Children’s Honesty

Sabtu kemarin saya baru saja menghadiri acara akhirussanah sekolah anak saya. Acaranya ya gitu, pentas sambil menunjukkan hasil yang sudah dipelajari sambil main-main di TK selama setahun. Yang ditampilkan ada operet, dan hafalan Qur’an dan hadist. Anak Sanggar Bermain dikasih kostum pinguin dan joget-joget. Lucunya mak, pusing aku xD masya Allah.

Dari seluruh penampilan, saya merasa semuanya tampil dengan sangat baik dan sempurna. Acaranya menyenangkan. Anak SB yang udah dikasih kostum pinguin itu pada akhirnya nggak ada yang gerak sesuai koreografi, tapi semua penonton ikut berdiri dan menyemangati.. Dan semua tertawa gembira (mereka berdiri diem aja udah lucu sih, akhirnya kakak-kakak TKB bikin rusuh dengan joget joget di belakang bocah-bocah itu xD). Anak PG yang lagi baca surat Al Kafirun, medley di ayat 345 (semua orang pernah mengalaminya kok kayaknya hahaha). Anak TKB yang membuka acara demam panggung dan diem aja di depan mikrofon sampai lamaaaaa banget 😀

Yang saya suka, semuanya mengalir dengan natural dan disitulah kita melihat gimana sih pertemanan bocah-bocah TK ini sebenarnya. Anak TKB yang demam panggung itu akhirnya disemangati dua temannya (yang juga membuka acara, mereka tampil bertiga) sampai akhirnya dia berani bersuara. Gurunya nggak pakai turun tangan. Ben, teman anak saya di TK-A yang bertugas mengkomandoi salam dan memimpin hafalan sempat bengong sesaat, kayanya lupa habis hafalan surat Al Qoriah masih harus mimpin hafalan hadist xD yang terjadi adalah teman-teman di kiri dan kanannya mendekat ke mikrofon sambil teriak-teriak “Beeen ayo Beeen… Beeeen ayooo Beenn…” dan anak saya yang berdirinya selisih 4 anak dari Ben juga jadi ikut-ikutan ber ‘Ben-ayo-Ben’ ria.. hahaha. Waktu performance kelas tahfidz membacakan surat As-Syams, yang harusnya baca ayat 5 malah baca ayat 8 xD akhirnya dikoreksi sama temannya.. Performance yang lucu dan penuh dengan colek-colekan dan bingung-bingung dikit, tapi justru di situ bukan aslinya anak TK? Semua dibawa santai aja, nggak ada beban.. Bikin hati hangat yang nonton 🙂

Rather than trying to show off whatever they can achieve, I see it more like a performance of honesty. Di luar kemampuan anak-anak untuk melakukan operet atau hafalan surat dan hadist, saya sangaaattt jauh apresiasi kemampuan mereka bisa berempati kepada teman-temannya yang gugup di atas panggung dan bersama-sama menyelesaikan penampilan mereka.

Sangat apresiasi usaha guru-gurunya yang sudah ngajarin anak-anak kita macam-macam. Things we can’t do, or not capable of yet. Sungguh besar sekali jasa guru-guru itu ya… Sejujurnya kalau si Saip gak hafalan surat Al Qoriah di sekolahnya mungkin sekarang saya belum terpicu buat menghafal juga, hahaha.

Penasaran anak saya TK nya di mana? Namanya TK Sabilia 😀

Advertisements

Buku Tere Liye Yang Mengubah Pikiran

“Buku adalah jendela dunia” – setidaknya itulah yang tertulis di halaman bawah buku tulis merek SIDU yang dipakai jutaan anak SD tahun 90-an. Apa iya? Menurut saya sih, iya (kenapa jadi redundan gini ya).

Saya dibesarkan di keluarga bacamania. Sampai-sampai siapapun yang beliin buku untuk saya suka kesel soalnya katanya saya bacanya kecepetan. Ternyata ini adalah efek pesan Aki rahimahullah kepada mama saya: “warisan berupa harta bisa habis, tapi warisan ilmu akan selalu abadi”. Gitulah. Jaman dulu walaupun keluarga Aki prihatin, beliau yang tentara dan suka dinas kemana-mana rajin sekali membawakan anak-anaknya majalah/buku dari kota. Makanya semua anak aki suka membaca.

