A Leap of Faith


Saat melakukan lompatan itu, selalu ada rasa takut dan tegang – maka dari itu dia dinamakan ‘leap of faith’. Lompatan iman.

Sudah berapa tahun saya mengamati mereka? Saya lupa. Pertama kali saya melihat penampilan seperti itu saat saya umrah tahun 2004, dan mereka terlihat nyaman dan baik-baik saja.

Lalu saya melakukan lompatan iman pertama saya pada tahun 2007 – menggunakan hijab. Melewati segala pro dan kontranya. Saya ingat beberapa sahabat yang berkata, buat apa, kalau kelakuannya masih buruk. Bahkan seorang teman mengatakan saya terlihat seperti orang munafik. Tapi toh saya tidak melakukan itu untuk menyenangkan hatinya.

Seiring waktu, jilbab paris yang terkadang menerawang berubah menjadi jilbab tebal. Model jilbab punuk unta mengempes, dan jilbab pun semakin memanjang. Jeans ketat dan cardigan pun berganti dengan gamis atau tunik panjang.

Saya dulu termasuk orang yang suka berswafoto. Tapi beberapa tahun terakhir ini, terutama sejak mengetahui tentang ‘ain, saya menjadi semakin jarang berfoto, apalagi pamer foto di media sosial. Beberapa kali saya post foto saya dan kawan-kawan di media sosial saya adalah saat momentum sangat istimewa seperti pernikahan sahabat saya. Saya tidak suka mengunggah foto saya, suami, anak-anak atau kami semua di media sosial karena saya tidak terlalu nyaman dengan fakta semua orang di lingkaran pertemanan saya tahu kami di mana, sedang apa, wajahnya bagaimana, dan lain-lain. Mungkin asbab terbesarnya ya itu, takut kena ‘ain. (kalau kepo soal ‘ain silakan baca ini https://konsultasisyariah.com/10400-hakikat-ain.html). Atau sederhananya, kita posting foto suami terus ada yang naksir, fotonya dipandang-pandang, kan kzlbgt mz 😐

Semakin lama, saya semakin tidak nyaman terlihat. Sudah sejak lama saya ganti PP media sosial saya dengan huruf saja, hehehe. Dan bisikan itu datang, katanya cobalah kamu pakai cadar saja.

Apa yang salah? Nggak ada. Sebagian ulama mewajibkan (jika wajahnya berpotensi mengundang fitnah alias cuantik banget – kalo buat mbak Dian Sastro udah kena hukum wajib kyknya hehe :p), sebagian menganggapnya sunnah. Terus kalau sunnah apa ya ditinggalin aja? Cem udah banyak pahala aja lu orang.

Sempat ada rasa ragu – yakin mau coba pakai cadar? Lha ngaji aja masih suka bolos, baca qur’an jarang, sholat masih gak awal waktu, dan masih banyak lagi. Tapi saya percaya, sebuah kebaikan akan memudahkan kebaikan yang lain. Dan saat yang lain masih berat, entah kenapa hati ini ringan sekali untuk melakukannya.

Hidayah masa ditolak? Hehehe

Saya pun berkonsultasi kepada suami. Komentar beliau: “kan sunnah, kenapa juga aku ngelarang”

Ya kurang apa lagi? Hanya bisikan syaiton yang menghalangi nampaknya :p

Jadi, bismillah. Saya akan memulai lompatan iman berikutnya – bercadar. Semoga bisa menjadi sebab kebaikan-kebaikan lain dan Allah ridhai ini sebagai jalan menuju surga 🙂

*Feature Image taken from http://www.cafleurebon.com/wp-content/uploads/2012/03/1001-Colours-by-Anca-Costache.jpg

Advertisements

Memori Sepotong Ketan

“Kenapa sih ini macet banget?” kata suami saya di perjalanan pulang.

“Hmm, kayaknya karena pada parkir di tempat ketan susu, kalau malam minggu kan ramai.” Saya menunjuk ke warung ketan susu di pinggir jalan yang mengambil lokasi parkiran sebuah bengkel. Tempat itu memang selalu ramai di malam hari, terutama akhir minggu.

