat dan berlari mendekati-Nya.

Jangan menyerah, berhenti meratapi kelemahan diri.

Manusia adalah jiwa yang lemah, namun mereka memiliki Rabb yang Maha Kuat.

Jangan menyerah, jangan pernah menyerah untuk membentuk diri menjadi Ibu terbaik bagi anak-anak kita, Istri terbaik bagi suami kita, anak terbaik bagi orangtua kita.

 Jangan pernah menyerah untuk memuliakan diri kita dan keluarga kita di dunia dan akhirat.