Hobi itu menurun ke saya. Dan ternyata efek jangka panjangnya baru terasa sekarang: perbendaharaan kosa kata saya cukup baik, sehingga saya tidak pernah kesulitan untuk menulis dan mengekspresikan kata-kata (makanya kalau mau jadi penulis harus banyak membaca juga ya). Selain itu, pengetahuan umum saya lumayan oke (walaupun zaman kelas 4 SD saya tergila-gila dengan UFO dan teori konspirasi… untung sekarang gak jadi penganut FE :p).

Dari semua jenis buku yang saya suka, saya paling suka membaca… FIKSI! Karena semua terjadi begitu natural dan hal-hal yang terjadi di dalamnya bisa sangat relatable untuk kita (apa ya bahasa Indonesianya?). Dan ada beberapa buku fiksi yang membuat saya ternganga, karena menjabarkan fakta yang begitu mind-blowing. Jadi, buku apa saja yang berhasil mengubah saya?

  1. Amelia – Tere Liye

Image result for amelia tere liye

Ini adalah buku yang membuat saya pengen sekolah lagi. Menuntut ilmu. Jadi orang pintar. Aseli begitu tutup buku langsung mikir, “GUE HARUS SEKOLAH LAGI!!!”

Ceritanya hanya seputar kehidupan Amelia, anak SD yang tinggal di pedalaman hutan, yang SD nya cuma diajar oleh 1 orang guru yang nggak kunjung diangkat jadi PNS bernama Pak Bin. Amelia ini anak bungsu perempuan, dan seringkali diejek ‘tukang tunggu rumah’ oleh kakak-kakaknya : artinya, anak perempuan bungsu nggak mungkin bisa ke mana-mana. Di rumah saja, merawat orang tua.

Amelia punya paman yang sangat keren, Paman Unus, satu-satunya sarjana dari kampungnya. Lulusan teknik sipil. Pernah kerja di kota, tapi akhirnya berwirausaha demi menjaga idealismenya. Paman Unus ini super cerdas, dan dia hobi menjelajah hutan. Dia sering mengajak Amelia dan kakak-kakaknya untuk berkeliling hutan dan bercerita macam-macam. Salah satu efek jalan-jalan bersama si paman ini, Amelia jadi sadar bahwa ternyata cara bertani para petani kopi di kampungnya itu tidak efektif dan efisien. Dan dengan induk pohon kopi unggulan yang dia temukan di tengah hutan, ia bisa membantu masyarakat kampungnya untuk mengganti pohon kopinya dengan bibit yang lebih unggul sehingga menghasilkan panen berkali-kali lipat.

Buku ini menceritakan sepak terjang Amelia dan kawan-kawannya untuk meyakinkan warga kampungnya untuk mencoba menanam bibit kopi unggul yang sudah dia kembangkan bersama teman-temannya dengan bantuan Paman Unus. Endingnya gimana? Baca sendiri, ya hehehe. Pokoknya selama membaca buku ini, ada satu pesan yang sangat terngiang di kepala saya: banyak hal yang bisa diperbaiki dengan ilmu pengetahuan.

Di luar cerita pohon kopi Amelia, di sini juga diceritakan bahwa orang tua Amelia, walaupun hanya petani kopi yang nggak tamat Sekolah Rakyat, berpikiran visioner. Orang-orang terdekat Amelia meyakinkan bahwa orang tua Amelia pasti rela melepaskan Amelia untuk menuntut ilmu setinggi mungkin, terlepas dari stigma masyarakat tentang anak bungsu perempuan.

2. Burlian – Tere Liye

Image result for burlian tere liye

Burlian ini adalah kakak laki-lakinya Amelia. Hehehe. Jadi buku ini ada 4, sesuai dengan jumlah anak-anaknya Mamak (panggilan ibunya Amelia dan Burlian). Tapi yang paling berkesan bagi saya adalah ceritanya Amelia dan Burlian.

Burlian adalah sebuah contoh bahwa labeling pada anak itu sangat mempengaruhi persepsi seorang anak terhadap dirinya.

Mamak dan Bapak memiliki 4 anak, yang dilabeli dengan karakteristik mereka masing-masing. Eliana si sulung adalah anak yang pemberani, dan dengan nyalinya itu dia akhirnya berhasil jadi pengacara. Pukat, anak kedua, adalah anak yang cerdas dan serba ingin tahu (dan ya, dia jadi peneliti). Amelia, si anak terakhir ini (kalau gak salah) dilabeli dengan kelembutan hatinya dan empatinya kepada orang lain. Dan Burlian….

Kalau kita pernah lihat anak buandelnya setengah mati, usil, banyak akal, ngeyel, nah, itulah Burlian 😀 tapi alih-alih memberikannya julukan jelek “dasar anak nakal!”, Mamak memutuskan bahwa Burlian adalah anak yang spesial.

