Noise

Hello, there, there, I’m calling out

I know You’re there, there, but your voice’s without

Overswept by the noise I made, I let them in

Hello, there, there, but I know You can hear me

Should’ve shut it out,

All the noise that I am better without

Hello there, can we talk?

I turning off the noise.

I’m running back to You,

Digging my head deep in the silence of the night

Hello there, something’s wrong with my heart

Is it the noise, or is it just me?

Advertisements

Ruang Santai

Ada sebuah ruangan yang terletak di bagian depan kampus saya. Ruangan itu dikelola oleh sebuah unit kegiatan mahasiswa sebagai sekretariatnya. Namun, anggota UKM itu biasa menyebut ruangan itu ruang santai.

Pentingkah ruangan ini? Penting banget. Ruangan ini adalah saksi hidup pertumbuhan jiwa dan raga saya (caelah). Menyaksikan saya dan teman-teman saya tertawa, sedih, bahagia, menjalin persahabatan, jatuh cinta, patah hati. Menyaksikan kami tumbuh dewasa, dari remaja SMA nggak jelas berubah menjadi manusia dewasa yang bertanggungjawab dan mandiri.

Bentuknya sederhana saja – di bagian terasnya ada kursi-kursi panjang dan meja panjang yang biasa digunakan anggota untuk ngobrol, makan, diskusi, bikin tugas, apapun. Ada rak sepatu di samping pintu masuk – sepatu yang tidak pada tempatnya dipersilahkan untuk dilempar ke lapangan oleh siapapun yang melihat. Di dalam ruangan ada meja sekretariat dan komputer yang biasa digunakan untuk admin dan surat menyurat. Di dinding terpajang beberapa foto – biasanya foto bersama anggota dan foto komite pengurus unit tahun itu. Kemudian ada rak besar tempat anggota menyimpan tas, helm, dan barang-barangnya. Hanya komite pengurus yang punya loker pribadi. Lalu sebuah TV berukuran sedang, di depannya terhampar kasur palembang dan bantal-bantal. Tentu saja, karena kami unit pengapresiasi sinema.

Bagi kami, ruangan ini sakral. Hanya anggota yang boleh masuk ke dalamnya, dan ada sanksi keras bagi calon anggota yang ketahuan melanggar aturan ini. Tentu saja, bagi kami ini sudah selayaknya rumah sendiri. Kami berhak untuk memutuskan bahwa hanya anggota keluargalah yang boleh masuk ke dalamnya.

Ada sebuah cerita, pada malam pergantian tahun 2009 kalau tidak salah. Seperti biasanya, kami mengadakan acara makan-makan di teras bersama para anggota – calon anggota juga diundang. Dan hari pun semakin larut, beberapa orang termasuk saya memutuskan untuk bermalam di sana.

Sampai tiba-tiba, senior saya, sebut saja Bang Jon (orang ini terkenal di twitter anyway, apa kabar ya ini orang), menyadari bahwa satu orang calon anggota perempuan (sebut saja A) sedang bersiap untuk tidur di dalam ruang santai.

“Woi, itu ngapain si A tidur di ruang santai?” Tanya Bang Jon tegas.

Seorang anggota menjawab, “Kasihan kak, udah kemalaman.”

“Suruh pulang! Elo, atau siapa kek yang bawa motor, anter pulang! Nggak ada kan yang nyuruh dia di sini sampai kemaleman kayak gini?”

Bang Jon adalah salah satu senior yang disegani di keluarga kami. Akhirnya A pun digiring keluar dan diantar pulang oleh entah siapa.

Hampir satu dekade kemudian, dan kejadian itu terngiang kembali di pikiran saya. Saat ini saya sudah memiliki rumah saya sendiri, dan saya sudah tidak bisa menyebut ruangan itu “rumah” – kini, ia adalah rumah bagi para anggota-anggota baru. Masa baktinya sebagai rumah bagi saya telah berakhir saat saya mengenakan toga di gedung Sabuga. Namun kisah itu mengajarkan saya satu hal: Itulah kehormatan kita untuk menjaga rumah kita.

Ada batasan yang sangat jelas bagi “penghuni” dan “bukan penghuni”.

Rumah saya, rumah kita, tempat saya berlindung dan beristirahat. Keluarga kita.

Sudahkah kita jaga rumah kita?

