Aku Tidak Bisa Tidur

Aku tidak bisa tidur. Malam ini suamiku pulang membawa cerita.

Dia baru saja bertemu seseorang untuk urusan pekerjaannya. Setelah pertemuan itu selesai, seorang stafnya berceletuk, “Gila, Mas. Sepatunya ajaa Gucci.”

Tentu saja suami saya keheranan. Yang jelas akhirnya dia tahu kalau harga sepatu itu lima belas juta. Lima belas juta untuk diinjak-injak. Membedakan lipstik harga empat puluh ribu dan tujuh ratus ribu saja beliau nggak bisa, sudah barang tentu untuk urusan ini beliau geleng-geleng kepala.

Tidak habis pikir, karena setiap shalat Jumat di dekat kantornya dia melihat seorang Ibu membawa tiga anaknya – yang paling kecil satu tahun, seusia anak bungsu saya, digendong sambil memulung sampah. Anaknya yang tiga tahun ditidurkan di gerobaknya, dan anaknya yang enam tahun membantunya memulung. Bapaknya entah di mana, tak pernah terlihat. Terkadang si Ibu terlihat emosi, kelelahan.

Betapa lucu bahwa hanya beberapa ratus meter berjarak, ada dua kondisi yang begitu jauh berbeda.

Sudahlah, kami berusaha berbaik sangka. Mungkin si pemilik sepatu sebenarnya bisa beli sepatu seharga seratus juta, dan beli sepatu limabelas juta adalah penghematan terbaik yang bisa ia lakukan.

Tapi bayangan pemulung tadi menghantuiku. Walau aku tak pernah melihatnya.
Sungguh untuk urusan dunia kita harus melihat ke bawah.

Ibu pemulung itu, membuat sujudku menjadi lebih panjang dan meluruhkan kerasnya hatiku.

Aku tidak bisa tidur. Di mana suamimu dan bagaimana kondisi anak-anakmu?

Tapi setidaknya aku malam ini sudah meminta Allah untuk memuliakanmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s