Kenapa

Kenapa aku sejahat ini?

Mungkin gara-gara kamu Pa

Yang menghajar ibuku di waktu kecil

Dan kalian yang merundungku di waktu kecil

Aku tidak pernah lupa

Nanti di akhirat kalian juga aku minta tanggung dosanya

Advertisements

Million Dollar Question

I tried to call you

But no one answer

Tried to find you

Guess it’s too late

Are you still alive?

I set myself apart

Because my soul is weak

But in the end

What’s left is regret

Are you still alive?

What a stupid question

A daughter ask to her father

Why people set us apart

Are they willing to cover all God’s judgement

For separating father and daughter

I might block my way to heaven

Because of you

So where are you?

Are you still alive?

Buka Bersama

Dulu acara ini paling dinanti, kalau sekarang paling saya hindari, hahaha.

Sepertinya sudah 3 tahunan terakhir ini saya dan keluarga memutuskan untuk nggak hadir di acara buka bersama. Kalau zaman dulu, setengah Ramadhan kayaknya bisa habis sendiri untuk buka bersama dengan teman ini, teman itu, komunitas ini, itu, dan lain-lain. Kalau sekarang semakin tua, undangan juga tidak sebanyak dulu. Tapi tetep saja kalau bisa nggak ada mah nggak usah, hehehe. Saya dan geng SMA saya pun lebih suka mengadakan halal bihalal.

Kenapa sih kok jadi nggak berminat dengan acara bukber-bukberan sekarang?

Buat saya yang umurnya semakin tua, udah hampir habis setengah kuota umur umat Rasulullah Shalallahu Alayhi Wassalam (dan belom tentu juga kuota saya sampai 60 tahun!), bulan Ramadhan harusnya menjadi jauh lebih bermakna. Bermakna, dalam artian mendekatkan saya dengan pencipta saya. Percayalah, dengan kondisi hidup sehari-hari dengan dua anak tilawah 1 juz sehari itu buat saya masih sulit. Target untuk khatam 30 juz di bulan ramadhan ini aja masih backlog 6 juz hahaha… Waktu-waktu sendiri menjadi sangat berharga, di mana saya bisa berdzikir, memanjatkan doa-doa aneka rupa, atau sekedar membaca Al-Qur’an untuk mengikis kerasnya hati. I really need to be alone in this holy month.

Sementara, kalau bukber acaranya ngapain aja kira-kira? Oke, tahun ini saya cuma ikut 1 bukber, itupun bukber keluarga besar di kampung (yang mana saya pasti gak enak lah kalau gak dateng…). Ini kronologis kejadiannya:

Hari Sabtu, beres sahur dan subuh, siap-siap berangkat ke stasiun kereta. Naik kereta sambil ngurus anak main makan ngemil mangku bobo, pegel cuy 3 jam jadi kasur anak umur 2 tahun. Nyampe Bandung. Udah jam makan siang anak lagi aje. Ngurusin anak-anak makan, bersih-bersih buat siap-siap jalan ke kampung. Jam 2 jalan ke kampung. Nyampe jam 4. Jam 4 abis solat ashar anak-anak ngajak main. Menjelang maghrib sodara banyak yang dateng. Ngobrol. Terus buka. Solat magrib. Makan. Ngobrol lagi. Solat isya. Ngobrol lagi. Pulang. Tepar, langsung tidur ampe jam setengah 4.

Sahur. Solat subuh. Sempet zikir dan ngaji dikit tapi capek banget akhirnya ketiduran lagi. Ngurusin anak-anak makan dan mandi. Packing buat pulang ke Jakarta. Jalan ke stasiun. Nunggu kereta sambil ajak anak-anak keliling stasiun. Di kereta pada heboh ngajak main. Nawarin cemilan biar pada anteng. Ketiduran bentar di kereta. Bangun-bangun anak-anak pada bobo, lumayan dapet ngaji berapa halaman – eh abis itu malah ngobrol sama suami (lagi jarang ngobrol soalnya kalo weekdays). Nyampe Jakarta, langsung ke rumah eyangnya para bocah. Ngajak main. Ngobrol lagi. Karena kurang gula tepar lagi sampe magrib.

