Sepenggal Masa Lalu

Terlepas dari bahagia atau tidaknya masa kecil saya, mungkin saya akan tetap berpikir bahwa saya adalah anak yang beruntung – Saya adalah satu dari sedikit anak kota yang dibesarkan bersisian dengan alam.

Pulau Seribu. Di era 90-an, resort dan golf di sebuah pulau di sana sedang jaya-jayanya, dan kedua orangtua saya bekerja sebagai dokter di sana (mama saya bahkan pernah naik private jet nebeng salah satu wisman 😄). Masa kecil saya sangat akrab dengan kapal, angin laut, dan pasir. Saya ingat dalam perjalanan panjang dari marina ke pulau Bira, saya versi kecil selalu duduk di geladak kapal sembari mengayun-ayunkan kaki saya bergelantungan, dan tidak ada yang melarang – papa adalah tipe orangtua yang ‘tega’ dan cenderung membiarkan saya merentangkan batas keberanian saya. Tak lama setelah itu biasanya saya akan menyelinap ke ruang nahkoda dan tertidur pulas dengan tiupan semilir angin laut yang membuat rambut lengket saat sampai ke tujuan. Setelah kapal merapat, terkadang papa membiarkan saya memanjat dermaga (yeah, saya nggak turun di tempat yang ada tangganya – toh kalau jatuh ke laut tinggal berenang ke pantai, dekat ini :p). Dalam satu kesempatan saya ingat papa pernah melempar saya ke kolam renang… Hahahaha…

Di tengah kesibukan kedua orang tua saya, biasanya saya bisa ditemukan sedang sendirian di tepi pantai, bermain dengan batok kelapa yang ceritanya adalah rumah untuk para semut. Terkadang saya minta selembar roti ke dapur resort dan memberi makan ikan-ikan di dermaga.

Sendirian… Nggak takut hilang? Entahlah, mungkin karena pulau itu luasnya cuma sepetak jadi tidak ada yang terlalu khawatir juga saya akan hilang.

Saat saya kecil di Bogor juga saya sering ke suatu tempat bernama Gunung Mas. Saya ingat ada lapangan rumput luas, dan di sana saya bermain layangan. Beneran, saya bisa main layangan. Lalu setelah bosan saya akan mencelupkan air di sungai kecil yang dingin, lalu berusaha mendaki bukit sejauh yang saya bisa, dan kemudian turun lagi.

Mungkin itu sebabnya motorik kasar saya sangat terasah. Di sekolah, saya selalu bagus dalam pelajaran olahraga (sampai saya kuliah dan tiba-tiba jadi malas olahraga.. hahaha). 

Kalau dipikir-pikir, melihat anak-anak saya dibesarkan di lingkungan sekarang, semua itu menjadi kemewahan yang mahal. Memori saya tentang mall sangat sedikit. Sementara anak-anak saya kok rasanya terlalu sering ya diajak ngemall… Ah, semoga keluarga kami selalu dimudahkan untuk hidup bersisian dengan alam.

Advertisements

Munafik

Jika ciri orang munafik adalah mengkhianati amanah, apakah aku telah mengkhianatimu?

(Hanya Allah yang bisa menolong)

Noise

Hello, there, there, I’m calling out

I know You’re there, there, but your voice’s without

Overswept by the noise I made, I let them in

Hello, there, there, but I know You can hear me

Should’ve shut it out,

All the noise that I am better without

Hello there, can we talk?

I turning off the noise.

I’m running back to You,

Digging my head deep in the silence of the night

Hello there, something’s wrong with my heart

Is it the noise, or is it just me?

Ruang Santai

Ada sebuah ruangan yang terletak di bagian depan kampus saya. Ruangan itu dikelola oleh sebuah unit kegiatan mahasiswa sebagai sekretariatnya. Namun, anggota UKM itu biasa menyebut ruangan itu ruang santai.

Pentingkah ruangan ini? Penting banget. Ruangan ini adalah saksi hidup pertumbuhan jiwa dan raga saya (caelah). Menyaksikan saya dan teman-teman saya tertawa, sedih, bahagia, menjalin persahabatan, jatuh cinta, patah hati. Menyaksikan kami tumbuh dewasa, dari remaja SMA nggak jelas berubah menjadi manusia dewasa yang bertanggungjawab dan mandiri.

Bentuknya sederhana saja – di bagian terasnya ada kursi-kursi panjang dan meja panjang yang biasa digunakan anggota untuk ngobrol, makan, diskusi, bikin tugas, apapun. Ada rak sepatu di samping pintu masuk – sepatu yang tidak pada tempatnya dipersilahkan untuk dilempar ke lapangan oleh siapapun yang melihat. Di dalam ruangan ada meja sekretariat dan komputer yang biasa digunakan untuk admin dan surat menyurat. Di dinding terpajang beberapa foto – biasanya foto bersama anggota dan foto komite pengurus unit tahun itu. Kemudian ada rak besar tempat anggota menyimpan tas, helm, dan barang-barangnya. Hanya komite pengurus yang punya loker pribadi. Lalu sebuah TV berukuran sedang, di depannya terhampar kasur palembang dan bantal-bantal. Tentu saja, karena kami unit pengapresiasi sinema.

Bagi kami, ruangan ini sakral. Hanya anggota yang boleh masuk ke dalamnya, dan ada sanksi keras bagi calon anggota yang ketahuan melanggar aturan ini. Tentu saja, bagi kami ini sudah selayaknya rumah sendiri. Kami berhak untuk memutuskan bahwa hanya anggota keluargalah yang boleh masuk ke dalamnya.