Ps: Anak kampus gajah pasti tahu unit yang saya maksud 😉

Gaduh

Riuh gaduh

Bergemuruh

Tuan-tuan

Berdesakan

Nyonya-nyonya

Dengan gincu menyala

Mempelai

Bergaun melambai

Gadis manis

Jejaka perkasa

Terpajang berseri

Di pelaminan

Tuan nyonya

Berebut makanan

Dengan gaun jutaan

Memalukan

Senandung romansa

Membuat sakit kepala

Mereka berbagi bahagia

Aku makan nestapa

Terburu-buru

Buru-buru

Ayo cepat, buru-buru

Jangan sampai dia berlalu

Buru-buru

Ayo, ayo buru-buru

Jangan lama berpikir,

Nanti kamu jadi yang terakhir

Mari semua, buru-buru

Nanti tak ada lagi yang tersisa

Ingkar janji sedikit sudah biasa

Mari, buru-buru

Gelontorkan sisa uangmu

Supaya aman kapling tanahmu

Ayo, buru-buru

Nanti kamu terlambat

Mendulang rupiah berkali lipat

Ayo, jangan dipikir

Beli saja, uang muka tak seberapa

Tidak usah dipikir panjang!

Kalau sertifikat tak kunjung terbit, jangan juga meradang.

Karena semua ini

Hanya terburu-buru

Mengejar nafsu menderu

Demi lipatgandakan nilai yang semu

Ayo, buru-buru

Agar semakin banyak hartamu.

Didikan Tangan Sendiri

Sebaik-baiknya seorang Ibu adalah yang bisa mendidik anaknya dengan total dengan tangannya sendiri. Pertanyaannya, bagaimana kalau ternyata Ibunya sendiri belum selesai dengan dirinya sendiri?

Apakah saya akan membicarakan tentang inner child? Mungkin. Saya adalah contoh orang yang ingin sekali bisa mendidik anak saya sendiri. Semuanya. Motorik kasar, motorik halus, adab iman islam, ngajar ngaji, ngajar tahfidz, ngajar olahraga – you name it. Tapi kenyataannya adalah, you just can’t teach what you can’t do. Susah lah mau ngajarin anak matematika kalau Ibunya aja lihat angka sudah mules duluan, hahaha, itu mah saya.

Anyway, saya mau jujur: Saya bukan guru yang baik. Stok sabar saya cuma secuprit. Daripada sok-sokan menstimulasi anak sendiri (bikin craft apalah inilah itulah lalu spaneng sendiri mikirin ngeberesinnya) saya memutuskan untuk melakukan hal yang saya cukup ahli dalam melakukannya: SUBKON DAN MANAGE.

Serahkan sesuatu pada ahlinya. Saya lebih nyaman menitipkan pendidikan anak saya barang 2-3 jam ke guru-guru yang berpengalaman dengan lingkungan kondusif. Saya pun bisa rehat, mengerjakan hal-hal lain, dan ketemu anak dalam kondisi fresh. Percayalah digelendotin anak 24 jam sehari itu draining energy sekali.. Iya, pahalanya banyak. Tapi kalau kitanya capek dan jadi zolim ke anak-anak kita dosanya juga buanyak to.

Selain sekolah, saya pun memutuskan untuk subkon belajar ngaji dan bela diri anak saya ke guru yang berpengalaman. Lah terus Ibunya ngapain dong? Boi, Ibunya lagi ASI si adek umur 1 tahun, manalah bisa ditinggal. Saya butuh semua energi yang tersisa cuma untuk tersenyum dan tampak prima bagi anak-anak dan Bapake anak-anak. Anyway, saya masih berusaha mengajarkan adab-adab ke anak-anak, juga masih mengetatkan no tv no gadget demi anak-anak main di luar saja.

Bagaimanapun juga, “daycare” terbaik adalah program dari ortunya sesuai visi misi keluarga. Apakah akan ketemu daycare di yang cocok dengan konsep saya di bandung? Heuheu…

Ikigai

Layar ponselku menyala, petugas dari panti yatim tempat suamiku menitipkan kurban sudah menghubungi. Terkirim dua buah foto, yang pertama seekor sapi yang masih hidup difoto di depan spanduk nama-nama orang yang berkurban. Yang kedua foto sapi yang telah disembelih, masih berlumuran darah, tapi wajahnya terlihat tenang. Seperti sedang tersenyum. Seolah-olah berkata, aku sudah menunaikan tugasku di dunia.

Yang membuatku kembali bertanya-tanya: Apa tujuan kita dilahirkan ke dunia?

Apa peran yang harus kita mainkan, sehingga nanti saat malaikat maut menjemput kita bisa menyambutnya dan berkata, silakan jemput saya pulang. Urusan saya di sini sudah selesai.

Ikigai – your reason for being. Tujuan hidup.