“Ah,benar juga.” Kami akhirnya lolos dari kerumunan kendaraan yang akan parkir di tempat ketan susu. “Aku nggak suka ketan susu itu. Rasanya terlalu manis. Kamu suka?”

“Aku malah nggak suka ketan sama sekali. Mau dikasih susu kek, mau enggak, tetep aja nggak suka.”

“Padahal enak banget tuh kalau dikasih tape.”

“Di kampung mama juga tiap lebaran itu makanan ada, tetap aja nggak pernah kusentuh.”

Lalu pikiran saya tiba-tiba melayang ke Majalaya. Rumah kecil di pinggir jalan dengan makanan yang selalu tersedia – ketan, tape, rempeyek, pepes ikan mas, nasi dan sambal. Padahal yang menyediakan tidak lebih berada daripada kami, dan saya baru menyadari betapa mereka berkorban untuk menjamu kami yang datang jauh dari kota.

Entah kenapa saya sedih karena sampai sekarang saya tidak bisa menyukai ketan dan tape yang mereka buat dengan susah payah, atau mungkin saya lebih sedih karena saya menyadari bahwa dua orang yang seringkali memakannya bersama saya sudah tiada – nenek dan wak yani (Allah yarhamhuma).

Sekarang rumah itu sudah dijual, dan yang tersisa dari mereka hanyalah setumpuk tanah dan batu nisan.

Lebaran tahun ini, apakah aku akan bertemu lagi dengan ketan dan tape yang tidak aku sukai?

Semoga Allah lapangkan kubur nenek dan wak yani, sungguh penantian yang lama sampai kita semua nanti akan dibangkitkan, insya Allah.

 

Closure

Aku memilih untuk memaafkanmu.
Karena setelah kupikir lagi,
Keenggananku hanya buah dari gurihnya rasa benci yang dihembuskan para setan.
Benci yang mengakar dan menyisakan luka saat ia tercabut.
Bekas luka akan selalu ada
Dan aku memilih untuk membiarkannya
Sebagai bukti bahwa kau pernah ada.
Sudah pernah kutulis,
Aku pernah sangat membencimu dan kupikir itulah tanda cinta..
Tapi yang tersisa kini, ah, sudahlah..
Hanya rasa kasihan kepadamu.
Egoku telah lama menguap,
Semoga Allah mengampunimu,
Semoga Allah menyayangimu,
Semoga Allah berikan taufik dan hidayah kepadamu,
Semoga Allah mengampuniku.
Dan sesungguhnya maaf dan cinta itu akan selalu ada bagimu dariku
Rabbighfirliy, waliwalidayya, warhamhuma, kamaa rabbayani shagiira.
—-
Aku ingin berjumpa denganmu tanpa pembicaraan tentang dendam dan manipulasi.. Semoga aku masih bisa mendengar nasihat bijak dari tubuh rentamu.

Something is Wrong With Your Heart

Saat membaca Qur’an 10 halaman sudah terasa melelahkan

Saat shalat-shalat sunnah mulai ditinggalkan

Saat zikir pagi dan petang mulai terlupakan

Saat shalat wajib mulai tertunai mundur ke akhir waktu…

Apa yang salah dengan hatiku?

Apa yang salah dengan mataku? Apa yang kulihat hingga kembali jadi keras hatiku?

Apa yang salah dengan telingaku? Apa yang kudengar hingga kembali jadi keras hatiku?

Apa yang salah dengan tubuhku?

Ke mana kaki ini melangkah?

Apa yang kutulis dengan tanganku?

Astaghfirullah wa atubu ilaih…


Sesungguhnya hukuman terberat dari Allah ialah hilangnya taufik dan nikmat beribadah

Conscious Mistake

Why would a person do a mistake consciously? What a fool…

But in fact, we do this everyday...

Bagaimana perasaan kita kalau anak buah kita di pekerjaan selalu melakukan kesalahan. Padahal sudah diberitahu yang benar itu apa, dan bagaimana cara mengerjakannya. Ngepel lantai itu yang bener pakai kain pel dan cairan pembersih lantai. Kalau udah dikasih tau terus masih aja ngepel pakai sabun pencuci piring ya apa nggak gedek?

