Photograph

Iseng-iseng stumbling youtube Ed Sheeran buat cari inspirasi (saya suka ngorek lirik lagu kalau lagi mentok nulis), eh baru tahu ternyata Photograph yang soundtracknya Me Before You itu yang nyanyi bang Ed toh. Lihat video klip nya… ya ampun. Holy ninjas chopping onions.

Loving can hurt, loving can hurt sometimes
But it’s the only thing that I know
When it gets hard, you know it can get hard sometimes
It is the only thing that makes us feel alive

It reminds me about my children. How sentimental? Ya, dengan tingkah polah anak-anak, dan jujur aja dulu saya nggak suka anak-anak karena banyak tingkah (but here I am being a mother of 2 awesome kids!). Kadang-kadang sumbu pendek, lalu meledak. Lalu menyesal. Menyakiti hati saya sendiri dan mereka juga. Yes, loving can hurt. But for you two it’s worth it.

We keep this love in a photograph
We made these memories for ourselves
Where our eyes are never closing
Hearts are never broken
And time’s forever frozen still

Saya termasuk orang yang nggak terlalu suka foto. Bukan orang yang suka termehek-mehek dengan memori… Mungkin karena saya masih muda dan sibuk? Mungkin kelak saat saya tua nanti, saya tinggal sibuk membuka album foto anak-anak saya sementara mereka sibuk dengan dunianya. Dan kemudian kelak orangtua saya akan pergi, dan yang saya miliki hanya foto mereka. Dan kemudian saya akan pergi, dan yang mereka miliki hanya foto saya. Dan kemudian mereka akan pergi, dan kenangan tentang saya perlahan akan terhapuskan dari dunia ini – yang tersisa tinggal catatan amal dari Raqib dan Atid. Dan kemudian kami akan sibuk di kubur masing-masing. Dan kemudian…

Aku tidak tahu. Jika kalian masuk ke surga, akankah kalian mengingatku sebagai Ibu kalian, ataukah kalian akan melupakanku? Karena bidadari surga jauh lebih menawan.

Saat kau bilang foto membekukan waktu, tapi waktu hanya sebatas itu saja. Kehidupan yang sesungguhnya hanya satu setengah jam saja.

Setelah kita kembali ke dunia di mana tidak ada batas waktu, akankah kita kembali bertemu? Akankah kamu mengingatku sebagaimana aku mengingatmu?

Advertisements

Revertigo

Strolling down the lane where I first make memories with you remind me to fall in love with you again

Perusak Nurani

Suatu hari, seseorang di grup WA berisi para mahmud mengirimkan sebuah video dengan caption kurang lebih: “waspada ya ibu2”. Beberapa orang sudah berkomentar, nggak berani buka ah. Takut lihat isinya. Saya termasuk yang menunggu review dari yang sudah buka videonya. Hasilnya? Ternyata video seorang babysitter yang lagi mukulin anak asuhnya yang terekam dari CCTV.

Saya meradang. Bagi saya, nggak ada gunanya melihat hal seperti itu – ujung-ujungnya bikin sakit hati, sedih, emosi jadi terganggu. Pesannya pun nggak nyampe. Akhirnya saya nanya, “Buat apa sih ngirim2 video kayak gini?” orangnya hanya menjawab “Ya supaya kita jadi waspada sama ART kita.”

Ya kalau lo mau waspada dengan orang yang dipekerjakan untuk mengasuh anak kita, nggak gitu juga kali caranya. Kalau ada orang/yayasan yang tidak direkomendasikan berdasarkan pengalaman pribadi, bolehlah diinfo ke grup sejenis. Tulis review di blog. Bukannya nyebarin video orang lagi berbuat kekerasan (yang entah kejadiannya kapan dan di mana) lewat whatsapp.

Ini sama saja seperti berita di media yang suka menyampaikan dengan bahasa vulgar: “Si anu berbuat ini lalu dibeginikan, mati deh”. Belum lagi berita kekerasan dengan reka ulang yang sangat detail – I do wonder how is that going to benefit our society.

Mata dan telinga adalah jendela hati, maka saya sangat jaga dua organ tubuh ini. Bahkan di dzikir pagi dan petang selalu ada doa “allahumma ‘aafini fii badani, allahumma ‘aafini fii sama’i, allahumma ‘aafini fii basharii” – “Ya Allah, selamatkan tubuhku, pendengaranku, dan penglihatanku”. Betapa mudah apa yang lewat di mata jadi kita inginkan di hati – segampang lagi puasa lalu lihat iklan marjan dan jadi haus. Betapa mudah lagu yang tidak sengaja terdengar terngiang-ngiang di kepala (pernah lagi sholat terus tiba-tiba lagu sambalado autoplay di kepala? hah).