Butuh berapa lama ya bagi saya untuk menyadari bahwa ternyata hidup itu perlu tujuan? Sepertinya selepas kuliah, pada saat itu tiba-tiba semua terasa hampa. Ya, karena hidup saya senantiasa dicekoki: “belajar yang rajin supaya bisa masuk universitas yang bagus biar orangtua bangga.” Setelah lulus dari kampus gajah, saya bekerja di perusahaan yang baik pula, tapi selama itu pun saya merasa hampa. Seperti ada yang hilang. Saya sangat semangat bekerja – I do love my job. Tapi saya kehilangan kewarasan emosional saya dengan hilangnya komunitas-komunitas sosial yang dulu sangat mudah saya temui. Apalagi saya tinggal di Jakarta, janjian makan malam dengan teman saja ngap-ngapan dengan macet dan ngeles dari deadline heuheu.

Setelah itu saya semacam mati suri. Badan bekerja, tapi otak dan hatinya mati. Kalau kata suami saya, namanya “elevator syndrome” – sudah biasa naik elevator, begitu elevatornya sampai ke lantai atas, kita bingung dan stuck sendiri. Lantas melangkah keluar elevator, terheran-heran dengan banyaknya pilihan jalan, lalu pusing sendiri.

“Kepincangan dalam keluarga” yang saya alami semasa kecil membuat saya kehilangan sosok laki-laki panutan dalam hidup. Menjadi anak tunggal dengan Ibu tunggal yang selalu sibuk bekerja (it’s not her fault) membuat saya kesepian – I did wonder if I have friends or that my existence really matter in this life. Saat SD setiap Ibu saya memarahi saya karena kelelahan saya seringkali berpikir, kalau keberadaan saya di dunia ini hanya menjadi beban bagi orang lain bukannya lebih baik saya mati saja ya? Kenapa saya hidup? Tapi kemudian, saya terus memutuskan untuk hidup karena saya akhirnya menyadari bahwa Ibu saya pasti akan kehilangan saya. Dan tujuan hidup saya saat itu adalah menemukan pendamping hidup yang baik supaya saya tidak terlalu kesepian. Kalau lagu dewa 19 bilang “Di dalam keramaian aku masih merasa sepi”, ya memang begitulah adanya, walaupun terdengar kacangan.

Seiring waktu saya mulai sadar dan tahu diri atas pengorbanan Ibu saya, maka saat saya diterima kuliah di kampus gajah (di jurusan yang saya pilih dengan kesadaran penuh karena saya suka), tekad saya adalah segera lulus dengan prestasi untuk membuat beliau bangga. Walaupun prestasi ternyata berat bung dengan saingan manusia2 ambisius sekampus 😂

Dan kemudian saya menikah. Di usia muda, 23 tahun. Kemudian punya anak. Saya pikir mendidik anak dengan baik bisa menjadi ‘ikigai’ saya… Ternyata saya masih harus melakukan banyak perbaikan di sisi “what I’m good at”. Saya bisa bikin materi kurikulum pendidikan anak, saya sudah berkali-kali melakukannya untuk junior saya di bangku kuliah. Tapi dalam tataran eksekusi, saya kacau. Saya butuh bantuan ekstra: pengasuh, sekolah, ekskul, guru ngaji, you name it. Saya ternyata bukan manusia sakti macam teh kiki barkiah yang bisa homeschooling 5 anak sendiri sambil beresin rumah tanpa ART. Sepertinya saya harus banyak memperbaiki manajemen subkon-subkon pendidikan anak saya 😁

Then again, saat saya subkon-subkon urusan anak nggak mungkin dong saya gogoleran sambil wasapan doang. I have to have something useful, meaningful for myself. Menjadi Ibu bagi anak-anak adalah satu hal. Menjadi istri bagi suami juga satu hal lain. Pertanyaan terbesar saya, akan menjadi apa saya untuk diri saya sendiri? Setelah keluarga dan anak-anak pergi dari hidup saya, peran apa yang masih akan melekat kepada saya di dunia ini? Nggak mungkin kan setelah anak-anak menikah, saya tetap recokin mereka. Post power syndrome dong.

Saya punya hobi yang sama sejak saya usia SD: membaca, menulis, dan menggambar. Semuanya bisa membuat saya lupa waktu, pantesan aja ya begadang terus waktu kuliah. Saya suka melakukan semuanya.

Kata suami, ternyata tulisan saya lebih bagus daripada gambar saya… Hahaha. Saya bukan yang paling berbakat di antara mahasiswa jurusan saya, tapi percayalah kalau soal usaha, saya nggak main-main. Tapi ya tetep aja segitu, kalah dengan orang yang berbakat dan effortless mengerjakan tugasnya. Dan saya dapat B dan dia dapat A 😂 Waktu itu saya seediiih banget, merasa bahwa dunia ini nggak adil. Tapi sekarang saya menyadari, bahwa kasus yang terjadi pada teman saya adalah hasil asahan pedang di tempat yang tepat. Andaikata dia masuk jurusan kedokteran, saya yakin dia nggak akan bisa se-effortless itu.