(kalimat terinspirasi dari teh CQ yang menggunakan jasa bebersih online dan mbaknya pakai deterjen buat ngepel lantai xD)

Tapi kenapa ya kita sendiri masih sering melakukan hal-hal yang salah secara sadar?

Udah tau tahajud itu baik, kenapa bangun susah amat.

Udah tau bayar hutang harus disegerakan, malah ditunda-tunda dan beli barang yang nggak penting.

Udah tau menggengam besi panas lebih baik daripada bersentuhan dengan yang bukan mahram, masih aje salaman sama yg non mahram.

Udah tau makanan haram yang menjadi daging di tubuh kita akan dibakar dulu di api neraka, kenapa masih aja jajan sembarangan…

Udah tau dosa riba paling ringan sama dengan menzinahi ibu kandung sendiri, kenapa juga masih nekat ngambil KPR #jedotinpalaketembok

Masih panjang lah kalau dibuat listnya 😐

—-

Mengacu kepada kajian Ustadz Nouman Ali Khan yang baru saya baca, kurang lebih begini isinya:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa setiap kali kita berbuat dosa, ada kegelapan di hati kita. Dan apabila kita terus berbuat dosa maka kegelapan itu akan bertambah sampai seluruh hati kita dikelilingi oleh kegelapan. Jadi begitulah persisnya setan bekerja. Dia bekerja perlahan tapi pada akhirnya dia akan berhasil jika Anda membiarkannya.

(untuk lebih lengkapnya, silahkan lihat kajiannya di sini)

Juga Ustadz Kholid Basalamah pernah menyampaikan dalam suatu kajian (kurang lebih begini isinya):

Kebaikan dan maksiat itu seperti sebuah spektrum. Saat kamu menikmati yang satunya, akan sulit untuk menikmati yang lainnya.

Banyaknya dosa yang kita perbuat meninggalkan kegelapan di hati kita. Semakin merasa mudah untuk berbuat dosa, kali berikutnya akan jauh jauh jauh lebih mudah… Seperti efek bola salju. Tapi begitu juga dengan kebaikan. Semakin kita banyak berbuat kebaikan, akan mudah berbuat kebaikan yang lain. Percaya nggak, membiasakan makan dengan tangan kanan dan tidak sambil berdiri bisa berefek kepada nikmatnya sholat? (Ini beneran lho)

Saat kita sedang bermudah-mudah dalam melakukan kesalahan secara sadar, mungkin Allah sedang menghukum kita dengan mencabut taufiq dari hati kita.

Itulah sebabnya kita shalat 5 waktu dengan bacaan Al Fatihah berkali-kali.

Tunjukilah kami jalan yang lurus

Apakah saya keluar rumah pakai jilbab atau nggak?

Hari ini makan siang di restoran yang jelas halal atau nggak?

Semua kebimbangan dalam keseharian hidup, seharusnya sudah ada jawabannya di sana…

—-

Ah, ya Allah, aku tahu Engkau tidak suka hambamu yang tidak mengerjakan apa yang ia katakan…

Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.

Semoga Allah karuniakan taufiq dan hidayah kepada kita untuk selalu mengambil jalan yang lurus dalam kehidupan.

 

Masa Lalu

Setiap orang pasti memiliki masa lalu, baik maupun buruk. Paling apes memang kalau kita punya masa lalu yang buruk, banyak pula orang yang tahu.

Paling nggak enak, kalau kita sudah berusaha berubah, tapi orang masih mengasosiasikan kita dengan gelar masa lalu kita.

 

“Jangan pacaran lah, bro. Di islam itu kita nggak mengenal pacaran… Banyak mudharatnya juga…”

“Lah elu, dulu juga bukannya pacarnya banyak?”

“Ayo bro, mari berhenti ngerokok, gak baik buat kesehatan.”

“Ah elu kayak yang nggak pernah nyoba aja.”

“Ayo sis, jaga pergaulan, berpakaian yang sopan supaya nggak menimbulkan fitnah.”

“Halah, sok suci banget sih lo!”

 

 

Nyatanya proses untuk berubah itu memang nggak mudah. Dulu waktu saya pertama belajar berhijab, ada beberapa teman yang berkomentar ngeri-ngeri.

