Delusi Keimanan

Suatu malam saya sedang “kesambet” – tumben-tumbennya ngawasin/nemenin anak2 main sambil baca juz amma keras2. Padahal mah biasanya kalau anak main dan lagi asyik sendiri saya sukanya baca buku.

Al Qur’an punya vibe yang unik – membaca atau mendengarkannya saja seperti memanggil ‘sesuatu’ di dalam hati. Menyenangkan. Tapi kenapa saya jarang ngaji satu juz sehari ya?

Melihat surat-surat di juz 30 membuat saya teringat sesuatu. Coy. Hafalan lo. Mentok kabeh. Makhroj lo. Kacau kabeh.

Dan teringat teman yang anaknya 5 jarak per dua tahun yang membuatnya bersyukur, selalu ada momen untuk menjemput anaknya dan gandengan tangan sambil murojaah juz amma sehingga ada satu juz yang melekat di kepalanya. Sementara saya… Jemput anak sekolah ngapain coba… malah jajan roti melulu di minimarket. Heuheuheu.

Saya hidup dalam sebuah delusi – delusi bahwa saya adalah hamba yang beriman (padahal mana ada orang yang mengaku beriman sedang ia tidak diuji?). Iya saya menutup aurat dan sholat 5 waktu, tapi apakah itu cukup untuk membawa saya ke surga? Sedekah saya masih minimalis, hafalan qur’an saya memprihatinkan, manfaat yang diberikan kepada masyarakat entah gimana, belajar agama juga masih sering di UGM sama UYM (universitas gugel/yutub mandiri – etapi aku liatnya yufid channel kok)

Adooh apa kabar lah gue dibanding orang2 yang begitu ringan bersedekah dan berjalan ke majelis ilmu dan khusyuk sholatnya? Maksiat apa sih yang lo perbuat sampe ‘berat’ khusyuk , tapi di sisi yang sama lo mengalami delusi keimanan? *Ngomong sama diri sendiri*

Tentu saja saya tahu jawabannya. Tapi yang sering terlupa adalah bahwa tidak ada azab di dunia bukan berarti tidak ada azabnya di akhirat. Naudzubillahi min dzaalik.

Tapi.. Allah memenuhi prasangka hambanya. Aku bisa kok jadi hamba-Mu yang baik, siswa unggulan yang akan Kau masukkan ke surga langsung blas. Aku bisa kan? Iya aku bisaaaa *afirmasi diri*

Ayo dong tobat yang bener, jangan tobat sambel doang.

Advertisements

Repetisi Hari Lahir

I don’t celebrate birthday – well, not anymore. I used to celebrate it.

Sejak kapan tidak? Sepertinya sejak 3-4 tahun yang lalu.

Kenapa tidak?

Kenapa iya?


Kenangan awal saya terhadap ulang tahun sepertinya tidak terlalu baik – saya hanya tahu bahwa itu pesta yang diadakan oleh orang-orang berduit, bagi-bagi makanan dan riang gembira, dan bikin iri orang yang datang karena mereka tahu bahwa mereka nggak bisa merayakannya semeriah itu.

Saya cukup sadar diri bahwa saat itu saya datang dari kalangan yang tidak bisa merayakan. I was 3 or 4 years old that time.

Saya ingat ada keramaian di sebuah kelas – semua terlihat gembira, hei apa ini yang menyenangkan? Aku juga mau ikut!

Oops, seseorang menarikku keluar. Katanya, itu hanya untuk TK A. Kamu kan, tidak diundang.

Pesta yang menyebalkan.

Tapi sepertinya menyenangkan kalau bisa merayakan pesta seperti itu. Aku akan dapat banyak hadiah, kan?

Setidaknya itu yang terpikir saat itu.

Sepertinya akhirnya Ibu saya berbaik hati merayakan ulang tahun saya saat saya berusia 5 atau 6 tahun. Lengkap dengan badut sulap. Bagi-bagi hadiah – yang entah dari mana uangnya, saya nggak tahu. Antara senang tapi sedih juga kalau saya merepotkan orang tua.

Selebihnya saya tidak ingat. Sepertinya sepanjang usia saya hanya saya yang antusias sendiri dengan ulang tahun saya, dan orang lain semacam “iya sih dia mau ulang tahun, kasihan, rayain dan selametin aja lah biar dia seneng.” karena orang yang ulang tahun akan sedih kalau ultahnya tidak dirayakan. Padahal sebenarnya nggak merayakan ultah juga toh nggak akan mati.

Mama mulai memerhatikan ulang tahun saya sejak… Ultah saya ke dua puluh sekian. Saya kurang ingat. Saat itu saya sudah pulang ke Jakarta, dan hubungan kami sudah semakin dekat. Well basically we only have each other and God.

Jadi kenapa saya mulai tidak merayakan ulang tahun?

Well sejak mulai belajar agama, dan acara perayaan ulang tahun tidak ada tuntunannya, jadi saya pilih tidak. Pada dasarnya hari raya muslim hanya Idul Fitri, Idul Adha, dan Hari Jumat, dan printilan perulang tahunan itu terlalu banyak elemen tasyabbuh kaum non muslim (ya, saya percaya hadist “barang siapa meniru suatu kaum maka ia termasuk ke dalamnya”) – so better safe than sorry.

Jadi saya nggak berulang tahun. Pun nggak bermilad.

Toh ternyata nggak dirayakan juga saya masih hidup. Hidup malah semakin damai karena nggak nyusahin orang buat beli kue dan hadiah pada tanggal tertentu jam 12 malam :p

Semoga kelak anak-anak mengerti kenapa kita tidak merayakan ultah ya nak.