Hati-hati dengan apa yang kita bagikan, baik secara audio maupun visual. Dalam kasus video tadi, saya malah takutnya dengan melihat orang menyakiti orang lain, secara tidak langsung kita jadi ‘terinspirasi’ untuk melakukannya. Melihatnya pertama kali, mungkin hati kita masih ngilu. Tapi dilihat beberapa kali lagi, lama-lama biasa saja. Biasa melihat, lama-lama melakukannya biasa saja. Ngeri. Naudzubillahi min dzaalik.

Apakah gue lebay? Mungkin. Tapi kalau mau adu lebay, adu aja sama imam Syafi’i yang nggak sengaja makan apel yang jatuh, terus baru sadar itu jangan-jangan punya orang, dan akhirnya berusaha menelusuri jejak apel itu sampai ke pemiliknya.

To Let Go, To Feel Loved

Saya pernah bercanda dengan suami saya, jika nanti punya anak perempuan dan ada pria yang meminang, mau ditanya apa?

Suami bilang, kalau dia bisa jawab “apa itu islam”, insya Allah langsung diapprove huehehe. Berhubung doi lebih rajin ngaji daripada saya, sayapun nanya, emang kunci jawabannya apa sih?

Jawabannya adalah: Berserah. Udah itu aja (bocoran siapa tau ada yg mau besanan sama saya *eh*)

Menyerahkan diri kepada Allah, bergantung hanya kepada-Nya.

Which reminds me of something…

Kendaraan keluarga kami tidak diasuransikan. Alasannya karena konsep asuransi sendiri mengandung gharar dan judi (baca buku Harta Haram Muamalat Kontemporer karya Erwandi Tarmidzi ya kalo kepo… Atau google juga banyak kok yang jelasin). Kami yang sedang berproses untuk menjalankan syariat islam sebenar-benarnya, memutuskan untuk menghindari hal-hal semacam ini. Padahal sebenarnya menggiurkan: Bayar 4 juta per tahun untuk mendapatkan perlindungan. Ya, namanya juga nyetir di Jakarta, pasti ada aja bocel sana sini minimal baret. Waktu masih pakai asuransi, nilai total klaimnya aja bisa hampir 4 juta sendiri untuk body repair mobil. Hampir impas kali ya. Alhamdulillah sih selama ini nggak mengalami kecelakaan yang heboh atau gimana.

Hari ini saya menjemput si sulung dengan mobil. Qadarullah, di suatu belokan, pas banget saya lagi belok, ada ibu-ibu naik motor ngebut dari arah samping saya. Saya udah ngerem, beliau refleksnya lambat atau entah sedang meleng, akhirnya telat ngerem dan nabrak mobil kami deh. Hehehe. Alhamdulillah si ibu nggak apa-apa, cuma kaget aja (wajahnya pucat). Sementara mobil saya bocel. Wew..

Sebel apa nggak? Saya bahkan nggak tau mau sebel apa nggak, hahaha. Mungkin harusnya saya sebel karena mobilnya lecet, tapi mau minta ganti rugi juga agak males memperpanjang, belum tentu juga orangnya mampu. Jadi ya sudahlah kalaupun ternyata saya ganti sendiri dan akhirnya menelan biaya banyak, semoga bisa jadi penggugur dosa. Padahal sempat terinspirasi untuk nahan KTP seperti yang dulu pernah dilakukan oleh bapak2 yang mobilnya saya tabrak karena keteledoran saya. Tapi kok hati nurani saya bilang “udah lah biarin aja”. Saya memutuskan untuk nggak memperpanjang masalah, dan saya pun pulang.

Selama perjalanan saya pun berpikir. Seandainya mobil ini diasuransi, harusnya saya nggak perlu pusing mikirin berapa biaya yang harus saya keluarkan untuk perbaikan mobil. Tapi kalau saya nggak mikirin masalah biaya itu, maka kejadian tabrakan tadi akan kehilangan hikmahnya dong? Karena saya nggak asuransi, saya akhirnya mengambil hikmah bahwa mungkin Allah sedang menegur saya karena sesuatu dan banyak hal. Terlalu banyak dosa dan minim perbuatan baik yang saya perbuat.

Anehnya walaupun kepikiran harus melayang sekian rupiah, hati saya terasa ringan. Kalau diuji, berarti masih ‘dianggap’ murid dong sama Sang Pencipta? Asik 😀 Sebenarnya masih banyak musibah kecil yang terjadi sebelum ini, hahaha bener-bener ditegur deh (HP rusak kena air, Laptop rusak, plafon rumah jebol gara2 kamar mandi bocor, plus mobil ketabrak haha). Alhamdulillah ‘alaa kulli hal, semoga Allah jadikan ini penggugur dosa-dosa dan menjadikan motivasi untuk banyak berbuat baik.

Ternyata di sini nikmatnya bergantung langsung dengan Sang Pencipta. Hanya perlu berserah diri untuk merasakan bahasa cinta-Nya 🙂