Jadi, demi menemukan ‘ikigai’ saya, saya sekarang sedang berusaha mengasah ‘pedang’ saya yang satu lagi: menulis. Bagaimana caranya kegiatan menulis yang saya suka dan bisa, menjadi bermanfaat bagi orang banyak. Dan tentu saja, saya nggak keberatan kalau ada yang mau kasih saya uang untuk baca tulisan saya :p 

Omong-omong, tahukah kamu kenapa blog ini saya beri judul “the trace of her existence”? Supaya saat saya sudah tidak ada, blog ini dan apapun yang tersisa dari pikiran saya selama singgah di dunia ini bisa bermanfaat bagi banyak orang di dunia ini. Walaupun yang baca blog saya di bumi ini kayaknya jumlahnya gak sebanding banget dengan total populasi 😅

Dan tanpa saya sadari, ternyata saya sudah menjawab pertanyaan saya sendiri. Memang sungguh menulis itu meluruskan benang kusut di dalam otak 😅

Ada satu momen di mana saya merasa sangat krisis semangat hidup. Januari tahun ini saya dirawat di rumah sakit seminggu dengan paru-paru yang panas setiap kali bernapas. Dan saya juga tipes. Sebenarnya penyakit itu nggak terlalu buruk, tapi entah kenapa saya jadi terpikir, bagaimana kalau penyakit ini mematikan? Bagaimana saya bisa bertahan hidup? Apa alasan saya untuk bertahan hidup? Kasihan semua keluarga saya jadi ikut repot saat saya dirawat di rumah sakit. Jangan-jangan dunia ini lebih baik kalau saya nggak ada? Ah, jadi mengerti betapa jatuhnya mental orang yang didiagnosis penyakit-penyakit mematikan. Sungguh hebat para penyintasnya.

Suami saya pernah bilang, hidup di dunia ini tak lebih dari banyak titik yang saling bersinggungan menjadi suatu garis. Pada saatnya, titik itu akan berpisah. Dan tinggallah kita sendirian.

Kita, lahir sendiri. Mati pun sendiri. Dihisab pun masing-masing. Tidak akan ada yang membela kita saat hari perhitungan, di depan Zat Yang Maha Adil.

Maka, apakah kita rela keberadaan kita di bumi Allah ini sekedar lalu tanpa makna? Sungguh merugi jika kita hidup hanya sekedarnya. Mengutip kata Buya Hamka (Rahimahullah):

Jadi, apa tujuan kita diciptakan di dunia? Satu hal yang membuat kita bisa membuat kita berkata kepada malaikat maut saat dia datang menjemput: “Aku sudah tunaikan kewajibanku di sini – ayo kita pulang.”
PS: Jangan lupa semua diniatkan karena Allah

Panjang Angan

Kau tahu, kasih sayang-Mu selalu membuatku salah tingkah.

Banyak hal yang belum selesai, kan? Antara aku dan Kau, tapi kau tetap mencukupi kebutuhanku, bahkan lebih dari itu.

Banyak yang belum selesai antara kita, tetapi anganku terlalu panjang. Memang Kau ciptakan fitrah kami seperti itu, ataukah ia bisikan-bisikan syaitan?

Aku belum berhasil melepaskan diri dari satu sumber murka-Mu, tapi aku malah ingin melakukan hal lain. Apakah ini bisa memperoleh ridha-Mu? Belum selesai aku mohon ampun kepadamu, sudah terlalu banyak angan ini itu lagi terlintas di kepalamu.

Orang yang berhutang semestinya menunda kesenangan.

Ya ampun, bukan aku yang menginginkannya, aku hanya disuruh. Tapi tetap saja, kan, aku yang melakukannya. Setan saja hanya tertawa-tawa saat manusia diseret di neraka, berkata “Aku hanya membisikkan kepadamu, kau yang memutuskan untuk melakukannya.”

Tapi, apakah bisa? Ya Allah, bisakah aku lepas dari dosa ini, dan bolehkah aku melanjutkan sekolahku?

Mudahkanlah jalan terbaik bagiku… Tolong, karena aku benar-benar tidak mengerti. Kau pasti lebih dari tahu, pujian manusia hanya sepanjang lidah, dan apa yang tampak belum tentu kenyataan yang terjadi.

Bagaimanapun kau tampakkan rupaku di dunia, aku hanya ingin selamat menuju rumah terakhirku.

Beri tahu aku, aku harus bagaimana?