Waktu

Demi masa, sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian.

Ada dua nikmat yang manusia selalu lalai daripadanya, yakni sehat dan waktu luang.

Menghargai waktu. Sebuah sikap yang anomali di Indonesia, yang membuat saya terlihat seperti nenek lampir gila yang marah-marah cuma gara-gara terlambat janjian 20 menit (“emang lo kira gue pengangguran? Bilang dong kalau mau telat, 20 menit gue kan bisa ngerjain yang lain.” – yang dulu telat janjian sama saya kayaknya pada pernah kena semprot kayak gini). Tapi, beneran. Dua puluh menit itu, kalau dokter telat dateng 20 menit keburu modar pasiennya. Kalau arsitek kayak saya, telat masukin gambar tender – gak usah telat 20 menit – telat semenit aja gambaernya nggak diterima. Hasil kerja keras begadang berhari-hari, tertolak cuma karena telat semenit.

Waktu, sebuah batasan yang menentukan hidup seseorang, dan masih saja kita dan lingkungan kita memperlakukannya seperti sampah.

Saya bukan orang yang paling disiplin di dunia, tapi saya berusaha untuk itu. Kesadaran saya untuk menghargai waktu sedikit banyak dibentuk oleh lingkungan kuliah saya yang penuh dengan deadline.

Saya pernah kuliah di jurusan arsitektur, dengan kehidupan kemahasiswaan yang sangat aktif. Setiap semester, saya punya kuliah 8 SKS yang merupakan nyawa dari prodi ini: Studio Perancangan Arsitektur. Delapan SKS artinya, jangan ngawur, jangan sampai nggak lulus. Dilewatin sekali aja rasanya udah stres berat.

Emang pekerjaannya ngapain aja? Wah banyak. Survey, cari preseden, membuat konsep, eksekusi gambar sesuai output yang diminta (denah, potongan, tampak, 3D, detail), bikin maket… Sendiri πŸ˜‚

Masterchef aja disuruh masak 60 menit stresnya udah kayak apaan, ya bayangin kita disuruh bikin gedung, satu semester bisa 2-3 desain, deadline ketat, apa nggak pengen muntah. Mana gambarnya sering segede tiker di kamar ampe bisa dijadiin alas tidur. Belum lagi drama rebutan tempat ngeprint menjelang hari pengumpulan tugas… Fiuh. Saya pernah beberapakali mental breakdown saat kuliah di sini, dan saya nggak sendiri πŸ˜… Makanya saya dulu paling benci sama orang yang suka terlambat. Karena terlambat satu menit bagi saya, sama saja membuat kerja keras lembur begadang saya menjadi sia-sia.

Dengan tugas menggila seperti itu, syukurnya saya masih bisa aktif di tiga organisasi kampus. Dan supaya waras saya setiap malam juga menyempatkan diri untuk makan bersama teman-teman sambil ketawa-ketawa. Alhamdulillah masih bisa lulus tepat waktu dengan IP yang tidak terlalu memalukan bagi orangtua πŸ˜‚

Kondisi hidup serbaketat zaman kuliah saya memaksa saya untuk pandai mengatur waktu saya. Alhamdulillah saya memiliki sahabat maha disiplin yang sangat menginspirasi saya, jadi saya tinggal ikuti jadwal kehidupan dia supaya waktu saya teratur dengan baik :p

Setelah lulus kuliah, saya bertemu dengan semakin banyak orang dengan beragam persepsi tentang waktu.  Ada yang suka ngajak ketemu dadakan dikira kita pengangguran, tapi kasta dan jabatan kita tidak memungkinkan kita untuk ngomelin dia. Ada yang kalau janjian suka bikin persepsi waktu misterius dan subyektif, misal: janjian ketemu jam makan siang. Tapi realisasinya ternyata jam 3 sore. Saya mah kalo makan siang jam 12, ternyata dia jam 3. Bagi saya dia telat tiga jam, bagi dia saya kecepetan 3 jam πŸ˜… Ada juga yang tepat waktu banget, janjian jam 10 tapi jam 10 kurang 15 udah sms kalau dia sudah di tempat.

