Man Up And Be A Hero

Pada suatu titik dalam kehidupan kita, seharusnya kita pernah bermimpi untuk jadi pahlawan. Zaman SD dulu saya suka banget dengan film Ranma. Pengen banget jadi orang kuat. Dan melihat kartun-kartun superhero, sempat juga terpikir, kayaknya enak juga ya kalau punya kekuatan super kayak mereka. Melawan penjahat, menyelamatkan masyarakat. Hahaha.

Setelah sedikit lebih dewasa, mungkin sekitar usia menjelang 20 tahun, rasa ingin jadi pahlawan itu berganti menjadi hal yang lebih realistis. Saya banyak terinspirasi dari orang-orang yang berhasil memberdayakan masyarakat, maka saya berpikir, keren juga kalau saya bisa berbisnis dan memberdayakan orang-orang tidak mampu di sekitar saya. Ingin membangun komunitas masyarakat agar mereka lebih berdaya… Caelah.

Makin tua, makin realistis lagi dengan hidup – alias sibuk dengan diri sendiri. Saya terlalu sibuk dengan diri saya, anak-anak, sampai semua itu terlupakan.

Di usia jelang 30 ini, saya mulai terpikir lagi. Apa sih tujuan kita diciptakan di dunia? Nggak mungkin lah cuma numpang lewat dan tiada berguna.

Kadang saya terpikir, seandainya saya jadi orang kaya, apa uangnya akan saya gunakan untuk menolong orang yang lemah? Atau saya malah sibuk merencanakan liburan ke Turki dan bangun rumah? Seandainya saya diberikan otak dan kekayaan macam Tony Stark, apakah saya akan memilih untuk jadi Iron Man dan menyelamatkan New York dari serangan Chitauri atau diem-diem aja dan asik main-main dengan robotic suit buatan saya sendiri? Mungkin sekali-kali dipakai untuk nolong orang, atau sekali-kali isengin orang.

Seseorang yang saya kenal orangnya suka nggak tegaan sama orang lain, sampai yang ngelihat suka gemes dan bilang “kamu tuh terlalu baik sama dia, dia jadi tergantung sama kamu kan”. Umm, first bergantunglah hanya kepada Allah. Selain itu, kalau memang si orang ini dalam posisi mampu membantu, kenapa nggak? Khadijah aja dulu waktu umat muslim diboikot hartanya sampai habis buat support hidup semua kaum muslim. Si orang ini bahkan nggak sampai miskin kok bantuin orang lain itu, masih ada tabungan dan segala macem. Then again, kenapa orang lain yang ribut atas kebaikan yang ia lakukan? Bahkan itu bisa jadi bukan sesuatu yang istimewa, karena di setiap bagian harta kita ada hak orang miskin dan anak yatim. Kalau kata suami saya, bukan kita yang ngasih ke mereka terus kita ngerasa jadi pahlawan, tapi bisa jadi harusnya mereka yang nagih haknya ke kita.

Um, the point is… Kalau kamu kaya dan banyak orang minta tolong ke kamu, ya santai aja. Itu duit kan titipan Allah dan bisa jadi itu memang hak mereka di dalam hartamu. Chill.

Jadi, kalau mau menolong orang miskin aja masih mikir-mikir, apa pantas ya kita bermimpi menjadi agent of change or whatsoever itu? Membawa perubahan baik itu memang pasti akan capek, so man up and be a hero for yourself.

Advertisements

Qadarullah…

“Qadarullah wa maa sya fa’al,” ujar seorang teman terkait kemalangan yang dialaminya.

Pertama mendengarnya, istilah apa pula itu? Saya yang tahunya cuma insya Allah, jazakallah, pun menemukan kosa kata baru.

Oh, ternyata itu doa jika kita ditimpa hal yang tidak kita sukai. Qadarullah wa maa sya fa’al. “Qadarullah (Ini adalah takdir Allāh), dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan.”

Come to think of it, kadang saya akhirnya ikut-ikutan menyebutkan doa itu kalau saya lagi tidak ikhlas terhadap sesuatu yang saya alami. Seperti yang terakhir ini: saya baru dapat uang dari kontrakan, dan ternyata sisa yang bisa saya simpan tidak sebanyak itu akibat pengeluaran ini dan itu (hiks). Tadinya saya pikir punya uang 1000 ternyata saya cuma punya 500, oh dear excel why do you break my heart 😦

But then… Qadarullah. Allah sudah izinkan uang itu keluar. Berarti Allah belum mengizinkan saya untuk punya tabungan banyak. Lagian ngapain juga nabung banyak-banyak, kaga dibawa mati juga.

Akhir kata… Ikhlasin ajalah kalau emang belum bisa nabung. Yang penting gaya hidup diubah… Heuheu.

 

Kantong Jiwa

“Isi kantong jiwa anak agar ia merasa berharga”

Banyak hal menyedihkan yang menyusutkan kantong jiwaku

Dan kucari ‘isi’ nya dulu.. Dengan berbagai cara

Terima kasih untukmu yang perlahan mengisi kantong jiwaku,

Yang membuat Aku merasa berharga,

Terutama untuk satu orang yang berani menjadi imamku,

Jiwaku tidak pernah sepenuh saat bersamamu

To Tendra, Keven, Fahmi, Febry, Nucil, Randy, Arnold, Manda, Sisca, Una, Inez, Nadh, Nadira, Arum, Nova, Widy, Laras, Vivin, Anita, Ramda, Aftah, Alvin, Brian, everyone, esp. Ramadhan; thank you for saving my life and making my life.

In case I die faster than you, if you ever read this, I want you to know that I am thankful that I met you in this life.