Voices

Akhir-akhir ini kepala saya sering mendengar suara-suara (nggak, saya nggak skizofrenik kok insya Allah). Dia berkata, kamu harus fokus untuk memberi manfaat kepada orang lain. Fokus untuk orang lain, jangan diri sendiri melulu.

Suara ini membuat saya impulsif untuk membeli aneka hadiah untuk diberikan ke saudara jauh saya. Suara ini yang membuat saya ingin buang-buang uang (literally) buat dikasih ke yang membutuhkan.

Akhir-akhir ini, dia berisik sekali.

Ada tukang lagi kerja di sebelah – katanya, ayo bikinin minum.

Pembantu mau pinjem uang buat ongkos mudik – katanya, ngapain pinjem, kasih aja.

Terkadang ada juga suara lain yang mengingatkan tentang financial planning, tabungan, segala rupa. Entah siapa dia.

Tapi saya ingat, suara pertama adalah suara yang berhasil membuat saya berhijab dan lalu mulai bercadar.

Suara-suara penuh ide gila. Gila dalam takaran akal manusia yang terbatas ini.

Saat suara itu menyuruh saya berhijab, ada saja yang berkomentar: gila lo… nggak pantas, lah.

Saat suara itu menyuruh saya bercadar, ada juga yang bertanya: apa nggak terlalu ekstrim?

Suara yang menyuruh saya menguras tabungan untuk nyumbang seorang teman yg kesusahan eh tapi kemudian Allah langsung ganti berpuluh kali lipat…

Suara yang mendorong saya untuk melompat jauh.

Mungkin suara ini yang membantu saya untuk lepas dari dunia ini… tinggalkan dunia sebelum kita meninggalkan dunia.

Siapa kamu? Apakah kamu adalah aku yang dulu membuat perjanjian dengan Rabb-ku? Apakah kamu adalah aku dalam versi fitrahku?

Advertisements

Dive

We dive, deep

In the world we chose

We dig, deep

In the depth

Of the heart we become

We dive in the world full of love

The world we chose

To be together

Matematika

Banyak orang bilang, matematika manusia itu beda sama matematika Allah. Ini adalah cerita tentang memberi.

Pada suatu hari, seseorang, sebut saja A, mendapat kabar bahwa teman ex sekantornya – sebut saja Masbro – mengalami kecelakaan cukup parah. Temannya ini adalah senior di kantor yang sangat dia hormati, begitupun istrinya jg sangat ia hormati. A memiliki 2 anak dan istrinya full IRT (homeschooling anaknya pula) maka saat Masbro kecelakaan bisa dibayangkan repotnya istrinya Masbro. Belum lagi dari segi finansial.

Masbro dirawat di rumah sakit hampir sebulan, dan rekan sekantor dan sesama alumni kantor akhirnya berinisiatif mengumpulkan sumbangan untuk keluarga Masbro. Saat itu A lagi bokek, tabungan tinggal seiprit dan sedang banyak keperluan. Tapi perasaan hormat kepada keluarga Masbro membuat A berpikir “ya udahlah bismillah aja dah…” dan ikut menyumbang sejumlah uang yang saat itu rasanya besar sekali.

Tapi tak lama kemudian, A deal sebuah proyek dengan nilai profit puluhan kali lipat dari jumlah yang disumbangkan itu .___.

Kasus berikutnya, suatu hari A sedang menyetir dan menolak tawaran dagangan dari seorang penjaja tisu berkursi roda. Ujung-ujungnya A merasa sangat bersalah… Yaelah, A, beli tisu berapa sih… Tapi semua sudah terjadi. Dan kemudian tiba-tiba A harus ‘bersedekah’ dengan cara lain: tagihan listrik yang kok bisa2nya naik sampe 4x lipat, barang rusak, dan lain-lain. Haha…

Moral of the story? Kelapangan dan kesempitan adanya di dalam hati. It’s only perspective… Semoga kita semua termasuk orang yang lapang hatinya untuk terus memberi ๐Ÿ˜‰

Qadarullah

Perjalanan ke Malaysia itu sudah kami siapkan jauh-jauh hari. Tentu saja harus cepat, karena harga tiket terus merangkak. Excited? Tentu saja, karena sudah lama kami tidak berkunjung ke sana dan sekalian liburan (walaupun bokek, akhirnya bismillah aja deh). Kenapa kami memaksakan diri ke sana? Karena ada pernikahan saudara jauh kami di sana (anyway, mempersiapkan perjalanan ini membuat saya mikir kok ya nyiapin mudik ke akhirat gak seheboh ini, gimana sih lu).

