Ikigai

Layar ponselku menyala, petugas dari panti yatim tempat suamiku menitipkan kurban sudah menghubungi. Terkirim dua buah foto, yang pertama seekor sapi yang masih hidup difoto di depan spanduk nama-nama orang yang berkurban. Yang kedua foto sapi yang telah disembelih, masih berlumuran darah, tapi wajahnya terlihat tenang. Seperti sedang tersenyum. Seolah-olah berkata, aku sudah menunaikan tugasku di dunia.

Yang membuatku kembali bertanya-tanya: Apa tujuan kita dilahirkan ke dunia?

Apa peran yang harus kita mainkan, sehingga nanti saat malaikat maut menjemput kita bisa menyambutnya dan berkata, silakan jemput saya pulang. Urusan saya di sini sudah selesai.

Ikigai – your reason for being. Tujuan hidup.

Butuh berapa lama ya bagi saya untuk menyadari bahwa ternyata hidup itu perlu tujuan? Sepertinya selepas kuliah, pada saat itu tiba-tiba semua terasa hampa. Ya, karena hidup saya senantiasa dicekoki: “belajar yang rajin supaya bisa masuk universitas yang bagus biar orangtua bangga.” Setelah lulus dari kampus gajah, saya bekerja di perusahaan yang baik pula, tapi selama itu pun saya merasa hampa. Seperti ada yang hilang. Saya sangat semangat bekerja – I do love my job. Tapi saya kehilangan kewarasan emosional saya dengan hilangnya komunitas-komunitas sosial yang dulu sangat mudah saya temui. Apalagi saya tinggal di Jakarta, janjian makan malam dengan teman saja ngap-ngapan dengan macet dan ngeles dari deadline heuheu.

Setelah itu saya semacam mati suri. Badan bekerja, tapi otak dan hatinya mati. Kalau kata suami saya, namanya “elevator syndrome” – sudah biasa naik elevator, begitu elevatornya sampai ke lantai atas, kita bingung dan stuck sendiri. Lantas melangkah keluar elevator, terheran-heran dengan banyaknya pilihan jalan, lalu pusing sendiri.

“Kepincangan dalam keluarga” yang saya alami semasa kecil membuat saya kehilangan sosok laki-laki panutan dalam hidup. Menjadi anak tunggal dengan Ibu tunggal yang selalu sibuk bekerja (it’s not her fault) membuat saya kesepian – I did wonder if I have friends or that my existence really matter in this life. Saat SD setiap Ibu saya memarahi saya karena kelelahan saya seringkali berpikir, kalau keberadaan saya di dunia ini hanya menjadi beban bagi orang lain bukannya lebih baik saya mati saja ya? Kenapa saya hidup? Tapi kemudian, saya terus memutuskan untuk hidup karena saya akhirnya menyadari bahwa Ibu saya pasti akan kehilangan saya. Dan tujuan hidup saya saat itu adalah menemukan pendamping hidup yang baik supaya saya tidak terlalu kesepian. Kalau lagu dewa 19 bilang “Di dalam keramaian aku masih merasa sepi”, ya memang begitulah adanya, walaupun terdengar kacangan.

Seiring waktu saya mulai sadar dan tahu diri atas pengorbanan Ibu saya, maka saat saya diterima kuliah di kampus gajah (di jurusan yang saya pilih dengan kesadaran penuh karena saya suka), tekad saya adalah segera lulus dengan prestasi untuk membuat beliau bangga. Walaupun prestasi ternyata berat bung dengan saingan manusia2 ambisius sekampus šŸ˜‚

Dan kemudian saya menikah. Di usia muda, 23 tahun. Kemudian punya anak. Saya pikir mendidik anak dengan baik bisa menjadi ‘ikigai’ saya… Ternyata saya masih harus melakukan banyak perbaikan di sisi “what I’m good at”. Saya bisa bikin materi kurikulum pendidikan anak, saya sudah berkali-kali melakukannya untuk junior saya di bangku kuliah. Tapi dalam tataran eksekusi, saya kacau. Saya butuh bantuan ekstra: pengasuh, sekolah, ekskul, guru ngaji, you name it. Saya ternyata bukan manusia sakti macam teh kiki barkiah yang bisa homeschooling 5 anak sendiri sambil beresin rumah tanpa ART. Sepertinya saya harus banyak memperbaiki manajemen subkon-subkon pendidikan anak saya šŸ˜

Then again, saat saya subkon-subkon urusan anak nggak mungkin dong saya gogoleran sambil wasapan doang. I have to have something useful, meaningful for myself. Menjadi Ibu bagi anak-anak adalah satu hal. Menjadi istri bagi suami juga satu hal lain. Pertanyaan terbesar saya, akan menjadi apa saya untuk diri saya sendiri? Setelah keluarga dan anak-anak pergi dari hidup saya, peran apa yang masih akan melekat kepada saya di dunia ini? Nggak mungkin kan setelah anak-anak menikah, saya tetap recokin mereka. Post power syndrome dong.

