Tetangga

Ini adalah kisah tentang kehidupan bertetangga yang dialami oleh seseorang, sebut saja Fulan.

Fulan tinggal di sebuah komplek perumahan menengah ke atas di Jakarta, namun demikian kehidupan bertetangganya cukup akrab, terbukti dengan rutinnya acara arisan, pengajian, senam pagi, dan tujuhbelasan yang selalu diikuti warga dengan antusias. Walaupun tidak dipungkiri Fulan juga tidak hapal seluruh tetangganya, tetapi Fulan selalu menyapa tetangga yang rumahnya ia lewati saat berjalan-jalan di lingkungan rumahnya. Fulan juga aktif sebagai tim bantu-bantu acara masjid, pokoknya kalau diminta tolong apapun oleh ketua, ia siap siaga.

Tetangga Fulan adalah orang-orang yang baik. Tetangga sebelah kirinya sibuk bekerja dan sering bepergian ke Bandung (penghuninya adalah pasangan LDR), tetapi tetangga sebelah seringkali memberi hadiah atau oleh-oleh. Saat Fulan mau renovasi rumah dan merapikan pohon tetangga yang cabangnya masuk ke rumahnya, Fulan juga minta izin dulu kepada tetangga. Komunikasi dengan tetangga sebelah berjalan dengan baik. Begitu juga dengan rumah sebelahnya lagi, beliau sangat rajin memberikan hadiah, mereka pun tidak sungkan minta bantuan darurat semacam ‘minta bawang’ dan sejenisnya kalau benar-benar sedang kehabisan ๐Ÿ˜€

Tetangga depan Fulan juga sering memberikan makanan kepada keluarga Fulan. Sementara di sebelah rumah Fulan adalah tanah kosong, jadi Fulan tidak terlalu akrab dengan tetangga di seberang tanah tersebut.

***

Beberapa tahun kemudian, kapling kosong di depan rumah Fulan dibangun dua buah rumah. Rumah pertama, berwarna kuning, dimiliki oleh keluarga asal Aceh. Mereka sangat sopan, saat mereka pindah ke rumah itu, mereka menghampiri satu persatu rumah tetangganya untuk bertamu dan berkenalan. Sampai sekarang Fulan dan tetangga penghuni rumah kuning ini berhubungan dengan sangat baik. Sebagaimana orang daerah pada umumnya, si ibu ini sangat royal dalam berbagi makanan, kalau sedang memasak beliau seringkali mengirimkan sebagian makanan kepada si Fulan.

Sementara rumah sebelahnya, berwarna putih dan jauh lebih besar daripada rumah kuning. Tapi Fulan tidak pernah bertemu dengan pemiliknya. Konon pemilik rumah itu tinggal di perumahan yang sama, tapi rumah besar itu digunakan untuk acara-acara keluarga saja. Rumah itu kosong di sebagian besar waktu.

Beberapa waktu yang lalu, tukang kebun yang biasa merawat taman rumah putih datang ke rumah Fulan. Ia menyampaikan bahwa besok akan ada acara lamaran anak pemilik rumah di sana, dan Fulan diundang. Kebetulan Fulan sudah ada janji sehingga tidak bisa menghadirinya.

Beberapa saat kemudian, tetangga yang lain yang kebetulan bertemu Fulan bertanya, apakah Fulan akan datang ke acara itu? Fulan menggeleng, ia sudah ada janji. Ternyata tetangga lain juga tidak datang, namun dengan alasan yang lain:

Nggak ah, ngapain datang. Ngundang kok pakai nyuruh tukang kebunnya, sombong amat.

Fulan hanya manggut-manggut. Ternyata hal ini termasuk hal yang socially unacceptable di kalangan tetangganya yang memang sudah senior ini (usia mereka sudah di atas 40, dan pastinya dibesarkan dengan standar tata krama yang lebih baik daripada orang zaman sekarang).

Waktu pun berlalu, tiba-tiba sepucuk undangan pernikahan mewah datang ke rumah Fulan. Fulan bertanya-tanya, siapa ya yang menikah ini? Lihat-lihat alamatnya, oh, ternyata anak pemilik rumah putih itu, toh. Resepsi pernikahan tanggal sekian, kebetulan tidak ada acara, insya Allah bisa hadir. Pikiran Fulan sesederhana itu.

Tapi ternyata beberapa tetangga masih merasa enggan untuk datang, karena alasan yang sama:ย Nggak ah, ngapain datang. Ngundang kok pakai nyuruh tukang kebunnya, sombong amat.

***

Tak kenal maka tak sayang, memang benar, sih. If we never introduce ourselves to each other, we are just strangers lingering around each other. Rasanya aneh, dan malah seperti “Siapa sih lu, ngapain sih lu keliaran di deket-deket gue? Kenal juga kagak.”