Burlian itu mengingatkan saya akan adik ipar saya. Dibandingkan dengan kakaknya (alias suami saya), secara akademis dia biasa saja. Tapi teman-temannya banyak luar biasa, walaupun jadi terlihat kebanyakan main. Tapi empatinya paling juara. Kalau si kakak prestasinya sangat terukur sehingga lebih mudah dibanggakan (suka juara sekolah, olimpiade fisika, kerja di kantor bagus), prestasi adik ini sulit dilihat dengan mata telanjang, tapi bisa dirasakan oleh orang-orang yang dekat dengannya. Misalnya dia adalah orang yang paling pertama tahu kalau ibunya sakit atau ada apa-apa, orang yang paling perhatian dengan keluarga, hal-hal semacam itu. Nah, Burlian kira-kira seperti itu orangnya.

Cerita Burlian yang paling berkesan adalah, saat ia berkenalan dengan Tuan Nakamura, insinyur Jepang yang memimpin proyek pembuatan jalan yang lewat di kampungnya. Berawal dari Burlian yang penasaran ngintipin traktor, akhirnya Tuan Nakamura sering mengajak Burlian jalan-jalan keliling proyek dan mengobrol. Dari kedekatan mereka, Burlian jadi tahu kalau Tuan Nakamura punya anak perempuan yang ditinggal di Tokyo, dan anaknya sedih sekali ditinggal kerja oleh ayahnya, sampai-sampai anaknya ngambek di bandara dan tidak mau ngobrol lagi dengan ayahnya.

Jadi, tanpa banyak mikir, si Burlian pulang, dan menulis surat untuk Keiko, anaknya Tuan Nakamura. Dia bercerita kepada Keiko bahwa ayahnya itu pahlawan yang membuat jalan di kampungnya, dan akhirnya jadi cerita ngalor ngidul (“Keiko, kamu tau nggak panjang Terusan Suez? Aku tahu…” xD). Tentu saja suratnya ditulis pakai bahasa Indonesia. Keiko dan ibunya yang bingung akhirnya minta suratnya diterjemahkan ke KBRI Tokyo, dan akhirnya Keiko menulis surat yang mengharukan kepada ayahnya 🙂

Burlian ini mungkin agak mirip karakter utama film kartun bergenre action-fantasy: penuh semangat, gak banyak mikir, pokoknya niat gue baik. Titik. Buku ini super menarik, semenarik karakter tokoh utamanya. Yang nggak punya prestasi gimana-gimana banget, tapi kepribadiannya yang luar biasa. Daripada penasaran, baca aja sendiri ya, haha.

Intinya, buku ini mengajarkan saya untuk banyak melihat hal-hal tak kasat mata di diri anak saya. Okelah anak sulung saya belum bisa baca, untuk penerimaan hal-hal baru memang tidak secepat adiknya, tapi beneran, deh. Anak sulung saya ini akhlaknya paling baik luar biasa, hatinya lembut luar biasa. Saat kita bisa melihat kebaikan dalam diri orang-orang di sekitar kita, yang jelek-jelek mah jadinya receh.

3. Negeri Para Bedebah – Tere Liye

Image result for negeri para bedebah tere liye

Kalau buku ini membuat saya jadi mikir: kayaknya sistem ekonomi dunia ini omong kosong belaka. Tips: Kalau mau memahami sejarah terciptanya uang dan bank, buku ini menjelaskannya dengan sangat sederhana.

Menceritakan tentang Thomas, konsultan keuangan muda yang terpaksa membantu Omnya, seorang konglomerat properti, yang Banknya terancam ditutup karena gagal memenuhi transaksi keuangan dengan selisih 5 miliar. Begitu bank itu dinyatakan bangkrut, maka semua aset kerajaan bisnis Omnya – properti, otomotif, dan lainnya – terancam dijual murah untuk mengganti uang seluruh nasabah. Dalam misi ini, Thomas juga akhirnya bertemu lagi dengan hantu dari masa lalunya – pihak-pihak yang menyebabkan kematian orangtuanya, ternyata adalah orang-orang yang mengharapkan kejatuhan kerajaan bisnis omnya agar mereka bisa merebut aset keluarganya dengan harga murah.