Saya punya hobi yang sama sejak saya usia SD: membaca, menulis, dan menggambar. Semuanya bisa membuat saya lupa waktu, pantesan aja ya begadang terus waktu kuliah. Saya suka melakukan semuanya.

Kata suami, ternyata tulisan saya lebih bagus daripada gambar saya… Hahaha. Saya bukan yang paling berbakat di antara mahasiswa jurusan saya, tapi percayalah kalau soal usaha, saya nggak main-main. Tapi ya tetep aja segitu, kalah dengan orang yang berbakat dan effortless mengerjakan tugasnya. Dan saya dapat B dan dia dapat A šŸ˜‚ Waktu itu saya seediiih banget, merasa bahwa dunia ini nggak adil. Tapi sekarang saya menyadari, bahwa kasus yang terjadi pada teman saya adalah hasil asahan pedang di tempat yang tepat. Andaikata dia masuk jurusan kedokteran, saya yakin dia nggak akan bisa se-effortless itu.

Jadi, demi menemukan ‘ikigai’ saya, saya sekarang sedang berusaha mengasah ‘pedang’ saya yang satu lagi: menulis. Bagaimana caranya kegiatan menulis yang saya suka dan bisa, menjadi bermanfaat bagi orang banyak. Dan tentu saja, saya nggak keberatan kalau ada yang mau kasih saya uang untuk baca tulisan saya :p 

Omong-omong, tahukah kamu kenapa blog ini saya beri judul “the trace of her existence”? Supaya saat saya sudah tidak ada, blog ini dan apapun yang tersisa dari pikiran saya selama singgah di dunia ini bisa bermanfaat bagi banyak orang di dunia ini. Walaupun yang baca blog saya di bumi ini kayaknya jumlahnya gak sebanding banget dengan total populasi šŸ˜…

Dan tanpa saya sadari, ternyata saya sudah menjawab pertanyaan saya sendiri. Memang sungguh menulis itu meluruskan benang kusut di dalam otak šŸ˜…

Ada satu momen di mana saya merasa sangat krisis semangat hidup. Januari tahun ini saya dirawat di rumah sakit seminggu dengan paru-paru yang panas setiap kali bernapas. Dan saya juga tipes. Sebenarnya penyakit itu nggak terlalu buruk, tapi entah kenapa saya jadi terpikir, bagaimana kalau penyakit ini mematikan? Bagaimana saya bisa bertahan hidup? Apa alasan saya untuk bertahan hidup? Kasihan semua keluarga saya jadi ikut repot saat saya dirawat di rumah sakit. Jangan-jangan dunia ini lebih baik kalau saya nggak ada? Ah, jadi mengerti betapa jatuhnya mental orang yang didiagnosis penyakit-penyakit mematikan. Sungguh hebat para penyintasnya.

Suami saya pernah bilang, hidup di dunia ini tak lebih dari banyak titik yang saling bersinggungan menjadi suatu garis. Pada saatnya, titik itu akan berpisah. Dan tinggallah kita sendirian.

Kita, lahir sendiri. Mati pun sendiri. Dihisab pun masing-masing. Tidak akan ada yang membela kita saat hari perhitungan, di depan Zat Yang Maha Adil.

Maka, apakah kita rela keberadaan kita di bumi Allah ini sekedar lalu tanpa makna? Sungguh merugi jika kita hidup hanya sekedarnya. Mengutip kata Buya Hamka (Rahimahullah):

Jadi, apa tujuan kita diciptakan di dunia? Satu hal yang membuat kita bisa membuat kita berkata kepada malaikat maut saat dia datang menjemput: “Aku sudah tunaikan kewajibanku di sini – ayo kita pulang.”
PS: Jangan lupa semua diniatkan karena Allah

Advertisements

4 thoughts on “Ikigai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s