Memang setiap ada acara pernikahan saudara di sana, kami selalu datang. Ingatan saya kembali ke tahun 98 saat saya sedang SD, kala itu kami menghadiri pernikahan Leli, sepupu Mama (ibunya Leli dan mama seumuran, di keluarga saya emang banyak yg balap2an gini umur dan hierarkinya haha..). Mengingat jenjang usia yang ajaib itu, saya jadi cukup dekat dengan adik bungsu tante Leli, yaitu kak Lila (saya memanggilnya kak karena usia hanya beda 4 tahun).

Berawal dari status facebook Kak Lila yang menunjukkan kalau ia sedang di Jakarta, akhirnya saya berinisiatif untuk mengajaknya makan siang. Karena keluarganya super baik kepada keluarga kami di sana, saya mencoba untuk sedikit membalas kebaikan keluarga mereka. Iseng saya bertanya sedang apa di Jakarta, ternyata ia sedang mencetak undangan untuk kakak perempuannya yang kedua, Kak Iroh.

Kak Iroh ini lebih tua 10 tahun dari saya, dan beliau menurut saya adalah yang paling cantik di antara saudarinya yang lain. Sayangnya beliau diuji dengan kondisi ginjal yang tidak baik, sehingga ia harus rutin cuci darah. Walaupun begitu, ia selalu ceria dan positive thinking. Sampai-sampai saudara kami yang suka mengantarnya cuci darah komentar, “Iroh ini kalau dibanding pasien dialisis lain, wajahnya paling santai, paling happy. Kalau yang lain wajahnya cemberut aja.” Sekitar 3 tahun yang lalu, akhirnya Kak Iroh menjalani transplantasi ginjal sehingga ia tidak perlu cuci darah lagi.

Kak Iroh memiliki 3 anak perempuan yang cerdas masya Allah, namun qadarullah ia harus berpisah dengan suaminya. Perpisahan itu membuat keluarga besar cukup sedih, makanya begitu ada berita beliau akan menikah lagi tentu saja kami senaaaang sekali. Sudah terbayang wajah bahagianya pengantin nanti di hari besarnya saat kami hadir di acaranya.

Hari berlalu, tak terasa tinggal seminggu lagi keberangkatan kami ke sana. Kami sudah menyiapkan aneka hadiah yang akan diberikan ke pengantin dan kerabat yang ada di sana.

Qadarullah, Senin sore tiba-tiba Mama saya menyampaikan berita duka. Kak Iroh yang akan menikah minggu depan ternyata keburu dipanggil oleh Allah. Beliau meninggal karena komplikasi paru-paru. Sementara di saat yang sama, Ibunya baru saja operasi karena pendarahan akibat stroke.

Rencana Allah memang misteri… Perjalanan yang tadinya ingin diwarnai sukacita ternyata jadi perjalanan takziah.

Semoga Allah menerima amal ibadah Kak Iroh dan memasukannya ke surga-Nya.

Four

Is the number of years you’ve spent in this earth

Is the serial of my first experience being a mother

Is not just a number,

Is a reminder that time is running out

Between me and you

To make you learn to love your creator

We don’t celebrate birthdays but you know the way I love you is more than what it seems.

I love you, firstborn.

Buku Tere Liye Yang Mengubah Pikiran

“Buku adalah jendela dunia” – setidaknya itulah yang tertulis di halaman bawah buku tulis merek SIDU yang dipakai jutaan anak SD tahun 90-an. Apa iya? Menurut saya sih, iya (kenapa jadi redundan gini ya).