PS: Kalau inget dulu ada heboh kasus bail out sebuah bank nggak terkenal di Indonesia, entah kenapa kok novel ini ada rasa mirip-miripnya :p


Sebenarnya cukup banyak buku Tere Liye yang sudah saya baca, tapi yang membuat saya menutup buku dengan keributan di dalam kepala ya tiga inilah kira-kira 😀 Bahasa kerennya: Mind blowing.

Oh ya, saya juga mau mencantumkan honorable mention. Walaupun nggak senonjok tiga buku sebelumnya, buku-buku ini membuat saya jadi berkomentar: Haaa gitu ya ternyata.

  1. Serial Bumi, Bulan, Matahari, Bintang.

Image result for serial bumi tere liye

Ceritanya genrenya fantasi/sci-fi dengan karakter utama remaja, tapi di dalamnya penuh dengan sindiran-sindiran terhadap situasi terkini hehehe. Pesan yang saya tangkap, terutama dari salah satu tokoh utama yang nggak punya superpower seperti teman-temannya: banyak hal bisa diselesaikan dengan ilmu pengetahuan :p

2. Pulang

Image result for pulang tere liye

Tentang kehidupan anak kampung yang dijadikan anak angkat mafia.Tokoh utamanya adalah keturunan ustadz dari garis Ibunya dan tukang pukul profesional dari garis ayahnya. Pesan tersirat dalam buku ini: setiap manusia bisa memilih, mau jadi apa dia dengan sifat yang dimilikinya. Apakah mau mengikuti sifat buruknya atau kecenderungan pada sifat baiknya. Dan pesan dari ibunya sebelum dia jadi anak angkat mafia: “Jangan pernah sekalipun minum miras dan makan daging babi, sehingga nanti sehitam apapun hatimu, kamu masih punya setitik cahaya putih dalam hatimu, semoga itu kelak memanggilmu pulang.” ;’)

3. Rindu

Image result for rindu tereliye

Tentang perjalanan haji berbulan-bulan naik kapal, settingnya  Indonesia pra-kemerdekaan. Menambah wawasan tentang sejarah Indonesia, dan banyak berkisah tentang berdamai dengan diri sendiri sebelum menghadap ke rumah Allah 🙂

Tetangga

Ini adalah kisah tentang kehidupan bertetangga yang dialami oleh seseorang, sebut saja Fulan.

Fulan tinggal di sebuah komplek perumahan menengah ke atas di Jakarta, namun demikian kehidupan bertetangganya cukup akrab, terbukti dengan rutinnya acara arisan, pengajian, senam pagi, dan tujuhbelasan yang selalu diikuti warga dengan antusias. Walaupun tidak dipungkiri Fulan juga tidak hapal seluruh tetangganya, tetapi Fulan selalu menyapa tetangga yang rumahnya ia lewati saat berjalan-jalan di lingkungan rumahnya. Fulan juga aktif sebagai tim bantu-bantu acara masjid, pokoknya kalau diminta tolong apapun oleh ketua, ia siap siaga.

Tetangga Fulan adalah orang-orang yang baik. Tetangga sebelah kirinya sibuk bekerja dan sering bepergian ke Bandung (penghuninya adalah pasangan LDR), tetapi tetangga sebelah seringkali memberi hadiah atau oleh-oleh. Saat Fulan mau renovasi rumah dan merapikan pohon tetangga yang cabangnya masuk ke rumahnya, Fulan juga minta izin dulu kepada tetangga. Komunikasi dengan tetangga sebelah berjalan dengan baik. Begitu juga dengan rumah sebelahnya lagi, beliau sangat rajin memberikan hadiah, mereka pun tidak sungkan minta bantuan darurat semacam ‘minta bawang’ dan sejenisnya kalau benar-benar sedang kehabisan 😀

Tetangga depan Fulan juga sering memberikan makanan kepada keluarga Fulan. Sementara di sebelah rumah Fulan adalah tanah kosong, jadi Fulan tidak terlalu akrab dengan tetangga di seberang tanah tersebut.

***

Beberapa tahun kemudian, kapling kosong di depan rumah Fulan dibangun dua buah rumah. Rumah pertama, berwarna kuning, dimiliki oleh keluarga asal Aceh. Mereka sangat sopan, saat mereka pindah ke rumah itu, mereka menghampiri satu persatu rumah tetangganya untuk bertamu dan berkenalan. Sampai sekarang Fulan dan tetangga penghuni rumah kuning ini berhubungan dengan sangat baik. Sebagaimana orang daerah pada umumnya, si ibu ini sangat royal dalam berbagi makanan, kalau sedang memasak beliau seringkali mengirimkan sebagian makanan kepada si Fulan.

