Pay It Forward

Pada suatu hari Mama saya pernah bilang bahwa ada keluarga yang ingin pergi silaturahim ke saudara jauh yang sakit, namun terkendala biaya. Hitung-hitung tiket pesawatnya, Mama bilang, sudahlah kita bayarin aja tiket ke sananya. Saya pun tanpa pikir panjang langsung menawarkan diri untuk membantu. Cuma satu yang saya ingat: si tante ini, yang mau dibayarin tiketnya sama mama, dulu pernah ngelonin saya waktu saya demam saat SD – di mana pembantu saya mah sebodo amat dan Mama saya juga lagi sibuk kerja (single parent harap maklum). Sering juga kalau saya sekolah tante ini yang jemput.

Di kali lain, Mama bilang lagi kalau sodara saya baru saja diterima di universitas negeri dan bapaknya (sepupunya mama) mau pinjam uang untuk memenuhi kebutuhan kuliah anaknya. Dijanjikan akan dikembalikan minggu depan.

Saya menilik jumlahnya. Kira-kira dua kali harga sepatu yang baru saja saya beli. Mama juga baru beli sepatu seharga mirip segitulah.

Ya elah cuy. Beli sepatu aja gak mikir bantu sodara kok pake mikir. Saya langsung bilang, “Nggak usah diutangin. Kasih aja.” Like, really. Toh tabungan juga alhamdulillah masih ada, kalo tabungannya gak ada baru deh lu mikir (atau nggak usah dipikir juga, jujur aja bilang lagi gak ada).

Si Om ini adalah orang yang sangat membantu di acara pernikahan saya, juga dari kecil banyak membantu saya – kadang anter jemput saya ke sekolah.

Mental tangan di atas itu memang harus dilatih, ya. Saya banyak belajar dari keluarga jauh saya yang kaya buanget, yang kalau tamunya datang dimuliakan gila-gilaan (anak saya dikasih angpau 200 RM seorang = 700 ribuan.. gokil gak sih). Padahal keluarga saya berkecukupan, tapi tetep aja dikasih. Nggak mikir kayak nggaremin lautan gitu lho. Heuheu.

Yang bisa saya pelajari dari kejadian ini…

  1. Be nice to everyone
  2. Being rich is not about the number in your bank account, but about your mentality
  3. Jadi mulai saat ini saya akan bilang, iya saya orang kaya, kalau kamu butuh bantuan jangan sungkan sampaikan ke saya.
  4. Orang yang banyak memberi lebih kaya daripada orang yang lebihan duitnya dipakai untuk kesenangan dirinya sendiri. Share share share, karena di harta yang dititipkan kepada kita ada jatah orang lain
  5. Gak usah takut miskin, Allah maha kaya dan Allah memberikan rezeki dalam bentuk gak semata harta aja (rezeki kadang maknanya tersempitkan jadi harta aja ya). Kalo gaji sebulan 100 juta tapi sakit dan kudu berobat biayanya 90 juta sebulan ya sama aja kan? Hehehe.

Semoga Allah karuniai kita rizki yang berkah, karena banyak nggak akan pernah cukup (tabiat manusia mah kitu)

Advertisements

Memilih untuk Memiliki?

Hari ini saya mau cerita tentang kejadian yang dialami seseorang, sebut saja Fulan. Jadi, orangtua Fulan memiliki rumah warisan di sebuah kota tak jauh dari Jakarta. Rumahnya besar, di pinggir jalan. Orangtua Fulan mengelola rumah ini bersama dengan adiknya (om dan tante si Fulan), kurang lebih tinggal bergantian lah di rumah itu. Beberapa perhiasan warisan dari neneknya Fulan masih utuh dan disimpan di rumah tersebut.

Qadarullah, suatu hari om Fulan yang sedang tinggal di sana sedang pergi ke luar kota, hanya ada bibi yang kerja di sana. Sepulangnya ke rumah, ternyata rumah sudah diacak-acak, lemari kamar sudah berantakan isinya. Seluruh perhiasan warisan habis digondol maling.

Kebetulan perhiasan itu disimpan di kamar orangtua Fulan, namun saat ditanya apa saja yang hilang, orang tua Fulan pun lupa-lupa ingat. Nggak inget punya barangnya, tapi kalau hilang pun sedih. Pertanyaannya, kalau memang nggak inget punya, hilang juga nggak masalah, dong?