Saya dibesarkan di keluarga bacamania. Sampai-sampai siapapun yang beliin buku untuk saya suka kesel soalnya katanya saya bacanya kecepetan. Ternyata ini adalah efek pesan Aki rahimahullah kepada mama saya: “warisan berupa harta bisa habis, tapi warisan ilmu akan selalu abadi”. Gitulah. Jaman dulu walaupun keluarga Aki prihatin, beliau yang tentara dan suka dinas kemana-mana rajin sekali membawakan anak-anaknya majalah/buku dari kota. Makanya semua anak aki suka membaca.

Hobi itu menurun ke saya. Dan ternyata efek jangka panjangnya baru terasa sekarang: perbendaharaan kosa kata saya cukup baik, sehingga saya tidak pernah kesulitan untuk menulis dan mengekspresikan kata-kata (makanya kalau mau jadi penulis harus banyak membaca juga ya). Selain itu, pengetahuan umum saya lumayan oke (walaupun zaman kelas 4 SD saya tergila-gila dengan UFO dan teori konspirasi… untung sekarang gak jadi penganut FE :p).

Dari semua jenis buku yang saya suka, saya paling suka membaca… FIKSI! Karena semua terjadi begitu natural dan hal-hal yang terjadi di dalamnya bisa sangat relatableย untuk kita (apa ya bahasa Indonesianya?). Dan ada beberapa buku fiksi yang membuat saya ternganga, karena menjabarkan fakta yang begitu mind-blowing. Jadi, buku apa saja yang berhasil mengubah saya?

  1. Amelia – Tere Liye

Image result for amelia tere liye

Ini adalah buku yang membuat saya pengen sekolah lagi. Menuntut ilmu. Jadi orang pintar. Aseli begitu tutup buku langsung mikir, “GUE HARUS SEKOLAH LAGI!!!”

Ceritanya hanya seputar kehidupan Amelia, anak SD yang tinggal di pedalaman hutan, yang SD nya cuma diajar oleh 1 orang guru yang nggak kunjung diangkat jadi PNS bernama Pak Bin. Amelia ini anak bungsu perempuan, dan seringkali diejek ‘tukang tunggu rumah’ oleh kakak-kakaknya : artinya, anak perempuan bungsu nggak mungkin bisa ke mana-mana. Di rumah saja, merawat orang tua.

Amelia punya paman yang sangat keren, Paman Unus, satu-satunya sarjana dari kampungnya. Lulusan teknik sipil. Pernah kerja di kota, tapi akhirnya berwirausaha demi menjaga idealismenya. Paman Unus ini super cerdas, dan dia hobi menjelajah hutan. Dia sering mengajak Amelia dan kakak-kakaknya untuk berkeliling hutan dan bercerita macam-macam. Salah satu efek jalan-jalan bersama si paman ini, Amelia jadi sadar bahwa ternyata cara bertani para petani kopi di kampungnya itu tidak efektif dan efisien. Dan dengan induk pohon kopi unggulan yang dia temukan di tengah hutan, ia bisa membantu masyarakat kampungnya untuk mengganti pohon kopinya dengan bibit yang lebih unggul sehingga menghasilkan panen berkali-kali lipat.

Buku ini menceritakan sepak terjang Amelia dan kawan-kawannya untuk meyakinkan warga kampungnya untuk mencoba menanam bibit kopi unggul yang sudah dia kembangkan bersama teman-temannya dengan bantuan Paman Unus. Endingnya gimana? Baca sendiri, ya hehehe. Pokoknya selama membaca buku ini, ada satu pesan yang sangat terngiang di kepala saya: banyak hal yang bisa diperbaiki dengan ilmu pengetahuan.

Di luar cerita pohon kopi Amelia, di sini juga diceritakan bahwaย orang tua Amelia, walaupun hanya petani kopi yang nggak tamat Sekolah Rakyat, berpikiran visioner. Orang-orang terdekat Amelia meyakinkan bahwa orang tua Amelia pasti rela melepaskan Amelia untuk menuntut ilmu setinggi mungkin, terlepas dari stigma masyarakat tentang anak bungsu perempuan.