“Hah ngapain lu pake jilbab? Kaya orang munafik aja.”

Eaaa (1)

“Lu beneran tuh pake jilbab? Bisa tahan seminggu gue sujud deh sama lo…”

Eaaa (2)

Emang gue dulu macem mana sih sampai-sampai orang komentarnya kok gitu amat? Yah, you can only imagine…

Pun setelah berhasil memperbaiki akhlak yang dulunya semrawut parah (sampai sekarang pun masih jauh dari sempurna), saat saya ingin mengajak orang lain menuju kebaikan, saya sering terhantui oleh kesalahan masa lalu saya. Saya jadi nggak berani mengingatkan orang untuk berhenti melakukan dosa yang dulu pernah saya lakukan. Karena saya takut orang yang diingatkan bilang “Ih elo kan dulu juga gitu!”

Tapi kemudian saya teringat kisah Umar bin Khattab. Situ mau adu jelek-jelekan masa lalu? Noh sana lah diadu sama beliau 😛 Beliau dulu orang yang paling keras permusuhannya dengan islam, tapi dengan hidayah dan izin Allah, menjadi salah satu khalifah penerus sesudah Rasulullah Shalallahu Alayhi Wassalam. Dijamin surga, men.

Manusia itu dinilai dari akhirnya. Yang paling penting sekarang adalah bagaimana caranya supaya kita bisa memastikan kita mati di jalan Allah.

Situ dulu suka mabok? Suka ngerokok? Doyan dugem? Pernah berzina? Atau mendekati perzinahan alias patjaran?

Yang sudah berlalu memang nggak bisa diulang. Tapi ketahuilah…

Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat pada-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang berada di atas kendaraannya dan berada di suatu tanah yang luas (padang pasir), kemudian hewan yang ditungganginya lari meninggalkannya. Padahal di hewan tunggangannya itu ada perbekalan makan dan minumnya. Sehingga ia pun menjadi putus asa. Kemudian ia mendatangi sebuah pohon dan tidur berbaring di bawah naungannya dalam keadaan hati yang telah berputus asa. Tiba-tiba ketika ia dalam keadaan seperti itu, kendaraannya tampak berdiri di sisinya, lalu ia mengambil ikatnya. Karena sangat gembiranya, maka ia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabb-Mu.’ Ia telah salah mengucapkan karena sangat gembiranya.” (HR. Muslim no. 2747).

Yuk, kita tobat. Dan jangan biarkan dosa masa lalu kita menjadi penghalang untuk saling mengingatkan tentang kebenaran 🙂

 

Pada Hari Itu

Ada suatu hari di mana uang tak lagi berlaku. Ada suatu hari di mana sebuah amal baik sebesar zarrah akan menjadi sangat berarti bagi pemiliknya. Ada suatu hari di mana seorang ibu pun tidak mau menanggung dosa anak-anaknya, sementara sang anak akan menuntut orangtuanya atas pembiaran terhadap dosa yang selama ini dia lakukan.

Pada hari itu, tidak ada seorangpun yang selamat atas apa yang mereka perbuat.

Lu pikir gue nggak asik? Ngeselin? Ya ukhtifillah, saya cuma takut pada hari itu kamu akan menuntut saya atas pembiaran yang saya lakukan terhadap maksiat yang ada di depan mata saya.

Takut, sungguh saya takut.

Beruntunglah kamu saat kamu masih punya keluarga dan sahabat yang mengingatkanmu akan kebenaran. Sesungguhnya saya tidak ingin di hari akhir nanti kita akan saling menuntut – berebut pahala dan saling lempar-lemparan dosa.

Berat jika kamu seorang lelaki – ibu, istri, anak, saudarimu ada di tanggunganmu. Dibilang cerewet, cerewet deh. Pada hari itu, salah-salah pahalamu digerogoti oleh para tanggunganmu atas hal yang tidak kamu ajarkan.

Jika kamu perempuan, plis jangan ngeyel. Jaga izzah dan kehormatan diri, tegakah kita nantinya menuntut bapak kita, anak kita, saudara laki-laki kita atas maksiat yang kita perbuat?

Pada hari itu, manusia berterbangan seperti anai-anai….

Dan hari itu, pasti terjadi.