Dengan kepadatan kegiatan kayak gitu aja saya berasa, rasanya kok hari-hari saya kebanyakan habis buat wara wiri dunia aja, hahaha. Belum lagi kalau acara bukber sama teman-teman, paling ujung-ujungnya ngobrol dan haha hihi. Which is the last thing i need in this month, karena buat saya kebanyakan ketawa bikin keras hati. Masih  mending sih kalau acara bukbernya lumayan jelas, misalnya kajian ba’da ashar, lalu dilanjutkan dengan tilawah sama2, zikir dan doa sambil nunggu maghrib. Lalu shalat maghrib dan isya berjamaah. Tapi sesungguhnya kalau mau khusyuk, cuma 1 syaratnya: nggak banyak ngobrol. Jadi ya kalau mau ngobrol, mending habis lebaran aja kan?

Jadi, yuk ganti acara bukbernya dengan halal bihalal aja, supaya lebih khusyuk di bulan suci ini 🙂

Kamu

Hai, kamu yang tidak pernah bersinggungan dengan hidupku

Kamu yang berbagi separuh darah denganku, entah apa kamu tahu

Aku cuma mau bilang,

Kamu keren sekali dan beruntung

Semoga lancar dalam mencapai cita-citamu

Kamu mungkin tidak tahu siapa aku,

Tapi aku merasa bangga berbagi setengah darah denganmu

Orangtuamu pasti mendidikmu dengan baik sekali

Dan kamu beruntung,

pernah berbagi setitik dua titik perasaan dengan papamu

Hai, kamu yang tidak pernah bersinggungan dengan hidupku

Mungkin kini kamu tidak tahu, dan kupikir saat ini kamu belum perlu tahu

Apakah ada bedanya kamu tahu ada aku atau tidak?

Jangan-jangan nanti kamu pingsan jika kamu tahu

Kehadiran kita mungkin luka lama di hati ibu kita masing-masing, entahlah

Mungkin tidak sekarang aku melompat ke hidupmu,

Untuk saat ini, cukup tahu saja

Aku punya adik sebapak yang keren sekali.

Aku Melihat Surga

Aku melihat surga

di wajah tua petugas kebersihan itu

yang bekerja berpeluh dengan gaji delapan ratus ribu sebulan

tulus membantu dengan senyum teduh di wajahnya

 

Aku melihat surga,

di wajahnya, wanita kuat itu

yang bertahan dengan ujian rumah tangganya,

sungguh kutahu beberapa kali ia berpuasa karena tiada makanan di dapurnya

namun tak pernah ia mengumbar keluh kesahnya,

selalu tersenyum sembari mencari rezeki halal barang seribu dua ribu

yang di rumah orang kaya terselip dan dibiarkan karena dikira tak berharga

 

Aku melihat surga,

Di wajah wanita tua itu,

yang dalam sakitnya sibuk menyuruh anak-anaknya untuk memuliakan tamunya

yang selalu memikirkan orang lain daripada dirinya

 

Aku melihat surga,

Di rumah tangga mereka,

yang belum dikaruniai rumah milik sendiri,

namun bersabar mengontrak karena menghindari riba,

karena rezeki sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa

 

Aku melihat surga,

dari apa yang mereka usahakan dengan sabarnya

 

Aku melihat surga,

masih jauh dari yang nampak di pantulan kaca.

 

The Rule of The Game

Let’s play a game. Do you want to play a game?

You will be human in your next life. You will be implanted in selected embryo, and your destiny path and options is already written. The exit door is only 2 way: khusnul khatimah or su’ul khatimah, you can choose.

Your lifespan in this world is unknown, but average people live for around 63 years. After that, the angel of death will greet you. You will be buried and wait until the judgement day.

On judgement day, you will be judged by all the deed you’ve done. The judgement will be done by the one and only, the most righteous being.

Pass the sirath and enter the jannah – the beautiful place with flowing river underneath – then you win.

Dragged to naar – the pit of eternal fire – then you lose.

How to win the game?  A prophet has sent for you, 1400 years ago. He wrote all the game walkthrough for you, and all you have to do is to follow his way. Your goal is to spend your lifespan worshiping your creator and to do as many good deed as possible.

Sounds easy? Maybe. But there’s no game without enemy.

Your enemy is unseen, shape-shifting most of the time. He could be a jinn, he could be a human. He whisper bad thoughts for you, he will always try to drag you away from the right path. He is the most patient creature ever made, and he has live long before you are created, so he knows where to strike your weakness. He will make you worry all the time and slowly deteriorate your trust to your creator.

You are now vowing that you only worship one God, your creator. You will born with that, but somehow you will not remember it.

The best part of this game is that you often forget that this is a game, that you thought that this is reality.

But in fact, reality is what happens after the game ends.

If you win, you will be rewarded.

Let’s play the game. Are you game?