2. Burlian – Tere Liye

Image result for burlian tere liye

Burlian ini adalah kakak laki-lakinya Amelia. Hehehe. Jadi buku ini ada 4, sesuai dengan jumlah anak-anaknya Mamak (panggilan ibunya Amelia dan Burlian). Tapi yang paling berkesan bagi saya adalah ceritanya Amelia dan Burlian.

Burlian adalah sebuah contoh bahwa labeling pada anak itu sangat mempengaruhi persepsi seorang anak terhadap dirinya.

Mamak dan Bapak memiliki 4 anak, yang dilabeli dengan karakteristik mereka masing-masing. Eliana si sulung adalah anak yang pemberani, dan dengan nyalinya itu dia akhirnya berhasil jadi pengacara. Pukat, anak kedua, adalah anak yang cerdas dan serba ingin tahu (dan ya, dia jadi peneliti). Amelia, si anak terakhir ini (kalau gak salah) dilabeli dengan kelembutan hatinya dan empatinya kepada orang lain. Dan Burlian….

Kalau kita pernah lihat anak buandelnya setengah mati, usil, banyak akal, ngeyel, nah, itulah Burlian ๐Ÿ˜€ tapi alih-alih memberikannya julukan jelek “dasar anak nakal!”, Mamak memutuskan bahwa Burlian adalah anak yang spesial.

Burlian itu mengingatkan saya akan adik ipar saya. Dibandingkan dengan kakaknya (alias suami saya), secara akademis dia biasa saja. Tapi teman-temannya banyak luar biasa, walaupun jadi terlihat kebanyakan main. Tapi empatinya paling juara. Kalau si kakak prestasinya sangat terukur sehingga lebih mudah dibanggakan (suka juara sekolah, olimpiade fisika, kerja di kantor bagus), prestasi adik ini sulit dilihat dengan mata telanjang, tapi bisa dirasakan oleh orang-orang yang dekat dengannya. Misalnya dia adalah orang yang paling pertama tahu kalau ibunya sakit atau ada apa-apa, orang yang paling perhatian dengan keluarga, hal-hal semacam itu. Nah, Burlian kira-kira seperti itu orangnya.

Cerita Burlian yang paling berkesan adalah, saat ia berkenalan dengan Tuan Nakamura, insinyur Jepang yang memimpin proyek pembuatan jalan yang lewat di kampungnya. Berawal dari Burlian yang penasaran ngintipin traktor, akhirnya Tuan Nakamura sering mengajak Burlian jalan-jalan keliling proyek dan mengobrol. Dari kedekatan mereka, Burlian jadi tahu kalau Tuan Nakamura punya anak perempuan yang ditinggal di Tokyo, dan anaknya sedih sekali ditinggal kerja oleh ayahnya, sampai-sampai anaknya ngambek di bandara dan tidak mau ngobrol lagi dengan ayahnya.

Jadi, tanpa banyak mikir, si Burlian pulang, dan menulis surat untuk Keiko, anaknya Tuan Nakamura. Dia bercerita kepada Keiko bahwa ayahnya itu pahlawan yang membuat jalan di kampungnya, dan akhirnya jadi cerita ngalor ngidul (“Keiko, kamu tau nggak panjang Terusan Suez? Aku tahu…” xD). Tentu saja suratnya ditulis pakai bahasa Indonesia. Keiko dan ibunya yang bingung akhirnya minta suratnya diterjemahkan ke KBRI Tokyo, dan akhirnya Keiko menulis surat yang mengharukan kepada ayahnya ๐Ÿ™‚

Burlian ini mungkin agak mirip karakter utama film kartun bergenre action-fantasy: penuh semangat, gak banyak mikir, pokoknya niat gue baik. Titik. Buku ini super menarik, semenarik karakter tokoh utamanya. Yang nggak punya prestasi gimana-gimana banget, tapi kepribadiannya yang luar biasa. Daripada penasaran, baca aja sendiri ya, haha.