Ada yang mendengar cerita ini kemudian bertanya, kasihan dong neneknya perhiasan warisannya digondol maling? Saya malah pikir jangan-jangan lebih kasihan kalau perhiasannya nggak digondol maling? Waktu perhiasan itu nggak digondol maling, itu perhiasan diem aja di lemari nggak jadi apa-apa, nggak memberikan manfaat apa-apa ke kubur orang yang mewariskannya. Tapi setelah digondol maling, ya kali dipake buat makan sama nyekolahin anaknya maling?

Masalahnya dalam dunia yang penuh konsumerisme ini adalah, seringkali kita punya terlalu banyak hal tanpa sanggup merawat barang tersebut sebagaimana mestinya. Mau yang harganya seceng sampai yang harganya jutaan.

Padahal saat kita memutuskan untuk memiliki sesuatu, kita akan dihisab pada apa yang kita miliki itu.

Saya ingat dulu zaman SD saya cuma punya SATU PASANG SEPATU. SATU PASANG. Ke sekolah pake itu. Ke mall pake itu. Ke pesta pake itu. Rasanya oke-oke aja. Kalau rusak baru minta beli baru. Kenapa? Karena memang tidak ada pilihan untuk punya beberapa jenis sepatu wkwk. Zaman susah.

Kadang-kadang saya tuh sedih kalau disuruh beli sepatu atau tas cuma karena bagus, lucu, modelnya jarang, pas lagi murah, apalah blah blah. Dan kondisinya memang alhamdulillah Allah mampukan kami buat beli. Padahal ya saya nggak butuh. Saya tuh kalau udah punya tas satu ya itu aja yang saya pakai. Kalau udah ada sepatu ya itu aja yang saya pakai. Kalau udah ada jam tangan satu itu ya itu aja yang saya pakai. Ngapain lah ganti-ganti, emangnya mau pamer kemana? Kalau mau ngasih saya barang, mending nanya dulu deh lagi butuh apa biar tepat sasaran haha. Kalau dulu ujiannya nahan sedih karena nggak bisa beli apa yang dimau, kalau sekarang tantangannya menahan untuk gak beli sesuatu cuma karena kita mampu beli.

Kalau pernah dengar cerita Ali Banat (Rahimahullah), beliau wafat Ramadhan kemarin. Jadi beliau ini adalah pria muda dari Australia; sangat kaya, bisnisnya sukses. Beliau punya barang-barang mewah: topi desainer limited edition, kacamata hitam mahal, punya sendal jepit harganya 7 juta, mobilnya ferrari. Tapi setelah beliau didiagnosis menderita kanker, dan diberitahu usianya hanya tinggal 6 bulan lagi, beliau langsung berubah.

Bisnisnya dijual. Beliau membuat gerakan charity untuk membantu anak-anak di Afrika. Barang-barang mewahnya semua didonasikan untuk anak-anak itu.

Sampai-sampai pewawancaranya bertanya, “Jadi maksud kamu, di Afrika sana ada anak kecil lagi lari-lari sambil pakai kacamata hitam Louis Vuitton?” beliau hanya mengiyakan sambil tertawa.

Ah, barang mahal itu apa sih. Kita harus pintar ukur-ukur diri untuk beli barang sesuai harga. Kalau istri pejabat ya okelah pakai tas Hermes, tapi akumah hanya aku. Dikasih Hermes juga mana ada yang percaya kalau aku yang pake, da ditaro sembarangan dan diisinya pake minum anak sama pampers juga ujung-ujungnya. Akhir-akhir ini saya dan suami berpikir untuk beli barang dengan harga dan spek seadanya aja, supaya kalau udah nggak perlu dipakai lagi gampang untuk merelakannya.

Hahaha, jadi ingat dapet hadiah carseat harga 7 juta. Sekarang udah nggak bisa dipakai karena anaknya udah gede, bingung mau diapain… “Ini kan sayang harganya 7 juta” YA TAPI GIMANAAAA UDAH KAGA BISA DIPAKE? Dijual 4 juta juga siapa yang mau beli wkwk. Ah lieur.

Jadi, hati-hati yaa dengan apa-apa yang kita mau miliki atau nggak. Mikir-mikir kalau mau beli barang. Saya rindu masa-masa di mana saat kita memilih untuk memiliki sesuatu, kita berkomitmen untuk merawatnya. Nggak kayak sekarang, apa-apa rusak dikit dibuang, bukan diperbaiki.