Sementara rumah sebelahnya, berwarna putih dan jauh lebih besar daripada rumah kuning. Tapi Fulan tidak pernah bertemu dengan pemiliknya. Konon pemilik rumah itu tinggal di perumahan yang sama, tapi rumah besar itu digunakan untuk acara-acara keluarga saja. Rumah itu kosong di sebagian besar waktu.

Beberapa waktu yang lalu, tukang kebun yang biasa merawat taman rumah putih datang ke rumah Fulan. Ia menyampaikan bahwa besok akan ada acara lamaran anak pemilik rumah di sana, dan Fulan diundang. Kebetulan Fulan sudah ada janji sehingga tidak bisa menghadirinya.

Beberapa saat kemudian, tetangga yang lain yang kebetulan bertemu Fulan bertanya, apakah Fulan akan datang ke acara itu? Fulan menggeleng, ia sudah ada janji. Ternyata tetangga lain juga tidak datang, namun dengan alasan yang lain:

Nggak ah, ngapain datang. Ngundang kok pakai nyuruh tukang kebunnya, sombong amat.

Fulan hanya manggut-manggut. Ternyata hal ini termasuk hal yang socially unacceptable di kalangan tetangganya yang memang sudah senior ini (usia mereka sudah di atas 40, dan pastinya dibesarkan dengan standar tata krama yang lebih baik daripada orang zaman sekarang).

Waktu pun berlalu, tiba-tiba sepucuk undangan pernikahan mewah datang ke rumah Fulan. Fulan bertanya-tanya, siapa ya yang menikah ini? Lihat-lihat alamatnya, oh, ternyata anak pemilik rumah putih itu, toh. Resepsi pernikahan tanggal sekian, kebetulan tidak ada acara, insya Allah bisa hadir. Pikiran Fulan sesederhana itu.

Tapi ternyata beberapa tetangga masih merasa enggan untuk datang, karena alasan yang sama: Nggak ah, ngapain datang. Ngundang kok pakai nyuruh tukang kebunnya, sombong amat.

***

Tak kenal maka tak sayang, memang benar, sih. If we never introduce ourselves to each other, we are just strangers lingering around each other. Rasanya aneh, dan malah seperti “Siapa sih lu, ngapain sih lu keliaran di deket-deket gue? Kenal juga kagak.”

Dan pesan moral yang bisa dipelajari: kalau ngundang tetangga, jangan pakai pembantunya atau tukang kebunnya. Nggak sopan ternyata.

Jadi inget pak RW yang selalu menekankan kepada masyarakat sekitar rumah saya: Yang mau ngurus surat harus ketemu langsung sama saya, jangan coba-coba pakai satpam atau pembantu. Saya mau kenal dengan penghuni daerah ini juga.

Ayo Main Ke Kantor Imigrasi!

Bismillah, hari ini sambil nunggu antrian wawancara di imigrasi yang… lumayan hehe 😣 mendingan saya nulis sesuatu yang bermanfaat yakaan?

Jadi saya kebetulan mau perpanjang paspor dan anak bungsu pun belum berpaspor. Kebetulan bulan maret nanti kami ada rencana pergi ke Malaysia untuk menghadiri pernikahan saudara, jadi cuss lah kami bikin 😊

Kalau dulu upload dokumen bisa dari online dan harus bayar ke BNI dulu sebelum datang ke Kanim, sekarang sistemnya sudah beda, yaitu menggunakan aplikasi nomor antrian. Gimana caranya?

  1. Download aplikasi antrian paspor di playstore
  2. Daftarkan alamat email kita
  3. Verifikasi email kita (cek email dari aplikasi), dan aplikasi pun siap digunakan.

Untuk proses pengambilan nomor sendiri cukup mudah, tinggal buka aplikasinya saja dan pilih Kanim yang kita inginkan. Setahu saya, sistem akan memperbarui kuota setiap hari Jumat, jadi cobalah untuk buka aplikasi di hari itu. Oh iya, jangan buka di komputer ya, karena berdasae pengalaman saya, jadinya tanggal availablenya malah nggak kelihatan.

Setelah memilih kanim, akan muncul tanggal dan jumlah kuota yang tersedia. Setiap akun bisa booking sampai 5 nomor antrian selama masih di 1 KK, jadi bisa booking untuk suami/anak juga 🙂 Saya booking awal januari dan dapat jadwal tanggal 15.

Setelah booking selesai, kita akan mendapatkan QR Code dan info tanggal & jam kedatangan. QR Code ini sebaiknya diprintscreen segera, supaya kita nggak kelimpungan kalau servernya lagi down dan kita gak bisa buka aplikasinya.