Intinya, buku ini mengajarkan saya untuk banyak melihat hal-hal tak kasat mata di diri anak saya. Okelah anak sulung saya belum bisa baca, untuk penerimaan hal-hal baru memang tidak secepat adiknya, tapi beneran, deh. Anak sulung saya ini akhlaknya paling baik luar biasa, hatinya lembut luar biasa. Saat kita bisa melihat kebaikan dalam diri orang-orang di sekitar kita, yang jelek-jelek mah jadinya receh.

3. Negeri Para Bedebah – Tere Liye

Image result for negeri para bedebah tere liye

Kalau buku ini membuat saya jadi mikir: kayaknya sistem ekonomi dunia ini omong kosong belaka. Tips: Kalau mau memahami sejarah terciptanya uang dan bank, buku ini menjelaskannya dengan sangat sederhana.

Menceritakan tentang Thomas, konsultan keuangan muda yang terpaksa membantu Omnya, seorang konglomerat properti, yang Banknya terancam ditutup karena gagal memenuhi transaksi keuangan dengan selisih 5 miliar. Begitu bank itu dinyatakan bangkrut, maka semua aset kerajaan bisnis Omnya – properti, otomotif, dan lainnya – terancam dijual murah untuk mengganti uang seluruh nasabah. Dalam misi ini, Thomas juga akhirnya bertemu lagi dengan hantu dari masa lalunya – pihak-pihak yang menyebabkan kematian orangtuanya, ternyata adalah orang-orang yang mengharapkan kejatuhan kerajaan bisnis omnya agar mereka bisa merebut aset keluarganya dengan harga murah.

PS: Kalau inget dulu ada heboh kasus bail out sebuah bank nggak terkenal di Indonesia, entah kenapa kok novel ini ada rasa mirip-miripnya :p


Sebenarnya cukup banyak buku Tere Liye yang sudah saya baca, tapi yang membuat saya menutup buku dengan keributan di dalam kepala ya tiga inilah kira-kira ๐Ÿ˜€ Bahasa kerennya: Mind blowing.

Oh ya, saya juga mau mencantumkan honorable mention. Walaupun nggak senonjok tiga buku sebelumnya, buku-buku ini membuat saya jadi berkomentar: Haaa gitu ya ternyata.

  1. Serial Bumi, Bulan, Matahari, Bintang.

Image result for serial bumi tere liye

Ceritanya genrenya fantasi/sci-fi dengan karakter utama remaja, tapi di dalamnya penuh dengan sindiran-sindiran terhadap situasi terkini hehehe. Pesan yang saya tangkap, terutama dari salah satu tokoh utama yang nggak punya superpower seperti teman-temannya: banyak hal bisa diselesaikan dengan ilmu pengetahuan :p

2. Pulang

Image result for pulang tere liye

Tentang kehidupan anak kampung yang dijadikan anak angkat mafia.Tokoh utamanya adalah keturunan ustadz dari garis Ibunya dan tukang pukul profesional dari garis ayahnya. Pesan tersirat dalam buku ini: setiap manusia bisa memilih, mau jadi apa dia dengan sifat yang dimilikinya. Apakah mau mengikuti sifat buruknya atau kecenderungan pada sifat baiknya. Dan pesan dari ibunya sebelum dia jadi anak angkat mafia: “Jangan pernah sekalipun minum miras dan makan daging babi, sehingga nanti sehitam apapun hatimu, kamu masih punya setitik cahaya putih dalam hatimu, semoga itu kelak memanggilmu pulang.” ;’)

3. Rindu

Image result for rindu tereliye

Tentang perjalanan haji berbulan-bulan naik kapal, settingnyaย  Indonesia pra-kemerdekaan. Menambah wawasan tentang sejarah Indonesia, dan banyak berkisah tentang berdamai dengan diri sendiri sebelum menghadap ke rumah Allah ๐Ÿ™‚

Semesta Mendukung

Kalau kata buku The Secret, saat kita menginginkan sesuatu, semesta akan berkonspirasi untuk membantu kita mewujudkannya. Atau dengan kata lain, Allah memenuhi prasangka hamba-Nya. It’s real. Saya sudah pernah mengalaminya dalam beberapanfase kehidupan saya.