Seiring waktu, saya juga lelah ngomelin orang-orang yang nggak on time di lingkungan saya – kalau saya teruskan habit ngomel saya seperti zaman kuliah bisa-bisa rusak silaturahim saya ke semua orang, hahaha. Jadi akhirnya saya berusaha menerima keadaan, hidup santai dikit biar kepala nggak panas. Plus dengan adanya dua anak kecil kesayangan, hal-hal yang dulu bisa saya lakukan dalam 20 menit kini molor menjadi 2-3 kali lipatnya πŸ˜‚ bonus ekstra lama kalo tiba2 ada yg minta ASI atau minta dianter ke WC atau combo dua-duanya πŸ˜‚

—-

Setiap manusia memiliki 24 jam yang sama pada hidupnya, dan rentang usia yang relatif mirip (Rasulullah Shalallahu Alayhi Wassalam berkata usia umatnya sekitar 63 tahun). Tapi mengapa ada ulama yang bisa produktif menelurkan puluhan kitab, sementara saya di sini baca Minhajul Muslimin aja nggak kelar-kelar?

Jawabannya adalah, keberkahan waktu.

Allah menciptakan waktu sesuai dengan peruntukannya, malam diciptakan untuk beristirahat, sepertiga malam terakhir Allah turun ke langit dunia untuk mendengar doa-doa hamba-Nya, subuh diciptakan untuk memulai hari dan siang diciptakan untuk bekerja. Rasulullah melakukan qailullah – kalo bahasa bekennya sekarang power nap – sebelum zuhur. Ashar — berasal dari akar kata yang sama dengan “ashir” yang artinya “memeras”. Disebut demikian karena waktu ashar adalah waktu manusia memeras hasil dari kerja kerasnya seharian. Biasanya orang arab itu melakukan makan malam (‘asyaa) setelah shalat isya. (Thanks to Ustadz Faris Baswedan yang telah mengajarkan ini kepada kami).

Dengan disiplin mengikuti ritme waktu yang Allah ciptakan, seharusnya hidup kita lebih teratur dan tenang. Sayangnya dengan hiruk pikuk kota besar seperti sekarang ini, tak jarang hidup kita jadi amburadul. Pulang kemalaman, akhirnya subuh kesiangan. Belum lagi macet di jalan yang melelahkan.

Dunia kalau diikuti memang tidak akan ada selesainya. Tanpa terasa kita terhanyut oleh aliran waktu, dan tanpa kita sadari kita semakin menua dan akan mati. Dan lalu kita bingung ke mana habisnya waktu kita tersia-sia.

Agar hidup lebih disiplin dan teratur, berikut beberapa cara yang sedang belajar saya terapkan dalam kehidupan saya:

1. Rencanakan semua kegiatan di antara waktu shalat, dan shalatlah di awal waktu. Shalat adalah kewajiban yang kalau nggak dikerjakan pasti akan kepikiran. Bayangkan lagi meeting jam 2.30 siang dan kepikiran “duh gue belum sholat zuhur”, meeting nggak konsen, pahala juga makin tipis karena shalat di akhir waktu. Mending dikerjakan langsung setelah adzan – dapet pahala jamaah, hati dan pikirian tenang.


2
. Selalu awali hari dengan zikir pagi dan tilawah. Kunci keberkahan waktu  salah satunya adalah dengan membaca Al-Qur’an, jadi sempatlanlah walau barang sehalaman.

