Baru Coba Stasiun Sudirman Baru

Bismillah. Sekali-kali posting tentang pengalaman baru ke tempat baru ya, kali bosen baca kontemplasi saya mulu haha. Jadi, tanggal 1 Januari kemarin saya, mama dan anak2 saya jalan-jalan keliling Jakarta. Maksudnya sih biar bapaknya yang lagi kerja di rumah biar bebas gangguan 😀

Perjalanan dimulai dari plaza semanggi karena mama mau cek barang belanjaannya yang diduga tertinggal di sana. Setelah lapor ke CS, kami pun makan siang di yoshinoya… Terus ngapain lagi, ya? Akhirnya mama mengajak kami pergi ke Stasiun Sudirman Baru! Lokasinya tidak jauh dari stasiun sudirman. Kami pun masuk ke area parkir yang berada di lantai 2.

Sore itu langit Jakarta cerah, masya Allah. Kalau Jakarta sering-sering sepi gini kayaknya saya bakal betah hehe. Nah setelah parkir, kami pun masuk ke dalam stasiun. Di lantai 2 ini ada fasilitas mushola, klinik, dan gerai indomaret. Untuk naik ke peron kita harus turun 1 lantai. Untuk membeli tiket, kita harus naik 1 lantai lagi. Kami pun naik ke lantai atas…

Di sini kita bisa melihat struktur truss warna oranye yang diekspos. Di kiri-kanan koridor sudah ada beberapa stand makanan kecil, di antaranya gelato, anomali coffee, KFC, roti apa lupa namanya. Kata mama saya stand ini hanya sementara, nanti mereka akan pindah ke gerai yang lebih besar (saat ini area komersial masih ditutup kain putih, sepertinya pengerjaan interiornya belum rampung).

Si mamah dan kakak beli ayam dulu :p

Nontonin mas-mas barista bikin kopi

Selain jajan KFC, mama pun iseng icip-icip anomali coffee. Beli single origin aceh gayo organik. Lumayan enak juga ternyata 🙂 es krim gelato di sebelahnya juga enak lho, untuk harga 30 ribu per cup, rasanya worth it sekali.

Beres jajan, kami pun ngintip ke area ticketing. Sisemnya sudah modern menggunakan komputer layar sentuh. Di sana kita bisa melihat ketersediaan tiket. Ada petugas yang membantu pengunjung untuk mengoperasikannya. Selain beli tiket di tempat, ternyata tiket bisa dibeli jauh-jauh hari dengan aplikasi, jadi sampai stasiun tinggal naik kereta deh. Harga tiketnya 30.000 rupiah per perjalanan. Cocok buat solo traveler atau orang-orang introvert impulsif.

Kalau lihat adatnya orang Indonesia, sepertinya garis batas antriannya harus sejumlah dengan mesin tiket deh. Hehe. Gak kebayang ricuhnya kalau lagi rame

Jadwal kereta dan cara pembelian tiket

Ternyata yang tersisa tinggal tiket jam 16.20 dan setelahnya saja ke bandara. Itu artinya paling cepat kita baru bisa kembali ke Sudirman jam 7 malam. Saya yang cuma bawa perbekalan anak-anak seadanya nggak ada nyali, euy. Apalagi si adik kalau udah capek ngamuknya horor banget. Kayaknya mama agak kecewa karena nggak jadi nyoba kereta (sejak beranak 2 anaknya jadi gak gesit lagi hahahah). Padahal dulu mah kami sering bertualang berdua saja kemana-mana. Tapi tak apalah akhirnya kita makan ayam di kursi tunggu yang menghadap ke kali entah apa di samping stasiun

Abaikan bayangan ibu2 gendong anak ini… Itu kali apa ya? Ciliwung?

Sebenarnya menurut saya kalinya nggak kotor-kotor banget. Memang sih ada sedikit sampah plastik yang terbawa. Eh lalu saya teringat pelajaran PLKJ zaman SD katanya Daerah Aliran Sungai itu nggak boleh dibangun sejarak 3 meter dari sungai? Mungkin pondasi stasiun ini sudah lebih dari 3 meter ya, tapi memang kondisi DAS di Jakarta masih jauh dari ideal. Semoga lebih banyak penghijauan di pinggir sungai.

Kembali ke area tunggu, tempatnya cukup nyaman. Tapi kalau sore puanaass.. karena kaca jendelanya sepertinya berorientasi ke barat daya. Sepertinya lebih baik kalau ada sunshading sehingga cahaya mataharinya nggak terlalu membakar orang yang lagi duduk hehe. Memang sih kacanya sudah ada semacan lapisan filmnya. Tapi tetep aja puanas. Ditambah lagi dengan posisi lantai paling atas yang berbatasan langsung dengan atap (yang kemungkinan besar pakai bahan metal = tambah panass). Walaupun sudah pakai insulasi di bawah atap, masih aja panas hehe. Walhasil AC yang berada di langit-langit harus kerja ekstra keras. Responsive design is a must! #gaya

Lumayan kena mataharinya. Kalau ada sunshading harusnya rada adem hehe. Ducting AC diekspos di bawah struktur truss atap.

Beres ngemil, kami pun turun ke bawah untuk shalat ashar. Musholanya berada di dekat indomaret, dan cukup nyaman juga. Tersedia mukena, sarung, dan sajadah.

Ini anak-anak lagi pada ngapain ya

Demikianlaah… Walaupun nggak naik keretanya, minimal sudah tahu stasiun bandaranya kayak gimana 😀 oh iya jangan lupa, kalau mau nyambung dengam KRL ke rumah masing-masing naiknya dari stasiun Sudirman ya (jalan dikit dari stasiun ini) dan tiketnya juga beda. Semoga stasiun ini bisa beroperasi dengan lancar dan memberi banyak manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan kecepatan dan kepastian untuk sampai bandara 😉

Advertisements

6 thoughts on “Baru Coba Stasiun Sudirman Baru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s