Dulu sampai saya SMP saya adalah anak yang kesulitan bergaul, nyaris gak punya teman, dibully, sedih lah pokoknya ๐Ÿ˜‚ (halo kamu yang membaca blog ini, apakah kamu salah satu orang yang membully saya dulu?). Lalu setelah saya pindah ke sekolah negeri yang rakyatnya lebih beragam saya mulai menemukan ‘place to belong’. Alhamdulillah Allah memberikan saya geng SMA yang temenannya awet sampai sekarang ๐Ÿ˜ dari koplak sampe tobat ramean ๐Ÿ˜‚

Dulu saya hanya berpikir: saya ingin menjadi orang baik yang pandai berteman.

Setelah masuk kuliah, apalagi jurusannya saya suka banget, ambisi semakin menggila:

Saya mau jadi aktivis dengan nilai bagus dan punya networking yang luas! Saya mau orang-orang mengenal saya sebagai arsitek jadi kalau mereka mau bikin rumah mereka datengnya ke saya, haha.

And that did happen too. Di tahun kedua kuliah saya sudah punya kenalan di setiap jurusan kampus. Not bad untuk kampus berpopulasi 12 ribu orang, kan? Saya sangat aktif di semua kegiatan kampus, sampai ada joke 4L di antara para penggemar kegiatan kampus: Lu Lagi Lu Lagi.

Soal nilai, bisa diperjuangkan sih sebenarnya. Nggak cumlaude tapi nggak memalukan juga. Pokoknya masih bisa bikin bangga emak dan masi dapet award buat Tugas Akhir, yang penting semua hepi.

Soal karir? Dari zaman SD saya sudah berfantasi punya kantor sendiri di rumah, spesialis tempat tinggal dan desain interior. Di kantornya ada aneka katalog karpet, gorden, macem2 printilan untuk mempercantik rumah deh pokoknya. Dan sekarang? Belum punya ruangan kantor sendiri sih, tapi sekarang saya punya usaha design&build dan ada satu sudut di kamar untuk bekerja di laptop. Plus beberapa katalog yang tersimpan di tas. Haha. Belum seperti impian saya itu, but definitely I’m going there…

Yang baru-baru ini terjadi juga luar biasa. Alkisah saya ikut sebuah mentoring menulis, lalu saya diminta berikrar: mau menulis buku dan menerbitkannya. Lalu minta didoakan dari segala penjuru: emak, suami, mertua, sodara, sampai ortu murid anak sekolah saya juga saya minta doain hahaha… dan lalu apa yang terjadi?

Walaupun project naskah pertama saya masih stuck di editing (percayalah ternyata gak mudah membuat novel yang make sense dan bisa dipertanggungjawabkan di yaumil hisab), tiba-tiba grup 1 Minggu 1 Cerita ngajak bikin antologi (sekarang sedang proses proofreading), dan berikutnya saya akan menjadi kontributor untuk buku aktivitas Ramadhan anak bersama RumBel Menulis IIP Jakarta.

Rasanya jadi pengen teriak karena excited ๐Ÿ˜‚

Jadi, kalau Allah memenuhi prasangka hambanya, maka aku mau menyatakan hal-hal ini (yang baca juga doain ya!)

1. Aku mau masuk surga! Lewat pintu yang mana tapi belum tau. Semoga bisa cepat terdefinisi. Kayaknya Ar-Rayyan bagus juga, dan saya memang perlu banyak berpuasa (ada inner monster yg bisanya dibunuh dgn berpuasa)

2. Saya mau keluarga saya dan anak2 saya jadi soleh solehah, partisipatif dan antisipatif menghadapi akhir zaman. Oke mari mulai dengan menghafalkan 10 ayat pertama Al Kahfi, karena kita nggak akan tahu kapan si Dajjal ini akan datang, kan?

3. Saya mau anak2 saya masuk Kuttab Al Fatih. Kalau jodoh dan Allah ridho, semoga dimudahkan.

Kata teman saya, tentukan target setinggi-tingginya. Kalau nggak nyampai bintangnya, paling nggak jatuhnya ke awan ๐Ÿ˜€