3. Jangan tidur setelah shalat subuh. Salah satu ciri orang yang sukses adalah paginya yang masygul (sibuk). Percaya deh kalau kita mengerjakan apapun setelah subuh, rasanya setelah selesai waktu kita masih tersisa lebih panjang dibanding kalau kita baru mulai jam 9 pagi. Selain itu, tidur setelah subuh hukumnya makruh πŸ™‚

4. Bagi Pria, shalat subuh berjamaah di masjid. Kata Nouman Ali Khan, subuh berjamaah di masjid memberikan sensasi spiritual yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata hehe. Ini juga sudah dikonfirmasi oleh suami saya, katanya sensasinya “yah rasanya kayak jadi orang bener aja.” Feeling good about yourself early in the morning is such a positive way to start a day πŸ™‚

5. Qailullah. Alias tidur siang sunnah Rasul alias power nap menjelang zuhur. Penting untuk merecharge tubuh kita setelah lelah beraktifitas sejak subuh sampai menjelang zuhur. Saya sudah pernah coba sendiri, tidur 15 menit rasanya seperti tidur sejam. Sementara kalau tidur di waktu setelah subuh/ashar tidur 2 jam pun rasanya cuma kayak tidur 30 menit… Keajaiban keberkahan waktu πŸ˜„ bagi irt seperti saya, kalau syaa nggak power nap, jam 7 malam biasanya saya sudah semaput padahal anak-anak lagi getol-getolnya minta ditemani baca buku atau bermain.

6. Memasang kalender bulanan dengan agenda dan deadline. Penting bagi saya untuk merencanakan kegiatan seminggu ke depan, masak atau nggak, dan hal-hal printilan lainnya :p

7. Mencatat semua to do list di kertas/hp. Karena kalau tidak dicatat, yang ada malah lupa dan berabe, dan bikin pikiran jadi ruwet. Saat kita ada waktu luang, tinggal cek to do list dan kerjakan apa yang bisa dikerjakan.

8. Membuat prioritas pekerjaan. Yang mana lebih penting, shalat dulu atau cek grup WA dulu? Masak dulu atau mengerjakan desain orderan klien? Hari ini masak atau catering? Dan masih banyak lagi “apa dulu nih yang dikerjakan” yang menghantui kepala kita. Dengan menempatkan prioritas, kita akan terbantu untuk menentukan pekerjaan apa yang memberikan manfaat terbesar jika dikerjakan lebih cepat. Kita juga bisa memetakan pekerjaan apa saja yang bisa didelegasikan kepada orang lain agar waktu kita lebih produktif (terimakasih ARTku yang mau bantu nyuci nyetrika jadi aku bisa les bahasa)

9. Menarik, tapi tidak tertarik. Kalau ini ajarannya Guruku tercinta Ibu Septi Peni Wulandani πŸ˜€ kita harus bisa menentukan apa yang penting dan tidak dalam pembicaraan kita sehari-hari. Katakan yang baik atau diam. Pernah nggak kita buka grup WA, lalu terhanyut pembicaraan menarik sampai sejam, lalu setelah dipikir-pikir pembicaraan tadi nggak penting-penting amat dan sejam itu bisa digunakan buat ngajak anak sepedahan kelilinh komplek? Hehe.

Jadi, saat kita.buka grup WA lalu ada bahasan tentang, let’s say, konspiraei wahyudi dalam kasus impor garam. Lalu pikirkan: apa manfaatnya buat saya kalo saya tau? Apa manfaatnya juga buat orang lain kalo mereka tau? Apakah diskusi ini menambah pahala atau berpotensi memberi syafaat di kubur nanti?

Kalau tidak, jawabannya sudah jelas: menarik. Tapi tidak tertarik :p

Waktu adalah hal yang paling berharga saat kita diberikan taufik untuk menjaganya.

Semoga apa yang saya tuliskan memberi manfaat.Semoga 90 menit yang kuluangkan untuk menuliskan ini dapat menjadi syafaat buatku di hari pembalasan nanti.

Wabillahittaufikwalhidayah.

Advertisements

3 thoughts on “Waktu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s