Apa saja yang disiapkan?

  1. FC KTP
  2. FC Akte lahir
  3. FC Kartu Keluarga
  4. FC Buku Nikah
  5. FC Paspor lama
  6. Dan dokumen aslinya
  7. Kalau untuk anak, ditambah dengan: FC KTP kedua orang tua, FC Paspor orangtua, FC Buku nikah orangtua
  8. Surat pernyataan (minta di kanim)
  9. Formulir surat perjalanan (minta di kanim)
  10. Materai 6000
  11. Pulpen
  12. Pakai baju rapi – tidak pakai sendal/singlet/celana pendek

Bookingan saya dan si bungsu adalah tanggal 15 jam 11 – 12 siang. Saran saya, datanglah 30 menit sebelum waktu yang tertulis. Segera ke helpdesk dan minta formulir surat perjalanan dan surat pernyataan, manfaatkan 30 menit itu untuk isi formulir. Nomor antrian wawancara baru bisa diambil di rentang waktu yang tertulis di bookingan. Jadi 5 menit sebelumnya boleh juga standby di jalur antrian. Di sini petugas akan memeriksa kelengkapan dokumen kita. Jika bawa anak/hamil/lansia, mintalah antrian prioritas.

Setelah dapat nomor antrian, tinggal tunggu wawancara deh. Pertanyaannya: Berapa lamakah? Saya sukses dapat nomor antrian pukul 11.30 dan dipanggil untuk submit berkas pada pukul…

14.30 wakakakakak. Setelah submit berkas, kita diminta menunggu untuk foto dan wawancara. Asyiknya dalam 1 loket ada 2 orang petugas, yang 1 petugas admin dan yang 1 bertugas foto dan wawancara. Jadi kalau kita memasukkan berkas di loket 1, duduk menunggunya di dekat situ saja, nanti petugas wawancara akan panggil nama (awas gak kedengaran karena petugasnya suaranya suka ketutup suara nomor antrian). Si bungsu dapet loket 1 jadi saya duduk di dekat sana. Saya amati setelah submit berkas, ada jeda 2-4 orang yang wawancara sampai nama kita dipanggil.

Setelah foto dan wawancara, petugas akan memberikan resi untuk pembayaran. Pembayaran bisa dilakukan di mobil POS yang parkir di kanim Jakarta Timur (bisa ada jasa kirim paspor juga lho), sayangnya mobilnya sudah pulang sekitar jam 3 sore. Saat saya turun, mobil sudah pulang. Pembayaran bisa dilakukan di ATM atau teller beberapa bank, antara lain BNI dan BCA.

Setelah pembayaran, paspor bisa diambil dalam waktu 3 hari kerja.

Adakah calo? Kurasa ada hehehe. Tapi mainnya nggak sefrontal dulu. Kalau dulu bener-bener kelihatan ‘nyelak’, di sini kayaknya mereka berkoordinasi dengan WA, sehingga bisa saja petugas mengeluarkan nomor antrian ekstra dan resi ekstra untuk pembayaran. Untuk wawancara dan foto sendiri nggak kelihatan ‘diselak’ karena memang ada selisih beberapa antrian di depan saat kita masukin berkas hehe (semua ini hanya dugaan). Mengapa aku bisa berpikir begitu? Karena td ngobrol dengan ibu2 yang lagi nunggu dan pas kutanya “dapet nomer berapa, bu?” Ibunya jawab “oh nomor saya diambilin orang”. Dan praktek “jasa” juga masih ada kok, buktinya kemarin saya whatsapp orangnya masih kasih info harga 😂

Oh ya FYI saya ambil paspor biasa 48 halaman biayanya 355 ribu rupiah. Kenapa gak ganti e passport? Sejujurnya ga paham apa gunanya selain bisa gratis visa jepang. Tapi tadi saya ketemu teman kuliah saya yg bikinin paspor elektronik sekeluarga. Katanya sih ada beberapa antrian khusus paspor elektronik di imigrasi bandara, berguna banget buat yang malas antri atau buru-buru mengejar penerbangan. Baru tau juga sih. Tapi biar deh gak pakai paspor elektronik, berhubung gak ada rencana ke luar negeri lagi karena masih banyak kebutuhan finansial chuuy…

Oh iya soal harga, kalau pake biro jasa berapa ya? Biro jasa yang saya tanya menawarkan 1,5 juta – submit dokumen hari ini, besok foto dan wawancara, besoknya jadi. Ada juga teman saya yang kena 850 ribu tapi jadinya 10 hari. Kalau masih bisa bikin sendiri, mending bikin sendiri aja sih, dengan begitu kita bisa membantu para petugas imigrasi untuk menjaga harga diri mereka 😉 anyway di sini petugasnya muda-muda dan ramah, helpful juga.

