Galat Satu Mili

Bagi kita yang pernah belajar di bidang perancangan, pasti pernah mengalami fase membuat gambar dengan sistem manual. Bayangkan menggambar denah di kertas A2, dengan meja raksasa bersampulkan milimeter block dan penggaris yang diikat bagian kiri dan atasnya. Semua demi satu hal: supaya garis nggak miring!

Memang apa urusannya soal garis miring ini? Coba bayangkan mau gambar rumah temboknya lurus, tapi salah tarik garis sedikit temboknya jadi miring. Bisa digetok yang punya rumah.

Garis miring ini padahal sebabnya sepele: penggaris yang kurang presisi, atau sekedar salah posisi tarik garis semili.

Ya, beda cuma semili, tapi begitu diteruskan garisnya, di ujung gambar perbedaannya bisa sampai 1 cm. Kalau sudah begini, apalagi kalau gambarnya pakai pena, tinggallah kita merana gambar ulang lagi 😹

Saya pernah mengalami kasus ini saat mengerjakan dapur di apartemen klien saya. Tukang saya tidak teliti saat membuat rak bumbu – beda panjang rak bumbu paling atas sampai paling bawah sampai 1,5 cm. Akibatnya raknya miring dan tidak elok dilihat. Akhirnya tukang saya harus kembali ke workshop – membuat ulang rak yang dimaksud dari awal, dempul lagi, cat lagi. Proses yang memakan waktu dan biaya cuma gara-gara selisih 1,5 cm saja.

Di gunung Semeru, pendaki gunung seringkali tersasar ke area berbahaya saat turun dari puncak hanya karena berjalan selisih satu meter  dari jalur yang seharusnya. Biasanya hal ini dilakukan karena mereka malas mengantri di jalur yang seharusnya. Hanya semeter – tapi gunung berbentuk kerucut. Semakin ke bawah, selisih jarak dengan jalur seharusnya semakin besar, sampai tiba-tiba terperosok ke daerah berbahaya.

Betapa dalam kehidupan kita sehari-hari, kita juga sering melakukan galat barang semili.

Awalnya rajin shalat berjamaah di masjid, tepat waktu, shaf pertama.

Lama kelamaan mundur ke shaf ketiga.

Sampai kemudian, ah, shalat di rumah saja lah. Atau di kantor saja, atau dimanapun

Tadinya adzan dzuhur langsung lari ke masjid, lama-lama baru shalat jam dua siang.

Kalau dibiarkan bisa-bisa baru shalat dzuhur jelang adzan ashar.

Atau contoh lain lagi,

Awalnya istiqamah berhijab panjang dan berkaoskaki

Lama-lama berpikir, ah ke tukang sayur sebentar saja. Nggak usahlah pakai kaos kaki.

Lalu lama-lama jadi terpikir, ke depan rumah sebentar ini, pakai daster aja nggak apa-apalah.

Entah kemana galat itu menuju jika dibiarkan,

Mungkin bisa jadi lama-lama lari-lari telanjang di tengah jalan juga dibiarkan kalau tidak ada yang mengingatkan.

Kebaikan dan keburukan seperti bola saju yang bergulung,

Satu kebaikan akan mengajak kepada kebaikan yang lain

Satu keburukan akan mengajak kepada keburukan yang lain

Maka, dalam sehari tidak kurang kita baca Al-Fatihah tujuh belas kali.

Minta petunjuknya melalui “Ihdinasshirootol mustaqim” – tunjukkanlah kami jalan yang lurus.

Waspada galat satu mili di dalam hati. Entahlah itu secuil kesombongan, secuil keinginan duniawi, apapun. Karena satu mili bisa melebar menjadi satu senti, dan tanpa disadari kita sudah keluar jalur dan binasa.

ga·lat n kekeliruan; kesalahan; cacat

Advertisements

One thought on “Galat Satu Mili

  1. Aiihh keren analoginya. ARSITEK!!! Jadi mengingatkanku pada Teori Chaos – Butterfly Effect, dimana satu kepakan sayap bisa menyebabkan badai, maklum anak FISIP – komunikasi hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s