Ada sebuah cerita, pada malam pergantian tahun 2009 kalau tidak salah. Seperti biasanya, kami mengadakan acara makan-makan di teras bersama para anggota – calon anggota juga diundang. Dan hari pun semakin larut, beberapa orang termasuk saya memutuskan untuk bermalam di sana.

Sampai tiba-tiba, senior saya, sebut saja Bang Jon (orang ini terkenal di twitter anyway, apa kabar ya ini orang), menyadari bahwa satu orang calon anggota perempuan (sebut saja A) sedang bersiap untuk tidur di dalam ruang santai.

“Woi, itu ngapain si A tidur di ruang santai?” Tanya Bang Jon tegas.

Seorang anggota menjawab, “Kasihan kak, udah kemalaman.”

“Suruh pulang! Elo, atau siapa kek yang bawa motor, anter pulang! Nggak ada kan yang nyuruh dia di sini sampai kemaleman kayak gini?”

Bang Jon adalah salah satu senior yang disegani di keluarga kami. Akhirnya A pun digiring keluar dan diantar pulang oleh entah siapa.

Hampir satu dekade kemudian, dan kejadian itu terngiang kembali di pikiran saya. Saat ini saya sudah memiliki rumah saya sendiri, dan saya sudah tidak bisa menyebut ruangan itu “rumah” – kini, ia adalah rumah bagi para anggota-anggota baru. Masa baktinya sebagai rumah bagi saya telah berakhir saat saya mengenakan toga di gedung Sabuga. Namun kisah itu mengajarkan saya satu hal: Itulah kehormatan kita untuk menjaga rumah kita.

Ada batasan yang sangat jelas bagi “penghuni” dan “bukan penghuni”.

Rumah saya, rumah kita, tempat saya berlindung dan beristirahat. Keluarga kita.

Sudahkah kita jaga rumah kita?

Ps: Anak kampus gajah pasti tahu unit yang saya maksud 😉

Gaduh

Riuh gaduh

Bergemuruh

Tuan-tuan

Berdesakan

Nyonya-nyonya

Dengan gincu menyala

Mempelai

Bergaun melambai

Gadis manis

Jejaka perkasa

Terpajang berseri

Di pelaminan

Tuan nyonya

Berebut makanan

Dengan gaun jutaan

Memalukan

Senandung romansa

Membuat sakit kepala

Mereka berbagi bahagia

Aku makan nestapa

Terburu-buru

Buru-buru

Ayo cepat, buru-buru

Jangan sampai dia berlalu

Buru-buru

Ayo, ayo buru-buru

Jangan lama berpikir,

Nanti kamu jadi yang terakhir

Mari semua, buru-buru

Nanti tak ada lagi yang tersisa

Ingkar janji sedikit sudah biasa

Mari, buru-buru

Gelontorkan sisa uangmu

Supaya aman kapling tanahmu

Ayo, buru-buru

Nanti kamu terlambat

Mendulang rupiah berkali lipat

Ayo, jangan dipikir

Beli saja, uang muka tak seberapa

Tidak usah dipikir panjang!

Kalau sertifikat tak kunjung terbit, jangan juga meradang.

Karena semua ini

Hanya terburu-buru

Mengejar nafsu menderu

Demi lipatgandakan nilai yang semu

Ayo, buru-buru

Agar semakin banyak hartamu.

Didikan Tangan Sendiri

Sebaik-baiknya seorang Ibu adalah yang bisa mendidik anaknya dengan total dengan tangannya sendiri. Pertanyaannya, bagaimana kalau ternyata Ibunya sendiri belum selesai dengan dirinya sendiri?

Apakah saya akan membicarakan tentang inner child? Mungkin. Saya adalah contoh orang yang ingin sekali bisa mendidik anak saya sendiri. Semuanya. Motorik kasar, motorik halus, adab iman islam, ngajar ngaji, ngajar tahfidz, ngajar olahraga – you name it. Tapi kenyataannya adalah, you just can’t teach what you can’t do. Susah lah mau ngajarin anak matematika kalau Ibunya aja lihat angka sudah mules duluan, hahaha, itu mah saya.

Anyway, saya mau jujur: Saya bukan guru yang baik. Stok sabar saya cuma secuprit. Daripada sok-sokan menstimulasi anak sendiri (bikin craft apalah inilah itulah lalu spaneng sendiri mikirin ngeberesinnya) saya memutuskan untuk melakukan hal yang saya cukup ahli dalam melakukannya: SUBKON DAN MANAGE.

Serahkan sesuatu pada ahlinya. Saya lebih nyaman menitipkan pendidikan anak saya barang 2-3 jam ke guru-guru yang berpengalaman dengan lingkungan kondusif. Saya pun bisa rehat, mengerjakan hal-hal lain, dan ketemu anak dalam kondisi fresh. Percayalah digelendotin anak 24 jam sehari itu draining energy sekali.. Iya, pahalanya banyak. Tapi kalau kitanya capek dan jadi zolim ke anak-anak kita dosanya juga buanyak to.

Selain sekolah, saya pun memutuskan untuk subkon belajar ngaji dan bela diri anak saya ke guru yang berpengalaman. Lah terus Ibunya ngapain dong? Boi, Ibunya lagi ASI si adek umur 1 tahun, manalah bisa ditinggal. Saya butuh semua energi yang tersisa cuma untuk tersenyum dan tampak prima bagi anak-anak dan Bapake anak-anak. Anyway, saya masih berusaha mengajarkan adab-adab ke anak-anak, juga masih mengetatkan no tv no gadget demi anak-anak main di luar saja.

Bagaimanapun juga, “daycare” terbaik adalah program dari ortunya sesuai visi misi keluarga. Apakah akan ketemu daycare di yang cocok dengan konsep saya di bandung? Heuheu…