Total waktu habis di kanim: 5 jam. Kira-kira apa ya yang bisa dilakukan untuk mempersingkat waktu tunggu? Sepertinya ada baiknya kalau kantor imigrasi memperbanyak konternya, karena sistem saat ini menurut saya sudah cukup baik. Kan asik kalau sudah ambil nomor antrian, lalu begitu masuk nomornya langsung dipanggil hehe… Semoga Kanim di seluruh Indonesia menjadi semakin baik! 😉

PS: si bungsu yg dapat antrian prioritas sebenarnya sdh dipanggil sekitar 10 menit setelah ambil nomor antrian, tapi ternyata ada dokumen yg ketinggalan jadilah nunggu bang gojek dulu. Petugasnya berbaik hati nunggu sampai sebelum jam 3 sore. Jam 1 siang submit dokumen bungsu, dipanggil 30 menit kemudian lah kira2.

Pada Hari Itu

Ada suatu hari di mana uang tak lagi berlaku. Ada suatu hari di mana sebuah amal baik sebesar zarrah akan menjadi sangat berarti bagi pemiliknya. Ada suatu hari di mana seorang ibu pun tidak mau menanggung dosa anak-anaknya, sementara sang anak akan menuntut orangtuanya atas pembiaran terhadap dosa yang selama ini dia lakukan.

Pada hari itu, tidak ada seorangpun yang selamat atas apa yang mereka perbuat.

Lu pikir gue nggak asik? Ngeselin? Ya ukhtifillah, saya cuma takut pada hari itu kamu akan menuntut saya atas pembiaran yang saya lakukan terhadap maksiat yang ada di depan mata saya.

Takut, sungguh saya takut.

Beruntunglah kamu saat kamu masih punya keluarga dan sahabat yang mengingatkanmu akan kebenaran. Sesungguhnya saya tidak ingin di hari akhir nanti kita akan saling menuntut – berebut pahala dan saling lempar-lemparan dosa.

Berat jika kamu seorang lelaki – ibu, istri, anak, saudarimu ada di tanggunganmu. Dibilang cerewet, cerewet deh. Pada hari itu, salah-salah pahalamu digerogoti oleh para tanggunganmu atas hal yang tidak kamu ajarkan.

Jika kamu perempuan, plis jangan ngeyel. Jaga izzah dan kehormatan diri, tegakah kita nantinya menuntut bapak kita, anak kita, saudara laki-laki kita atas maksiat yang kita perbuat?

Pada hari itu, manusia berterbangan seperti anai-anai….

Dan hari itu, pasti terjadi.

Dilema Carseat

Kalau kamu sering wara wiri dengan kendaraan pribadi dan punya bocah cilik yang selalu ngekor, artinya kamu butuh carseat!

Carseat itu apa ya?

Carseat adalah kursi khusus bayi (ya eyalaah..) yang didesain khusus agar anak kita aman dan ajeg selama kita berkendara di mobil. Desainnya juga disesuaikan dengan ukuran anak-anak, sehingga kalau terjadi kecelakaan anak-anak juga seaman orang dewasa yang mengenakan sabuk pengaman (sabuk pengaman mobil kan nggak compatible sama ukuran badan bocah).Car seat sendiri ada 2 tipe, yaitu infant carseat yang berbentuk seperti keranjang dan menghadap belakang, dan toddler carseat yang bentuknya seperti kursi menghadap ke depan.

Baby gear yang satu ini memang belum terlalu populer di Indonesia. Mungkin karena kita kebiasaan bawa anak-anak dengan kendaraan sambil dipangku. Padahal, kalau terjadi kecelakaan, anak-anak itu bisa mental dengan sangat gampang dan pastinya berbahaya buat mereka. Di negara maju, keluarga yang baru melahirkan wajib membuktikan kalau mereka punya carseat untuk membawa pulang bayinya demi keamanan si bayi.