Dan pesan moral yang bisa dipelajari: kalau ngundang tetangga, jangan pakai pembantunya atau tukang kebunnya. Nggak sopan ternyata.

Jadi inget pak RW yang selalu menekankan kepada masyarakat sekitar rumah saya: Yang mau ngurus surat harus ketemu langsung sama saya, jangan coba-coba pakai satpam atau pembantu. Saya mau kenal dengan penghuni daerah ini juga.

Advertisements

Grudge

You never apologize

And see if you will do that in yaumil hisab.

Friendship Parameter

Apa sih yang membuat kamu nerasa jadi teman seseorang? Diajak ngumpul bareng? Diundang ke nikahannya? Atau gimana?

Lalu gimana dong kalau orang yang dulu dekat sama kita ternyata nggak mengundang kita di hari pernikahannya? Well, I went there like several times so I thought… Oh kita udah nggak sedekat itu lagi ya. Hehehe. Oh ternyata aku sudah nggak asik lagi ya… :p

But the truth is… People come and go. Kamu yang dulu pasti berbeda dengan kamu yang sekarang. Kamu yang sekarang belum tentu cocok dengan teman yang dulu, dan sebagainya.

I thought I have a lot of friends, but do I really?

Nggak masalah, sebenarnya. Toh nanti saat kuburan kita ditutup teman sejati tinggallah amal…

But Who Cares

But who cares about what they think?

It’s about me and The One who creates me

It’s about the moment He creates me, the moment we meet again, and the moment in between

I seek You, with Your Great 99 Names.

All things happen in my life are just for You. Why would I bother thinking about a creature who can’t even create an atom?

I Lost Myself

I lost myself pretty much most of the time

There is time where i miss my old hot-headed, active, and fearless personality back in college.

There is time where i miss myself being selfish and strict about what’s ok and what’s not to give to my kids.

During time, i lost it.

I lost it in the name of peace and keeping other people happy.

I lost it in the name of making myself less tense.

I lost myself.

The tense, hot headed, ambitious and strict me is myself i lost.

I lost the person who value time and self respect.

I lost her at the price of being acceptable by society.

I lost myself once again.

Sarang Laba-Laba

That moment when you think you have a way out for your problem but turns out it’s actually another test…

Surat Al 'Ankabut Ayat 2
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?
Surat Al 'Ankabut Ayat 3
Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
Surat Al 'Ankabut Ayat 4
Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput (dari azab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu.
Surat Al 'Ankabut Ayat 5
Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
Surat Al 'Ankabut Ayat 6
Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.
Surat Al 'Ankabut Ayat 7
Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.
Surat Al 'Ankabut Ayat 8
Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
Surat Al 'Ankabut Ayat 9
Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh benar-benar akan Kami masukkan mereka ke dalam (golongan) orang-orang yang saleh.
Surat Al 'Ankabut Ayat 10
Dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”, maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: “Sesungguhnya kami adalah besertamu”. Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia?
Surat Al 'Ankabut Ayat 11
Dan sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman: dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang munafik.
Surat Al 'Ankabut Ayat 12
Dan berkatalah orang-orang kafir kepada orang-orang yang beriman: “Ikutilah jalan kami, dan nanti kami akan memikul dosa-dosamu”, dan mereka (sendiri) sedikitpun tidak (sanggup), memikul dosa-dosa mereka. Sesungguhnya mereka adalah benar-benar orang pendusta.
Surat Al 'Ankabut Ayat 13
Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka, dan beban-beban (dosa yang lain) di samping beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan.
And you think you are ok if you just take that ‘way out’, but then…
Surat Al 'Ankabut Ayat 41
Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.
But you’re afraid that your family will hate you. But Ibrahim let himself burn to defend his tauhid. And you think heaven comes easy?

ูŠูŽุง ุญูŽูŠู‘ู ูŠูŽุง ู‚ูŽูŠู‘ููˆู’ู…ู ุจูุฑูŽุญู’ู…ูŽุชููƒูŽ ุฃูŽุณู’ุชูŽุบููŠู’ุซูุŒ ูˆูŽุฃูŽุตู’ู„ูุญู’ ู„ููŠู’ ุดูŽุฃู’ู†ููŠู’ ูƒูู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽูƒูู„ู’ู†ููŠู’ ุฅูู„ูŽู‰ ู†ูŽูู’ุณููŠู’ ุทูŽุฑู’ููŽุฉูŽ ุนูŽูŠู’ู†ู ุฃูŽุจูŽุฏู‹ุง

โ€œYa hayyu ya qoyyum bi rahmatika astaghiits, wa ash-lihlii syaโ€™nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata โ€˜ainin abadanย [artinya: Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dari-Mu selamanya]

Sumber :ย https://rumaysho.com/11790-dzikir-dan-doa-dengan-ya-hayyu-ya-qayyum.html