Kesolehan

Kenapa rasanya semakin jauh?

Advertisements

Sampai Kapan?

Sampai kapan kau akan mengurusi hal-hal yang sudah diurus oleh Tuhanmu?

Padahal urusanmu hanya satu,

Hidup untuk beribadah kepada-Nya.

Sudahkah?

Capek

“Diterapi dengan obat ini dulu ya. Kalau dalam seminggu tidak membaik, coba dironsen saja,” dokter Retno menyerahkan surat pengantar ronsen kepadaku. Aku menghela nafas. Seperti biasanya, anak sulungku memang selalu punya isu dengan pernapasan. Kali ini, batuknya sudah 2 minggu tidak sembuh ditambah dengan bernafasnya yang aneh – seperti ada sumbatan, dan selalu tersengal-senagal.

Enam hari terapi dengan obat dari dokter Retno, dia menunjukkan perbaikan. Tapi tak lama kemudian, setelah adiknya batuk, ia jadi ikutan batuk lagi. Adiknya lebih parah – asmanya kumat, sampai sesak dan retraksi. Hanya dua minggu setelah kunjungan pertama, akhirnya saya kembali lagi ke sana untuk memeriksa mereka berdua.

Si adik dapat obat. Si kakak akhirnya ronsen sinus paranasal, dan setelah diperiksa ternyata ia didiagnosis sinusitis. Kalau tidak diobati, nantinya akan terus batuk berulang. Akhirnya dr Retno kembali meresepkan obat untuk terapi sinusitis dan merujuk si sulung untuk fisioterapi.

Di bagian fisioterapi, si sulung kembali berkonsultasi dengan dokter spesialis fisioterapi (apa ya namanya?) dan diputuskan bahwa sebaiknya ia menjalani inhalasi dan diatermi di bagian hidung 6 sampai 10 kali, setiap hari. Astaga. Saya dengarnya saja sudah capek. Tapi mengingat malam-malam di mana si sulung tidak bisa tidur, ya sudah saya ikuti saja apa kata dokter. Otak saya bahkan sudah terlalu capek untuk berargumen, hahaha.

Hari itu, saya menghabiskan 6 jam di rumah sakit.

Besoknya saya pergi lagi mengantarkan si kakak untuk fisioterapi di sana. Perjalanan yang biasanya cukup 40 menit, kali ini harus ditempuh selama 90 menit, terima kasih kepada kesesatan google maps. Huff. Setelah sampai pun saya harus menunggu 45 menit sampai diterapi, dan total waktu yang saya habiskan dari berangkat sampai kembali ke rumah adalah 5 jam.

Capek. Tapi masih ada 4-8 pertemuan lagi dengan fisioterapisnya… Hahaha. Ayo bunda, jangan mager bawa anaknya terapi, supaya anaknya sembuh.

Tapi dipikir-pikir, masih mending saya cuma capek saja. Toh biaya semua dicover oleh kantor suami (tahu nggak, untuk pemeriksaan radiologi, dokter, fisioterapi, dan obat hari pertama itu kalau nggak dibayarin saya harus mengorek kocek saya sekitar 2 juta rupiah). Biaya transportasi juga dicover oleh kantor suami. Saya kerja freelance, nggak kantoran, jadi ya bener-bener modal badan aja buat anter-anter anak berobat. Bukankah ini esensinya saya dulu nggak kerja kantoran, jadi bisa menemani anak-anak untuk aneka kebutuhannya? Terus kenapa masih mager cobaa… Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?

Coba bandingkan dengan orang lain, yang anak-anaknya berkebutuhan khusus dan harus terapi dengan biaya sendiri, akomodasi sendiri. Bahkan anak dokter paru saya aja bela-belain terapi disleksia di Bandung, akomodasi dan terapi semua biaya mandiri. Ibunya kerja full time di sebuah RS swasta, dan kalau anaknya lagi jadwal terapi ya bela-belain cuti. Belum lagi teman-teman yang anaknya harus terapi wicara. Kok ya udah dipermudah gini aku masih mager aja 😦

Capek ya nganterin anak berobat? Nggak apa-apa, semoga dihitung pahala, toh ikhtiarnya biar anak sehat. Tidur lagi, dan bangunlah kembali dengan segar (untuk kemudian macet di jalan otw rumah sakit lagi hahaha).

Semoga terapi-terapi selanjutnya membuat kondisi si sulung membaik, dan semoga dia sehat selalu.

Untuk Bapak

Assalamualaikum Bapak,

Semoga sekarang dalam kondisi kubur yang lapang nan bercahaya, ditemani malaikat yang baik. Semoga Allah merahmati Bapak sampai hari kebangkitan lagi dan insya Allah bertemu lagi di surga.

Bapak, terima kasih ya sudah mewariskan laptopnya. Sudah kugunakan untuk menulis yang bermanfaat dan membuat desain interior yang semoga bermanfaat bagi klien. Juga menjadi sumber penghasilan bagiku, dan sarana pendidikan untuk cucu-cucu Bapak. SEmoga menjadi amal jariyah yang tidak putus untuk Bapak.

Bapak, terima kasih sudah mendidik dan mendoakan anak sulung bapak semasa hidup. Seandainya Bapak bisa melihatnya sekarang, insya Allah Bapak akan sangat bangga. Terima kasih ya, Pak, semoga kami bisa menjadi tabungan akhirat yang baik untuk Bapak.

Sampai bertemu lagi di pintu surga insya Allah, Pak.

Wassalamualaikum warahmatullah.

To My Children

Sayf & Aisyah,

Be happy.

Because it is your duty to be happy in your childhood.

Learn to be responsible,

Because at 7 years old you will be able to judge right or wrong.

Be responsible.

Because it is your duty to be responsible after you are aqil baligh.

Be meaningful,

Because Allah didn’t create us for nothing.

The best thing human can do is to be useful to other humans.

Be grateful,

Because Allah has give us plenty than what we need.

Be brave,

Hold your tauhid and trust to Allah because hard time is coming

Do your best in everything.

For the rest,

Leave to Allah.

Because Allah knows what is best for you.

Never leave Allah, Muhammad, Al Qur’an and Hadist.

Until we meet again in jannah, insya Allah.

Dunia

Aku cukupkan diriku

Dengan kesenangan semu yang kau tawarkan

Karena mempersedikit kesenangan darimu

Adalah kemudahan bagiku di akhirat

Sudah, ya.

Kuhadapi engkau secukupnya,

Aku tinggalkan kamu sebelum maut menjemputku

Toh kamu tidak lebih berharga dari sehelai sayap nyamuk

Silakan datang kembali,

Tapi datanglah dengan hina

Supaya aku tidak melulu memujamu

Dan selalu mengingat rumah sejatiku

Surga,

yang belum tahu akan kumasuki dari pintu yang mana.

 

Things To Remember

+ Bapak kok nggak pulang-pulang?

– Kan lagi kerja… Sabar ya hehe. Kalo Ibu kok ada di rumah terus yaa?

+ Kan soalnya Ibu sayang Sayf…

+ Sayf boleh agluk mobilnya?

– Bolehh…

+ Emang Ibu sayang Sayf?

– Super sayang!