Saya sudah sangat aware dengan urgensi carseat karena saya sering bepergian dengan anak-anak. Selain aman, carseat juga mengajarkan kita untuk mandiri. Dengan anak yang duduk aman di carseat, kita bisa mengemudi dengan tenang dan nggak perlu repot bawa asisten atau keluarga. Walhasil, waktu lahiran anak pertama, mertua nanya mau dikasih hadiah apa dan saya dengan mantap menjawab “carseat”. Mereka cuma heran karena mungkin benda itu belum populer di zaman dahulu hehehe…

Ndilalah yang dibeliin ibu mertua ternyata infant carseat, jadi cuma bisa dipakai sampai umur 1 tahun saja hiks hiks.. padahal ada carseat yang bisa dwifungsi sehingga nggak perlu beli lagi carseat yang hadap depan. Akhirnya setelah si kakak umur 1 tahun, saya jadi sering ajak ART saya buat megang si kakak.

Eh makin si kakak gede makin ngelunjak. Awalnya minta duduk di depan. Lama-lama selama perjalanan berdiri di kursi depan dan nggak mau duduk. Kacau.

Klimaksnya adalah saat saya sekeluarga harus pergi ke bandung berempat saja. Saya, suami, si kakak dan si adik. Si adik mah tenang aja ngumpet di carseat infant warisan kakaknya.. Nah si kakak ini belum punya carseat sendiri huhuhuhu. Jadilah selama perjalanan ke bandung doi berdiri di kursi depan, dan endingnya minta dipangku suami terus tidur dipangkuan suami. Di jalan tol cipularang.

Bahaya? Emaaangg… Makanya saya langsung bergalau ria mikirin carseat buat si kakak.

Pertimbangan saya untuk nggak langsung beli carseat adalah karena itu gear mahal. Harganya di atas 1 juta, dan takutnya kalau udah beli dia nggak betah. Sempat mempertimbangkan untuk sewa, harga sewanya juga lumayan ternyata. Dan carseat itu sangaaat makan tempat. Berhubung mobil sharing sama mamah, asa rempong banget ya dlm 1 mobil yang cuma 2 row ada 2 carseat.

Sampai saya menemukan benda bernama portable car seat – aslinya mah cuma kayak sabuk pengaman khusus bocah yang bisa dipasang di kursi mobil. Daripada si bocah bernanuver di mobil, coba beli dulu deh. Kebetulan harganya pun cukup terjangkau.

 

Image result for portable carseat kiddy

Macem ini portable carseatnya, maaf ya dek tante pinjem mukanya hoho

Pas banget saat kita mau pergi jalan-jalan, datanglah kiriman carseat portable ini, horeee… Kami langsung pasang di kursi depan mobil.

Dan ternyata si kakak sangat antusias dengan mainan barunya! Dia duduk tenang sepanjang perjalanan, malah bisa tidur pula. Kalau dari wujudnya saya lihat cukup meyakinkan, in case terjadi tabrakan anaknya ngga akan mental insya Allah. Akhirnya bisa pergi ke luar kota berempat saja dengan tenang… fyuuh… Dan dompet selamat jadi nggak usah beli carseat juta juta hehe.

Jadi sekarang kalau bepergian, biasanya bapak menyetir, kakak dan portable carseat nya di depan, adik di infant carseat di belakang driver, dan saya di sebelah adik 😀Sebenarnya kalau anggota keluarga sudah segini idealnya mobilnya mpv, tapi ya namanya jg mobil sharing, mudah2an Allah berkahi kendaraan keluarga kami juga supaya kami selalu selamat di perjalanan 😉

Jadi, nggak ada salahnya mencoba portable carseat untuk safety bocah di perjalanan 🙂

 

Suami Aku Mah Gitu

Suatu pagi, obrolan random sebelum bos berangkat kerja

“Nanti malem mau ke mall anu ya, ditraktir makan sama Pak Fulan (ex-boss nya beliao)”

“Oh, iya hati-hati atuh.”

“Eh iya si Fulanun hari ini last day lho di kantor”

“Wah, pindah ke mana dia?”

“Belum tau juga tuh. Terus ada beberapa orang juga yang di cut off. Serem juga ya kantor, hahaha.”

“Hoo.. siapa? Kenapa di cut off?”

“Orang divisi lain, nggak tau juga kenapa nya.”

“Bapak nggak takut di cut off?”

“Rejeki mah nggak akan ketuker, tugas kita kan cuma berusaha sebaik-baiknya”

Ini nih yang paling saya suka dari suami, selo tapi tawakal :)) Saya tau bos bekerja sebaik-baiknya di kantor, semoga Allah selalu meridhoi bos 😀

*kaget juga di tengah berita lay off perusahaan minyak, ternyata kerja di e-commerce juga bukan berarti gak bakal kena pecat :p